Ketika Salva Berbicara

PhotoGrid_1522104981971

“Apa?” tanyanya tiba-tiba.

Aku segera menjepit cucian basah yang baru saja kubentangkan di atas kawat jemuran.

“Apa?” ulangnya lagi sambil menatapku dengan penuh tanda tanya.

Aku tersenyum dan segera menghampiri gadis kecilku yang (saat itu masih) berusia hampir genap dua tahun. Tangan mungilnya menggenggam batu seukuran telapak tangannya, sumber pertanyaannya.

“Ini ba-ba-ba … tu-tu-tu. Ba-tu. Ini batu, Sayang,” jawabku sambil berlutut dan menunjuk batu yang dipegangnya. Mengenalkan benda-benda dengan artikulasi per suku kata seperti biasa. Membantunya belajar berbicara.

“Ba-tu,” ulangnya.

“Pintar anak Bunda,” pujiku lalu memeluknya.

Lalu setiap hari seperti itu. Dia akan terus bertanya padaku tentang benda apa saja yang ada di hadapannya. Dan akupun menyediakan ekstra telinga untuk mendengar pertanyaan-pertanyaannya. Akupun menyediakan ekstra mulut untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ulangannya. Aku juga menyediakan ekstra hati untuk kesabaran dan juga ekstra waktu untuk melayaninya.

Ini fasenya. Mana tega aku membunuh rasa ingin tahunya?

Maka tugasku lah mendampinginya mengenalkan benda-benda sekaligus melatihnya berbicara. Beberapa daftar kosa kata yang mampu dia ucapkan di usia tersebut sudah aku abadikan di sini. Dan beberapa kata yang mampu dia ucapkan saat itu memang belum dimengerti oleh semua orang kecuali olehku, suamiku dan anak sulungku (sebagai kakaknya). Bahkan neneknya sendiri pernah mencibir, “Duh, ngomong apa sih ini? Nggak jelas. Belum bisa ngomong. Uti nggak ngerti.”

Untunglah aku bukan tipe ibu yang gampang baper. Berbekal pengalaman sebelumnya, aku paham ini akan jadi perjalanan panjang untuk mengajari buah hatiku berbicara. Apalagi aku cukup perfeksionis dan sangat fonetis dalam mengajarkan anak berbicara. Setiap kata harus sesuai pelafalan yang benar.

Dan aku menikmati tugas ini. Rasanya seperti mengajar sepanjang hari. 🙂

***

Satu setengah tahun kemudian …

“Hai, Bunda.”

“Hai, Sayang.” Aku melihatnya menghampiriku di halaman belakang. Sibuk dengan aktivitas pagi.

“Cari-cari Bunda, ya?” tanyaku sambil tersenyum.

“Iya. Danicha tadi cawi-cawi Bunda. Eh, Bunda di cini. Hihihi … ”

Aku ikut tertawa dengannya. Lalu dia duduk di tangga di bawah tandon seperti biasa menungguiku menjemur semua cucian hingga tuntas. Tak lama kemudian, dia turun tangga dan membawakanku sekaleng jepit jemuran.

“Danicha mau bantu Bunda jemul. Boleh?”

“Boleh, Sayang.”

“Mau jepit yang mana?”

“Hmm, ok. Pass me the blue peg, please.”

“Bwu peg?”

“Yes. This is what we call peg. Remember?” jelasku sambil memegang jepit jemuran. Pelajaran yang harus diulang lagi untuknya.

“Oke. Ini.”

“Say: here you are.”

“Hil yu wa.”

“Thank you.”

“Yo weltam.” (baca: you’re welcome)

“Now pass me the red peg, please.”

“Wed peg?”

“Yes, please.”

“Hil yu wa.”

“Thank you.”

“Yo weltam.”

Dan sepagian itu dia menikmati “belajar” warna-warna jepit jemuran sekaligus membantuku menuntaskan tugas pagi.

***

“Drink, please!” titahku padanya setelah dia menelan nasi suapan ketiga. Sebelum terasa seret kerongkongannya untuk suapan berikutnya.

Tiba-tiba …

Blug! Weeerrr …

Tangannya meleset ketika meraih tumbler. Sehingga tumbler terjatuh di ubin dan air putih di dalamnya berhamburan keluar melalui tutupnya yang telah terbuka.

“Ayo minggir. Sana duduk di sofa.”

Dia menurut. Lalu aku meminggirkan barang-barang di ubin sebelum tergenang air. Kuminta Salsa (kakaknya) untuk mengambil kain lap agar segera menyerap air sebelum merembet jauh.

Lalu aku menghampirinya. Kembali melanjutkan makan malam yang sempat tertunda.

“Lihat tuh airnya tumpah.”

“Tapi minta maaf … ” sahutnya terbata menahan tangis.

“Dari tadi sebelum makan udah bertingkah mulu. Sekarang air yang tumpah. Bunda marah nih, ” tegurku dengan penekanan kata “marah”. Badanku lelah setelah mengajar dan merasa sangat lapar. Aku menahan kesal amarah akibat insiden air tumpah yang nambah-nambahin kerjaan ini. Aku tahu dia tak sengaja melakukannya dan aku pun tak hendak meluapkan kekesalan padanya. Padahal lagi PMS nih tapi untung tali kekang kesabaranku masih berfungsi.

“Iya, Bunda. Tapi minta maaf. Aku mohon, ” kali ini air matanya mulai mengembang di bola matanya.

“Iya … iya. Dimaafin. Ayo habiskan makanannya, ya.”

Kalau sudah ngomong “aku mohon” gitu aku sering luluh. Bayangkan, anak usia 3 tahun bilang “aku mohon”? Siapa lagi kalau bukan Danisha Mahira yang bulan Maret ini bakal genap 3,5 tahun. “Aku mohon”-nya itu diadopsi dari serial Tayo banget. Tayangan favoritnya.

***

“Bunda, ayo cini. Mawi kita tidul,” ujarnya sambil menarik tanganku.

“Oh, sebentar, ya. Ini Kakak lagi di toilet. Bunda lagi tungguin Kakak dari sini. Danisha masuk kamar aja duluan. Danisha mau minum?”

“Tak.”

“Ya sudah. Tidur sendiri, ya?”

 

Advertisements

One thought on “Ketika Salva Berbicara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s