Cara Tepat Menebar Manfaat

PhotoGrid_1521360621616

Before

Tadinya saya meyakini bahwa (salah satu) cara menebar manfaat dengan kapasitas saya sebagai seorang English Teacher adalah dengan mengajar.  Selain memahami bahwa melalui mengajar berarti saya berbagi ilmu dengan anak-anak didik saya, juga dunia mengajar inilah passion saya. Rasanya hampir seperti bernapas. Saya tak bisa meluangkan hari tanpa mengajar apapun itu.

Bukan berarti saya lantas menjadi seorang workaholic. Tentu tidak lah. Sesuai porsinya saja. Seperti ibu-ibu yang lain, saya kan juga punya keluarga yang harus diperhatikan. Terutama anak-anak saya. Mereka masih sangat membutuhkan pendampingan saya.

Jadilah dalam seminggu hari kerja itu saya juga masih mempunyai beberapa days off yang bisa saya nikmati bersama anak-anak. Kedua anak saya sedang berada dalam fase butuh pendampingan melekat. Ini fase yang cukup krusial bagi saya untuk lebih memperhatikan mereka.

Bagi Salsa (15 tahun), misalnya. Masa abege yang menganut paham friends do matter ini ternyata akhirnya menjalar pula ke dirinya. Acap kali saya cemburu jika Salsa masih ingin stay di sekolah ketika pelajaran telah usai. Cemburu karena dia lebih memilih bercanda ria dengan teman-temannya dibanding pulang. Apalagi di minggu-minggu ini dia banyak jadwal try out. Setelah try out pasti pulang awal. Tapi yaaa … sudahlah. Tentunya Salsa butuh untuk rileks setelah kepalanya mengepul mengerjakan soal-soal. Bisa jadi canda tawa bersama teman-temannya menjadi terapi bagi kesehatan jiwanya sebelum menghadapi try out lagi keesokan harinya.

Meskipun begitu, baik Salsa maupun saya tetap menjalin hubungan yang terbuka. Sepulang sekolah hampir dipastikan saya menyodorkan kedua telinga untuk mendengar segala kisahnya bersama guru-guru dan teman-temannya di sekolah. Seringkali saya terbahak mendengar cerita lucunya. Namun di lain waktu, saya juga ikut deg-degan mendengar kisahnya dengan salah satu teman (cowok) yang dekat dengannya.

Seperti salah satu kisahnya saat tak sengaja tercolok ujung pisau ketika tangannya menggaruk kelopak matanya yang gatal. (((Garuk-garuk pakai pisau?)))

Jadi gini. Saat rehat, Salsa mengupas jambu pemberian temannya. Lalu dia pinjam pisau ke ibu kantin untuk mengupas jambu. Tahu-tahu kelopak matanya gatal dan refleks aja garuk-garuk. Padahal tangannya masih pegang pisau. Tercolok deh. Ngilu katanya.

Lalu dia diantar pulang oleh salah satu teman cowoknya. Temannya ini nggak tahu insiden tercolok pisau. Sehingga …

“Pas aku turun dari motor kan aku pegangin mataku mulu tuh, Bunda. Terus tiba-tiba dia tarik tanganku penasaran kenapa mataku kok dipegang terus. Dia tarik aku sampai sedekat ini,” Salsa berkisah sambil menujukkan jarak yang membuat saya agak terkesiap.

Saya menarik napas. Yaa … memang lagi masanya, ‘kan? Abege tanpa bumbu cinta monyet itu kok rasanya janggal. Lalu respons saya …

“Did you feel your heart pounding when he was that close to you?”

“Well, of course, Mom!”

“Ok. You’re normal.”

Bah! Respons macam hapah ini???

***

Sedangkan bagi Danisha (3 tahun), keberadaan saya sangat dia butuhkan untuk belajar banyak hal. Hal menakjubkan ketika bersama Danisha itu adalah hampir semua hal yang saya ucapkan dan jabarkan padanya itu mampu dia ingat dengan baik. Dia bisa mengulang persis perkataan saya maupun kronologis kejadian saat bersama bukan hanya keesokan harinya tapi di beberapa hari bahkan beberapa bulan kemudian.

Wow! She is amazing!

Dan memang hasil finger print test-nya Danisha menunjukkan dia memiliki kemampuan auditory yang baik. Jadi memang stimulasi lewat pendengarannya lah yang bakal berfungsi maksimal.

Keikutsertaan Danisha belajar di kelas privat yang saya miliki juga semakin mengasah kemampuan auditorinya. Memahami bahwa dia pun memiliki bakat di bidang bahasa, saya tergilitik untuk menguji kemampuannya lebih jauh.

Di kelas, saya cukup sering melatih conversation dengan murid-murid saya. Disadari atau tidak semua kegiatan di kelas itu perlahan-lahan direkam dengan baik oleh Danisha.

Hingga akhirnya saya mencoba sesi tanya jawab dengannya.

Me: What is your name?
Danisha: My name is Danicha.
Me: How old are you?
Danisha: I am thwee yees old. (read: I am three years old)

Saya tersenyum puas lalu memeluk dan memujinya. Sebenarnya masih ada beberapa pertanyaan lagi dan saya sempat memposting videonya di Instagram.

Kedekatan saya dengan kedua buah hati saya itu tentunya saya manfaatkan untuk mengembuskan mantera-mantera kebaikan kepada mereka. Selain selalu ingat mengucapkan magic words: terima kasih, maaf dan permisi, saya juga menekankan kepada anak-anak untuk selalu memiliki perilaku yang baik. Akhlak itu nomor satu. Terutama untuk Salsa selalu saya ingatkan tata cara pergaulan dengan teman lawan jenis. Mau seperti apapun perilakunya di belakang saya dan ayahnya, tetap saja Allah Maha Tahu.

Jadi begitulah menurut saya. Cara tepat menebar manfaat adalah dengan mengajar dan mendampingi anak-anak di masa pertumbuhan mereka serta selalu memberikan wejangan berulang-ulang.

Hingga akhirnya …

After

“Wah, ini artikelnya kece! Sangat informatif. Harus di-bookmark nih, kali aja besok-besok butuh bacaan ini,” gumam saya ketika membaca postingan blog seseorang.

Siapa blogger itu?

Saya bersyukur akhirnya dipertemukan kembali dengannya. Seorang mom blogger yang juga orang tua dari salah satu murid saya di salah satu English Course di Bintaro 10 tahun silam.

Mayoritas isi artikel di blognya sangat informatif dan dibutuhkan oleh ibu-ibu seperti saya. Salah satu postingan kesehatan miliknya yang melekat di benak saya adalah tentang jumlah air minum yang dibutuhkan setiap individu itu berbeda karena memang ada rumusannya. Sampai-sampai saya es-es (baca: screen shoot) lho rumusnya di salah satu hape saya.

20180320_054334

Tapi memang postingan tentang Tip agar Kerja Otak Tetap Optimal Selama Berpuasa yang diunggah pada 22 Juni 2016 lalu itu menjadi salah satu artikel favorit saya. Materinya sih berat, tapi karena omak cantik ini piawai mengulasnya dalam bahasa kalbu yang mudah dipahami jadi yaa … asyik aja bacanya sampai tuntas. Bahkan seingat saya kok artikel tersebut pernah menang lomba deh. CMIIW.

Dan setelah ngobrol ngalor ngidul dengan mom blogger junjungan saya ini, tahulah saya bahwa dirinya menjadikan media blog sebagai sarana berbagi informasi yang menjadi manfaat bagi orang lain.

Hah? Apah?

Saya pun terperangah takjub mendengarnya. Siapapun pastinya ingin menjadikan blognya sebagai lahan berbuat kebaikan bagi sesama. Ya, ‘kan?

Bahwa ternyata bukan hanya mengajar, melainkan ngeblog pun bisa menjadi cara tepat menebar manfaat. Ok, noted! Saya sepakat banget dengan hal itu.

Sejak saat itu saya berusaha menjadi blogger (meskipun masih sering on-off sih postingannya) yang menuliskan hal-hal bermanfaat seputar tip maupun materi mengajar di kelas, motherhood (pengasuhan anak), dan apapun hal yang membuat saya memiliki values lebih sebagai blogger.

Semoga bisa istiqomah, ya. Aamiin.

Tolok ukur keberhasilan ngeblog bagi saya adalah mengikuti jejak prestasinya.

Menjadi mom blogger dengan pemahaman bahasa tulis terkait EBI, diksi, tanda baca hingga gaya bahasa yang mumpuni.

Menjadi mom blogger langganan juara lomba.

Menjadi mom blogger yang aktif berkiprah sebagai juri lomba blogging dan sering share ilmu blogging.

Menjadi mom blogger sekaligus penulis yang sudah memiliki antologi maupun novel solo.

Menjadi mom blogger yang peduli dengan sesama dengan aktif menggalang charity untuk kepentingan kemanusiaan melalui komunitas blogger yang didirikannya.

Menjadi mom blogger yang tetap humble dan down to earth.

Menjadi mom blogger yang sukses menjadi pahlawan bagi keluarganya dengan menjaga keharmonisan rumah tangga.

Lalu, siapakah blogger idola saya tersebut di atas?

Kamu pasti udah tahu.

Yak, betul!

HAYA ALIYA ZAKI.

 

Lots of love,

Frida Herlina

 

#ODOPMar18 – Day 2
#OneDayOnePost
#KomunitasISB
#IndonesianSocialBlogpreneur

 

Advertisements

6 thoughts on “Cara Tepat Menebar Manfaat

  1. Subhanallah Dek Danisha… Anak pinter 🙂

    ikut ngebayangin juga saat cerita bagian mau lihat mata sedekat itu… Uwow! Pasti berkesan ya… Hihihi…

    Saya bayangkan Fahmi anak saya kelak bagaimana ceritanya, hahaha… Jadi ikut kepo…

    Salam
    Okti Li

  2. My God, serem amat bacanya Miss, garuk mata pakai pisau. Mata pula, mending lah kalau tangan. Elalah… sama bahayanya ya, Miss, hahah… Ada banyak hal bagi kita untuk menebar manfaat ya, Miss. Menjadi teacher pun juga salah satunya ya 🙂

    1. Iya tuh Salsa.
      Bikin ngeri aja garuk2 pas pegang pisau.
      Untung ga ada sesuatu yg serius sih, Miss.

      Dan … menjadi teacher juga bisa jadi sarana untuk menebar manfaat.
      Yup! Totally agree.
      Pardon my late reply, dear.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s