Sosok Perempuan Pemberani Itu Ada Di Setiap Diri

PhotoGrid_1520974512984

Prolog

Senin, 12 Maret 2018

Pagi itu saya mengecek kembali jadwal ODOP dari Komunitas ISB. Saya mengetuk-ngetuk jari ke atas meja sambil memandang kalender.

“Bisa nggak, ya?” bisik saya pada diri sendiri.

Terus-terang saya malu pada diri sendiri dan juga pada Komunitas ISB yang sudah mengundang saya ikut ODOP bulan Februari lalu tapi tak kunjung rampung saya tuntaskan.

Bagaimana bisa rampung?

Di saat tenaga, pikiran, hati dan waktu saya berjibaku dengan rutinitas domestik harian plus mengasuh dua anak, plus mengajar hingga menyiapkan segala materi kelas dari A-Z sendirian (duh, sok sibuk banget ya di dunia nyata) tiba-tiba biduk rumah tangga kami terguncang ombak yang yaaah … cukup memforsir pikiran saya.

Seketika saya goyah tapi saya cepat sadar untuk segera bangkit dan berbenah. Dan alhamdulillah badai itu berlalu dalam waktu 4 hari. (Kurun waktu tersebut cukup mematahkan mood saya untuk melanjutkan menulis ODOP. Bagaimana caranya terus nge-blog sambil terombang-ambing di dalam mahligai yang sedang saya huni? Akhirnya saya gugur di ODOP Februari lalu.) Alhamdulillah saya dan suami menemukan jalan keluar lalu melanjutkan perjalanan dalam bahtera ini bersama-sama lagi. Bismillah …

***

Kemudian seharian itu saya mencari-cari siapa sosok perempuan inspiratif yang bisa saya tuliskan untuk tugas ODOP hari pertama. Aha! Saya sudah mendapatkan beberapa nama. Mungkin nanti malam selesai mengajar saya bisa langsung eksekusi postingan tersebut.

Tapi malam itu saya lelah. Lalu saya mengizinkan tubuh saya untuk istirahat lebih awal. Tak dinyana tak disangka Danisha (3 tahun) tiba-tiba rewel di jam tidurnya. Berulangkali dia mengigau dengan nada kesal menahan amarah. Hingga akhirnya dia membangunkan saya untuk segelas susu cokelat kesukaannya.

Saya membuka mata dan menduga saat itu pasti sudah lewat tengah malam. Sambil terseok-seok mengumpulkan kesadaran, saya menuju meja makan mengambil gelas dan mulai menyiapkan susu yang diminta Danisha.

Ternyata malam itu baru pukul 22.45. Terlintas di benak saya bahwa ini waktu yang pas untuk mengeksekusi tulisan yang sudah saya siapkan di kepala. Tentunya lebih well-prepared jika saya mengetik malam itu juga untuk tema ODOP keesokan harinya.

Namun tiba-tiba …

“Uhuk … uhuk … hoeeekk … huaaa …”

Segera saya berlari menghampiri Danisha yang duduk di depan televisi menanti susu yang sedang saya buat.

Danisha muntah.

Segala apa yang dia makan hari itu sudah keluar dalam bentuk muntahan di ubin. Dia masih terbatuk-batuk berusaha mengeluarkan lendir yang mengganjal. Tapi lendir itu tidak ada. Hanya rembesan air liur yang keluar membasahi mulutnya. Dia masih terbatuk-batuk berusaha mengeluarkan apa yang sudah tak ada lagi yang harus dikeluarkan.

Ini berbahaya! Bisa-bisa dia muntah darah jika masih berusaha memuntahkan isi perutnya yang sudah berkurang.

Segera saya gendong dan timang-timang dia. Saya berusaha mengalihkan hasratnya yang ingin muntah. Sudah cukup banyak muntahan di ubin. Rasa sedih dan khawatir pelan-pelan menjalari pikiran saya.

Perlahan akhirnya Danisha tertidur dalam gendongan saya. Batuk dan tangisnya pun reda. Dia tidak sedang sakit batuk tapi kenapa bisa heboh muntah begini? Hati ibu mana yang tak sedih melihat buah hatinya muntah? Hal lain yang membuat saya sedih adalah Salsa (15 tahun) ikut terbangun malam itu demi mendengar suara tangis dan batuk adiknya. Duh, maafin Adek ya, Kak. Bunda tahu seminggu ini jadwal Kakak full try out di sekolah. Moga-moga nanti tetap sukses menjalani try out, ya. Aamiin.

Saya membawa Danisha ke kamar dan mendapati penyebabnya. Kipas angin dalam posisi menyorot persis ke tempat Danisha tadi tidur. Dan dia tadi tidur di ubin!

Ok, fixed. Ini masuk angin.

Saya baringkan dia di kasur lalu mengolesi dada, leher dan punggungnya dengan Vick’s Vaporub. Lalu kembali dia ingin tiduran di ubin. Perlahan saya katakan padanya untuk tidur di kasur supaya tidak muntah lagi. Berulang-ulang harus saya jelaskan padanya karena dia masih juga ingin tidur di ubin.

Danisha memang sedang hobi tidur di ubin. Dia sering beralasan bahwa kasurnya panas. Seringkali saya memindahkannya ke kasur di malam hari saat saya jumpai dia sudah terbaring di ubin. Bermalam-malam seperti itu.

Baru 15 menit Danisha tertidur tiba-tiba dia bangun lagi dan muntah! Jelas terlihat muntahannya berupa nasi dan lauk yang dia konsumsi malam itu.

Saat itu pukul 23.30 dan saya kembali membersihkan muntahannya sambil menahan kantuk.

Selasa, 13 Maret 2018

Pagi hari jam 3.30 Danisha terbangun meminta segelas susu. Pastinya dia kelaparan akibat muntah semalam. Selesai minum susu, dia kembali tidur.

Sekitar pukul 5.30 saya ke kamar kecil. Kedua mata ini masih terasa berat sangat. Tak lama kemudian Danisha menghampiri saya sekeluar dari kamar kecil.

Lalu pukul 6.00 saya berikan air putih padanya. Namun 15 menit kemudian dia muntah lagi. Muntahannya adalah air putih yang baru saja dia telan. Saya memeluknya dan memintanya untuk berhenti muntah.

Kemudian saya memandikannya, membersihkan tubuhnya dari bau-bau muntah yang sudah bersarang sejak semalam. Selesai mandi wangi dan segar, Danisha tampak lebih ceria. Sambil menonton acara tv, saya menyuapinya sarapan pagi: nasi, telor orak-arik dan ayam goreng. Senang sekali melihatnya lahap makan hingga tuntas.

Selesai menyuapi Danisha, saya melanjutkan aktivitas domestik yang cukup membakar kalori saya. Tapi … entah berapa kalori, ya? *sambil elus perut yang buncit* Hasil tes BMI minggu lalu saja sudah cukup membuat saya senewen! Oh, screw off Body Mass Index!

Baru saja saya masuk kamar untuk membereskan tempat tidur, tiba-tiba …

“Uhuk … uhuk … hoeeekk …”

Saya berlari keluar kamar dan mendapati pemandangan yang langsung membuat saya mencelus. Iya. Rasanya ingin masuk ke dalam lumpur dan sebagainya demi melihat nasi, telor orak-arik dan suwiran daging ayam sudah berubah wujud menjadi genangan di ubin.

Iya. Danisha muntah lagi tepat pukul 8 pagi. Dia memuntahkan menu sarapannya barusan.

20180314_233313

***

Selesai membakar kalori (baca: nyapu ngepel) yang menghabiskan waktu 1,5 jam itu, pikiran saya berganti-ganti antara harus segera ketik postingan ODOP dan pergi ke Alfamart.

Apa? Alfamart?

Iya, Alfamart. Ke mana lagi tempat saya berlari mendapatkan pertolongan logistik kalau bukan ke Alfamart dan Alfa Midi?

Danisha sudah muntah heboh semalam bahkan tadi pagi pun sarapannya dimuntahkan. Bisa jadi dia sedang tidak mood makan nasi maka saya bisa memberinya makanan alternatif seperti: Sari Roti, sereal Koko Krunch, susu Chil-Go, La Pasta, maupun Indomie. Bagi saya yang penting Danisha harus terisi perutnya. Makan apa saja yang penting kenyang. Bukankah teman sejati masuk angin adalah perut yang lapar? Semakin kosong perutnya maka semakin menjadi-jadi nanti masuk anginnya.

20180314_121152

20180216_185711

Setelah menyiapkan Danisha sepiring french fries dan nugget, saya bersiap menuju Alfamart. French fries dan nugget tersebut saya beli sekitar seminggu yang lalu di Alfa Midi. Sempat terlintas untuk membeli lagi (karena yang saya gorengkan barusan itu sisa terakhir di kulkas) tapi saya urungkan karena Danisha sepertinya sudah bosan.

***

Di perjalanan tiba-tiba saya ingat salah satu makanan favorit Danisha yang bisa disantapnya dalam jumlah lumayan banyak.

Mie pangsit Jakarta a la Pak Yanto! Yay! 🙂 

20171226_160958

Segera saya melaju menuju kedai makan Pak Yanto. Fyi, tekstur mie pangsit Pak Yanto ini keriting kecil dengan taburan ayam suwir, daun bawang dan bawang goreng. Dua lembar daun selada selalu disisipkan di bawah tumpukan mie. Lalu sepotong pangsit isi suwiran daging ayam ikut terbenam di bawah mie. Penampilan asli mie pangsit ini khas pucat tapi tetap menggugah selera.

Cara menikmatinya tentunya sesuai selera masing-masing konsumen. Kamu bisa menambahkan kecap, saos sambal, sambal bajak dan acar cabe sekaligus dengan bebas. Kuah yang disajikan terpisah di mangkuk kecil pun bisa kamu guyurkan sekalian di atas mie yang sudah ditambahkan penambah rasa di atas. Hmmm … yummy!

20171226_161026

Dan keistimewaan mie pangsit Pak Yanto ini adalah mie polosnya yang pucat tanpa ditambahkan kecap, saos sambal, sambal bajak maupun acar cabe ini aja rasanya udah enak. Bumbu bawaan mienya sudah terasa sedap dan pas asinnya. Mienya juga kenyal. Pokoknya kalau kamu main ke sini harus mampir icip-icip mie pangsit Pak Yanto, ya! 🙂

Sambil menanti mie pangsit pesanan saya disiapkan Pak Yanto, pikiran saya kembali tertuju ke tema ODOP hari pertama, yaitu tentang: salah satu perempuan inspiratif yang menjadi inspirasi. Tentunya tema ini sinergis dengan peringatan International Women’s Day pada tanggal 8 Maret kemarin.

Hmm … siapa, ya?

Seperti yang saya singgung di atas, ada beberapa nama perempuan yang inspiratif buat saya. Bahkan nama-nama mereka sempat saya mention di Twitter untuk ucapan selamat tepat di Hari Perempuan Sedunia tersebut.

20180317_180033

Kepinginnya sih, saya sebut dan kisahkan mereka juga di sini. Tapi apa daya, saya udah ngoceh 1.200-an kata sampai di paragraf ini aja judulnya masih prolog! Duh! *tepok jidat kucing*

 

And here comes the lady …

Saya mensesap es teh di siang yang terik itu perlahan-lahan. Sengaja perlahan-lahan untuk mencegah brain freeze tentunya. Hihihi …

Aaah … segarnya! Ternyata di kedai Pak Yanto ini bukan hanya mie pangsitnya yang maknyus tapi es tehnya juga juara! (Duile … dari tadi masih di kedai Pak Yanto aja nih?)

Nah, sampai di mana tadi?

Oh, iya. Perempuan inspiratif, ya. Baiklah, sebelum kamu bosan baca postingan saya yang penuh drama di atas, marilah kita lanjutnya tema ODOP hari pertama di Komunitas ISB. Sepertinya kali ini saya harus memilih satu nama dari para perempuan inspiratif itu.

Saya mengenalnya belum begitu lama di dunia maya hingga akhirnya saya mendapatkan kesempatan untuk jumpa secara langsung dengannya di acara workshop tentang blogging dengan tema Dari Hobi Menjadi Profesi yang diadakan oleh Fun Blogging Community di Jakarta pada bulan April 2015 lalu.

Fun Blogging Community yang sempat hits digawangi oleh para master blogger: Haya Aliya Zaki, Ani Berta dan Shintaries ini benar-benar membuka wawasan baru bagi saya bahwa ngeblog itu bukan hanya sekadar hobi. Jika kita mau tekun dan rajin menulis maka akan terbuka banyak sekali kesempatan untuk dapat mendulang rupiah bahkan dollar dari kegiatan blogging.

Hmm … it sounds so tempting, huh?

Menggoda sih, makanya saya angkat topi buat para blogger yang benar-benar bisa mengandalkan mata pencaharian murni dari ngeblog hingga berani meninggalkan zona nyaman yaitu dunia kerja kantoran.

Persis yang dilakukan oleh Ani Berta. Persis banget!

Perempuan ramah yang rajin berbagi ilmu blogging blasteran Sunda-Batak yang kerap disapa Teh Ani ini adalah blogger pertama yang mengenalkan saya tentang bagaimana cara memonetisasi blogging. Yaitu tentang bagaimana mengolah dan mengatur blog kita supaya bisa dilirik brand sehingga menebalkan pundi-pundi kocek.

Untuk mencapai hal ini jelas dong kita harus punya network yang luas, punya positive attitude, punya ilmu menulis yang mumpuni dalam artian setidaknya paham EBI dan tanda baca serta rajin melakukan self-editing (no typo, hohoho …) sebelum postingan di-publish. Intinya content is the king. Ini sih asli ilmunya Ummi Haya banget, ya. Ya Tuhan, aku rinduuu belajar bersama mereka lagi!

Ok, balik lagi ke Teh Ani, ya.

Menurut saya, dia perempuan tangguh yang benar-benar diperjalankan menemukan karier sejati di dunia blogging yang sekaligus menjadi passion-nya. Blogging benar-benar bisa dia andalkan bukan hanya menopang hidup berdua bersama Sekar, putri tercintanya yang super, tetapi juga memberinya kenikmatan batiniah berupa piknik alias jalan-jalan dalam rangka mengemban tugas blogger. Sekaligus kenikmatan income yang nilai invoice-nya bikin mupeng tujuh keliling. Belum lagi kebanggaan Teh Ani yang alhamdulillah akhirnya bisa melakukan pelunasan pembelian rumahnya. Itu pencapaian yang super kece bagi kacamata saya. Bayangkan! Itu semua tercapai berkat blogging lho!

Oh, God! Teh Ani, you are my idol!

Tak terhitung berapa pelosok penjuru tanah air yang sudah dikunjunginya yang terkadang membuat saya merasa belum Indonesia banget kalau belum pernah jalan-jalan keluar pulau Jawa. (Okelah, saya sudah pernah mampir ke Bali. Tapi lebih jauh dari Bali itu belum pernah. Hik …)

Kenikmatan batiniah yang lain itu adalah menulis. Saya percaya Teh Ani pasti merasakan hal itu. Saya aja juga ngerasa kok. Nih, buktinya. Sekalinya sempat nulis (baca: disempat-sempatin) aja saya udah ngoceh luar biasa di sini. Kayak nggak bisa direm gitu. *deg-degan bakal tembus 2.000 kata*

(Tapi menulis itu memang bikin plong sih. Selama ini saya paling mentok juga nulis di draft atau di colornote. Habis itu entah kapan bisa tuntasinnya karena tahu-tahu waktu sudah melayang jauh. Huh! Time management saya buruk sekali. Kalau sudah pegang urusan rumah, anak dan ngajar pasti urusan blogging terbengkalai. Skala prioritas saya pasti ke urusan tersebut. Entahlah, sepertinya saya memang masih harus banyak belajar dari para master blogger di atas.)

Hal lain yang saya kagumi dari Teh Ani adalah kedekatannya dengan Sekar. Saya melihat hubungan ibu-anak itu begitu mesra bagaikan soulmate. Sekar yang hampir seusia dengan Salsa (anak saya) itu begitu dewasa dan helpful terhadap ibunya. Pernah suatu ketika ada konser Jak Jazz yang sayangnya bertepatan dengan cuaca hujan. Teh Ani pun dengan legawa mengikuti kata hati Sekar, mengurungkan berangkat nonton konser di hari itu. Meskipun akhirnya Teh Ani tetap nonton sih di hari lain (sepertinya).

20180314_232719

20180314_232651

Di kisah lain, Teh Ani mendapatkan bantuan dari Sekar untuk urusan merapikan data blogger beserta email dan sejenisnya. Dengan kapasitas Teh Ani sebagai influencer yang mengkoordinir ratusan blogger/buzzer tentunya bikin cenat-cenut, ya, saat mencocokkan/mengklasifikasi nama blogger dengan akun Facebook, Instagram, Twitter dan email dari masing-masing blogger tersebut. Padahal sudah waktunya payday. Pekerjaan administratif semacam itu ternyata mampu diemban Sekar lho. Keren, ya!

Ada satu kisah lucu yang sempat di-share Teh Ani tempo hari. Yaitu tentang migrain versus lapar. Hahaha …

20180314_232819

20180314_232920

Sejak awal baca status itu sih, saya malah belum nangkap lucunya. Hal pertama yang terlintas di benak saya justru: “Masya Allah, Sekar ini so sweet banget sampai begitu inisiatifnya menghidangkan seporsi mie pedas untuk ibunya yang sedang migrain.” Bukan mie-nya yang jadi fokus perhatian saya, tapi justru perhatiannya itu lho. Ckckck … luar biasa, ya. Sekar bisa sedewasa dan sesigap itu pasti juga karena hasil didikan ibunya, ‘kan?

 

Epilog

Setiap perempuan pasti punya sisi baik yang dapat menjadi inpirasi bagi orang lain. Dan kebanyakan perempuan inspiratif itu adalah perempuan yang pemberani. Seperti Teh Ani yang berani mengambil keputusan untuk resign dari kantor demi mengikuti kata hatinya menjadi blogger. Seperti Langit Amaravati yang berani hidup mandiri bersama Aksa, buah hatinya, dan berani belajar otodidak tentang ilmu design yang akhirnya mengibarkan namanya selain sebagai blogger langganan juara lomba. Seperti banyak mom blogger di belahan tanah air ini yang berani maju bersikukuh mengejar passion dengan segala keterbatasan yang mengelilinginya. Mulai dari mendampingi sang ayah yang sempat bolak-balik dirawat di rumah sakit seperti pengalaman Kakak Alaika Abdullah. Listrik yang sering byar-pet nyala mati di Cianjur seperti pengalaman Teh Okti Li namun hal itu tak menyurutkan jumlah postingan yang sanggup dia produksi setiap hari, dan sebagainya.

Begitu juga dengan semua ibu rumah tangga yang dihadapkan pilihan untuk mengasuh anak di rumah dan meninggalkan karier. Para perempuan yang terjaga berulang-kali di tiap malam demi melayani kebutuhan sang buah hati. Para perempuan yang diam-diam menitikkan air mata atas kegetiran hidup yang dijalani. Perempuan yang berani berwirausaha baik online maupun offline sambil mengurus rumah tangganya, dan lain sebagainya.

Mereka semua adalah para perempuan pemberani. Mereka menjadi pahlawan bagi keluarga mereka sendiri, sebesar dan sekecil apapun kontribusi yang sanggup mereka berikan.

Dan sebagai sesama perempuan, tak eloklah jika kita membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan perempuan lain. Apalagi kepada perempuan yang sanggup menebar-nebarkan lembaran duitnya hingga berserakan.

Everyone fights their own battle.

Setiap perempuan menjalani tantangan kehidupannya sendiri yang belum tentu mampu dijalani oleh perempuan lain.

We can’t force to fit in other’s shoe.

Bukankah setiap insan memiliki porsi peran dan cobaan sendiri dalam kehidupannya? Tetaplah menebar manfaat bagi orang lain.

Majulah terus perempuan Indonesia!

HAPPY INTERNATIONAL WOMEN’S DAY!

 

Lots of love,

Frida Herlina

Salah satu sumber foto: laman akun Facebook Ani Berta

 

#ODOPMar18 – Day 1
#OneDayOnePost
#KomunitasISB
#IndonesianSocialBlogpreneur

 

 

Advertisements

20 thoughts on “Sosok Perempuan Pemberani Itu Ada Di Setiap Diri

  1. Mbaaaa ya ampun sakit apa Dhanisa? Sampai muntah sering seperti itu? Bukan sekadar masuk angin sepertinya. Semoga baik2 saja ya.
    Terima kasih banyak atas apresiasinya Mba. Jadi terharu saya 🙂
    Saya pun salut sama Ms Frida yang smart dan sangat keibuan 😀
    Happy international Women’s Day Mba

    1. Alhamdulillah Danisha sehat kok, teh.
      Sejak terakhir muntah tanggal 13 kemarin itu sampai hari ini dia sehat ceria. Beneran masuk angin kok. Agak akumulatif sih karena berhari-hari maunya tidur di ubin. Makasih atas perhatiannya teh.

      Ah, teteh mah layak banget diapresiasi. Prestasinya tuh mantap. Aku ga ada apa-apanya lah.

      Happy International Women’s Day, too!

    1. Tulisan biasa aja kok ini, mbak Titis.
      Kan isinya curhat doang. Hahaha …
      Makasih ya udah betah baca postingan 2000-an kata ini.

      Ayo ikutan ODOP. Ini per 2 hari sekali lho.
      Sip. Semangat update blog juga yaa …

  2. Wah, menginspirasi sekali ya teh ani ini. Berani melepas kerja demi jadi blogger dan sukses pula. Saya sempat bingung baca tulisan awal n judul. Tapi tetep terusin baca krn bingung sm sosok inspirasi nya. Oh tyt prolognya mayan panjang. Hehe. Kayaknya sy baru menemukan gaya tulisan yg mirip dg saya. (beberapa tulisan saya begini) 😂 oke moms sukses selalu y.. Thanks for sharing.. 😊

    1. Teh Ani mah asli T-O-P, mbak

      Wah, mohon maaf, ya, kalau sempat bingung pas awal baca postingan ini. Harap maklum, namanya juga postingan curhat. Segala drama anak masuk angin lalu pergi ke alfamart sampai mie pangsit langganan diceritain semua. Hahaha …
      Eh tapi makasih banyak lho udah luangkan waktu baca curhatan ngalor ngidul ini. Prolog panjangnya kan udah di-warning. Hihihi …

      Wah, penasaran sama gaya tulisan mbak Aswinda. Mirip yaa …
      Okeee meluncuuurr …

  3. Aku ketawa pas 1200 kata tapi masih prolog 😂. Banyak memang perempuan menginspirasi di dunia blogging. Semoga kita juga bisa menginspirasi orang lain ya mba

    1. lah aku aja sampe bengong nih mbak. nulis prolog sepanjang itu tapi kok ga bisa diedit lebih pendek lagi. hahaha … maklum lah. saatnya curhat emang.

      ok sip. semoga kita juga bisa menginspirasi orang lain. aamiin.

    1. Yaa … gitu deh kalo hasrat curhatnya ditahan-tahan. Begitu sempat curhat di blog langsung weeeerrrr … luber!
      Hahaha …
      Tapi makasih lho mbak Cheila mau sabar baca curhatanku.

      Teh Ani keren pake banget.
      Ok makasih. Sukses ngeblog juga buat mbak.

  4. Seperti biasa… Gaya bahasanya selalu saya suka. Apalagi nyempil nama saya, bikin kaget saja… Terimakasih ya…

    Saya kadang suka niat mau nulis ngalor ngidul kaya gini. Santai. Tapi sayang selalu ga bisa karena dikejar rasa takut. Takut keburu listrik mati dan koneksi internet juga disini pasti mati. Jadi kalau nulis selalu intinya aja. Dari pada tidak upload sama sekali. Hehehe

    Sejujurnya saya tadi sudah bw disini, eh listrik keburu mati. Hujan besar disini. Dan ini mau magrib baru nyala saya lanjut deh bacanya.

    Masuk angin seperti Adik Danisha juga baru dua minggu lewat dialami Fahmi. Setelah dikasih obat anti mual baru makanan dan minuman walau sedikit bisa bertahan. Sehat selalu ya Adik Danish 🙂

  5. aahh … teteh aaahh … *tutup wajah pake korden. malu2 kucing*

    masa iya blogger ngetop macam teteh bisa suka gaya bahasakuuu? aaah … teteh aaahh …
    teteh noh jauh lebih kece. bisa konsisten ngeblog pake hape di saat kondisi listrik byar pet gitu. top! pejuang tangguh itu mah. udah gitu udah mulai ngisi workshop pula teh. duh mantap.
    blogger pejuang macam teteh nih yang bikin aku nyala semangat.

    btw makasih yaa tante Okti atas doanya buat Danisha.
    semoga aa Fahmi juga selalu sehat yaa …

  6. Danisha udah sembuh dan gak bersambung lagi sakitnya kan mba?

    Blog post terpanjang yang aku baca tahun 2018 ini sepertinya, tapi ttp baca sampai akhir karena menarik.

    1. Alhamdulillah Danisha sehat-sehat kok, tante Indira.
      Kadang-kadang ritme balita emang suka fluktuatif ya. Bikin deg-degan tapi alhamdulillah semua sudah berlalu.

      Aah … jeng Indira, aaah …
      Aku kan jadi malu-malu kucing dibilang blogpost-nya menarik. *sambil tarik tambang*
      Biasa aja kok, aahh … namanya juga postingan curhat.
      Anyway, makasih udah mampir dan betah bacanya ya. Semangat ngeblog!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s