Mencoba Mensyukuri Kondisi Apapun Di Saat Ini

PhotoGrid_1520973792359

Di suatu pagi 17 tahun yang lalu …

“Aku akan berangkat ke Jakarta dalam waktu dekat. Kita tak bisa hidup seperti ini terus-menerus. Kita harus mengubah nasib,” suaminya berkata pelan namun tegas.

Ia menunduk menekuri teh hangat di hadapannya. Onde-onde yang baru sekali gigit kini terasa menyangkut di kerongkongan. Di saat ia harus menelan jajanan ringan pagi itu ia harus menelan pula keputusan suaminya yang dirasa getir. Berat.

Bayangkan! Mereka adalah sepasang pengantin baru yang belum juga genap 8 bulan mengarungi hidup bersama. Kebersamaannya dengan suami tercinta dinikmatinya hari demi hari. Tawa dan tangis silih berganti menghiasi waktu yang mereka sisihkan berdua. Hanya berdua.

Perlahan namun pasti, asam garam kehidupan rumah tangga yang baru dijalaninya mulai menjadi napas yang ia hirup setiap hari.

Perlahan namun pasti, kehadiran suaminya mulai menjadi kebutuhan baginya untuk selalu berbagi. Bahagia rasanya menemukan belahan jiwa yang menyayanginya dari hati. Dirinya merasa utuh bagai seekor merpati yang mengepakkan kedua sayapnya dalam harmoni. Lengkap.

Dan kini, sebelah sayapnya akan beranjak pergi. Memang bukan untuk meninggalkannya. Namun untuk kebaikan mereka berdua. Mengubah nasib. Kehidupan mereka yang masih serba kekurangan tak bisa dibiarkanĀ  berlarut-larut. Ia sangat paham alasan yang mendasari keputusan suaminya barusan.

Toh, ini untuk kebaikan mereka berdua. Meskipun demikian, tiba-tiba ia merasa sebilah sayapnya mulai melemah.

“Apa yang nanti aku lakukan seorang diri sendiri di sini?” pikirnya gelisah.

Ia mengangkat cangkir teh hangat dan mendekatkan ke bibirnya yang ranum. Sebentuk bibir yang kerap menarik hasrat suaminya untuk menjejakkan segenap perasaan cintanya di sana.

Matanya menatap suaminya tanpa berkedip sambil mensesap teh melati hangat kesukaannya. Ia merasa lebih baik setelah seteguk teh itu meluncur pelan ke dalam kerongkongannya.

“Kamu sudah yakin?” bisiknya parau menahan tangis.

Suaminya mengangguk.

Lalu sebuah pelukan mendarat di tubuh kurus miliknya. Tangisnya pun pecah.

Suaminya masih memeluknya erat.

“Aku akan segera memboyongmu ke ibukota. Tapi sebelumnya aku harus memastikan tempat tinggal kita nanti di sana.”

“Bagaimana aku menjalani hari-hariku di sini tanpamu?” tanyanya terbata di sela-sela isaknya.

“Aku pun tak sanggup hidup tanpamu. Aku berjanji akan membawamu segera keluar dari sini.”

***

“Coba kamu ke sini deh,” ucap suaminya sambil menahan senyum.

Ia menghampirinya di teras. Lalu ikut melihat sudut ruang dapur dari sana bersama suaminya.

“Lihatlah meja kecil itu. Perabot pertama kita di dapur. Tampak lucu menyempil sendirian,” komentar suaminya lalu tertawa.

Tawa mereka pecah bersama.

Belum genap sebulan mereka menjejakkan kaki di ibukota, mencoba mengadu nasib demi keutuhan dan kebahagiaan bersama. Rumah kontrakan petak kecil yang mereka tempati saat ini perlahan-lahan mulai mereka isi dengan perabot seadanya seperlunya.

Meja kecil di sudut dapur itu hanyalah sebongkah kardus yang disulap suaminya menjadi meja darurat. Setelah melapisi kardus tersebut dengan kertas hias dan plastik. Lalu … voila! Muncullah meja kecil yang menghiasi dapur mereka. Meskipun hanya sebongkah kardus, setidaknya ada tempat baginya untuk meletakkan lauk pauk yang sudah dimasak. Lalu menikmati hidangan sarapan hingga makan malam berdua bersama suaminya di sana.

Mereka masih tertawa bersama di teras demi melihat penampakan meja mungil yang ala kadarnya itu. Kemudian ia memejamkan mata, memanjatkan doa agar kehidupan mereka semakin membaik. Ia hanya mencoba mensyukuri kondisi apapun di saat ini.

***

A true story of mine

Frida Herlina

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s