Kiat Penting Agar Si Kecil Lulus Toilet Training (Bagian II)

PhotoGrid_1505601096790

Pagi itu di salah satu hari di bulan Juli kemarin …

“Danisha, kalo pipis bilang, ya.”

“Iya, Bunda.”

Satu jam kemudian …

“Bunda, pipis.”

“Oh, Danisha mau pipis? Yuk, ke toilet.”

Di depan toilet, saat membuka celana …

“Hmm, ini udah pipis, Sayang. Lihat! Celananya basah. Ini namanya ompol. “

“Ini ompow.”

“Iya, ini ompol. Pipis di celana itu no-no-no,” terang saya sambil menggerakkan telunjuk ke kanan dan ke kiri mengisyaratkan larangan.

Danisha terdiam. Sepertinya dia berusaha mencerna apa yang terjadi barusan. Mungkin dia berpikir selama ini kalau mau pipis ya pipis aja di diapers. Kok sekarang harus repot ke toilet, ya? Harus bilang ke Bunda pula. Hmm …

Setiap hari saya katakan pada Danisha bahwa dia sudah besar dan harus bisa pipis/pupup di toilet. Sehingga setiap pagi sehabis memandikannya, saya “hembuskan” mantera: “Kalo pipis, bilang ya!”

Tapi akhirnya saya mengevaluasi setelah berhari-hari Danisha laporan pipis dalam keadaan celana udah basah duluan sebelum saya antar ke toilet. Ini sih laporan ompol, bukan laporan mau pipis. Eh, tapi Danisha udah bener sih. ‘Kan saya bilangnya: “Kalo pipis, bilang ya!” Jadi ya emang betul tuh. Udah pipis lalu bilang, ‘kan? Hahaha …

Ternyata memang redaksi mantera saya yang salah. Sehingga keesokan harinya saya koreksi ketika selesai memandikannya pagi-pagi.

“Lihat. Hari ini Danisha pake clodi, ya. Kalo mau pipis, lariiiii … ke toilet, lepas celana, jongkok, pipis deh. Paham?” Kali ini saya gunakan step by step instructions.

“Paham, Bunda.”

“Pinter. Jadi, kalo mau pipis … “

“Wawiiii … te toiwet, wepas cewana, jongtok, pipis deh,” ulangnya sempurna.

“Pinter anak Bunda.”

Begitulah mantera revisi itu saya rapalkan bersamanya setiap pagi maupun setiap saat dia memakai clodi bahkan celana kain!

Keesokan harinya …

“Bunda, Danicha mau pipis,” ucap Danisha sambil menyilangkan kaki dan menarik celananya.

Saya yang sedang menyapu lantai bergegas tanggap dengan bahasa verbal sekaligus bahasa tubuhnya.

“Wah, mau pipis ya? Ayo, lariiiii ke toilet,” ajak saya setelah menghempaskan sapu.

“Udah pipis?” cek saya ketika melepaskan celananya di depan pintu toilet.

“Bewom.” (baca: belom/belum)

“Yuk, jongkok di toilet.”

Tak lama kemudian …

Bsss … wsss …

Eureka!

Danisha pipis di toilet! Duh, rasanya pengen jingkrak-jingkrak saking hepinya. Tapi apresiasi untuknya jelas yang lebih utama.

“Pinter. Danisha bisa pipis di toilet. Hebat!” saya mengacungkan jempol.

Danisha tersenyum senang melihat kegirangan saya. Lalu dia menoleh ke belakang menengok ke bawah toilet.

“Itu namanya pipis. Kalo habis pipis disiram. Terus Danisha cebok deh. Ayo cebok.”

Sukses?

Iya, dong. Alhamdulillah. Setelah melatih menatur secara intens sejak pasca Lebaran Eid kemarin nih. Hihihi … *grin*

Kisah sukses di atas membuat untaian mantera menjadi lebih panjang untuk dirapalkan setiap pagi.

“Kalo mau pipis …”

“Wawiiii … te toiwet, wepas cewana, jongtok, pipis deh.”

“Kalo mau pupup …”

“Wawiii … te toiwet, wepas cewana, jongtok, pupup deh.”

“Pinter anak Bunda.”

****

Suatu siang di tanggal 23 Agustus lalu …

“Bunda, Danicha mau pipis.”

“Pipis? Ok, sebentar ya. Yuk!” saya segera mematikan kran air meskipun cucian piring belum selesai. Kebutuhan untuk BAK bagi anak-anak tentunya tak bisa menunggu, ‘kan? Tapi cuci piring selalu bisa menunggu.

Dan seperti hari-hari yang lalu, clodi masih tetap kering saat dilepaskan. Meskipun pernah juga sih sekali dua kali clodi basah alias udah ngompol. Pun demikian, frekuensinya sudah sangat jarang. Tepuk tangan dong. *nyengir*

Selesai pipis, terdengar suara merekah yang khas dari anus. Ah, saya tahu nih lagi ngapain. Lalu kedua ujung bibir Danisha tertarik ke samping pertanda sedang mengejan. Dan … voila!

Danisha pupup di toilet!

Wah, hepi banget saya! Saya sampai bertepuk-tangan berulang-ulang saat memujinya, “Wow, hebat! Danisha pupup di toilet. Itu lihat pupupnya. Itu namanya pupup. Hebat. Pinter. Danisha bisa pupup di toilet. Pinter banget nih anak Bunda.”

Seketika raut wajahnya dihiasi kebanggaan lalu beralih menjadi rasa penasaran ketika dia menengok ke bawah demi melihat feses yang berhasil dikeluarkannya. Mungkin dia takjub melihat wujud feses, kotoran yang selama ini hanya nangkring di diapers tanpa sempat terlihat. Hahaha …

There’s always the first time for everything, Sweetheart. 

****

Dua hari kemudian …

“Bunda, Danicha mau pipis.”

“Ok. Yuk, ke toilet,” saya mematikan kran. Entah kenapa hal ini kerap terjadi ketika saya sedang mencuci piring, ya?

Lima belas menit kemudian …

“Bunda, Danicha mau pipis.”

“Pipis lagi? Ok, deh. Yuk, ke toilet,” kembali saya mematikan kran karena cucian yang belum kelar.

Saya meyakini bahwa anak-anak selalu jujur. Jadi meskipun sudah dua kali Danisha laporan pipis di jeda waktu yang cukup pendek, saya tetap melayaninya. Dan ternyata …

Kembali kedua ujung bibirnya tertarik ke samping.

“Oh, ini namanya pupup, Sayang. Bukan pipis,” terang saya sambil tersenyum melihatnya mengejan. Dan hari itu Danisha sukses pupup di toilet lagi.

 

Kiat Penting Agar Si Kecil Lulus Toilet Training    

Kisah sukses Danisha menjalani toilet training di atas sebenarnya diwarnai oleh beberapa hal berikut ini yang menjadi kiat penting mengantarkan anak lulus toilet training. Kiat-kiat apa sajakah itu? Yuk, simak poin-poin berikut:

  1. Ajari anak mengenal kotorannya.

Ada urin, ada feses. Ada pipis, ada pupup. Ajarkan juga bahwa anak harus membasuh dirinya setelah mengeluarkan kotoran tersebut. Jadi nanti akan tertanam konsep dalam dirinya bahwa badannya harus selalu kering dan bersih. Sehingga bila anak mengeluarkan kotoran maka harus serta-merta dibersihkan.

  1. Kenakan celana kain seharian pada anak.

Anak yang setiap saat memakai diapers tentunya akan sulit mengidentifikasi kotoran yang dibuangnya (terutama urin) karena dia selalu merasa kering. Dengan memakai celana kain, pada saat anak pipis otomatis urin akan mengucur keluar membasahi bagian tubuhnya hingga kaki. Ketika ini terjadi, jelaskan pada anak bahwa itu adalah pipis yang harus dibersihkan. Bila bercecer di ubin pun tunjukkan pada anak bahwa Anda harus mengepel ubin untuk membersihkannya. Pelan-pelan berikan pemahaman ini padanya. Yang jelas, luangkan waktu seharian untuk atraksi yang merepotkan ini.

  1. Ajak anak ke toilet dan tunjukkan cara BAK.

Anda sebagai orang tuanya harus bisa menjadi role model untuk adegan pipis. Jadi saat Anda hendak BAK, ajak anak ikut serta ke toilet dan katakan, “Nih, Bunda lagi pipis. Ini namanya pipis. Kalau pipis di toilet.” Idealnya baik anak laki-laki maupun perempuan diajarkan pipis dengan berjongkok. Meskipun sudah sangat jamak anak laki-laki hingga pria dewasa melakukan BAK sambil berdiri di belahan bumi manapun, tahukah Anda bahwa pipis sambil berdiri itu tidak benar-benar mengosongkan kandung kemih? Belum lagi saat berdiri itu kan pasti ada sepernano sekian percikan urin yang mengenai celana. Bila Anda paham konsep najis, tentunya tak akan memakai celana yang sama setelah BAK untuk beribadah. Jadi idealnya memang pipis sambil jongkok. Sunnahnya juga demikian kok. (Cek aja, ya. CMIIW).

  1. Amati waktu-waktu anak melakukan BAK.

Biasanya sih sekitar 2-3 jam setelah mandi pagi, anak sudah mulai ada hasrat untuk BAK. Anda harus rutin mengajaknya ke toilet dan benar-benar menyaksikan anak pipis.  Adakalanya anak menolak diajak ke toilet, tapi Anda tak mudah dikelabuhi oleh bahasa tubuhnya, bukan? Alihkan penolakan anak dengan menceritakan sesuatu. Entah itu tentang kucing yang barusan berantem, maupun tentang lagu Hi5 yang baru saja tayang di tv. Lakukan hal itu sambil mengajaknya ke toilet dan melepas celananya. Jadi semuanya berlangsung natural. Tanpa paksaan lho, ya.

  1. Lakukan toilet training di siang hari.

Ini tahap awal. Kenakan clodi yang unyu-unyu agar anak juga semangat diajak toilet training. Danisha pernah kehabisan clodi karena sudah terpakai semua sehingga dia memakai celana kain biasa. Alhamdulillah dia tetap bisa ke toilet untuk BAK/BAB tanpa membasahi celananya.

  1. Kenakan diapers pada anak di malam hari.

Pemakaian diapers di malam hari masih diperlukan untuk toilet trainee pemula. Lalu cek kesiapan anak sebelum lepas diapers di malam hari. Cek kesiapan Anda juga. Apakah Anda siap mengantarkan Si Kecil ke toilet tengah malam saat terbangun dan minta pipis?

Bila Si Kecil sudah siap lepas diapers di malam hari maka hal-hal yang harus diperhatikan sebelum tidur malam adalah:

  • Hindari minum air terlalu banyak.
  • Hindari aktivitas fisik yang berlebihan (misal, lari-larian, lompat-lompatan).
  • BAK sebelum tidur.
  • Tidur tepat waktu.

 

  1. Beri pujian saat anak bisa melakukan BAK/BAB di toilet.

Pujian ini tentunya yang bisa memotivasi anak agar tetap konsisten BAK/BAB langsung di toilet tanpa mengotori celana dalamnya lagi. Tekankan bahwa anak sudah besar dan sudah sepantasnya melakukan BAK/BAB di toilet.

Awal-awal masa mendampingi anak melakukan toilet training tentunya sangat melelahkan, memakan waktu dan membutuhkan kesabaran ekstra. Ingatlah bahwa anak sedang berproses. Dan tak ada yang instan dalam berproses. Pendampingan total dan intens dari Anda akan mempermudah proses ini berjalan lancar. Anda akan selalu menjadi saksi sejarah tumbuh kembang anak Anda.

Tak ada hal yang lebih membanggakan daripada itu, bukan?

Semoga kiat-kiat ini bermanfaat, ya.

 

 

Lots of Love,

 

Frida Herlina

 

Advertisements

20 thoughts on “Kiat Penting Agar Si Kecil Lulus Toilet Training (Bagian II)

  1. Sid masih tergantung mood. Kadang bilang, kadang bablas. Kalau di rumah sih ok aja tanpa popok. Ngompol ya dilap sambil ingatkan lagi pipis di toilet.

  2. Ingat banget dulu si kecil mulai lepas popok karena saya cek kok popoknya ringan terus, dia pipisnya malah pas diajak ke kamar mandi. Alhamdulillah gak direpotkan urusan toilet training ini. Padahal awalnya mau beli celana khusus untuk toilet training itu.

  3. Setuju sama semua poin-poinnya, Mbak. Termasuk yang tentang diapers. Nai lebih lama belajar toilet trainingnya dibandingkan Keke. Saya sempat kasih Nai diapers sepanjang hari karena punya 2 anak yang masih kecil saat itu rasanya cape banget. Tapi jadinya dia lebih lama belajar toilet trainingnya.

    Akhirnya dilepas aja kalau siang. Ganti celana biasa. Malam tergantung sikon. Kalau lagi cape banget saya pakaikan diapers. Tapi kalau enggak, pakai clodi aja

    1. Betul, Mbak Myra.
      Aku juga ngebayangin rempongnya kalo punya 2 anak dgn usia tak beda jauh pas ngajarin toilet training.

      Danisha selisih 11 tahun sama kakaknya. Jadi aku ga pernah rempong barengan. Hahaha …

      Tapi kagok. Lupa gimana caranya momong balita.

  4. Keponakan dulu toilet trainingnya juga lumayan sukses Mbak, beberapa tipsnya kami lakukan dan memang it’s work. Anak2 mengerti kemana harus pup atau pipis dan bagaimana cara mereka bilang. Awalnya masih suka telat bilang sih tapi lama2 mereka terbiasa 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s