Kiat Penting Agar Si Kecil Lulus Toilet Training (Bagian I)

 

PhotoGrid_1505511735455

Si Kecil masih BAK/BAB di popok atau celana? Si Kecil masih belum bisa nahan pipis atau poo? Si Kecil masih belum bisa lepas dari pemakaian popok sehari-hari?

Mungkin ada beberapa Bunda yang masih mengalami hal ini. Mungkin ada juga yang udah melewati fase ini dan bisa bernapas lega sekarang. Mungkin ada juga Si Kecil yang kemarin lancar BAK/BAB ke toilet, eh hari ini balik asal lagi pipis berceceran di ubin. Pastinya kisah toilet training ini drama banget lah, ya. Dan tugas mengajari Si Kecil untuk bisa lulus toilet training ini banyak porsinya di pundak Bunda daripada Ayah. Tapi kalau beneran ada Ayah yang sanggup mengajari anaknya bisa toilet training, hmm … jempol deh!

Kenyataannya porsi jempol ini harus sering dianugerahkan untuk para Bunda. Dengan segala keterbatasan waktu, perhatian dan tenaga untuk hal-hal lain, setiap Bunda memang terlatih untuk jago multitasking. Terlatih oleh keadaan tentunya. Dan ada kalanya urusan toilet training ini bikin kepala pening. Cenut … cenut …

Memiliki dua anak dengan rentang usia 11 tahun, membuat saya lupa-lupa ingat bagaimana dulu mengajari Salsa (kini 14 tahun) toilet training. Satu hal yang saya ingat, sebelum Salsa genap 2 tahun (tepatnya 2 tahun kurang 3 minggu) saya sudah kembali bekerja full time di salah satu English Centre di Kemang Jakarta Selatan. Nah, saat itulah saya ingat bahwa Salsa sudah bisa pipis di toilet. Dengan membimbingnya ke toilet pada jam-jam tertentu, praktis sejak usia itu Salsa sudah tak lagi memakai diapers karena memang dia sudah bisa diajak pipis ke toilet. Sehingga lambat laun seiring kemampuan berbicaranya yang semakin berkembang, Salsa pun bisa mengungkapkan kebutuhannya untuk pipis/poo.

Saat itu saya cukup telaten mengantar Salsa ke toilet bahkan hingga tiap 1 jam sekali! Beruntung sekali saya ketika itu Cici (adik ipar yang baru lulus SMA) tinggal bersama kami. Sehingga saya sangat tenang meninggalkan Salsa bersama tantenya ketika saya pergi bekerja.  Cici juga sangat sayang dan telaten merawat dan mengasuh Salsa. Ah, saya jadi kangen masa-masa bersamanya dulu.

Berdasarkan pengalaman toilet training masa lalu yang lupa-lupa ingat itu, saya pun coba terapkan kepada Danisha (kini hampir 3 tahun). Sebagaimana idealnya pelajaran toilet training diajarkan di pagi/siang hari maka saya pun melakukan hal yang sama. Beberapa clodi (cloth diapers) berwarna dan bermotif cerah sudah saya siapkan beberapa minggu sebelumnya. Ini memang tahap awal untuk young toilet trainee, memakai clodi di siang hari dan disposable diapers di malam hari.

Berikut hal-hal yang harus diperhatikan dalam memilih clodi:

  • Size

Ukuran yang pas tentunya lebih nyaman dipakai Si Kecil. Kebayang dong kalau Si Kecil memakai clodi yang kedodoran. Bisa-bisa pipisnya malah berceceran di mana-mana. Apalagi clodi yang terlalu ketat. Karet clodi yang membekas di pinggang bisa menimbulkan rasa gatal bahkan kapok memakai clodi lagi. Jadi pastikan ukuran yang tepat, ya. Ukuran biasanya berdasarkan usia dan berat badan. Masa lupa sama usia dan berat badan anak sendiri, sih?

  • Warna dan motif

Clodi dengan warna yang cerah dan motif kartun favorit Si Kecil tentunya bisa menjadi pertimbangan. Si Kecil pasti akan antusias menukar diapers-nya dengan clodi di siang hari.

_20171005_131750
Clodi dengan bahan katun lembut yang padding-nya menyatu, mirip panties biasa.
  • Bahan

Bahan katun yang lembut dan menyerap keringat jelas lebih nyaman dipakai anak-anak. Anak kecil biasanya memiliki aktivitas fisik yang tinggi sehingga seringkali berkeringat. Maka pakaian dalam pun juga harus dapat menyerap keringat dengan baik.

  • Padding yang menyatu di celana

Padding ini alas clodi yang berfungsi sebagai penyerap urin. Biasanya maksimal untuk 2-3 kali  pipis maka clodi harus segera diganti. Ada clodi yang memiliki padding terpisah. Cara pakainya mirip meletakkan pembalut wanita di celana dalam. Padding terpisah gitu justru menurut saya kok rawan kegeser-geser. Ya, namanya juga anak-anak, ‘kan? Bergerak aktif kesana-kemari, bisa-bisa ujung/pinggiran padding malah nusuk atau nyempil ke bagian genitals-nya. Duh, kasihan. Pasti rasanya jadi nggak nyaman, ‘kan? Nanti Si Kecil malah menolak pakai clodi. Bisa gagal dong pelajaran toilet training-nya. Oleh karena itu, saya memilih clodi dengan padding yang sudah menyatu di dalam celana. Lebih aman dan nyaman.

_20171005_160814
Clodi dengan padding/insert terpisah.
  • Harga

Pilih clodi dengan harga yang masuk akal. Nggak perlu pilih yang heboh dengan assesoris ini-itu. Toh, clodi kan hanya underwear, jenis pakaian yang memang tidak untuk diperlihatkan. Hormati juga privasi Si Kecil untuk tidak memotret dan mengunggahnya saat memakai clodi saja. Hanya karena Anda membeli clodi yang super mutakhir dengan harga fantastis tak berarti seluruh penduduk dunia harus tahu, ‘kan? Clodi juga jenis pakaian yang tergerus fase. Tak selamanya Si Kecil memakai clodi. Jadi clodi seharga di bawah 50K/piece itu masih masuk akal menurut saya.

Ok, clodi sudah siap, ya.

Sekarang lanjut ke pelajaran toilet training berdasarkan pengalaman saya dan Danisha. Tunggu di postingan saya berikutnya.

 

Lots of Love,

 

Frida Herlina

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s