Sabtu Bersama Bapak-bapak, Emak-emak dan Anak-anak

Hari Raya Idul Fitri 1437 Hijriyah kali ini jadi momen paling seru bagi keluarga besar kami. Gimana enggak? Tahun ini kami (enam bersaudara) berhasil berkumpul dan tumpah ruah di rumah Ibu kami. Formasi lengkap kami ini sempat diabadikan agar menjadi kenangan yang tak terlupakan. Bahkan Ibu juga request supaya difoto  dikelilingi cucu-cucunya. Hehehe… Semua anak-cucu-menantu saling bersua dan bertegur-sapa diiringi ingar-bingar tingkah-polah anak-anak bawaan masing-masing. Rame? Iya! Seru? Banget! Berantakan? Pasti! Hahaha… Tapi meski rumah berantakan kami gotong-royong membersihkan rumah kok. Lagian, mana ada rumah rapi saat semua anak-beranak pada ngumpul? Rumah kosong aja belum tentu rapi, kan? Tapi itulah seninya kumpul keluarga. Kapan lagi bisa berantakin sekaligus ngerapihin bareng-bareng? Ihihihiii…

2016-07-13_21.52.46

2016-07-13_21.46.36
Bahagia dan bersyukur

 

Silaturahmi lebaran juga jadi momen bagi anak-anak untuk menebalkan isi kantong. The power of “angpao” is always tempting for any kids. Anak mana sih yang enggak suka duit? Apalagi emaknya? Malah lebih doyan lagi nyimpenin duit tuh! *lalu ngaca* Tahun ini isi kantong anak-anak lebih tebal deh secara oom-tante dan pakde-budenya kumpul dalam formasi lengkap dibanding tahun-tahun sebelumnya. Enggak heran kalo lihat senyum mereka lebih cerah dari hari ke hari, membayangkan tumpukan angpao yang bisa mereka peroleh. Eh tapi, ada yang biasa aja tuh saat terima angpao. Enggak jingkrak-jingkrak dan teriak-teriak kayak anak-anak yang lain gitu deh. Siapa sih? Tuh, Danisha. Ya kalee, batita usia 21 bulan udah ngerti duit. 😛 Yang girang terima angpaonya Danisha yaa… Bundanya lah pasti.

Salsa (13 tahun), anak sulung saya, juga termasuk yang paling hepi bisa ketemu sama sepupu-sepupu sebayanya. Tiap hari selalu runtang-runtung bertiga bareng Fara (13) dan Naura (10). Memang cuma mereka bertiga ini aja sih yang sebaya. Sepupu-sepupu yang lainnya umurnya jauh di atas mereka atau malah lebih muda juga mereka adalah anak laki-laki semua. Ada juga Danisha yang paling imut. Yaa, jelas belum paham deh dia kalo diajak main bareng anak perempuan usia abege, kan? Anak perempuan pasti merasa lebih seru dan klik kalo main dengan sesama anak perempuan kan, tentunya? Girl’s power!

 

“Bunda, aku mau pakai uangku buat beli marshmellow rp 15. 000,- aja. Boleh, ya?” pinta Salsa suatu pagi.

“Hmm, marshmellow? Kalian mau bikin challenge, ya,” tebak saya.

“Iya.”

“Tapi harus dimakan, ya. Bunda enggak suka lihat marshmellow dibuang-buang,” pesan saya.

“Iya, dimakan kok.”

Dan begitulah akhirnya Salsa, Naura dan Fara buru-buru masuk kamar setelah memperoleh dua kantong marshmellow. Terakhir pas Salsa dan Naura bertemu saat liburan di Bess Hotel, mereka juga bikin marshmellow challenge seperti itu dan berakhir dengan …

Brak!

“Huahahahaaa…huahahaaa…” pintu kamar terbuka diikuti ketiga anak abege yang berlarian menuju toilet sambil tertawa dengan pipi menggembung dan rona wajah memerah. Feeling saya sudah enggak enak. Ini pasti kejadian marshmellow challenge di Bess Hotel terulang lagi.

     “Honey, you promised me to eat the marshmellow, right? I don’t like to see you throwing food like that. It means you’re throwing money,” tegur saya sekembalinya Salsa dari toilet.

Salsa tampak terkejut melihat saya lalu mencerna kata-kata saya. Sepertinya dia baru ingat kalo dia tadi janji untuk memakan marshmellow dan bukan memuntahkannya seperti yang dilakukan barusan. Wajahnya masih memerah.

    “Oh, I’m sorry, Mom. Only once this time. I couldn’t help it anymore. Sorry,” sahutnya akhirnya.

Lalu mereka bertiga pun lanjut main marshmellow challenge yang enggak jelas itu. Sesi berikutnya (halah pakai sesi segala), Fara dan Naura yang muntah. Salsa yang menang karena berhasil menelan semua marshmellow di mulutnya. Saya cuma geleng-geleng kepala. Duh, kalo milih main challenge itu yang lebih berguna dikit napa, ya? Tapi yaa, sudahlah, toh enggak setiap hari Salsa main challenge seperti ini. Biar aja lah dia menikmati liburan yang berkesan dengan sepupu-sepupunya kali ini.

“Bunda, aku tuh beruntung banget punya bunda kayak Bunda, ya,” ucap Salsa out of the blue di suatu pagi saat kami bersiap-siap pergi menghadiri acara halal bi halal keluarga besar di hari Sabtu, tanggal 9 Juli kemarin.

Saya yang saat itu pegang compact powder (lagi dandan nih ceritanya) langsung menghambur dan menciuminya bertubi-tubi demi mendengar kalimatnya barusan. Kalimat yang sanggup membayar peluh lelah mengasuh, menjaga dan mendidiknya.

    “Of course you are lucky, Sweetheart, as I am so lucky to have you. No matter what they say about what you’re like, I always love you the way you are. I love you to the moon and back and the galaxy between in the universe. Muaaach…muaacchh…”

    Well, saya tahu saya lebay kali ini. 😀

Tapi saya betul-betul trenyuh sekaligus excited mendengar apa yang diucapkan Salsa sehingga saya meresponsnya sedemikian rupa. Makanya momen itu harus saya abadikan di blogpost ini. Betapa beruntungnya saya! Yay!!

“Habisnya, kalo ibu-ibu yang lain tuh kok pada galak gitu sih sama anak-anaknya. Kayak Tante Mawar (bukan nama sebenarnya) itu galak deh ke Sonia (bukan nama sebenarnya juga). Bude Kenanga (bukan nama sebenarnya lho) yang lagi hamil itu juga suka marah-marah ke Ubay (juga bukan nama sebenarnya) gitu deh. Nah kalo Bunda tuh, galak iya, eh tapi enggak seberapa sih, gaul iya, diajak ngomong apa aja tuh enak deh, nyambung aja gitu asik,” cerocos Salsa di sela-sela hujan ciuman dari saya.

Nah, sampai di detik ini mulai baper deh saya. Saya sangat bahagia mendengar pernyataan dan opini Salsa tentang saya. Saya cuma bisa memeluknya erat dan bersyukur. Belum tahu aja sih dia gimana saya jungkir-balik berusaha jadi orangtua yang terbaik baginya dan adiknya. Secara, jadi orangtua kan enggak ada sekolahnya, toh?

 

Ada hikmah dan pelajaran yang bisa diambil oleh Salsa dari acara tahunan kumpul-kumpul bersama keluarga besar di momen Lebaran kali ini. Dia belajar bersyukur dengan keadaannya sekarang dan dengan orang-orang terkasih yang dimilikinya. Sabtu bersama bapak-bapak (yaitu semua pakde dan oomnya plus ayahnya), emak-emak (semua bude dan tantenya plus bundanya) dan anak-anak (semua sepupu plus adik kandungnya) yang dinikmati beramai-ramai ternyata membuka matanya untuk mengambil banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran kehidupannya. Tak ada guru yang lebih baik dibanding pengalaman sendiri, kan?

 

 

Lots of love,

Frida Herlina

 

 

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Sabtu Bersama Bapak-bapak, Emak-emak dan Anak-anak

    1. Seru pake banget ini, Mbak. Serunya tuh saat kumpul-kumpul keluarga gitu, semua sifat asli jadi kliatan. Galak itu biasanya refleks sih. Secara kan anak jadi lebih berisik tuh kalo ketemu sepupu-sepupunya. Hahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s