Kiat Mengatasi Energi Negatif

 

PhotoGrid_1500244616490

Nihan mengembuskan napas panjang. Tersirat sebuah kelegaan setelah ia mengakhiri curhatnya.

“Jadi, menurutmu aku harus bagaimana?” desaknya demi melihat ketenanganku yang masih asyik mengunyah bakso di warung langganan kami.

“Oh, kamu minta pendapatku?” senyumku sambil meraih es jeruk dan menuntaskannya. “Kirain cuma mau ‘buang sampah’,” godaku. Serta merta Nihan merengut. Aku tertawa.

Aku sudah terbiasa melatih diri untuk memiliki “dua telinga”, memfungsikan indera pendengaran sebagaimana mestinya. Terutama semenjak menjelang memasuki usia cantik, aku berlatih untuk tak mudah meledak-ledak. Entahlah, mungkin faktor usia sangat berpengaruh bagiku. Beda dengan diriku sepuluh tahun yang lalu, yang masih sering menginterupsi pembicaraan orang lain, yang lumayan egosentris dan menuntut pengertian sekaligus perhatian orang lain, yang masih memiliki “satu telinga”.

“Ayolah, Yasmin. Aku harus bagaimana ini?”

Giliran aku menarik napas. Pemaparanku kali ini akan panjang bagi Nihan.

“Begini, Nihan. Kurasa pendapat suamimu sudah sangat tepat. Dia paham kondisi kalian saat ini. Memang tak ada gunanya berkonfrontasi dengan orang tua selama kalian masih tinggal seatap dengan beliau. Apalagi orang tuamu tinggal satu lho. Anak, apalagi yang sudah berumah tangga dan hidup bersama orang tuanya jelas harus-harus-harus sering mengalah.”

” Ya, Tuhan. Kurang apalagi aku mengalah? Setiap kali ibuku mengomel aku selalu diam. Tak pernah aku menjawab. Boro-boro ngomel balik.”

“Itu bagus. Memang tak akan ada gunanya bila kamu ngomel balik. Itu artinya kamu terpancing untuk memproduksi energi negatif. Itu artinya pula, kamu kalah. Kendalikan situasi yang ada di depanmu. Bukan malah kamu yang dikendalikan oleh situasi tersebut.”

“Lah, gimana aku enggak terpancing ngeluarin energi negatif? Ibuku hobi banget ngomel tentang hal remeh ini dan itu. Tiap ibuku ngomel aku cuma diam meski terasa panas telingaku. Masa iya untuk urusan bersih-bersih rumah aku masih harus diingetin? Dikira aku anak SD ‘kali, ya? Anak yang belum paham kewajiban dan masih harus terus diingetin. Ya ampun, biasanya setelah selesai mengantarkan anak-anakku sekolah kan aku langsung bersih-bersih rumah. Ibuku juga tahu kok. Entar juga rumah beres kinclong. Kenapa harus ngomel sih? Bikin jengkel aja sampai aku pernah mogok ngepel. Habisnya, sih …”

“Anggap itu bentuk kasih sayang ibumu dalam mengingatkan kebaikan. Memang tak ada salahnya seorang ibu mengingatkan anaknya bersih-bersih rumah, ‘kan? Justru tindakan mogok ngepel itu salah. Belum ikhlas tuh, namanya.”

“Apa kami harus pindah aja, ya? Mungkin rasanya lebih merdeka jika rumah tangga punya wilayah teritorial sendiri. Aku udah usul ke suamiku, sih, tapi dia bilang harus pikir masak-masak dulu. Dan aku diminta untuk lebih sabar dan banyak mengalah kepada ibuku sendiri.”

“Nah, betul itu. Suamimu udah betul. ‘Kan aku udah bilang sejak awal? Ingat, lho, kamu anak satu-satunya yang paling dekat dengan ibumu. Kedua abangmu ‘kan jauh di luar pulau sana. Adikmu juga di luar kota. Belum lagi, anak-anakmu ‘kan deket sama neneknya? Ibumu sayang banget sama anak-anakmu, toh? Masalah cuma di kamu aja. Dan kamu adalah orang dewasa yang jauh lebih bisa mengalah dan bertahan dengan situasi seperti ini. Dampingi ibumu di hari tuanya bagaimanapun kondisinya. Bahagiakan beliau mumpung masih ada waktu. Tak ada penyesalan yang datang di awal cerita, Nihan.”

Nihan memandangku lekat-lekat, berusaha mencerna saranku.

“Aku percaya, dengan izin Allah suamimu pasti mampu memboyongmu dan anak-anak untuk pindah. Memiliki rumah sendiri terpisah dari ibumu. Pertanyaannya, apakah kalian tega? Ibumu sudah sepuh. Dan orang sepuh memang doyan ngomel. Perbanyak kesabaran aja. Aku paham posisimu, Nihan. I’ve been there, done that.”

Nihan memejamkan mata lalu berkata, “Sering aku merasa kepalaku mau pecah setiap berada di rumah. Ibuku tak henti–hentinya mengomel. Sehingga aku juga ingin meledak saja rasanya. Sepertinya energi negatif dari ibuku sangat mempengaruhi mood-ku.”

“Dengar, Nihan. Kamu perlu mencoba beberapa kiat untuk mengatasi energi negatif berikut ini. Ketika kamu merasa terkontaminasi energi negatif maka yang harus kamu lakukan adalah:

  1. Bersikap tenang. Tarik dan embuskan napas dalam-dalam.
  2. Istighfar. Dzikir itu tetap menjaga kita berperilaku waras.
  3. Sabar. Jaga kepala tetap dingin meskipun hati masih panas. Jangan mudah terpancing.
  4. Introspeksi. Koreksi diri, siapa tahu memang kita yang salah?
  5. Ikhlas. Kalau ternyata kita enggak salah tapi masih disalahkan ya … ikhlas aja. Apalagi sama ibu sendiri.
  6. Lakukan perbaikan diri dan tetap istiqomah menjadi pribadi yang tenang.

Kamu bisa lakukan itu. Aku percaya padamu, Nihan.”

Aku menggenggam erat tangannya. Sekilas senyum mulai terulas di wajah lelahnya. Semoga saranku tadi menjadi solusi atas masalah yang dihadapinya.

 

Lots of Love,

Frida Herlina.

 

Disclaimer: Adegan di atas tak pernah ada di serial teve Kara Sevda (Endless Love). Nama tokoh sengaja dipinjam hanya karena penulis blog ini adalah penggemar berat serial tersebut. Demikian harap maklum.   

 

#ODOPday4

#ODOPJuly2017

Indonesian Social Blogpreneur

 

#ODOPday5: http://www.letsmeetmissfrida.com/2017/07/ajari-aku-membaca-ya-ma.html

Advertisements

2 thoughts on “Kiat Mengatasi Energi Negatif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s