Barat-Timur-Utara-Selatan, Hiruk Pikuk Mudik Lebaran

PhotoGrid_1499962016743

26 Juni 2017

“Besok pagi kita berangkat lho. Ingat packing malam ini, Bunda.”

Aku mengangguk menimpali ucapan suamiku.

“Aku butuh kantong plastik yang besar, Yah, untuk baju-baju kotor ini.”

Tak lama kemudian, suamiku kembali membawa dua laundry bag. Aku paham bahwa dua kantong plastik besar yang kumau, tak dapat dijumpainya di dapur.

Satu … Dua … Tiga … Tiga hari! Astaga, melimpah nian baju kotor kami berempat dalam tiga hari terakhir ini. Dan hal mengesalkan tentang misteri baju kotor adalah ia jadi lebih tebal dan berat. Belum lagi aromanya. Ckckck …

Tahun ini cuaca di kawasan sekitar Purwokerto mendung berawan sepanjang hari. Panas terik hanya di pagi hari dan tak berlangsung lama. Bahkan ketika sholat Ied kemarin pun, jalanan menuju ke masjid raya lumayan basah dan becek.

IMG-20170630-WA0001
Ibu mertua bersama para menantu dan cucu.

Tiga hari berada di rumah ibu mertua kali ini meninggalkan kisah tumpukan baju kotor. Sebenarnya bukan hanya masalah cuaca mendung yang mengurungkanku melakukan aktivitas mencuci baju tapi juga lahan jemuran yang sudah keburu penuh dengan baju-baju dari anggota keluarga kakak dan adik suamiku. Ya … sudahlah.

Sabar … sabar, cuma setahun sekali kok mudiknya. Enggak tiap hari packing-unpacking rempong begini, ‘kan? hiburku dalam hati.

27 Juni 2017

Keesokan paginya, ketika sedang menyuapi sarapan untuk Danisha, kulihat suamiku asyik bercakap-cakap dengan Rozikin, adiknya, sambil menunjuk-nunjuk layar laptop. Di layar itu terpampang peta pulau Jawa. Mungkin mereka membicarakan rute perjalanan.

“Mbak, mampir ke Semarang dulu aja yuk, sebelum ke Surabaya. Nanti dari Semarang ke Surabaya lewat pantura aja. Bisa lebih cepet, Mbak,” ujar Rozikin kepadaku akhirnya, setelah perbincangan itu.

“Boleh. Aku juga pengen main ke Semarang. Udah lama enggak ke sana, ya,” sahutku setuju.

Seketika Rozikin tersenyum cerah. Girang sekali dia bakal dapat kunjungan ke rumahnya.

Sebenarnya, sejak awal perjalanan ke rumah ibu mertua aku sudah bilang ke suamiku supaya sempatkan mampir ke Semarang, menjenguk keluarga Rozikin. Tapi saat itu suamiku masih berhitung waktu.

Akhirnya, setelah selesai sarapan dan beres-beres, kedua mobil yang dikemudikan suamiku dan Rozikin melaju beriringan menuju Semarang sekitar pukul 10 pagi.

Sesekali kami berhenti di SPBU-mini market-rumah makan-mushola sekadar untuk ishoma. Perjalanan darat dengan membawa balita tentunya tak perlu terburu-buru. Yang penting semua lancar.

Sekitar pukul 5 sore, kami tiba di rumah Rozikin di Semarang. Alhamdulillah. Saatnya mandi-mandi dan istirahat sejenak.

“Sempatkan tidur istirahat di sini setelah mandi, Yah. Nanti ba’da Isya’ aja kita mulai perjalanan ke Surabaya,” bisikku pada suamiku.

Ia mengangguk setuju. Segera ia mengangkat bagasi ke kamar. Aku menyiapkan baju ganti dan peralatan mandi.

Badan kembali segar setelah mandi dan perut kenyang terisi mie ayam membuat suasana hati menjadi lebih baik.

Anak-anak asyik bermain dengan sepupu yang hanya dijumpai sekali dalam setahun.

Salsa akrab ngobrol dengan Icha di ruang tamu. Sesekali terdengar gelak tawa mereka. Usia mereka hampir sebaya. Pasti lebih klik tema obrolannya.

Sedangkan Danisha asyik bermain mobil-mobilan dengan remote control milik Helmy. Lucu aja rasanya melihat kedua anak dengan jarak usia sekitar 9 tahun ini bermain seru. Danisha yang bakal genap berusia 3 tahun di bulan September ini memang menggemari toy car.

Aku masuk ke kamar, mengambil ponsel yang sedang di-charge. Ya ampun! Aku baru ingat tadi siang sewaktu berada di Pekalongan, aku menerima pesan singkat dari kakakku.

“Ayah, kapan beli lunpia pesanan Mbak Virgi, nih? Dia kan tahu kita lagi ada di Semarang,” ucapku mengingatkan.

“Oh, iya.”

Huh, sebenarnya aku kasihan sih melihat suamiku yang masih tampak kelelahan setelah perjalanan jauh Purwokerto – Semarang. Tapi ya, gimana dong? Masa kakak sendiri minta lunpia enggak disempatin hunting? Mumpung ada di Semarang nih.

Kemudian suamiku dan Rozikin berangkat hunting lunpia naik sepeda motor. Menurut Rozikin, Semarang kota pasti macet di saat seperti ini. Jadi biarlah mereka yang pergi hunting lunpia. Aku dan anak-anak cukup menunggu di rumah.

Well, baiklah kalau begitu.

Selepas Isya’, aku menidurkan Danisha yang merengek ngantuk. Salsa dan Icha masih terjaga di ruang tengah sedang menonton teve. Tak lama setelah itu tiba-tiba …

“Emang kenapa sih kok beli lunpia jauh ke kota? Ibu lho, kalo beliin aku lunpia ya di pasar,” celoteh Icha terdengar dari kamar.

“Tau tuh, Bunda,” timpal Salsa.

Aku sempat terkikik geli mendengar obrolan mereka.

Owalah, nduuukk … Ini lho lunpia titipan dan bukan nitip lunpia jajanan pasar tapi lunpia spesial nih oleh-oleh khas Semarang. Best seller pula. Kalau untuk camilan buat Budhe sih oke ajalah beli lunpia di pasar. Hihihi …

Hingga pukul 20.00 aku masih terjaga melongok jam dinding. Duh, kok ayah belum pulang juga, ya? Aku berbaring gelisah dan khawatir namun tak sanggup berpikir panjang saat kelopak mata memberat dan berayun menutup.

Tick … Tock … Tick … Tock …

Ternyata kami harus bermalam di Semarang kali ini.

28 Juni 2017

“Gimana, Mbak, tidurnya semalam?” sapa Siti, istri Rozikin.

“Alhamdulillah nyenyak banget. Aku cuma denger samar-samar tuh pas ayahnya anak-anak datang. Jam berapa itu? Setengah sepuluh, ya? Ya ampun, lama banget nyari lunpia!”

“Wah, tahu enggak? Itu lunpia lariiis … banget! Lokasinya masuk gang gitu. Tapi orang berjejer ngantri banyaaaak … banget. Mana pake ambil nomor antrian pula. Udah kayak antri di apotik aja deh,” seloroh suamiku.

Aku terkikik geli tepat di frasa “antri di apotek”.

“Iya lho, Mbak. Saya yang orang Semarang aja baru tahu ada lunpia yang laris banget kayak gitu. Mana nyari lokasinya juga susah. Lha wong tokonya masuk gang. Itu aja kami sampai muter-muter balik lagi. Begitu datang langsung disuruh ambil nomor terus duduk nunggu dipanggil. Kayak lagi antri obat emang sih,” urai Rozikin menjelaskan.

Sekali lagi, frasa “antri obat” kembali membuatku terkikik geli.

“Waduh, mohon maaf ya, Oom Jikin. Jadi ngerepotin nih semalam sampai muter-muter gitu nyari lunpia ini,” ucapku tak enak hati.

“Walah, Mbak. Wong enggak tiap hari kok,” timpalnya.

IMG-20170630-WA0002
Bersama Helmy dan Icha di rumah Semarang
IMG-20170628-WA0004
Kebun karet yang sudah jadi perumahan.

Setelah sarapan dan berfoto bersama, kami berpamitan. Saatnya melanjutkan perjalanan ke Surabaya.

Di perjalanan, beberapa meter menjelang masuk ke boulevard perumahan elit, tiba-tiba …

“Lunpianya udah dibawa?” tanya suamiku.

“Astagaaaaaa … !!!” seruku.

“Ada di kulkas tuh,” tukas suamiku lalu segera menelpon adiknya.

Duh, untung baru mau keluar dari kawasan ini. Belum jauh perjalanan. Udah nyari lunpianya setengah mati, mau ketinggalan pula? Kebayang, ‘kan?

Rozikin tiba membawa besek-besek berisi lunpia pesanan beberapa saat kemudian. Setelah mengucapkan terima kasih dan berpamitan lagi, kali ini kami benar-benar pamit. Tak ada lagi yang tertinggal.

“Itu Oom Jikin juga dapat lunpia ‘kan, Yah?” tanyaku.

“Udah habis, Bunda. Beli lunpia malam-malam tuh udah banyak yang habis. Udah ngantri panjang kayak gitu lho cuma kebagian dua besek ini,” terang suamiku.

“Ya ampun, segitunya ya laris banget jualan lunpia di sini.”

“Lagian mana mau Jikin lunpia ini?”

“Lho, emang kenapa, Yah?”

“Semalam tuh Jikin curiga. Ada toko nyempil di gang kok bisa laris pembeli sampai antri panjang mengular. Rasanya enggak wajar. Terus “dibaca-bacain” lah toko itu.”

“Hah? Lalu?”

“Terus?”

Bergantian aku dan Salsa menginterogasi ayahnya.

“Terus kelihatan deh ada seorang nenek tua di pojokan.”

“Ya ampun, Oom Jikin bisa “lihat” kah, Yah?”

“Bisa. Kan ada bacaannya. Dia juga kasih bacaannya ke Ayah.”

“Lalu?”

“Nenek itu matanya menatap kami. Padahal itu toko lagi rame lho. Tetep aja yang dilihatin ya cuma kami.”

“Dia ngerasa kali, Yah. Ada yang tahu “frekuensi”-nya.”

“Emang nenek itu duduk di mana sih, Yah?”

“Di dekat tumpukan lunpia yang mau dibungkusin.”

“Astagaaaa … Jadi dia bagian ngilerin gitu kah??!!” seruku histeris tercekat.

“Hahaha … Iya, ‘kali,” sahut suamiku tergelak.

Salsa menengok menatapku. Kami berpandangan dengan sinar mata penuh kengerian.

“AAAAAAAAARRRGGGHHHH!!!”   >.<

***the end***

 

Lots of Love,

Frida Herlina

 

#ODOPday1

#ODOPJuly2017

Indonesian Social Blogpreneur

 

 

Advertisements

12 thoughts on “Barat-Timur-Utara-Selatan, Hiruk Pikuk Mudik Lebaran

    1. Lah itu bagasi troli isinya bajuku bertiga anak dan suami, Dek.
      Baju-baju Danisha di tas terpisah karena balita ya pasti perlu baju lebih banyak.

      Tapi baru kali ini traveling sambil bawa baju kotor. Duh, ga nyaman banget. Rasanya pengen segera ketemu mesin cuci. Hihihi …

    1. Habisnya rame ngantrinya ga wajar sih dengan lokasi tokonya yang nyempil. Susah pula nyarinya, mbak Diah.

      Suamiku ikut makan kok. Aku juga. HAHAHA …

      Insya Allah ga apa-apa deh.
      Kan cuma secuil ngincipin. Lagian itu lunpia bohay merekah menggoda banget pas digoreng.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s