#1Book1Review: Lucid Dream

IMG_20170604_092353-01

Judul: Lucid Dream

Penulis: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Genre: horor/misteri

Penerbit: DAR! Mizan

ISBN: 978-602-242-191-7

Harga: Rp 32.000,-

 And here is the blurb …

Aku menceritakan hal ini kepada teman-temanku, tapi mereka malah ketakutan. Kemudian, mereka mulai mengataiku sinting. Dan parahnya, kini aku sendirian. Teman-temanku yang manusia ternyata lebih mengerikan daripada makhluk halus yang kuhadapi. Masih lebih baik satpam tanpa kepala yang kutemui di koridor, atau guru IPA yang kepalanya meledak di laboratorium …

… atau siswa yang lehernya tergantung di ruang musik.

Satu-satunya manusia yang waras adalah Chris. Dia tercipta sama sepertiku. Bahkan, kemampuan supernaturalnya lebih keren daripada aku. Kami berdua sepakat untuk menguak rahasia kemampuan aneh kami. Namun … semakin banyak kami mencari informasi, semakin banyak makhluk halus gentayangan yang menyerang kami. Haruskah kami lanjutkan? Eh, tunggu … apa itu di belakangmu?

***

Prolog

Tiga tahun yang lalu, saya sempat terkejut ketika Salsa (11 tahun saat itu) …

“Bunda, aku mau beli novel Fantasteen dong kalau kita jalan-jalan ke toko buku.”

Fantasteen? pikir saya bingung. Lalu saya melihat salah satu novel Fantasteen yang disodorkan Salsa. Novel itu milik salah seorang temannya di sekolah. Wah, novel horor! seru saya dalam hati. Hmm, ada apa dengan buah hati saya, ya? Dia yang tadinya suka sekali dengan cerita KKPK (Kecil-kecil Punya Karya) dan novel Pink Berry Club kok tiba-tiba berubah haluan pindah ke genre horor?

Tahu sendiri ‘kan, kalau cerita di KKPK maupun Pink Berry Club lebih cenderung ke kisah anak-anak yang ceria dengan petualangan seru dan lucu? Nah, kisah di Fantasteen jelas beda.

Sebagai seorang ibu yang (berusaha) memperhatikan apa saja bacaan buah hatinya, saya langsung tergerak untuk membaca novel Fantasteen tersebut. Ternyata aman, sih. Dalam artian kisah horornya masih bisa dinalar anak-anak.

Hingga suatu hari …

“Bunda sudah baca Lucid Dream? Bagus deh, Bunda. Keren.”

“Belum, sih.”

“Baca deh. Aku sudah selesai kok.”

Lalu tangan saya mulai membuka lembar demi lembar novel yang berhasil Salsa bawa pulang dari toko buku beberapa hari sebelumnya.

Honestly, I had not expected much when I started to read it. But this piece of novel was so much different.

The story

Apa jadinya jika ada anak yang tiba-tiba mempunyai kemampuan supernatural alias bisa melihat makhluk halus setelah mengalami operasi pencangkokan kornea mata? Itulah yang dialami Nadine Harper sejak mengalami kecelakaan mobil  ketika ia berusia lima tahun. Hingga tahun demi tahun berlalu, ia menjadi seorang soliter lantaran teman-temannya kerap menganggapnya sinting dengan cerita-ceritanya tentang makhluk halus yang ia lihat di sana-sini.

Tapi “kesendirian” itu berakhir ketika ia berjumpa dengan Christopher Locket di SMP barunya. Chris, seorang anak laki-laki cerdas dan nyentrik bagai ilmuan ternyata juga bisa melihat makhluk halus setelah mengalami operasi mata. What a coincidence!

Berdua, Nadine dan Chris berusaha mengungkap rahasia tentang kemampuan spesial mereka. Hingga terkuaklah juga bahwa mereka berdua sama-sama menjalani operasi mata di usia lima tahun, menjalani operasi di sekitar bulan Juli – Agustus delapan tahun sebelumnya, dioperasi di rumah sakit yang sama bahkan ditangani oleh dokter bedah yang sama pula! Mengerikan! Terlalu banyak kesamaan ini akhirnya tampak mengerikan bagi Nadine.

Tapi yang lebih mengerikan bagi Chris adalah penemuan Nadine tentang artikel yang dibacanya di perpustakaan yang menceritakan tentang mimpi yang jelas.

“Ada jenis mimpi yang sangat jelas, hingga bisa kita ingat ketika kita bangun. Dan di antara mimpi-mimpi ini, ada juga kondisi ketika seseorang bermimpi bahwa dia terbangun di atas tempat tidurnya dan merasa sudah benar-benar terbangun, dan menjalani rutinitas sehari-harinya dalam mimpi itu, terus sampai dia terbangun sungguhan.” (halaman 58)                                                  

Apakah pertemuan dan persahabatan antara Nadine dan Chris hanya terjadi di alam mimpi? Mereka sudah melewatkan banyak kisah seru bersama terutama tentang ghosthunting. Apa iya ini semua hanya mimpi?

“Chris menggigit bibirnya, tampak berpikir serius. “Mungkin saja benar teorimu soal mimpi itu – kalau benar, ini mimpi yang buruk sekali – tapi …,” Chris menatapku lekat-lekat, “kalau begitu, ini mimpi siapa?” (halaman 68)

 

“Lucid dream; mimpi yang benar-benar terasa nyata. Dan ini waktunya untuk bangun.” (halaman 156)

The review

Ketika pertama kali membaca novel ini, saya merasa tersihir dengan untaian kalimat yang dituturkan Ziggy sehingga membuat saya tak perlu berlama-lama membacanya hingga tuntas. Ada yang menarik dari cara bertuturnya. Kabarnya, Ziggy menulis novelnya ke dalam Bahasa Inggris (entah novel yang mana, enggak semuanya sih) sebelum akhirnya ia terjemahkan sendiri ke dalam Bahasa Indonesia.

That explained it!

Pantesan! Ketika membaca Lucid Dream ini cita rasanya novel terjemahan banget tapi tetap asyik untuk disimak dan saya suka gaya bahasa seperti ini. Ziggy tak hanya piawai memilin kalimat menjadi twist yang menarik tetapi juga isi kalimat yang disajikannya itu berbobot dan informatif.

Terlepas dari informasi yang ia berikan itu murni fiksi atau justru ilmiah, tetap saja menyenangkan membaca sesuatu yang dapat menambah wawasan kita. Setidaknya wawasan tentang bagaimana menyajikan cerita agar tetap terbungkus konsep yang menarik. Misalnya …

“Dari aku menjelaskan bahwa merenggangkan badan dan menguap dalam satu seri itu disebut pandikulasi,” kata Chris. (halaman 47)

Pernah dengar kata “pandikulasi”? Kata yang merupakan serapan dari Bahasa Inggris ini menuturkan arti sebagai berikut:

“Pandiculation= (noun) the act of stretching oneself”

Source: dictionary.com   

Memang sih, ya, membaca itu jendela dunia. Dengan banyak membaca maka banyak pula informasi yang kita dapatkan termasuk juga wawasan kosa kata kita. Nah, hal ini yang saya temukan ketika membaca novelnya Ziggy.

Tokoh Chris di novel ini suka sekali berkata dan berpendapat disertai kutipan-kutipan. Hal ini menjadi menarik karena Chris ini (seperti yang saya ungkapkan di atas) hanya seorang abege berusia 14 tahun namun wawasannya luas sekaligus genius.

“Keberanian berada di antara kepengecutan dan kecerobohan, Plutarch,” gumamnya. (halaman 45)

 

“Adalah kesengsaraan untuk terlahir, kepedihan untuk hidup, dan kesulitan untuk mati. St. Bernard,” ucapnya pelan, dengan suara serak. (halaman 98)

Kisah petualangan horor di sekolah yang dialami Nadine dan Chris tak ayal membuat saya mual juga. Bayangkan, di tangga sekolah ada hantu petugas kebersihan yang terus-terusan membungkuk untuk muntah. Dan setiap ia membersihkan muntahannya dengan pel maka muntahan baru akan tumpah lagi di lantai. >.<

IMG_20170604_092504-01
“Petugas kebersihan itu menghantam tubuhku dan aku terjatuh di lantai.”

Ada lagi hantu anak laki-laki di toilet anak perempuan yang menceburkan kepalanya berkali-kali ke jamban. Rambutnya berwarna cokelat dan basah. Bisa ditebak bagaimana ia bisa tewas mengenaskan seperti itu, bukan?

Epilog

Pokoknya Lucid Dream ini novel horor remaja yang paling berkesan buat saya. Dan yang paling mengejutkan, ketika saya baca biografi penulisnya di bagian akhir halaman. Ternyata Ziggy sudah jadi mahasiswi! Saya kira semua penulis Fantasteen itu hanya anak-anak abege saja. Hingga akhirnya Ziggy “pensiun” menulis untuk seri Fantasteen yang ditandai dengan peluncuran novel Saving Ludo, novel terakhirnya untuk seri Fantasteen. Saya termasuk salah satu penggemarnya yang rindu tulisan misterinya di Fantasteen.

Eh, udah baca Di Tanah Lada? Novel yang menjadi juara kedua di sayembara novel yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta di tahun 2014 ini bukan bergenre misteri, lho. Ada lagi novel fantastisnya Semua Ikan Di Langit yang mendapat kehormatan menjadi juara pertama di ajang yang sama di tahun 2016 kemarin. Hmm, tentunya Ziggy sudah berpengalaman sekali menulis sampai novel-novelnya keren begini. Rasanya enggak bakal kaget deh kalau nanti namanya muncul di jajaran penulis top di ajang The Ubud Writers & Readers Festival tahun ini. ^.^

Seketika nama Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie ini menjadi nama jaminan mutu bagi saya. Yang terjadi kemudian adalah saat saya bergerilya di toko buku, saya kerap berseru dengan suka-cita kepada Salsa, “Belle, please find Ziggy. Quick!”  

 

Lucid Dream ♥♥♥♥♥ (5/5)

 

Lots of Love,

Frida Herlina

Advertisements

27 thoughts on “#1Book1Review: Lucid Dream

  1. Mba,,,. Baca awalnya aja udah kebayang horornya,,,, heran aku udh usia segini blum Ben baca novel misteri aplg d ajak nonton 😑😑 sukses trs ya,. Keren

    1. Ini horornya horor seru kok. Ada petualangannya.
      Aku juga baru berani baca horor macam Fantasteen & serial Creep Over-nya PJ Night aja kok.
      Ga serem2 amat lah.

      Baca deh Lucid Dream

  2. Aku gak suka banget sama horor.. tp baca tulisan diatas kok jd tertarik plua takut yak.. bagus banget tulisanmuu tertata rapiiii

    1. Aku lebih ga suka (baca: ga berani) nonton film horor apalagi nonton bareng kamu pas lagi pake masker putih. Bakal jerit2 deh. Hahaha …

      Tapi kalo baca novel horor masih berani lah.

      Tulisan rapi ini “kutukan”. Aku ga bakal tenang kalo bikin postingan yg ada typo barang satu kata aja.
      Udah ” dikutuk” nulis rapi aja rasanya.

      HAHAHA …

    1. Oh aku belum terkontaminasi drakor, mbak. Jadi ga bisa bandingin. Hihihi …

      Tapi menurutku novel2nya Ziggy nih original kok.
      Lagi nungguin sineas kita mengadaptasinya ke film.

      Daripada bikin film horor geje macam yg ngesot2 ato ngedot gitu. Mending pake novelnya Ziggy deh.

      Asli bikin penasaran, mbak.

  3. Usia SD sampai SMP aku suka banget baca novel-novel gini. Baca review Lucid Dream ini berasa nostalgia dan rindu. Jadi pengen ikutan baca, Mbak.

  4. Membaca nama penulisnya aja harus ngeja beberapa kali saya mah. Hehehe.
    Jadi tahu kisah horor luar negeri. Nambah wawasan banget

    Salam
    Okti Li

    1. Ziggy nih asli Indonesia, teh.
      Tapi dia memang sering bikin tokoh bule, dgn nama bule dan setting luar negeri.

      Namanya memang unik ya.
      Sodara dia yg perempuan namanya Ziggy semua. (CMIIW)

    1. Beda banget, mbak Alida.
      Nonton film horor kan kita ga bisa kontrol kapan setannya muncul. Pokoknya tiba2 ngagetin aja.

      Nah kalo baca film horor tuh kita bisa kontrol fantasi kita. Mau hantunya mirip Orlando Bloom juga bisa.
      Suka2 kita aja lah pokoknya. 😛
      😀

    1. Lah bukannya tempo hari anak2 kita beli Fantasteen bareng di Gramedia, yak. 😛

      Udah lah, mbak Nurul. Gawsa takut kebayang-bayang. Yang lalu biar berlalu.

      Move on dong. 😛
      😀

  5. Aahh..Mbaaaa…
    Aku atut, jadi ngeliat ngebelakang, kiri kanan niy brasa ada yang lihatin hihii..
    ku paling anti dengan pelem ato cerita berbau horor, dari pada ga bisa tdur .

    1. Aih, teh Nchie. Gawsa terlalu anti gitu ah. Ntar jodoh lho. 😛

      Kalo ga bisa tidur nah bisanya apa sih? Masa tidur aja ga bisa?

      Kan gini caranya:
      – cari kasur
      – rebahan di kasur
      – baca doa tidur
      – tutup mata

      Udah deh. Gitu aja kan caranya?
      Coba praktekin lah, teh. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s