Kuasai Bahasa Asing dan Nikmati Saat Mempelajarinya

japanese-2094293_640-01

Bahasa Jerman

Bahasa Jerman adalah bahasa asing ketiga yang saya pelajari setelah Bahasa Inggris dan Bahasa Arab.

Aha!

كيف حالك؟

(Kayfa haluk? = Apa kabar?)

انا بخير

(Ana bikhayr = Saya baik-baik saja.)

Well, bukan seperti itu. Bukan belajar Bahasa Arab secara intensif sampai mahir dan bisa conversation gitu. Maksud saya, saya mengenal pelajaran Bahasa Arab itu saat mengaji. Jadi ya, hanya sebatas itu. (Masih menjadi cita-cita saya: kelak saya dapat menguasai Bahasa Arab dengan fasih dan lancar. Aamiin.) Tapi itu ‘kan bahasa asing juga bagi kita? Kita tidak mengaji dengan menggunakan Bahasa Indonesia, ‘kan? *ngeles*

Saya belajar Bahasa Jerman di masa SMA bersama Ibu Saimpen. Beliau ini mengajar Bahasa Jerman dengan penuh semangat.

Sie ist die beste Deutsche lehrerin. She is the best German teacher.

Frau Saimpen di masa saya SMA ini sudah terlihat berumur. Mungkin sekitar usia 50-an tapi semangatnya luar biasa. Karena selalu tampil energik itulah beliau terlihat awet muda. Menyenangkan sekali saat-saat belajar bersama beliau.

Beberapa kata dalam Bahasa Jerman itu mirip-mirip dengan Bahasa Inggris. Contohnya:

  •  der vater = father
  •  der onkel = uncle
  •  die mutter = mother
  •  die tochter = daughter
  •  das buch = book
  •  das haar = hair

Tuh ‘kan, mirip banget?

Karena kemiripan kata-katanya dengan Bahasa Inggris itulah saya jadi jatuh cinta dengan Bahasa Jerman. Untuk pengenalan kata benda (Nomen) seperti daftar di atas, bebannya hanyalah menghapalkan artikel jenis kelamin kata-kata tersebut. (((Artikel jenis kelamin??))) Artikel apaan tuh?

Tak perlu berpikir terlalu jauh, artikel di sini maksudnya kata sandang. Jadi bukan artikel tulisan yang biasa diposting. Hehehe …

Jadi gini, Bahasa Jerman menggunakan 3 jenis artikel yang menunjukkan jenis kelamin kata benda tersebut. (Rempong, ya, kata benda aja ada jenis kelaminnya.) Yaitu: der —> maskulin, die —> feminin, das —> neutral. Untuk mengetahui apakah suatu kata benda itu termasuk maskulin, feminin atau neutral, tak ada jalan lain selain menghapalnya. Phew … kebayang ya, betapa banyak dan ribetnya? Hahaha …

Itu semua kembali ke motivasi pribadi. Sebenarnya, semua hal di dunia ini bila dijalani dengan self-motivation yang tinggi dan penuh kesadaran pasti akan berjalan lancar dan berbuah baik. Ya, ‘kan?

Bagi saya, kehadiran sosok Frau Saimpen saat itu mampu melecut motivasi saya untuk menguasai Bahasa Jerman dengan baik dan menikmati momen ketika mempelajarinya. Alhasil, hasil ulangan Bahasa Jerman saya kerap memuaskan. Namun entahlah, saya merasa kurang luwes aja saat melakukan/membaca percakapan dalam Bahasa Jerman. Habisnya, kata-katanya lucu sih, ya. Sempat pernah ada bahasa plesetan untuk kalimat “ibu berputar-putar” diterjemahkan menjadi “die mutter muter-muter.” Pusing deh muter beneran. Tapi kurang afdal rasanya mempelajari Bahasa Jerman bila tak tahu kalimat ini: “Ich liebe dich.”

Dor! Klepek-klepek deh. ^.^

Itulah kenangan indah saya bersama Frau Saimpen saat belajar Bahasa Jerman di masa SMA. Saya sungguh menikmatinya dan sangat ingin menguasai bahasa tersebut dengan baik. Sayangnya, pengetahuan Bahasa Jerman saya menjadi pasif dan tak berkembang sekarang. Duh, siapa coba yang bisa jadi partner saya untuk cas-cis-cus Bahasa Jerman?

Bahasa Jepang

Bahasa Jepang adalah bahasa asing keempat yang saya pelajari setelah Bahasa Jerman, Bahasa Inggris dan Bahasa Arab. (Iya, tahu!) Kalian bisa ngomong Jepang, ‘kan? ^.^

JEPANG!!!

Hai. Konnichi wa. Hajimimashite. Watashi wa Furida desu. Watashi wa Indoneshia-jin desu. Sayōnara!

Ehem …

Bahasa Jepang ini menyimpan banyak kisah indah buat saya di masa-masa mempelajarinya. *adegan bunga Sakura berguguran*

Bagaimana tidak? Ini adalah bahasa asing ekstra yang saya dapatkan ketika masih berkuliah di English Department di Universitas Brawijaya Malang dulu. Kesan pertama tentunya pada dosen pengajarnya dong. Ahay … ^.^

Adalah Mr. Abdullah Hilmy yang akrab disapa dengan Hirumi Sensei, sosok dosen yang ramah, tegas, komunikatif, cerdas, humoris, dan … good looking! Saya tak hendak menyebut penampilan fisik beliau sebagai seorang lelaki yang tampan rupawan. Tidak. Beliau tak setampan Jake Gyllenhaal (pemeran Dastan di film Prince of Persia: The Sands of Time) tentunya tapi charming. Well, he’s just good looking. That’s it! Sepertinya beliau memang memiliki aura positif yang kuat sehingga kehadiran beliau mampu membuat deretan kursi depan di ruang kuliah penuh sesak dengan para mahasiswi. Khusus di mata kuliah Bahasa Jepang ini. Heran deh.

Hirumi Sensei menjadi sosok inspiratif saya di dunia pendidikan. Dari beliau saya belajar bahwa, dosen yang komunikatif dan humoris membuat mahasiswa memiliki ikatan emosional yang kuat terhadap mata kuliah yang diajarkan. Sifat ramah seorang pengajar sanggup membuat pelajar mau belajar banyak bahkan mengerjakan tugas-tugas latihan yang belum dijadikan PR.

Being good looking is another bonus. Pengajar yang berpenampilan rapi dan wangi itu dapat melejitkan motivasi pelajar lho. Trust me! 

Dari situ saya belajar untuk karier mengajar Bahasa Inggris yang saya tekuni sekarang bahwa seorang guru yang tampil rapi, wangi, menyenangkan dan menguasai materi pasti akan lebih disukai dan diminati oleh murid-muridnya. Itulah mengapa saya kerap mengusung metode fun learning di kelas saya. Suasana belajar yang menyenangkan itu penting bagi anak-anak karena rasa senang itu membuat mereka merekam dengan baik materi apa saja yang diajarkan.

Karena saya mengajar dari hati maka saya ingin murid-murid saya belajar dari hati juga. Itu cerita idealnya, ya. Kisah setiap hari tak akan pernah sama. Namun di situlah tantangannya.

Mau tahu salah satu tanda bahwa seorang guru sukses mengajar? Simak situasi berikut ini:

Teacher: Ok, class. I think that’s all for today.

Students: Lho, udah jam lima, ya. Ya ampun, cepet banget sih.

Teacher: (grinning happily)

Students: (tidying up) 

Di kelas sebelumnya …

Teacher: Good afternoon, class.

Student: Miss, hari ini belajarnya yang lama, ya. Bosen ah, di rumah. Sampai lama ya, Miss, belajarnya sampai maghrib.

Teacher: (giggling) Habis ngajar kalian ini, Miss Frida akan ada kelas lagi lah. Masa iya kamu mau belajar sampai maghrib. Gimana kalau kita camping di kelas aja sekalian.

Students: Iya, Miss. Iya, Miss. (antusias)

Teacher: Hahaha …

Saya masih belajar menuju sukses dalam mengajar kok. Masih banyak guru lain yang lebih sukses dan lebih hebat di luar sana. Namun bagaimanapun kisah di atas itu kerap menyenangkan hati saya dan membuat saya semakin mencintai dunia mengajar ini.

Terima kasih banyak untuk para pahlawan tanpa tanda jasa yang telah menginspirasi saya selama ini.

Danke, Frau Saimpen.

Arigatou gozaimasu, Hirumi Sensei.

You are all the best!

Lots of Love,

Frida Herlina

Advertisements

7 thoughts on “Kuasai Bahasa Asing dan Nikmati Saat Mempelajarinya

  1. Iiiiih…jago bahasa rupanya awak ini. Kalo bunda boro-boro empat bahasa, satu bahasa asing (Inggris) aja masih perlu kemahiran yang sempurna. Maklumlah gak melalui Universitas ampe selesai, hiks… Cuman di akademi bahasa asing yang 3 tahun pun bagian translator and interpreter. Sekarang cuman rajin-rajin aja bulak-balik buku pelajaran. (dibulak-balik doank, hehehe….)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s