The Wishlist for Me and My Blogging Activity

ipad-606764_640-02

Sejak bisa menulis, saya selalu tertarik dengan dunia tulis-menulis. Dulu di masa SD saat ada tugas mengarang di pelajaran Bahasa Indonesia, saya sudah membuat karangan yang berbeda dari karangan teman-teman saya. Bedanya, teman-teman cenderung menulis karangan narasi utuh sedangkan saya lebih menyukai karangan deskripsi dengan menyertakan beberapa percakapan dari tokoh yang saya ciptakan. Jadi cita rasanya lebih greget seolah membaca cerpen di Majalah Bobo maupun Ananda. *halah*

Saat SMP pun  saya suka sekali mengarang cerita. Sampai saya punya buku tulis khusus untuk kumpulan cerita-cerita saya. Begitu pula saat SMA. Saya sempat aktif di kegiatan Mading sekolah sampai akhirnya didaulat menjadi editor majalah sekolah. Ketika majalah itu terbit perdana, bukan kepalang rasa gembira dan bangga ini. Saya menerima beberapa cerpen kiriman teman-teman untuk saya edit. Dan mengedit itu pekerjaan yang cukup bikin sakit kepala juga ternyata. Hahaha …

Saya masih ingat dulu menerima cerpen yang berlembar-lembar dengan tema kisah cinta yang berbelit-belit. Meskipun masih SMA saya lumayan paham pengetahuan tentang korelasi dan korehensi ide pokok di tiap paragraf. (Tapi saya hanya sekadar tahu, lho. Belum mahir dalam hal ini. Dan jika harus dibahas sekarang bisa jadi saya malah harus belajar lagi.) Mempertahankan ide awal hingga tercipta satu cerita utuh itu bukan perkara mudah. Apalagi abege kan cenderung labil dan menulis aja sekenanya dan semaunya hingga tiba-tiba terlalu banyak tokoh yang tak perlu namun dimunculkan juga. Maka dari itu buat saya kerangka karangan sangat penting agar penulis tidak keluar jalur. Ya, itu misalnya sih. Ada lah di salah satu cerpen yang harus saya edit kala itu. Bila saya tak punya banyak waktu, biasanya cerpen semacam itu akan saya sisihkan karena urusan membuang dan menambahkan kalimat itu sangat butuh waktu dan tak semudah membalikkan telapak tangan. Belum lagi mengedit tanda bacanya. Duh, bisa cenat-cenut saya. >.<

Tapi bila tulisan asli seperti itu harus tayang di majalah sekolah, saya belum siap menerima kalimat semacam: “Ini cerpen kok ceritanya muter-muter enggak jelas sih. Mana kebanyakan tanda seru lagi. Siapa sih editornya? Kok bisa lolos?”

Ngok. >.<

Tuh, ‘kan? Saya juga yang kena.

Kegiatan menulis cerpen ala-ala itu berlanjut hingga di masa kuliah. Sesekali saya masih suka menulis untuk koleksi pribadi. Iya, sayang sekali saya tak berkesempatan mengirimkan buah karya saya ke media. Entah karena kurang dukungan atau kurang motivasi, kegiatan menulis ini hanya menjadi semacam teman pelipur lara saja. Menulis hanya menjadi kegiatan privasi saya. Tak ada hasrat untuk bisa dilihat dan dibaca orang lain.

Itu dulu. Bersyukur sekali akhirnya saya mengenal blog, sebuah media yang membuat tulisan saya bisa dibaca orang lain. Pertama kali saya mendengar istilah “blogger” di acara Kick Andy sekitar tahun 2007. Saat itu liputannya tentang beberapa pelajar berprestasi yang berprofesi sebagai blogger. Hmm, berita yang menarik. Saya jadi bertanya-tanya, “Blogger itu apa?”

Ketika menemukan jawabannya, saya mendapati kedua kolega saya di SMP Madania Bogor juga ternyata blogger. Mereka adalah Deddy Muharman dan Rizka Widayati. Kedua orang istimewa ini menjadikan blognya sebagai personal diary. Well, that’s what blog is originally for. 

Sepertinya hal-hal yang berhubungan dengan blog masih “menghantui” saya. Di tahun berikutnya (sepeninggal masa bakti saya mengajar di SMP Madania), kembali saya bertemu dengan orang-orang di kehidupan sehari-hari yang suka menulis bahkan mungkin menjadi profesinya. Mereka adalah orang tua dari murid-murid saya di Jolly Good English Bintaro Tangerang. Di antaranya yang saya ingat betul adalah Mamanya Rashamalika dan Umminya Faruq.

Mamanya Rashamalika ini (saya lupa namanya, justru ingatnya sama Bu Tari, neneknya Rashamalika yang kerap mengantar cucunya belajar di Jolly Good English) seorang wanita karier yang juga suka menulis dan sangat bangga memperkenalkan blognya kepada saya. Isinya seputar jurnal harian, seperti biasa. Saya juga hanya melihatnya sekilas dan lupa url-nya apa.

Sedangkan Umminya Faruq ini sosok ibu yang tenang dan selalu sibuk di balik laptop. Waktu luang saat menunggu Faruq belajar dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menulis. Ssst … Ummi ini ternyata (saat itu) rajin mengirim artikel ke berbagai media lho. Kok tahu?

Saya juga tahunya tanpa sengaja ketika di kelas Faruq menyodorkan buku catatan yang salah. Alih-alih tulisan tentang catatan pelajaran, di buku itu justru saya jumpai tulisan kronologis tentang deretan judul artikel yang dikirimkan ke media. Termasuk status artikel yang ditolak dan diterima. Jadi, Umminya Faruq ini penulis, ya? gumam saya. Wah, salut! Ternyata hobi/profesi Ummi sebagai penulis ini menjadi magnet yang kuat buat saya. Alhamdulillah, kami akhirnya bisa berteman dekat, lebih dari sekadar hubungan antara teacher and parent. Bahkan Ummi ini di kemudian hari menjadi mentor blogging saya di workshop Fun Blogging sesi 4. Yup! She is Haya Aliya Zaki. Mom blogger yang kondang dan bersinar dengan sederet prestasi. Hampir tak ada blogger yang tak mengenalnya. Ya, ‘kan?

Me and My Blogging Activity

Awal mula nge-blog di tahun 2008 memang hanya iseng tanpa niat. Entah sudah berapa kali saya membuat akun blog baru lantaran lupa password dan email di blog yang lama. Isinya juga enggak jelas mau cerita apa. Rasanya malah lebih jelas kegiatan menulis manual di kertas deh daripada nulis di blog. Asli saya enggak paham harus ngapain. Enggak ada motivasi juga. Boro-boro ngomongin visi dan misi nge-blog. Duh! >.<

Untunglah segala hal tentang nge-blog tercerahkan sejak saya ikut workshop Fun Blogging di tahun 2015 itu. Saya jadi lebih fokus untuk membuat tulisan yang bermanfaat bagi sesama. Lalu bagaimana kiprah blogging saya selama dua tahun terakhir ini? Well, meskipun belum total aktif nulis rutin tiap minggu tapi apa yang saya lakukan sudah lumayan menurut saya dibanding dengan kegiatan nge-blog di awal-awal dulu tuh. Entah gimana nasib akun blog yang jamuran dan terbengkalai bertahun-tahun itu.

Selama dua tahun ini alhamdulillah saya sudah mulai dilirik brand dan dapat job. Belum berupa job dalam skala besar sih, namun setidaknya saya mulai punya penghasilan dari nge-blog itu kan sesuatu banget. Dan saya sangat bersyukur akan hal itu. Saya juga bersyukur berada di komunitas blogger yang sangat suportif dan senang berbagi. Perjalanan menuju job besar itu bagi saya sebuah proses. Saya yakin semua blogger pasti diperjalankan untuk itu. Cepat atau lambat.

My Blogging Wishlist

Karena saya percaya bahwa manusia yang beruntung adalah mereka yang terus memperbaiki diri maka saya juga harus melakukan hal yang sama terhadap diri saya dan blog milik saya. Since I love writing then I have to test myself to sacrifice for it. Go for it! So, this is my wishlist:

Bismillah …

  1. Lebih konsisten menulis.

Saya sudah menyiapkan tema untuk hari/minggu tertentu. Sempat melakukannya namun … aah … perkara bagi-bagi waktu di sela-sela jam mengajar dan mengurus balita lumayan mendistorsi saya.

2.   Ternak blog.

Blog satu aja masih acak-adul, ya? Hahaha … Tapi ini proyek saya tahun ini. Saya ingin punya blog TLD selain yang di WordPress ini. Tadinya saya berencana untuk convert blog ini ke TLD tapi saya urungkan karena saya sudah cinta blog ini apa adanya. Jadi mending punya blog baru. Well, a blog with niche, perhaps?

3.  Belajar infografis.

Ini masih jadi PR besar buat saya. Masalahnya, untuk hal-hal teknis saya kurang berjodoh dengan belajar sendiri lewat tutorial. Jadi harus belajar langsung sama ahlinya. Dengan biaya yang ramah di kantong tentunya. Tapi kapan dan di mana?

4.  Percantik penampilan blog.

Saya suka berkunjung di blog yang tampilannya ceria, simple dan feminin. Pengen banget punya blog yang cantik seperti blog teman-teman. Tapi sekali lagi, saya belum mahir otak-atik sendiri. Mungkin kelak saya harus sewa jasa aja untuk memoles blog saya. Dengan biaya yang ramah di kantong (lagi) tentunya. Saya setuju kalau blogger mah yang penting tahu nulis aja. Masalah teknis serahkan ke ahlinya. Eh, tapi teteup lho suatu hari nanti saya ingin dapat menguasai banyak hal tentang teknis blogging. (Makanya belajar!)

5.  Belajar fotografi.

Konten blog akan lebih menarik jika didukung gambar yang menawan. Gambar yang menawan itu biasanya hasil bidikan kamera yang menawan juga. Jadi pengen punya mirrorless camera nih. Leica boleh, ‘kan? *mulai ngayal*

6.   Menulis buku

Menulis hingga menerbitkan buku adalah hal yang sudah semakin menggiurkan dan menari-nari di pelupuk mata saya. Buku apa aja deh. Temanya mungkin bisa diambil dari beberapa postingan saya di blog ini. Semoga dapat menjadi kenyataan. Aamiin.

7.   Ada anggaran yang memadai.

Kesemua harapan di atas bisa diatasi dengan uang. Jadi anggaran itu penting untuk kelancaran tugas blogger. Setuju?

Jadi, kapan mulai nabung? ^.^

Semoga wishlist saya di atas dapat terwujud tahun ini. Hanya kehendak dan kasih sayang Allah yang memiliki hak prerogatif untuk mewujudkannya.

Teman-teman juga punya wishlist yang sama?

Semoga terwujud juga segera, ya! Aamiin.

 

Lots of Love,

 

Frida Herlina

 

 

Advertisements

8 thoughts on “The Wishlist for Me and My Blogging Activity

  1. Ya ampuuun baru ketahuan ya waktu itu Faruq salah bawa buku. :)))) Semangat ya Miss. Love what you do. Do what you love. Hidup ini hanya sebentar. Let’s do our best. 😉

  2. Hahaha …
    Sayang banget Mi saat itu aku cuma baca sekilas buku catatan itu. Harusnya aku baca tuntas dan hapalkan ya. Hahaha ..
    It’s been a great pleasure to be your friend, Mi. You teach me a lot. Yup! Love what you do. Do what you love. Totally agree!

  3. Sama mba, nomor 1,2, sama 5… ^^
    Pengen konsisten menulis (meski masih acak-acakan, hihi..), terus beternak blog, dan juga punya kamera. Udah naksir beberapa kamera mirrorless, tapi seperti poin no.7, anggarannya itu lho… Hmm

  4. Hai mba Frida, teryata kalau buka blog ini di PC ada pilihan untuk pakai akun google. Hehhee
    Terkait whistlist, semoga terwujud ya. Tapi aku kayaknya nggak minat buat ternak blog, mba. Bakalan nggak terurus. Hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s