Teman Sebangku Yang Ternyata Calon Gadis Sampul Majalah Favoritku

kids-1592183_640-01

Pagi itu hariku sendu. Hampir saja tukang becak yang mengantarku terlambat tiba ke sekolah. Duh, mana bisa tenang aku sepanjang perjalanan? Aku sangat takut datang terlambat. Apalagi pelajaran di jam pertama itu IPA. Bu Sisil bisa sangat galak dan menghukum murid-murid yang datang terlambat.

Tak terperi leganya hatiku ketika becak yang kutumpangi akhirnya tiba di sekolah dengan selamat dan tidak terlambat. Bergegas aku masuk kelas dan meletakkan tas merahku.

“Hari ini kita duduk di depan. Kan minggu lalu kita duduk di bangku belakang,” tegur Ira mengingatkanku. Aku tersenyum. Hampir saja aku duduk lagi di bangku belakang. Ira itu teman sebangkuku. Gadis kecil manis yang selalu ceria dan banyak ceritanya. Aku sekelas dengannya sejak kelas satu tahun lalu. Kini di kelas dua kami sekelas lagi. Duduk sebangku pula. Hore!

Segera kami duduk manis ketika bel berbunyi. Tak ada upacara bendera karena pagi itu mendung bergelayut merata di sepanjang langit. Aku mengeluarkan buku-buku dan kotak pensil di atas meja. Ira melakukan hal yang sama.

“Ini buat kamu,” ucapnya tiba-tiba. Mataku berbinar melihat penghapus berukuran jumbo (dibanding penghapus milikku) berbentuk coklat batangan a la Cadbury.

“Makasih ya, Ra,” balasku.

Ira tersenyum mengangguk. Kuhirup aroma wangi dari penghapus bentuk coklat itu. Ini pasti penghapus mahal, pikirku. Aku teringat beberapa koleksi penghapusku di rumah yang juga beraroma wangi. Penghapus yang dibelikan oleh Tante Erti (kini almarhumah) dari Sanrio, toko fancy yang menjual banyak sekali barang-barang lucu dengan macam-macam tokoh kartun kesukaanku. Mulai dari Hello Kitty, Goro Pika Don, Little Twin Stars, My Melody, Keropi, dll.

“Eh, nanti kalo ketemu Steven, aku mau kerling kayak gini,” celoteh Ira tiba-tiba sambil mengerlingkan matanya. Aku hanya memandangnya tanpa berkata-kata. Di deretan tengah bangku di lajur seberang kulihat Steven sedang tertawa-tawa. Steven itu murid baru. Mungkin baru sebulan pindah ke sekolah ini. Badannya lebih tinggi dibanding anak laki-laki yang lain. Rambutnya tebal dan berkumpul. Emm, apa ya namanya? Pokoknya rambutnya padat aja di tengah-tengah tapi bukan kribo. Aku melihat Steven seperti anak besar. Anak yang sudah tahu banyak hal. Steven juga berani goda-goda anak perempuan. Kata ibuku, kelakuan seperti itu namanya genit. Dan anak-anak tak boleh genit.

Jadi Ira genit kah? Kok mau mengerling ke Steven? Aku terdiam dan berpikir keras.

Pelajaran selanjutnya adalah Matematika. Aku harus memerhatikan baik-baik penjelasan Bu Atik. Kadang-kadang aku masih enggak mengerti tentang perhitungan.

Aku masih mengerjakan soal yang diberikan Bu Atik ketika Ira mulai berceloteh lagi. Entah mengapa Ira sangat suka bercerita banyak hal kepadaku. Lebih seringnya aku yang jadi pendengar setianya meskipun aku juga punya banyak cerita seru untuk dibagi. Tapi enggak apa-apa kok. Ira baik sama aku. Dan aku juga suka mendengar ceritanya.

Eh, tapi ini kan sedang pelajaran. Berganti-gantian mataku memerhatikan Bu Atik di depan kelas dan memandang Ira sekilas menyimak celotehnya. Duh, Ira. Kita ini duduk paling depan lho. Suara kamu bisa terdengar Bu Atik. Aku bingung lalu menunduk.

“Besok Ira dipisah aja duduknya dari Yusfrida, ya. Kok dari tadi ngobrol terus!”

Deg! Teguran Bu Atik membuat hatiku menciut. Segera aku mengambil posisi duduk tegak dengan pandangan lurus ke papan tulis. Ira juga melakukan hal yang sama.

Tuh, kan, Ra?  Kamu sih?

***

Aku tertegun ketika di akhir tahun ajaran kelas tiga, Ira menghampiriku dan berkata, “Aku pindah sekolah. Papaku pindah kantor kerjanya di Tangerang.”

Mungkin saat itu sebaiknya aku memeluknya tapi tak aku lakukan. Entahlah, aku hanya beranggapan bahwa Ira hanya pindah sesaat. Suatu hari nanti kami pasti bertemu kembali.

“Ini alamatku di Tangerang. Nanti kamu tulis surat, ya.” Ira menyerahkan selembar kertas padaku.

Aku mengangguk. Ira hanya tiga tahun menjadi teman sekelasku. Mulai kelas empat ini, SDN Krembangan Selatan akan sepi tanpa Ira.

Tapi Ira yang membuatku rajin ke kantor pos. Aku juga rajin membeli kertas surat fancy beserta amplopnya. Tak terhitung banyaknya uang sakuku yang kubelanjakan untuk kertas surat. Seminggu sekali kami bertukar kabar via udara. Kedatangan tukang pos ke rumah sanggup membuatku melonjak gembira. Dering bel sepedanya saja sudah kuhapal di luar kepala.

Hingga ketika aku (kurang lebih) duduk di bangku SMP …

Aku pindah ke Tanjung Enim nih di Sumatera.

Wah, Ira sudah di Sumatera nih. Aku masih betah di Surabaya aja. Ira memberiku fotonya yang sedang duduk selonjoran di atas tembok dengan latar belakang pantai. Indahnya! Ira terlihat tomboy bergaya seperti itu. Aku mendekap fotonya. Aku rindu celotehnya.

Teman sebangku yang akhirnya menjadi sahabat pena setiaku ini tak henti-hentinya bertukar kabar. Hingga entah kapan tepatnya, tiba-tiba Ira pindah ke Bogor. Mungkin sekitar usia SMA. Aku juga tak tahu apa tepatnya pekerjaan papanya Ira kok sampai sering pindah-pindah keliling tanah air. Yang kuingat dulu di Surabaya hanya nama kantor papanya aja: PT Tempu Rejo.

***

Siang itu sepulang sekolah aku mampir ke agen koran/majalah untuk membeli Majalah Gadis. Sejak memakai seragam putih abu-abu ini uang jajanku bertambah. Setiap hari aku sisihkan sebagian uang jajan untuk membeli majalah favoritku selain untuk membeli kertas surat fancy.

Edisi Majalah Gadis saat itu tentang Finalis Gadis Sampul. Beberapa gadis cantik nan belia berpose dengan ceria. Wajah mereka seperti puteri kahyangan. Cantik sempurna bagai di alam mimpi. Ketika sedang asyik menikmati wajah para finalis tiba-tiba …

Mataku menangkap seraut wajah finalis yang tak asing. Meskipun gadis itu terlihat sudah remaja, aku masih melihat gurat kanak-kanak yang terpampang di wajahnya. Wajah kanak-kanak yang kerap menemani hari-hariku di kelas bertahun-tahun yang lalu.

Ira …, desisku hampir tak percaya. Ya Tuhan, ini bener-bener Ira!

Hatiku melonjak gembira bersuka cita. Teman sebangkuku bakal jadi seleb nih. Aku merasa sangat bangga.

Setiba di rumah, aku tak sabar memberitahu Christina tentang hal ini. Masih ingat Christina?

Teman di masa SD yang sekaligus tetangga dekat rumahku ini juga mengenal Ira dengan baik. Tentu saja Christina juga sebahagia aku melihat Ira menjadi finalis Gadis Sampul. Dia bahkan segera melesat ke agen majalah untuk membeli majalah yang sama. Majalah yang ada foto Ira-nya.

Hari-hari berikutnya kulalui dengan perasaan cemas menanti edisi Majalah Gadis terbaru. Aku harus mengikuti perkembangan berita pemilihan Gadis Sampul nih. Di saat seluruh pikiranku tercurah untuk sahabat masa kecilku itu tiba-tiba …

“Pos! Pos!”

Teriakan tukang pos di siang hari yang terik itu terdengar menyejukkan. Seolah aku melihat “kedatangan” Ira diwakili olehnya. Dan itu memang Ira dalam sebuah kartu lebaran dengan alamat yang baru. Pindahan lagi?

Ucapan selamat hari raya Idul Fitri dari Ira terasa bagai oase di padang  pasir. Aku berbinar-binar bahagia dalam keharuan saat membaca kartu ucapannya berulang-ulang. Bahasanya masih hangat dan ramah. Dia masih sahabatku.

Satu hal yang beda adalah torehan tanda-tangannya di kartu ucapan itu. Tanda-tangannya dewasa banget! Keren, mantap, pede dan ngartis banget! Duh, di mana ya, kartu lebaran darinya itu sekarang? Seandainya aku masih dapat menemukannya di belantara kardus di gudang. T_T

Ira menyertakan nomor pager/beeper-nya agar lebih mudah dan cepat menghubungi aku. Jadi kegiatan surat-menyurat yang sangat klasik dan historis itu sempat terhenti akibat kemajuan teknologi yang bernama pager. Kalian sudah lahirkah saat pager diluncurkan?

Di era tersebut, anak muda tampil sangat kekinian dan berkelas jika menerima pesan via pager. Kesannya orang penting banget. Padahal sih, cuma baca sms doang, enggak bisa langsung balas pula. Jadi gini, sesama pemilik pager bisa saling bertukar pesan dengan bantuan operator. Caranya: si A menelpon operator pager untuk menyampaikan pesan kepada si B – operator mengetik pesan tersebut – operator menanyakan nomor pager si B – pesan dikirim – si B membaca pesan dari si A via pager. Jika si B ingin membalas pesan si A, dia juga harus melakukan tahapan di atas. Rempong, ya? Hahaha …

“Tidit! Pager-ku berbunyi. Tidit! Tidit! Begitu bunyinya! Kadang punya pager bikin senang, kadang bikin resah, kadang bikin marah.”

Saking hitsnya anak muda zaman dulu punya pager, sampai-sampai diabadikan dalam sebuah lagu. Jika kalian seumuran aku, kalian pasti tahu penggalan lirik lagu di atas. Siapa penyanyinya? Yak betul, Sweet Martabak. Di era berikutnya lagu Online dari Saykoji juga hits. Kedua lagu ini jelas menggambarkan betapa besarnya pengaruh teknologi yang bernama gadget dalam kehidupan manusia sehari-hari.

Hingga di suatu sore …

Aku ada di Hotel Novotel Surabaya nih. Ada acara finalis Gadis Sampul. Kamu mau datang?

Kurang lebih seperti itulah pesan dari Ira yang kubaca di pager Indolink di suatu sore. Wah, Majalah Gadis ada roadshow di Surabaya nih. Info yang kusimak dari media cetak menyebutkan kehadiran Heidi Yunus ikut memeriahkan acara itu. (Ini kurleb sependek ingatanku, ya.)

Semua finalis Gadis Sampul berkumpul di sana. Dapat kubayangkan euforia para abege melihat selebritas favorit mereka.

Aku tertunduk lesu membaca pesan Ira sekali lagi. Bapak tak mengizinkan aku pergi ke Hotel Novotel. Terlalu jauh dan tak ada yang mendampingi meskipun sebenarnya kakak perempuanku sangat excited ingin pergi ke sana.

Beberapa hari kemudian tibalah pengumuman pemenang Gadis Sampul 1994. Meskipun tak memiliki keterlibatan langsung dengan perhelatan bergengsi itu, tetap saja aku ikutan dag-dig-dug. Aku lupa apakah acara penobatan Gadis Sampul disiarkan di layar kaca atau tidak. Aku juga lupa apakah aku mengetahui hasilnya melalui tv atau dari majalah duluan. Yang jelas aku punya feeling yang kuat tentang hal ini.

Dan feeling-ku terbukti! Woo-hoo … Kamu keren pakai banget lah sahabat kecilku. Penampilanmu yang tomboy dan unik justru memikat hati dewan juri untuk memenangkanmu. Iya, kamu. Congrats! Ucapan selamat yang kusematkan dari lubuk hatiku untukmu menyeruak dalam keharuan. Ya Tuhan, aku sampai menitikkan air mata memandang foto sahabat kecilku yang menggenggam kemenangan di ajang bergengsi itu.

Selamat ya, Ra. Kudoakan yang terbaik untukmu. ^.^

_20170502_234714
Foto: wikipedia

Juara 1 Gadis Sampul 1994

Ira Rayani Riswana

_20170502_234623
Foto: google

Lots of Love,

Frida Herlina

Advertisements

28 thoughts on “Teman Sebangku Yang Ternyata Calon Gadis Sampul Majalah Favoritku

  1. Waduuh, aku kok ikut terharu bahagia baca ceritamu mba. Cerita yg ditulis apik, gk bosen baca dr awal smpe akhir, kata per kata.

  2. Ah Ira Rayani ini teman Mbak ternyata 🙂 saya ngalamin juga beli majalah nya terus melototin satu2 finalis setiap edisinya hahaha

    Salam dariku fans mu juga Ira,
    Okti Li

    1. Tosss, teh Okti!
      Aku banget tuh melototin finalis GadSam satu2. Aktivitas kurang kerjaan tapi seru, ya. Hahaha …

      Iya, teh.
      Ira sahabat kecilku dulu. ^^
      Sekarang profesinya jadi perias jenazah.

  3. Suka dech Mbak baca ceritanya, ngalir banged jadi ikut terbawa..

    Lagu pager sempet tau siy lagu itu Mbakk.. Semoga Mbak Fridda bisa berjumpa lagi sama Mbak Ira yahhh..!!

  4. Aku langganan majalah Gadis jugaa…tapi Gadsam yang aku ikutin mulai sekitar tahun 1998 deeh..

    *luppaa namanya siapa…

    Tapi bener yaa, mba..
    Mereka yang karantina, kita (pembacanya) yang deg-degan seneng.
    Haaha…

  5. Saya juga subscriber garis keras majalah gadis!Haha.. Bahkan dulu pengen banget ikutan kirim formulir, tapi ga pernah terealisasi krn males ke studio fotonya, haha..

    Thanks ya mba, saya jadi ikutan nostalgia dari tulisan mba yg ciamik ini 😘

  6. ya ampuuuuun aku masih inget Ira riswana ini :D… tahun2 segitu aku masih langganan majalah gadis mba, jd pas ira jd pemenang, masih ngikutin :D… cocok sih dia jd pemenang.. memang kliatan pintar :D… walo tomboy tapi cantik 😉

    ya ampuuun dulu jaman pager msh hitz yaa ;p.. hihihihi aku juga pake :D… kalo diinget2, ribet sbnrnya yak , mau sampein pesen hrs nelpon operatornya dulu hahahaha… untunglah stlahnya hp muncul 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s