Tetap Semangat dan Berharap Baik

vintage-1950s-887272_640-01

Kehidupan di dunia ini hanyalah sebuah perjalanan. Kita diperjalankan mulai dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa hingga tua renta. Tak ada yang sanggup melawan perputaran waktu yang menggerus detik demi detik, waktu demi waktu, hari demi hari, hingga tahun demi tahun.

Tick! Tock! Tick! Tock!

Sang waktu terus merangsek maju tanpa dapat dikendalikan. Ini kebenaran umum. Iya, semua orang juga paham dengan paparan di atas.

Nah, kalau sudah paham, coba kita tanya pada diri sendiri: untuk apakah perjalanan kita di muka bumi ini? Untuk siapakah kita persembahkan perjalanan itu?

===========================================================================

Era ’80-an

Mengalami perjalanan sebagai kanak-kanak di tahun ’80-an memberi kesan manis tersendiri bagi saya. Merasakan serunya bermain bersama teman-teman sebaya itu kenangan yang tak ‘kan tergantikan.

Saya bersyukur mengalami masa aktif bermain secara fisik. Tentunya jenis permainan itu disesuaikan dengan postur kanak-kanak saya yang kurus ringkih. Iya, Frida kecil itu dulu kurus tak terperi. Saya masih ingat dulu Bapak sering mengingatkan saya supaya banyak makan agar lekas gemuk berisi. Belum lagi asupan susu campur telor (eee …. yew) yang harus saya tenggak demi menaikkan berat badan. Alhasil, saya hanya sanggup sekali telan dan sisanya … saya buang tanpa sepengetahuan Bapak. Duh, maaf ya, Pak. Tapi … susu campur telor mentah gitu ‘kan, mana tahan? >.<

Lalu permainan apa saja yang saya nikmati di masa kanak-kanak? Yuk, ikut saya melintasi waktu. Let’s go back to the past! 

  • anak-anakan => ini sejenis drama live. Saya dan teman-teman berbagi peran sebagai ibu, anak dan kalau ada anak cowok yang mau ikutan, yaa … dia jadi bapak. Tapi kebanyakan anak cowok ya menolak sih jadi bapak. Mereka lebih suka jadi anak aja. Kan bisa bertingkah bandel kalo jadi anak. Hahaha … Lokasi bermain biasanya di rumah. Seringnya sih di rumah Christina karena di sana ada banyak kamar dan ruang yang lapang untuk bermain. Tapi kadang bergiliran juga sih. Di rumah saya ataupun di rumah Devi. Suka-suka aja lah. Jam bermainnya siang hari sepulang sekolah, terutama hari Sabtu. Karena besoknya libur jadi kami bebas main siang-siang hingga sore hari. Lupakan jam tidur siang. Horeee …!!!
  • bongkar pasang/ puzzle kartun => ini juga mirip dengan anak-anakan. Bedanya pemeran drama ini adalah puzzle kartun yang kami lakonkan. Seperti main wayang gitu deh dan kami adalah para dalangnya. Permainan ini membutuhkan beragam asesoris pendukung selain baju-baju yang harus dibongkar pasang ke tokoh kartunnya. Baju-baju itu juga terbuat dari kertas sih dengan bagian ujung yang bisa disisipkan ke leher tokoh kartun sehingga bajunya terpasang. Asesoris pendukungnya meliputi: “furniture set” untuk ruang tamu, ruang makan, kamar tidur hingga dapur. Tak lupa pula pagar kertas yang harus dipasang berjajar berfungsi sebagai tembok pembatas. Kan lagi main rumah-rumahan nih ceritanya. Pagar ini biasanya kami buat sendiri dari kertas. Sedangkan furniture set-nya lebih berupa mainan plastik yang sudah jadi. Pajang mobil-mobilan juga boleh. Kalau main bongkar pasang ini seru deh. Saya masih ingat komentar Bapak ketika melihat saya dan teman-teman bermain bongkar pasang, “Wah, mulai ndalang nih.” Saking serunya tuh. Hahaha …
  • lompat tali
  • petak umpet
  • gobaksodor
  • pal patung
  • engklek
  • congklak
  • nama buah
  • domikado
  • tepuk tangan
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s