Lho, Siapa Yang Turun?

file4941271082144-01

Transportasi umum sudah menjadi kebutuhan harian bagi saya terutama di masa sekolah. Ketika duduk di bangku SMA, saya terbiasa naik angkot untuk berangkat dan pulang sekolah. Iya, angkot. Kendaraan umum idola banyak rakyat yang kerap harus ditungguin sekian menit kemunculannya termasuk harus ditungguin berjamaah dengan penumpang lain saat ngetem. Rupanya ngetem ini sudah menjadi menu wajib bagi sopir angkot tanpa peduli bahwa aksi tersebut bikin penumpang gemes! Untuk apa menunggu sesuatu yang tak pasti? Tambahan penumpang? Belum tentu juga, ‘kan?

Tapi begitulah romantika pengguna jasa angkot. Harus ikhlas dijejali menu ngetem. Hahaha …

Di Surabaya, angkot lebih dikenal dengan sebutan bemo ataupun mikrolet. Meskipun sama-sama angkot, bemo dan mikrolet memiliki bentuk fisik yang cukup berbeda. Untuk bemo, penumpang masuk lewat pintu belakang. Ingat opletnya Si Doel? Nah, sama persis tuh. Pintu untuk penumpang ada di bagian belakang, ‘kan? Bedanya hanya di ukuran body. Bemo lebih kecil dan kubus sedangkan oplet lebih besar dan lebar. Untuk mikrolet, penumpang masuk lewat pintu samping. Susunan penumpang menganut “patokan” enam & empat plus dua penumpang di kursi yang nempel di pintu samping plus dua penumpang di bangku ekstra tepat di lorong pintu masuk plus seorang penumpang yang rela bergelantungan di depan pintu. Khusus penumpang tanpa kursi yang rela berakrobat ini mendapat tarif khusus hingga gratis hanya dengan menepuk pintu dan “say thank you” dengan intonasi suara yang hangat dan akrab serta buru-buru kabur. Kadang saya suka geli mengamati perilaku penumpang akrobatik ini. Kok mau-maunya nyawa ditukar ongkos gratis? Bergelantungan di angkot? Ugh, no way!

Lalu siapa di samping sopir? Ya, penumpang juga dong. Syukur-syukur kalau bangku depan bisa diisi dua-tiga penumpang. Full house!

Bedanya lagi, armada bemo rata-rata mobil tua dan kuno. Sedangkan armada mikrolet mayoritas mobil baru dengan cat mengkilap, jok mobil yang empuk dan deru mesin yang halus. Tak heran beberapa sopir mikrolet suka kebut-kebutan. Mobil baru sih!

Meskipun pintu masuk untuk penumpang di bemo dan mikrolet berbeda, sopir-sopirnya tetap sama masuk lewat pintu samping kanan. Belum pernah sekalipun di zaman saya masih sekolah menjumpai sopir masuk lewat pintu atas. Saya rasa ini pasti karena atas dasar pertimbangan efisiensi. Bisa dibayangkan betapa repotnya sopir memanjat body angkot dalam keadaan memakai sarung sebelum meluncur masuk dan duduk di belakang kemudi. Bahkan di zaman sekarang yang jauh lebih modern belum pernah ada pintu masuk sopir lewat atas.

Sepertinya hanya sosok seperti Vin Diesel yang lebih pantas dan gesit meluncur di mobil balap mewah melalui pintu atas. Kalau sekelas angkot mah enggak perlu anti mainstream juga kaleee …

Lantas ngapain sih dari tadi bahas angkot?

Oh, iya. Dari tadi saya bahas angkot karena pernah punya pengalaman yang me … ma … lu … kan.

Apa?

Pssstt … Me. Ma. Lu. Kan.

Jadi gini … Syahdan pada suatu siang menjelang sore yang cerah saya pulang sekolah naik mikrolet lyn WL. Bukan hanya pulang sih, saat berangkat sekolah juga naik WL. Masih ingat rute angkot ini?

Rute angkot Surabaya trayek lyn WL jurusan Dukuh Kupang – Pasar Loak – Wonosari Lor ini di antaranya melewati: Demak – Rajawali – Kebalen – KH. Mas Mansyur – Sasak – Nyamplungan dan seterusnya. (Sumber: teamtouring.net)

Entahlah saat ini angkot WL masih beroperasi atau tidak. Yang jelas SMA Negeri 8 di Danakarya bersebrangan dengan Jl. KH. Mas Mansyur dan lokasi rumah di sekitar Jl. Rajawali tentunya sangat terbantu dengan trayek lyn WL ini sehingga saya tak perlu sambung rute ke angkot lain. Cukup dengan satu jenis angkot, tibalah di tempat tujuan.

Keunikan angkot di Surabaya yang tak saya jumpai di angkot ibukota adalah angkot Surabaya dilengkapi bel pencet di langit-langit angkot. Penumpang yang memencet bel berarti dia harus segera turun. Itu adalah kode audio bagi sopir untuk menepikan angkot.

Siang itu saya pulang sekolah berdua dengan seorang teman. Kondisi mikrolet cukup lengang karena hanya terdiri sekitar tujuh penumpang termasuk sopir.

Tiba-tiba salah satu penumpang, seorang ibu-ibu berusaha memencet bel tapi tangannya tak sampai dan badannya keburu oleng tepat saat sopir berbelok tajam.

Melihat hal tersebut saya segera sigap memencet bel untuknya dan mikrolet mulai melambatkan jalan sebelum menginjak rem.

“Lho, siapa yang turun?” tegur teman saya yang kaget melihat saya memencet bel sebelum tiba di tujuan.

“Ibu itu,” balas saya berbisik.

Sedetik kemudian, tak ada tanda-tanda penumpang turun. Beberapa penumpang yang lain (tapi bukan ibu itu) mulai melayangkan pandangan bernada lo-mau-turun-gak? ke arah saya. Sontak saya kaget, malu dan panik.

“Mau turun, Dek?” tanya sopir sambil memandang saya via kaca spion.

“Eh, enggak, Mas. Maaf,” jawab saya sambil menahan rasa panas di kedua pipi. Duh, malunya!

Ketika mikrolet mulai melaju, teman saya menegur lagi, “Belum waktunya turun kok udah pencet bel, sih?”

“Eh, itu tadi ada yang pencet bel, tau. Terus aku bantuin,” sahut saya setengah berbisik karena merasa enggak enak hati dengan si ibu yang berusaha pencet bel tadi.

Teman saya hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala dan memberi tatapan ah-kamu-ini-siang-siang-berhalusinasi. Tentu saja saya dongkol dipandang seperti itu. Lah wong saya berusaha bantu orang lain kok diketawain.

Sambil cemberut dan kesal, saya bergeser duduk sedikit menjauh dari teman saya. Lalu saya perhatikan si ibu yang berusaha pencet bel di tikungan tadi. Ibu tadi diam saja sepanjang insiden saya ditegur sopir. Menoleh pun tidak. Ibu itu terlihat lelah dan memejamkan mata. Apakah dia memutuskan melanjutkan perjalanan? Kok enggak jadi turun? Pertanyaan itu hanya bergema di kepala saya. Saya masih memerhatikan sosoknya.

Tiba-tiba ibu itu menarik napas panjang dan membuka matanya.

Kedua bola matanya putih semua!

AAAAAAAAAAHHHHH …. !!! >.<

 

Lots of Love,

Frida Herlina

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s