Dari Penari Hingga Penata Koreografi

bali-1870810_640-01

Menjumpai anak kecil yang dapat melakukan hal kreatif selalu memikat perhatian saya, sekecil apapun hal itu. Mulai dari membuat rangkaian bunga sederhana untuk dipersembahkan kepada ibunya di Hari Ibu, menulis surat cinta harian disertai gambar karakter untuk ayah maupun ibunya, atau mungkin menyiapkan secangkir teh hangat di meja guru di ruangan kelas sebelum pelajaran dimulai. Bisa juga berupa tindakan inisiatif menggalang dana ketika ada berita duka di sekolah, bahkan berjualan layang-layang supaya bisa beli sepatu baru tanpa merepotkan orang tua.

Untuk hal kreatif berupa berjualan atau berbisnis ini, saya punya tokoh kartun favorit yang sangat representatif. Siapa lagi kalau bukan Mail? Iya, Ismail bin Mail di serial kartun anak-anak Upin & Ipin ini cukup mencengangkan jiwa bisnisnya. Apapun kalau bisa dijual agar menghasilkan uang. Bahkan dia sangat cerdik membaca peluang bisnis hingga tanda-tangan Upin & Ipin pun dia kumpulkan agar bisa dijual. Hahaha … Kreatif!

Perilaku Mail ini sempat menggelitik saya untuk kilas balik ke masa kecil. Apakah saya dulu juga kreatif? Kreatif dalam hal apa dan di bidang apa, ya? Mari ikuti perjalanan singkat saya ke masa kanak-kanak.

Tak seperti ketiga abang saya yang memiliki kegiatan ekstra di luar sekolah berupa seni bela diri, saya dan adik perempuan saya justru menggeluti dunia seni tari sejak usia SD. Entah siapa yang mengarahkan, mungkin ibu kami lebih ingin memunculkan jiwa keperempuanan kami dengan mengikuti les tari. Padahal sebenarnya ikut seni bela diri juga asyik, ‘kan? (Kelak kemudian saya malah mengikuti jejak abang tertua menjadi Tae Kwondo-in di masa SMA.)

Namun ibu saya tak perlu khawatir , saya dan adik menikmati tari-menari yang kami lakukan seminggu sekali ini. Setiap hari Minggu pagi, abang tertua mengantarkan kami berdua ke Gedung Cak Durasim di Jalan Genteng Kali Surabaya. Kami berdua adalah murid-murid seniman kawakan Bagong Kussudiardjo. Saat itu kami terdaftar di jurusan Tari Kreasi Baru. Sebuah aliran tari kontemporer yang dinamis modern namun tak lepas dari kearifan lokalnya. Tari-tarian yang kami pelajari di sana sangat menarik dan mengesankan. Para instruktur tarinya juga kumpulan muda-mudi berparas rupawan. Saya masih ingat kecantikan dan keluwesan Mbak Yanti, salah satu instruktur tari yang melatih di kelas saya, ketika memberikan contoh gerakan tarian yang baru. Rambut ikalnya selalu terurai dan kulitnya bening kuning langsat ditambah senyuman yang menawan melengkapi kepribadiannya yang ramah.

Saya juga masih ingat Mas Edi, instruktur tari yang the most wanted yang kehadirannya sering menuai sorak-sorai suka cita para muridnya. Mengapa? Karena Mas Edi ini adalah pemuda berparas rupawan dan juga budiman bukan budiman = bulu di mana-mana, lho! serta lincah dan luwes gerakan tarinya.

Hmm, jadi Mas Edi ini ganteng dan murid-muridnya suka riuh-rendah kalau diajar beliau, begitu? Kok anak SD jadul pada kecentilan, heh?

Eits, bukan. Jangan salah sangka lah. Jadi gini, setiap sekian periode sekali tuh kelas tari yang saya ikuti selalu dikumpulkan dalam big group digabung dengan kelas lain yang masih setingkat di jurusan yang sama. Nah, kelas-kelas lain itu sih murid-muridnya udah mbak-mbak kuliah bahkan ibu rumah tangga juga ada deh kayaknya. Mereka itu yang suka berisik ramai sambil cekikikan kalau Mas Edi yang ngajar nari. Kalau murid-murid yang asli teman saya ya seumuran juga lah anak-anak SD yang cupu. Herannya, setiap kali ada kelas gabungan dengan mbak-mbak besar itu, saya sering kali melayangkan pandangan bermakna hellowh-biasa-aja-kali-napa-ya-lihat-orang-ganteng-duh-berisik-amat-sih-kalian-pada-kecentilan kepada salah satu mbak yang super reseh sekaligus norak setiap ada Mas Edi di kelas. Huh!

Kalau dipikir-pikir ya ngapain juga saya yang masih kelas 3 SD saat itu demikian sewot? EGP ajah napah, Neng!

Tahu enggak efek sampingnya ikut les tari kayak gitu? Yup, saya dan adik jadi ngetop banget sekelurahan setidaknya setahun sekali.

Do you get what I mean? ^^

Yup (again), saya dan adik jadi sering ditunjuk untuk mengisi acara di panggung perayaan 17-an tiap tahun. Sebenarnya bukan ditunjuk langsung sih, tapi melalui audisi lho! (Meskipun sudah pasti lulus audisi sih. Hihihi …) Pengalaman audisi di balai RW yang ngap karena penuh sesak manusia baik peserta audisi, penonton maupun pihak-pihak lain yang berkepentingan sungguh melelahkan bagi anak seumuran saya kala itu. belum lagi kalau pas kakak-kakak Karang Taruna menampilkan drama. Duh, ditanggung baju basah bercucuran keringat menunggu giliran audisi.

Meskipun demikian, kami cukup terhibur. Agenda penampilan panggung 17-an yang meliputi: sendratari, pembacaan puisi, drama, pantomim, paduan suara, dll itu sungguh seru dinikmati ketika audisi dan gladi bersih. Hebatnya, meskipun sering ditonton berulang di saat-saat tersebut tetap saja para artis kampung itu tampil cetar menggelegar di Hari H. Tentunya polesan make-up dan kostum yang menarik menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan penampilan di atas panggung.

Jadilah sejak kecil saya dan adik cukup dikenal sebagai penari cilik yang hampir tiap tahun pasti muncul jadi artis dadakan di panggung perayaan 17-an tingkat kelurahan. Lumayan. ^.^

Kecintaan saya di dunia seni tari kontemporer merambah ke tari modern. Jadi memang benar adanya wejangan salah satu instruktur tari saya bahwa jika seseorang ingin menguasai seni tari dengan baik maka mempelajari tarian tradisional adalah langkah awal. Karena dengan bekal ilmu tari tradisional itulah langkah menuju tari modern akan semakin mudah dijalani. Itulah yang terjadi pada diri saya.

Seni tari seperti urat nadi yang mengalir di tubuh saya. Jiwa saya menghentak mengikuti irama tatkala mendengar alunan gending tarian yang saya kenal dan kuasai. Lagu-lagu modern jadul bahkan dengan beat breakdance pun menarik perhatian saya. Tapi tolong jangan bayangkan kondisi saya saat ini yang nota bene sudah punya 2 anak gegulingan putar-putar pecicilan beratraksi breakdance, ya! Duh, tulang-tulang usia cantik ini bakal jejeritan kalau dihajar high impact semacam itu.

Itu kan kisah ketika saya masih duduk di bangku SD. Kalau kalian seumuran saya, pasti tahu film jadul hits yang berjudul Gejolak Kawula Muda. Ada apa dengan film ini? Film era ’80-an yang dibintangi Chicha Koeswoyo dan Rico Tampati ini menuai sukses dan mempopulerkan tarian breakdance. Mungkin film ini bisa disetarakan dengan High School Musical, Glee ataupun Step Up. Intinya ya tentang tarian begitu lah. Cerita persisnya seperti apa, sayangnya saya lupa. Tepatnya memang enggak pernah memerhatikan jalan ceritanya sih. Lah wong saya masih SD juga ngerti apa tentang cerita film?

Yang saya ingat, OST-nya dong pasti. Bahkan salah satu musik instrumentalianya masih saya ingat dan berdengung-dengung di kepala saya saat ini. Kalian bisa dengar? Kok malah bikin penasaran.

Ketika saya duduk di kelas 5 SD, saya mulai menyukai dance. Tentunya kategori dance jelas lebih kekinian lah ya dibanding sendratari. Meskipun secara nilai estetika, filosofi dan historis, sendratari jauh lebih unggul dibanding dance. Itu pasti.

Suatu hari, Ifah, salah seorang teman sekelas saya, dan beberapa teman dari kelas lain mempersembahkan  group dance di acara kelulusan siswa kelas 6. Beberapa gerakannya lumayan unik dan ritmik menurut saya meskipun penampilan mereka saat itu sempat amburadul akibat penempatan blocking yang kurang tepat. Tapi saya hanya menangkap bahwa beberapa gerakan dance itu bagus bila dilakukan dengan latihan yang sungguh-sungguh dan lebih kompak.

Waktu bermain saya di siang hari sepulang sekolah lebih sering saya habiskan untuk berkunjung di rumah Christina, salah seorang teman karib di sekolah yang sekaligus tetangga saya. Di sana saya suka bermain boneka maupun drama anak-anak ala kadarnya. Rumah Christina yang cukup lapang dan memiliki banyak kamar menjadi tempat bermain favorit bagi saya dan teman-teman. Tak hanya bermain, seringkali kami melakukan dance bersama diiringi lagu apapun yang tersedia di kamar bapaknya Christina. Seringnya sih saya yang jadi dance leader-nya lalu menciptakan gerakan ala-ala untuk seru-seruan bersama. Ada kalanya dance berhenti di tengah jalan walaupun lagu pengiring masih mengalun karena saya harus mikir dulu untuk bikin gerakan apa selanjutnya. Kalau saya berhenti gitu teman-teman juga ikutan freezed sambil mengeluh, “Ayo dong lanjutin dance-nya. Habis gerakan ini terus ngapain lagi?” Hahaha …

Hingga suatu hari …

“Dek, kamu bisa ngajari dance, ‘kan?” tanya Mbak Mirna (sebut saja begitu), salah seorang tetangga yang duduk di bangku SMA.

Saya terperangah.

Setelah ngobrol ngalor-ngidul akhirnya terjadi kesepakatan bahwa saya akan mengajari beberapa mbak-mbak SMA sepulang sekolah untuk latihan group dance dalam rangka penampilan mereka di atas panggung 17-an di RW sebelah. (((Acara 17-an lagi?)))

Sepertinya sih saya memang spesialis artis khusus acara 17-an, ya. Jadi mbak-mbak itu sudah menentukan lagu apa yang mau dipakai untuk performance tersebut. Judulnya Lidah-lidah Lelaki oleh Cut Irna.

Ya ampun, itu kan lagu yang sering saya dengar di rumahnya Christina? Bahkan tempo hari saya dan teman-teman nge-dance ala-ala kan pakai lagu itu? Saat itu saya merasa lega karena tugas saya terasa ringan. Lega karena saya mengajari dance dengan lagu yang sudah akrab di telinga sehingga saya tak butuh waktu untuk penyesuaian. Apalagi tenggat waktunya cukup singkat lho.

Butuh rasa percaya diri dan kesabaran bagi seorang anak SD untuk mengajari dance kepada mbak-mbak SMA yang tak memiliki latar belakang seni tari. Bikin koreografi aja sudah memakan waktu dan energi. Belum lagi harus mengajari mereka stage blocking agar susunan tata letak penari tampil lebih menarik dan utuh. Di saat yang hampir bersamaan pun saya harus latihan nari untuk penampilan di panggung kelurahan. Syukurlah acara 17-an di RW sebelah itu dilaksanakan lebih awal daripada jadwal manggung saya di kelurahan. Jadi saya masih bisa membagi waktu.

Puncaknya, ketika mbak-mbak SMA itu beneran tampil di panggung dengan iringan lagu yang judulnya cukup ajaib itu koreografi dance ciptaan saya dan mereka sukses kompak membawakannya, saya yang anak SD kala itu tak serta merta menepuk dada. Saya hanya merasa puas bisa membantu mereka dan bangga menjadi koreografer cilik tingkat RW. Dari seorang penari hingga menjadi penata koreografi. Ternyata saya bisa.

Hanya itu hal kreatif yang pernah saya lakukan di usia sekolah yang masih membekas kesannya hingga saat ini.

What about you?

Lots of Love,

Frida Herlina

Advertisements

4 thoughts on “Dari Penari Hingga Penata Koreografi

  1. Wuahhh keren, jaman dulu extra tari emg hits banget ya mbak. Aku dulu ikutan jg nih, baik di sekolh maupun di tmp papa kerja. Eh, sampe kuliah jg yg dipilih extra tari, tp ngikutin perkembangan jaman keknya…modern dance namanya haha.
    Tapi blm sampe sekreatif mbak Frida, sampe jd koreografer hihihi keren.

    1. Les tari memang hits saat itu. Semoga saat sekarang jg hits, ya
      Seru lho belajar tari tradisional itu.
      Tapi modern dance jg asyik kok.

      Ini sih ga keren2 amat kok, Jeng Nining. Aku ikut les tari cuma di masa SD. Pas SMP & SMA lebih tersita di ekskul sekolah.

      Sehat2 ya, bumil.

  2. Dulu, saya juga pernah ikut kursus tari mbak, tapi nggak lama karena kesibukan les yang seabrek, padahal masih SD. Saya suka menari, tapi saya kurang kreatif untuk menjadi koreografer seperti mbak… Semangat terus yaahh 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s