Gaji Pertama Gaji Istimewa

money-1974707_640-01

Seorang wanita yang memutuskan untuk bekerja pastilah memiliki beragam alasan di balik keputusannya tersebut. Bagi wanita lajang, bekerja merupakan simbol kemandirian secara finansial. Tak lagi tergantung kepada fasilitas dari orang tua untuk pembiayaan ini dan itu menjadi semacam life goal bagi beberapa wanita dewasa yang bekerja. Bahkan di kota-kota besar, paham “work hard play hard” sudah menjadi hal yang lumrah. Meskipun sangat disayangkan ya, bila gaji terbiasa dihambur-hamburkan di saat masih memiliki kesempatan untuk bekerja di usia muda. Akan lebih bijaksana jika masa depan di hari tua telah dipersiapkan di masa muda. Setuju? ^^

Kita tinggalkan wanita lajang yang bekerja/berkarier dengan segala romantikanya. Bagaimana dengan ibu rumah tangga yang akhirnya memutuskan untuk bekerja?

Bisa jadi latar belakang di balik keputusan itu jauh lebih kompleks daripada keputusan wanita lajang untuk bekerja.

Wanita yang sudah menikah atau ibu rumah tangga yang akhirnya ikut bekerja (mencari nafkah) idealnya memang mendapatkan izin dari suaminya untuk melakukan hal tersebut.

Berikut adalah beberapa alasan yang mengharuskan wanita non-single untuk bekerja:

1. Suami sakit.

Ini menjadi alasan utama untuk melanjutkan kelangsungan hidup. Wanita harus bekerja mencari nafkah terutama bila dia memiliki anak yang masih di bawah umur.

2. Berubah status.

Tiba-tiba menjadi single mom karena kematian suami maupun karena perpisahan dengan pasangan. Wanita dengan kondisi seperti ini harus tangguh dan bermental baja. Segera move on dan lanjutkan hidup, terutama demi anak.

3. Aktualisasi diri

Ada beberapa wanita yang tak berjodoh dengan urusan domestik. Bekerja full time 24 jam di rumah mulai mengurus suami dan anak termasuk benah-benah rumah tanpa gaji resmi kerap memicu stres dan depresi. Sehingga wanita tersebut sering marah-marah berkepanjangan. Giliran dia tampil bekerja di luar, semuanya beres. Baik urusan karier maupun rumah tangga juga beres. Disinyalir bahwa pemicu stres dan depresinya itu karena wanita tersebut memiliki kemampuan/keahlian yang harus disalurkan. Sehingga begitu dia mendapat kesempatan untuk mengaktualisasikan dirinya dengan berkarier di luar, segala hal menjadi terkendali. Ada lho wanita seperti ini. Termasuk Anda kah? ^^

4. Mencukupi kebutuhan rumah tangga.

Sudah menjadi realitas hidup bahwa kebutuhan harian/mingguan/bulanan berkejar-kejaran setiap saat melolong minta dipenuhi. Sedangkan pahitnya terkadang dana yang harus dialokasikan ke pengeluaran tersebut belum mencukupi. Sehingga meskipun suami sudah banting tulang, nasib baik belum jua datang. Maka isteri pun ikut ambil peran mencari nafkah agar kemelut rumah tangga di bidang keuangan dapat diatasi. Anda ada di posisi ini sekarang? Jangan khawatir, Anda tak sendiri. Cheer up! Wanita yang bekerja mencari nafkah itu pahalanya senilai jihad di jalan Allah (CMIIW). Maka lakukan dengan ikhlas dari hati, ya. Insya Allah akan datang rezeki yang halal, barakah dan berlimpah kepada kita semua segera. Aamiin.

Nah, setelah sibuk dan fokus bekerja tibalah saat yang dinanti-nanti setiap bulan. GAJIAN! Yippie, it’s pay day time! ^.^

Mungkin bagi sebagian besar orang, menerima gaji pertama itu bagai mendapat durian runtuh. Termasuk bagi saya. Sungguh berkesan dan tak terlupakan karena gaji pertama itu gaji istimewa. Saking istimewanya, buat saya gaji pertama itu lambang kebebasan. Bebas mau belanja apa saja! Bebas dibagikan kepada siapa saja sebagai ungkapan rasa syukur.

Jadi, gaji pertama buat apa aja nih?

Ketika masih lajang, saya menerima gaji pertama sebagai asisten dosen dengan perasaan yang campur aduk. Rasanya deg-degan, senang, bangga, terharu dan yang pastinya excited banget! Bayangkan, di saat teman-teman saya masih menadahkan tangan kepada orang tua setiap bulan, saya justru sudah merasakan gajian. Dan saya digaji karena mengajar mata kuliah Bahasa Inggris di fakultas lain. Jadi ini bukan gaji sembarangan bagi saya. Meskipun nilai nominalnya tak seberapa, tetap saja itu hasil jerih payah diri sendiri, bukan? Dengan kehendak Allah, saya bisa menjadi tangan kanan dosen saya dan merasakan nikmatnya gajian.

Sebagai ungkapan terima kasih dan mengapresiasi diri sendiri, saya pun membeli sepasang sepatu dengan gaji pertama tersebut. Jangan berharap saya membeli sepatu ber-merk yang sedang hits di zaman itu karena pilihan saya justru jatuh pada sepatu dari pengrajin.

_20170427_125222
Kurang lebih seperti inilah penampilan sepatu Mary-Jane milik saya dulu. (pic: costumecraze.com)

Di kawasan Pasar Besar Malang ada salah satu toko sepatu (yang saya lupa namanya) yang memajang dagangannya khusus dari pengrajin. Sehingga pelanggan bisa membeli jenis, bahan dan model sepatu sesuai selera by request. Sepatu yang dipesan di toko tersebut tampil polosan tanpa brand. Konon kabarnya toko itu juga menerima order dari brand sepatu ternama. Meskipun tanpa brand, kualitas sepatunya patut diacungi jempol. Awet dan nyaman dipakai.

Pilihan saya jatuh pada sepatu model Mary-Jane favorit saya, berwarna hitam polos, size 40 dengan tinggi hak sekitar 5 cm dan gesper bulat a la ikat pinggang. Bahannya dari kulit sehingga lentur mengikuti lekuk kaki saya.

People say: “It hurts like new shoes.” Oh, forget it!

Bencana kaki lecet saat memakai sepatu baru sama sekali tak terjadi pada saya. Kadar kepuasan hingga 99% rasanya. Sepatu itulah yang menemani hari-hari saya mengajar di Malang. Hingga ketika pindah ke Tangerang pun, sepatu itu masih ada. Meskipun sejak punya anak selera saya bergeser ke flat shoes/sandals, sepatu Mary-Jane itu masih saya simpan dengan baik. Beberapa sepatu yang berhak 3 cm pun sudah saya bagi-bagikan karena toh saya tak memakainya lagi. Hanya sepatu Mary-Jane ini yang cukup lama tersimpan karena memiliki nilai sejarah buat saya. Meskipun lama tersimpan, betapa terkejutnya saya ketika mendapati sepatu Mary-Jane itu masih utuh bersih tak berjamur. Ketika saya coba pakai pun masih terasa sama nyamannya. Padahal saat itu usianya sudah 18 tahun!

Akhirnya ketika pindahan, saya mengikhlaskan sepatu Mary-Jane itu diambil pemulung beserta dengan barang-barang bekas lain yang tak lagi saya butuhkan. Sekali lagi, toh saya sudah lama tak memakainya. Jadi biarlah sepatu itu menjadi manfaat bagi orang lain yang lebih membutuhkan. Meskipun saya memiliki ikatan batin yang kuat dengan sejarah sepatu itu, tak terbersit di benak saya untuk memotretnya sebagai kenang-kenangan yang terakhir kali. Saya sudah mengikhlaskannya. Hanya tema wajib tentang gaji pertama inilah yang kembali melabuhkan ingatan saya tentang sepatu Mary-Jane spesial itu.

Itu kisah panjang gaji pertama yang saya terima di masa kuliah dulu. Masih ada kisah lain tentang gaji pertama yang saya terima ketika sudah berumah tangga. Berikut kisah singkatnya.

Ketika Salsa berusia 2 tahun (yaitu 12 tahun yang lalu), saya diterima bekerja mengajar di The Victoria Readers Indonesia di kawasan Kemang Jakarta Selatan. Itu adalah salah satu English course yang cukup bergengsi. Anak-anak dari beberapa selebritas tanah air banyak yang meluangkan waktu untuk belajar Bahasa Inggris di sana. Sebut saja anak dari Reza Artamevia, anak dari Marini Zumarnis, anak dari Tommy Soeharto, bahkan cucu dari Megawati Soekarnoputri pernah belajar di sana.

Tapi buat saya, yang paling berkesan adalah ketika mengajar Teuku Rassya Islamay Pasya, anak dari Tamara Bleszynski dan Teuku Rafly Pasya. Saat itu Rassya masih duduk di kelas 1 SD tapi anak itu memang cerdas dan rupawan dari lahir. ^^

Well, kisah mengajar anak-anak selebritas ini memang berkesan tapi akan menjadi a very long OOT story bila harus dituangkan di sini. Intinya kan gaji pertama, ya? ^^

Gaji pertama dari Victoria Readers ini saya persembahkan ⅓-nya untuk ibu kandung saya. Lalu sisanya?

Well, sisa gajinya saya gunakan untuk bersenang-senang dengan suami dan anak, tentunya. Saya bukan tipikal ibu yang gampang me time bersenang-sendiri tanpa mikirin anak dan suami. Bukankah gaji pertama itu lambang kebebasan?

Masih ingatkah kesan saat menerima gaji pertama? Share di sini, ya! ^.^

Lots of Love,

Frida Herlina

Advertisements

2 thoughts on “Gaji Pertama Gaji Istimewa

  1. Aw.. Sama.. Aku jg suka model sepatu Marrie Jane, modelnya klasik soalnya, zaman kapanpun sepatu marrie jane tetap favorit. Btw.. Mbak keren bgt bs ngajarin anak2 artis, klo skrg lg crt gaji pertama, next.. Crt bgmn cara mengajar para anak seleb itu dong mbak.. Aku penasaran hahahha…

    Gaji pertamaku dulu (sebelum nikah), samaa.. Aku beli sepatu jg, modelnya mirip2 kyk sepatu marrie jane jg, cuma ga ada tali dibagian atasnya, maklum namanya jg butuh yaa buat kerja, xixixi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s