Ketika Pesona Ditebarkan Lewat Lantunan Bacaan

Dunia anak ternyata menyita perhatian saya. Dalam artian bermain dan belajar bersama anak-anak.

Iya, saya memang pengajar, tepatnya mengajar Bahasa Inggris. Awal mula saya mendapat kesempatan untuk terjun di dunia mengajar ini terjadi ketika saya masih duduk di bangku kuliah Jurusan Bahasa Inggris, di tahun kedua. Kala itu salah satu dosen saya membutuhkan asisten untuk mengajar Bahasa Inggris kepada para mahasiswa baru di Jurusan Nautika Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya Malang. Di sini saya mengajar materi kuliah Bahasa Inggris. Jadi ini kelas serius. Lalu merembet ke kesempatan (ditawarin job mulu nih, ceritanya) menjadi English Instructor untuk para mahasiswa di Fakultas Teknik dan juga di Fakultas Perikanan, masih di almamater saya juga. Job desc-nya lebih ke fasilitator agar para mahasiswa itu tampil pede untuk speak up in English. Jadi ini kelas santai semacam ekstra kurikuler aja gitu lah, English Conversation Club. Meskipun ini kelas non formal, saya cukup “kejam” untuk memaksa mereka bicara. Meskipun mayoritas “murid-murid” saya ini usianya lebih tua (mereka nih di semester lima-enam ke atas sedangkan saya masih semester tiga), saya memperoleh respek dan kerja sama yang baik dari mereka. Sehingga kelas pun berjalan lancar bahkan serangan pedekate di luar kelas pun gencar saya terima. 😜😄 *halah*

Tiap mengajar tentunya saya sudah menyiapkan materi. Yang jelas, Bu Hermin (dosen pemberi job ke saya tuh) enggak perlu khawatir deh karena saya bisa diandalkan kok. Hehehe … Alhamdulillah saya berkomitmen untuk bekerja dengan baik.

Itulah pengalaman awal karier saya mengenal dunia belajar-mengajar. Bukan hanya kelas mahasiswa yang menjadi pengalaman saya, tetapi juga kelas SMA, SMP, SD, TK hingga Kelompok Bermain. Bahkan di Tangerang, saya juga mengalami mengajar Conversation class untuk para guru di salah satu SMK Negeri. Tentunya ini menjadi pengalaman tak terlupakan, mengingat justru saya lah saat itu yang berusia paling muda di antara para bapak dan ibu guru. Nervous karena mengajar orang-orang yang jauh lebih tua? Tentu saja saya alami. Tapi berkat pertolongan Allah, saya mampu melalui kendala yang menghadang.

Sepanjang pengalaman saya mengajar, saya memang lebih nyaman berkiprah di jalur informal semacam di English centre/course meskipun akhirnya takdir jualah yang mendaratkan kaki saya di salah satu SMP swasta bergengsi di Bogor 9 tahun yang lalu.

Saya menjumpai banyak sekali warna-warni dan pernak-pernik problematika dunia pendidikan. Hal itu memperkaya wawasan dan mematangkan kedewasaan saya.

Saya juga mendapati banyak suka dan duka di dunia belajar-mengajar ini. Dan hal itu menambah kesehatan batin saya. Justru sebenarnya banyak hal yang lucu terjadi yang sering mengguncangkan kedua bahu saya akibat ledakan tawa atas kelucuan dan keluguan murid-murid saya.

Ya, akhirnya langkah saya mendarat dengan mantap di segmen anak-anak. Murid-murid di usia SD lah yang kini mendominasi hari-hari saya. Murid-murid yang mampu mencuri ruang hati saya untuk saya kasihi dan sayangi dengan segenap jiwa.

Jika sebelumnya saya mengajar anak-anak usia TK/SD dengan English-based background (mayoritas mereka adalah murid-murid di sekolah internasional) maka tahun ini saya dipertemukan dengan anak-anak SD yang masih zero-based English. Bahkan mereka lebih cenderung mother tongue/Indonesian-based.

Tentunya ini tugas baru bagi saya karena akhirnya saya menyampaikan pelajaran dalam Bahasa Indonesia sebelum menuju mixed languages dan sebelum fully English class.

But you know what? I’m so glad to tell you that my students are fighters.

Mereka menunjukkan minat dan progress yang cukup signifikan untuk mempelajari dan menguasai Bahasa Inggris dengan baik. Mereka patuh, rajin menyimak dan mau mengulang.

Well, tentu saja mengajar tak melulu menyajikan kisah manis yang sesuai rencana. Menjadi guru itu seakan berada di Jurassic Park kadang benar adanya. Hahaha …

Hingga suatu hari …

“Miss Frida, aku tahu! Ada lagi kata yang pakai ‘th’ sound: ‘smooth’!” seru Nashwa (kelas 6 SD) ceria.

Well done. Where did you get the word? Kamu dapat kata itu dari mana?”

“Hehehe … Itu, Miss. Dari iklan shampoo di tv.”

Bayangkan! Sekitar seminggu sebelumnya kami membahas tentang “th” sound words, di pertemuan minggu berikutnya murid saya masih terngiang materi tersebut sehingga refleks mencari entry words di mana-mana. Rupanya lesson itu membekas baginya.

IMG-20170217-WA0000
Azzam meraih juara Harapan 3 di lomba English News Reading bulan lalu.

Satunya lagi, Azzam (kelas 1 SD), rajin kirim text ke saya via WhatsApp mamanya untuk update kosakata baru.

Miss, ada lagi nih. Other.

Good job.

Kalo health sama healthy apa bedanya, ya?

Nanti kita bahas di kelas, ya. (Balas saya setelah menuliskan kedua arti kata tersebut.)

Lain halnya dengan salah satu murid saya, Intan, kelas 4 SD. Di awal jumpa saya dengannya, dia melafalkan hampir seluruh kata dalam Bahasa Inggris saat membaca buku secara tidak tepat.

I thought that she created her own pronunciation style. 

Sering saya merasa tidak tega melihatnya berulang kali mengucapkan kata yang salah. Namun saya sadar bahwa anak-anak harus mendapatkan pengajaran yang benar dan membutuhkan pengulangan. Apalagi telinga saya nih susah mendengar kata-kata yang salah lafal. >.<

Hingga akhirnya Intan menyeletuk, “Tuh kan, repeat again,” tepat ketika saya mengatakannya agar dia mengulang apa yang dia baca.

Tapi usaha memang tak pernah mengkhianati hasil. Tadi sore, saya meminta Intan untuk reading. Dengan berhati-hati dia membaca dan tampak lebih literate bagi saya. Bahkan ending “-ed” pada kata “searched” sukses dia lantunkan dengan sempurna. Saya menangkap pesona yang dia tebarkan melalui penampilan reading aloud-nya. Oh, saya sungguh terpesona!

Bahwa #MemesonaItu adalah melihat murid-murid saya menunjukkan minat dan semangat belajar yang kuat sungguh menentramkan hati saya. Bahwa #MemesonaItu adalah menyaksikan murid-murid saya lancar dan fasih membaca dalam Bahasa Inggris sungguh melegakan sanubari saya.

Meskipun mereka memiliki latar belakang zero-based English, mereka mampu tampil MEMESONA!

IMG-20170210-WA0000

 

Saya telah mendedikasikan separuh usia saya untuk mengajar. Dan saya melihat pesona murid-murid saya yang luar biasa. Dan saya ingin menjadi seseorang yang mengantarkan mereka meraih pesona itu. Saya masih ingin terus mengajar.

250

505

Lots of Love,

Frida Herlina

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s