A Love Letter to My Eldest Daughter

img-20161230-wa0003-01

Dear my eldest daughter, Asyifa Salsabilla Nerisha.

Hi, Sweetheart. 

Hari ini kamu sedang enggak enak badan dan harus istirahat di rumah. Bunda udah izin ke wali kelas pagi tadi sebelum kamu bangun tidur. Sejak kamu pulang dari sekolah kemarin, memang Bunda amati kamu terlihat lelah. Seminggu kemarin padat banget ‘kan aktivitas di sekolah?

Acara Open House di sekolah kamu yang diisi agenda pertandingan futsal, try out untuk murid SD kelas 6 dan juga Market Day benar-benar menyita energi dan pikiran kamu. Hingga finalnya saat akhir pekan kemarin, kamu ikut acara kemah di sekolah, kamu dan Dira sempat sesak napas karena asap api unggun yang diterpa angin terhirup oleh kalian. Dan kalian hanya bisa menangis sendiri di kelas karena hal itu.

“Semalam sewaktu aku baca BBM dari Bunda ‘Is everything ok?’, kok Bunda tahu sih aku lagi enggak oke. Aku sesak napas tuh kena asap api unggun sampe aku akhirnya lari ke kelas terus nangis sama Dira. Sesak banget.”

Ah, pedih hati Bunda membayangkannya. Kamu harus tetap ingat ya, bahwa selama di sekolah bila ada apa-apa, kamu wajib lapor ke guru yang ada di sana. Semua murid adalah tanggung jawab guru selama berada di lingkungan sekolah.

Syukurlah sesak napas yang kalian alami itu hanya insidental, hanya karena memang tak sengaja menghirup asap api unggun. Tapi akhirnya hari ini kamu demam dan mulai batuk-batuk. Oke, badan kamu udah beri sinyal, maka tiba saatnya buat kamu untuk istirahat. Bunda harap kamu bisa segera sehat ya, Sayang.

Dear My Belle,

Kamu tahu ‘kan kalo Bunda suka mencium pipimu saat kamu terlelap tidur? Dan setiap Bunda melakukannya, Bunda teringat masa lalu. Ingat kamu saat setinggi setengah dari tinggi Bunda. Saat kamu masih duduk di bangku TK, saat kamu masih lucu, polos dan menggemaskan. Saat kamu selalu minta jalan-jalan ke toko buku dan duduk selonjoran di ubin sambil asyik membuka-buka buku cerita yang kamu pilih dan komat-kamit “membacanya”. Hahaha … 😀

dsc00051
Becoming a bookworm at her early age. ^^

Sekarang sih kamu hampir setinggi Bunda. Acap kali kita bertukar busana. Cardigan milik Bunda muat di badanmu dan jaket denim milikmu juga sering Bunda kenakan. Rasanya seru mengalami hal ini bersamamu. Sebuah pengalaman yang tak terlintas sedikitpun di benak Bunda saat kamu masih kecil dulu.

Time flies, Sweetheart! Look at you now. You’re growing!

Tapi permintaan untuk jalan-jalan ke toko buku sih masih tetap melekat di dirimu hingga kini. Terutama bila liburan tiba. (Dan liburan semester lalu, kita sempat borong buku di pesta diskon BIG BAD WOLF! Yay!) Pasti kamu gelisah bila tak ada buku maupun novel yang bisa kamu nikmati di waktu senggang. Dan kamu termasuk fast reader. Kamu bisa “melahap” novel setebal 200 halaman hanya dalam kurun waktu 1-2 jam. Tapi bukan asal baca, kamu pun paham kisah novel itu tentang apa. Bandingkan dengan Bunda yang butuh waktu tiga malam untuk selesai membaca Di Tanah Lada-nya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizki! Hahaha … Yaa, waktu luang Bunda untuk membaca memang saat menidurkan Danisha, adikmu satu-satunya itu. Waktu Bunda yang lain memang tersita untuk mengajar, menyiapkan lesson plan dan materi belajar termasuk cek administrasi, mengasuh dan menyayangimu dan adikmu, membantu usaha Ayahmu plus sederet kegiatan domestik yang menyita waktu.

Apapun itu, Bunda bangga dengan hobi membacamu. Bahkan ketika salah satu toko buku ternama di negeri ini mengadakan diskon besar-besaran secara online, Bunda antusias mendukungmu mengusung beberapa novel favorit. Bahkan Bunda juga ikutan beli tiga novel Araminta, seri horor komedi anak-anak. Dan kamu selalu paham bahwa untuk membeli novel baru, pasti selalu ada anggaran terbatas. Enggak semua isi toko buku bisa kita bawa pulang ‘kan, Sayang? ^^

Dengan cerdik kamu mengkoordinasi teman-teman dekat di sekolah untuk memanfaatkan promo itu. Memang harga novel-novel itu terjangkau uang saku kalian sih. Super murah! Tak ada satupun dari teman-temanmu dan kamu yang membeli novel yang sama. Sepertinya sih, kamu sudah mengatur sedemikian rupa agar kalian membeli buku yang berbeda. Sehingga bukan hanya kalian bisa saling tukar bacaan tetapi juga menghemat ongkos kirim karena bea itu kalian pikul bersama. Solusi cerdas!

_20170213_231855.JPG
Tadaaa … ^^

Kamu sanggup menularkan hobi membacamu ke teman-teman di sekolah. Kamu bisa menunjukkan ke mereka bahwa membaca itu asyik dan seru. Di zaman digital seperti sekarang ini, memang sudah jarang ditemui anak-anak usia pelajar yang punya hobi membaca buku/novel. Mungkin mereka lebih tertarik baca Wattpad ataupun komik online di gadget masing-masing. Atau malah lebih menarik baca komen teman-teman sebaya selepas nulis status di media sosial? Entahlah.

Dan seperti gravitasi yang mengusung gaya tarik-menarik, maka kesukaanmu membaca pun menarikmu ke dunia menulis. Berbagai tulisan fiksi tentang petualangan anak-anak yang tercipta dari tangan mungilmu mulai mengisi lembaran-lembaran buku tulismu. Mengisi lembaran fancy folder-mu dan beberapa cerita juga berlabuh di laptop Bunda. Namun sayang, tak satupun cerita yang kamu tulis sejak kelas 3 SD itu tuntas. Hampir setiap hari kamu mendapat ilham akan ide cerita baru yang membuatmu ingin segera menuliskannya sehingga mengabaikan tulisan sebelumnya dengan tema yang berbeda.

Well, I could understand that.

Masa iya Bunda mengharapkan komitmen untuk konsisten di usia beliamu yang masih 9 tahun kala itu? Meskipun memang kerap kali Bunda mengingatkan dan memintamu untuk melanjutkan cerita yang lama, sayangnya mood-mu menguap entah ke mana dan tak berminat melanjutkannya. Antusiasmu memburu di tema baru.

“Bunda, aku jadi pengen nulis cerita misteri pake Bahasa Inggris nih setelah baca seri Creep Over-nya P.J. Night. Boleh ya, Bunda?”

Baiklah, selama kamu masih mau menulis itu sudah cukup buat Bunda. Yang penting, kamu tetap selalu semangat menulis. Yang penting, Bunda tetap menjadi supporter terdepan buatmu. Dan begitulah hari-hari di waktu luangmu sering kamu habiskan untuk menulis kisah fiksi a la kamu. Dari yang menulis tangan di berbagai buku tulis hingga mengetik di laptop-mu dan juga di PC, kecepatan mengetikmu melesat bagai anak panah melebihi kecepatan Bunda mengetik artikel. Sepertinya, jari-jari tanganmu berlomba-lomba dengan isi kepalamu yang merancang adegan demi adegan dalam kisah fiksi misteri yang sedang kau kerjakan.

Hingga akhirnya …

Bu Frida, selamat ya! Ananda Asyifa meraih Juara I Lomba Menulis Cerpen ME Confest tingkat Jawa Timur.

Sebuah pesan singkat di grup WhatsApp sekolah tak sengaja terbaca dan membuat Bunda mengerjapkan mata tak percaya. Bunda baca berulang kali sebelum akhirnya Bunda kabarkan padamu. Kamu masih ingat ‘kan, Sayang?

Malam itu Bunda memeluk dan menciummu bertubi-tubi dalam haru dan bahagia. Berita yang sempat membuat Bunda speechless itu menjadi kado akhir tahun yang indah di Desember 2016 lalu.

img_20170206_063920-01
My favorite young writer ever!
20170103_073733-01-02
Alhamdulillah ^^

Look at you, Sweetheart! What a fabulous writer you are! I’m so proud of you.

Anak Bunda yang imut-imut dan suka komat-kamit “baca” buku cerita Bahasa Inggris saat masih TK dulu kini menjelma menjadi penulis cerpen yang keren! Bahkan akhirnya menjadi blogger juga di Januari kemarin menjelang pergantian usiamu ke 14 tahun.

Oh, I’m so excited! ^^

Semua perjalanan sejarahmu terekam manis di foto-foto yang tersimpan di memory card Bunda. Foto-foto yang menjadi saksi perjalananmu, Sayang.

Aku mengeluarkan sandisk dari ponselku lalu memasangnya di card reader. Saatnya memindahkan foto-foto Salsa ke laptop. Berkat memory card andalan ini, aku bisa menyimpan banyak foto dan video. Apalagi harga memory card sandisk ini terjangkau. Terutama di saat diskon. Terima kasih sudah menemaniku mengukir sejarah bersama buah hatiku.  

I think that’s all for now, Sweetheart. A love letter to you will never end. Remember that I always love you to the moon and back and among the galaxies in the universe.

So, keep writing. Keep inspiring. Keep being the best.

Love,

Mom   

Advertisements

22 thoughts on “A Love Letter to My Eldest Daughter

  1. Hobi membaca sangat menguntungkan dan bermanfaat. Wawasan kiyta menjadi luas sehingga bisa “berbicara banyak” dengan orang lain.
    Bagus suratnya. Saya belum membuat surat cinta nich.
    Salam hangat dari Jombang.

  2. Suratnya bikin berkaca-kaca gini nih.. Juara lomba awal perjalanan karir menulismu Kak Salsa, terus berlatih dan menginspirasi lebih banyak orang.. Bunda nya juga keren, berhasil mengantarkan si Kakak dengan kesabaran dan dukungan yang ga pernah padam dan tak lekang di makan waktu. Halahh.. 🙂

    1. Huwaaa … Ghinaaa …
      Ini bikin suratnya emang sambil ngaca makanya jadi berkaca-kaca. Huhuhu … Sroott!!!
      Makasih ya, mameh udah mampir di mari sambil ngaca. Huhuhu …
      Mameh juga mama yg hebat lah buat Sera & Zilla. Apalagi sampe maen sekolah2an gitu. Kan suka baca juga.
      Huwaaaa … Sroott!!! *lap pake daster mameh saking terharunya*

  3. Hemmmmm seru yaa punya bunda yang masih “Satu generasi” wkwk. Aku mah kalau upload upload foto ke internet malah di marah marah in ibu.
    Padahal foto ku di blog juga banyak.

    Terus kalau beli buku kebanyakan juga di marahin, hahaha karena mending di tabung katanya. Tapi ah yasudahlah, semua kan ada masanya. Masa yang terjadi di zaman ibu saya dulu, sudah beda dengan saya. Jadi kalau saya lagi d bilangi, saya iya in aja biar nggak menyakiti hatinya.

    Alhamdulillaah ikut senang denger pencapaiannya ^^
    Semoga dia jadi blogger kece inspirasi.
    Dan semoga prestasinya makin cemerlang.

    Btw ini sponsored post ya?
    Keren banget .. nggak kerasa “kalau lagi di giring” ke sebuah link. Saya salut ^^

    1. Nah, udah betul itu. Iya-in aja ibunya supaya ga sakit hati. Emang bener sih kalo udah lintas generasi pasti pola pikir dan orientasi udah beda banget. Sabar aja ya, Jeng. ^^

      Wah, makasih doa dan apresiasinya utk Salsa ya, Tante Rosida. Sukses juga buat Tante.

      Iya, ini sponsored post. Masih belajaran lah, Jeng. Belum keren2 amat. Ihiiyy …

      Lah itu postingan dirimu jg kece ada review hotel Bali. Pengen bisa nulis review tempat2 kece.
      Sukses terus yaaa ngeblognya.
      Makasih udah mampir. ^^

  4. Cepet sembuh Asyifa! Keep inspiring ya.
    Duh aku jadi berkaca ke diri sendiri, malu rasanya sebulan terakhir ini mood ngebaca lagi merosot

    1. Aamiin. Makasih, Tante Dian. Iya nih ternyata Salsa kena gejala tipes. Asli kecapekan aja sama jadwal kegiatan sekolah pas Open Day dll itu.

      Makasih utk support-nya, ya.

      Ayo semangat dong baca2 buku lagi. Hihihi …

    1. Wah, makasih banyak atas apresiasinya ya, Mbak Novia.
      Semoga Salsa jadi J.K. Rowling-nya Indonesia. Aamiin. *terharu*

      Salam kenal juga ya, Mbak.
      Makasih udah mampir. Nantikan kunbalku, yaa …

      Sukses ngeblog, Mbak. ^^

    1. Nah, geser atuh teh Aliah baca suratnya jangan di kuburan biar ga merinding. Hihihi …

      Alhamdulillah, Salsa udah sehat nih seminggu istirahat di rumah.
      Makasih apresiasinya ya …
      Sukses ngeblog juga!

  5. Congratz ya, Achaa.. Keep writing.. Keep shinning..smg slalu mjd yg terbaik di skul..ttep semangat yaa, sayaang..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s