Gadgetholic Treatment, Solusi untuk para Pecandu Gadget

IMG_20161220_100922-01.jpeg

Pada suatu hari …

“Kemarin nulis status lagi di rumah sakit. Siapa yang sakit?”

“Oh, aku tuh. Terpaksa harus ke dokter karena otot tangan kejepit.”

“Lah. Kok bisa?”

“Iyaaa … Keseringan ngetik sambil tiduran nih. Tahu enggak sih kalo laptop-ku itu selalu kubawa ke kasur saat ngerjain artikel.”

“Emang bisa gitu? Ngetik di kasur?”

“Wih, bisa banget lah. Justru udah posisi wuenak deh ngetik di kasur pake laptop gitu. Hihihi … Cuman, yaa begini deh ending-nya. Tahu-tahu kejepit aja nih otot tangan. Duh, sakit banget. Sampai aku nangis saking nyerinya. Mana pake kesemutan pula.”

“Ya ampun. Segitunya sih, ya? Cepet sembuh deh. Lain kali ngetik di meja aja lah. Duduk tegak gitu. Bikin posisi tegap yang nyaman biar enggak gampang kecetit.”

“Idealnya gitu sih. Tapi kadang aku suka lupa diri emang. Tahu-tahu udah gegoleran aja di kasur, asyik sama laptop. Hik …”

Percakapan di atas terjadi beberapa waktu yang lalu antara saya dan salah seorang kawan. Saat itu saya enggak habis pikir. Kok bisa segitunya sih, ya? Mungkin karena jam terbang nulis kami beda jauh. Hahaha … Jadi saat itu saya belum ada gambaran kalo blogger hits dengan jam terbang dahsyat ternyata bisa secara alami melakukan gerakan akrobat ngetik artikel apalagi dengan tekanan kejaran deadline. Wuih, mantap rempongnya! Asli bakal jungkir balik ngetik sambil multi-tasking tentunya.

Gangguan kesehatan berupa nyeri otot/sendi, kram, kecetit/terkilir, kesemutan, saraf kejepit, otot bengkak bahkan sampai gangguan daya penglihatan bukan cuma mengincar pengguna laptop aktif. Tapi gangguan itu juga mengincar para pengguna gadget lainnya yang berwujud: smartphone, tablet, PC dan juga televisi. Akhir-akhir ini saya juga udah mulai ngerasain kesemutan dan lelah mata sih kalo udah kelamaan pegang gadget.

Beberapa bulan yang lalu, salah seorang kakak saya juga berurusan dengan dokter karena keluhan yang hampir serupa dengan kisah kawan saya di atas. Selidik punya selidik, aktivitas kakak di bank memang intensif menggunakan PC dan smartphone. Posisi badan yang monoton duduk dan menunduk dalam jangka waktu lama serta jarak pandang ke layar yang terlalu dekat bukan hanya menimbulkan masalah pada otot-ototnya. Tapi juga pada bentuk fisiknya yang sukses tumbuh ke samping akibat kecanduan ngemil. Well, orang kantoran mana yang enggak nyimpen camilan di mejanya? Bisa jadi kita jumpai laci meja kerja yang mirip toko kelontong pada beberapa penggila camilan garis keras. Tapitapitapi … kali ini saya enggak bahas tentang obesitas kok. Ini lebih ke reaksi saraf, otot dan tulang tubuh saat mendapat paparan salah posisi ketika menggunakan gadget dalam kurun waktu lama, frekuentif dan akumulatif.

received_10206934038343187
Bersama Endah Wulansari, owner Mom n Jo Indonesia

Adalah Endah Wulansari yang akrab disapa Wulan, pemilik Mom n Jo Indonesia, berkisah tentang buah hatinya yang tiba-tiba menjerit ketika dia menyentuh bagian punggung atasnya hingga sekitar tulang belikat. Betapa terkejutnya dia mendapati memar bagian tersebut. Hati ibu mana yang enggak merana menyaksikan anak sendiri mengalami gangguan otot di saat pekerjaan sang ibu justru berkutat dengan massage therapist yang notabene memberikan kenyamanan dan kesehatan fisik? Duh ironis, ya.

IMG_20161220_103904.jpg

Tapi bukan Wulan namanya kalo enggak segera ambil tindakan demi menyelamatkan sang buah hati. Ibu muda dan cantik yang ramah dan masih energik ini segera mencari solusi untuk hal tersebut. Namun tak ada asap bila tak ada api. Apakah pangkal permasalahan yang menimpa buah hatinya hingga mengalami otot nyeri dan memar seperti itu?

Semua berawal dari gadget dan sang buah hati mengidap gadgetholic.

Oh, ternyata gara-gara gadget!

Well, anak-anak zaman sekarang mana ada yang belum kenal gadget? Terutama gadget yang portable semacam tablet dan smartphone itu udah jamak ada di tangan anak-anak muda dan di pangkuan para balita.

Oh, no! Balita???

Bila balita aja udah terpapar aktivitas dengan gadget bisa dibayangkan seperti apa postur tubuhnya kelak?

Coba tengok postur tubuh manusia dewasa dari waktu ke waktu akibat menggunakan gadget terlalu sering dengan posisi yang salah.

IMG_20161220_113731.jpg

Ngeri, ya! Kok jadi inget teori evolusi manusia. Lah, masa iya kelak postur tubuh manusia seperti itu? Rasanya enggak rela deh. >.<

Kisah Wulan di atas dilanjutkan dengan penuturan dari Edwina Natalia, M.Psi, seorang psikolog, tentang sebab akibat gadgetholic terutama dari sisi psikologis anak-anak.

IMG_20161220_105945.jpg

Ibu muda dengan satu anak yang ramah dan cantik ini mulai mendedikasikan ilmu psikologinya di dunia anak beberapa tahun terakhir ini. Edwina menjelaskan bahwa ada banyak alasan mengapa para orangtua akhirnya memberikan dan mengizinkan anaknya memakai gadget. Ada yang ingin anaknya tampak gaul, ada yang ingin anaknya bisa belajar via aplikasi anak yang ada di gadget, ada juga yang ingin anaknya anteng diem dan enggak ngerecokin orangtuanya. Lah, emang orangtuanya lagi ngapain? Yaa … lagi asyik gadget-an juga sih. Jiahaha … *miris*

Ada sebuah video yang pernah saya lihat tentang seorang balita asyik main gadget. Anteng gitu deh si anak. Tak lama ayahnya muncul dan merebut gadget-nya. Sontak si anak langsung nangis keras. Ajaibnya, tangisnya cepat reda ketika ayahnya menyerahkan kembali gadget itu padanya. Begitu beberapa kali ayahnya jahil merebut gadget-nya dan begitu pula reaksi si anak. Cepat nangis dan cepat anteng. Hmm, the power of gadget.

Saat itu saya berpikir, itu gadget tak ubahnya bagai empeng/dot aja, ya? Bukankah banyak bayi dan balita yang langsung diam anteng berhenti nangis saat mulutnya ngenyot empeng/dot? Nah, gadget ini udah jadi empeng/dot elektronik rupanya.

Menurut Edwina, orangtua harus ingat memberikan pengganti ketika mengambil gadget dari tangan anaknya. Kalo gadget diambil paksa begitu saja yaa jelas anak bakal menangis gerung-gerung (bagaikan dicabut empeng/dot dari mulutnya).

Alihkan perhatian anak dengan memberikan aktivitas pengganti. Terutama untuk anak usia balita, ajaklah dia bermain dan bereksplorasi. Beri kegiatan fisik yang riil. Bukan hanya duduk terpaku memandangi gadget. Aktivitas outdoor yang bisa diberikan bisa berupa mengenal alam dan binatang, menanam bunga/pohon, memancing, dll.

Sedangkan aktivitas indoor bisa berupa bermain petak umpet, menggambar, mewarnai, dll. Tergantung kreativitas orangtua juga sih. Mau ngapain aja boleh lah selama itu judulnya bermain dan belajar. Hehehe …

Jadi, ini catatan buat para orangtua yang punya balita (*langsung ngaca*) untuk mau meluangkan waktu bermain dan belajar bersama anak tanpa gadget. Kalo ikhlas sih pasti mau ya, Mom? Demi anak lho.

“Aduh, kalo kepepet gimana dong? Aku kasih gadget aja, ya? Cuma sejam kok. Boleh, ya?”

Hmm, sejam main gadget? Menurut Edwina, durasi 15 menit untuk anak main gadget itu terlalu lama. Apalagi sejam! Kebayang dong, Mom harus pintar atur waktu agar si Kecil bisa gadget free. Coba dulu ya, Mom? Hehehe …

IMG_20161220_112126.jpg

received_10206934038383188.jpeg

_20161222_010448.JPG
Sesi tanya-jawab sekaligus curhat nih, “pins and needles” keseringan main gadget. Courtesy: IG Alfa Kurnia

Sesi materi selanjutnya dibawakan oleh native speaker dari Negeri Paman Sam, Marybetts Sinclair, LMT, seorang pakar massage therapist berpengalaman. Berdasarkan sebuah survey di tahun ini, rata-rata orang dewasa di AS menghabiskan waktu 9 jam/hari untuk “main” gadget. Sedangkan anak-anak meluangkan 6,5 jam/hari untuk aktivitas yang sama. Orang dewasa di Indonesia pun menghabiskan waktu 9 jam/hari untuk hal tersebut. Sayangnya, belum ada survey untuk anak-anak Indonesia yang aktif bermain gadget.

Mengapa gadget begitu menebar pesona?

Bagi orang dewasa, gadget jelas memberikan banyak kemudahan. Urusan pekerjaan, hobi dan rumah tangga pun terbungkus jadi satu dalam gadget. Bagi anak-anak, pesona gadget paling bersinar di urusan game, terutama online game meskipun ada juga sih anak-anak tertarik gadget karena ada aplikasi edugames-nya.

Pesona games itulah yang memberikan rasa senang pada anak. Rasa senang ini dihasilkan oleh hormon dopamin, yaitu hormon yang diproduksi bagian otak yang bernama hipotalamus.

Ada bagian otak yang disebut Pre Frontal Cortex (PFC) yang salah satu fungsinya adalah sebagai kontrol diri. Anak yang mengidap gadgetholic tentunya akan terganggu fungsi PFC-nya karena dia hanya ingin bersenang-senang dengan gadget hingga lupa waktu dan lepaslah kontrol dirinya. Padahal PFC ini akan matang di usia 25 tahun! Bagaimana anak usia balita melakukan kontrol diri di usia belianya? Tentunya mustahil memaksa PFC untuk matang di usia 5 tahun, bukan?

Akibat terlalu sering main gadget itulah membuat tubuh mengirimkan sinyal sakit dan lelah. Bila ini terjadi, Mom n Jo memberikan solusi untuk para pecandu gadget, yaitu “gadgetholic treatment” yang baru saja di-launching pada tanggal 20 December 2016 tempo hari.

Acara ditutup dengan demo praktek massage oleh Marybetts kepada seorang sukarelawan, Joey (usia 10 tahun).

IMG_20161220_114727.jpg

Untuk meredakan otot lelah, kesemutan, dll. Marybetts melakukan massage di beberapa titik utama, yaitu:

1. Kelopak mata dan sekitarnya.

Ini meredakan otot lelah pada mata terutama akibat radiasi blue light pada gadget.

2. Dada.

Saat main gadget dengan posisi badan yang cenderung membungkuk, memicu rasa nyeri di dada. Maka otot dada juga harus direlaksasi.

3. Leher.

Sebagai penyangga utama pada kepala, tentunya leher menopang rasa lelah dalam kurun waktu yang akumulatif. Pemijatan yang tepat pada otot leher akan melenturkan kembali otot-otot yang kaku.

Bagaimana? Tertarik mengikuti treatment ini? Saya yang berkesempatan ikut melihat langsung demo “gadgetholic treatment” di acara Treatment Launching Gadgetholic di Mom n Jo Surabaya ini aja langsung kepengen banget kok dapat treatment tersebut. Duh, mau pake banget! Harus diagendakan nih. Semoga bisa dapat waktunya deh. *kedip-kedip*

Untuk Mom yang berada di Surabaya dan tertarik dengan treatment ini baik untuk diri sendiri maupun untuk sang buah hati, bisa langsung hubungi:

mnj11.jpg
Mom n Jo Surabaya (www.momnjo.com)

Mom n Jo Surabaya

Jl. Prapanca No. 36 Surabaya

Telp. 031-5677895 atau 08993900006Β 

Dapatkan harga promo untuk paket gadgetholic treatment ini. Jangan sampai ketinggalan, Mom!

fb_img_1481758590036

Lots of love,

Frida Herlina

Nb. Ucapan terima kasih untuk rekan Yuniari Nukti atas bantuan cekrek-cekreknya. ^^

Advertisements

24 thoughts on “Gadgetholic Treatment, Solusi untuk para Pecandu Gadget

  1. Gadget oh gadget, jgnkan anak2 ya, yg tua aja suka anteng klo pegang gadget. Aktifitas pengganti yg gk kalah asik memang penting bgt supaya prhatian anak teralihkan. πŸ™‚

  2. Panteesan mba…rasanya ga asing denger Mom and Jo.

    Ternyata di Surabayaa yaa..?

    Rasanya dl teman saya pernah cerita.

    Bener yaa, mba.
    Dunia ini semakin membuat kita malas.
    Apa-apa tinggal sentuh, lalu datang sendiri.
    Semoga kita bisa menjadi generasi yang bijak menggunakan dan mengajarkan gadget pada anak.

    1. Mom n Jo ada di Jakarta dan Medan juga lho, mbak Lendy. Sila cek akun twitter: @momnjospa deh. Para mama pasti sering denger lah tempat spa ibu dan anak ini. Tempatnya nyaman banget dan asyik buat anak2. Coba aja kunjungi Mom n Jo di kota terdekat.

      Semoga kita jadi generasi bijak.
      Aamiin.

  3. kecanduan gadget ternyata juga bisa berbahaya untuk kesehatan juga yaa >.<
    kalo aku sih, misal kelamaan ngetik gitu jari-jari jadi kaku, itu bisa dibilang kecanduan juga nggak ? 😦

    1. Kecanduan itu berbanding lurus dengan lupa waktu. Namanya keasyikan pasti ya lupa waktu.

      Kalo jari2 jadi kaku berarti tubuh udah kirim sinyal, mbak. Break aja dulu sambil stretching. Cari aktivitas lain. Sambil tuntasin kerjaan domestik kan bisa, ya? ^^
      Itu kalo aku sih. Yang penting jangan abaikan sinyal tubuh deh.

  4. Waa mba frida asyik nih dapat ilmu lagi.. iya ya mba gadget sekaramlng susah ya. Madu dan racun deh. Apalagi buat balita. Dan bener sih yang penting dicarikan pengganti ya mba bukan main tarik paksa aja.. πŸ™‚

    1. Bagaikan madu dan racun ya, uni Ira. Hahaha … Istilah jadul nih.
      Tapi teknologi memang selalu bagai makan buah simalakama. Kita harus lebih bijak aja sih menyikapinya.

      Jadi PR banget yaa buat mama-mama yg punya balita untuk bikin aktivitas pengganti selain main gadget.

      Alhamdulillah dapat ilmu baru nih, uni. ^^

  5. Duuh…sampe ada memar di punggung sampai tulang belikatnya ya…ngeri juga dampak menggunakan gadget terlalu lama. Saya juga punya PR nih, buat kegiatan yang menarik untuk anak supaya gak lama-lama pakai gadget. 😦

    1. Nah, kan?

      Ngeri banget tuh saraf sampai kejepit gitu. Yuk, tetap waspada ingat waktu kapan harus berhenti main gadget.

      Semoga kita semua selalu sehat ya, mbak Nova, meski aktif bergadget.

  6. Waah saya baru tau ada gadgethilic treatment, konsepnya bener bener unik. Emang sekarang sih orang orang emang ketergantungan banget sama gadget sampe lupa diri kalau udah kerja lewat satu hal itu.
    Tidur atau duduk kadang salah posisi jadinya…

    Ehhh saya di kantor ga ada cemilan di meja karena enggak boleh nyemil di meja hwahaha
    Kalau mau nyemil ke pantry dulu.. *eaaaaaa

    1. Nah, sekarang jadi tahu kan kalo ada gadgetholic treatment. Mom n Jo benar2 jeli melihat situasi dan memberi solusi jitu kepada pengguna gadget yg aktif seperti kita2.
      Mungkin awalnya ga niat kecanduan sih, tapi apa daya karena tuntutan pekerjaan ya, mbak Leli. πŸ˜„πŸ˜‚

      Lah, camilan yaa disimpan di laci dong. Kalo ditaro di meja jelas dilarang. Ntar dikira dagang snacks. Hahaha … πŸ˜‚πŸ˜‚

    1. Ho oh, Mi. Dipijet-pijet mah berasa di surga banget dah buat omak-omak macam kita. Aku juga gampang tertidur tuh kalo dipijat. Eh, tapi kalo refleksi kaki masih bisa tahan aku, Mi. Asal pressure-nya kurang dan durasi singkat aja. Hihihi …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s