PESONA USIA CANTIK YANG SUKAR MEMUDAR

apples-635240_1280-01

Satu … dua … tiga … empat. Genap sudah empat buah buku bacaan baru saya jejalkan di rak buku darurat. Buku bacaan anak-anak dalam Bahasa Inggris yang memikat hati Danisha (2 tahun), putri bungsu saya, di ajang pesta buku Big Bad Wolf tempo hari di kota Pahlawan itu memang lucu dan eye-catching. Isinya tentang belajar berhitung sederhana, pengenalan binatang dan tekstur bulunya (touch and feel book), kisah binatang peliharaan beberapa Disney’s Princesses dengan tombol musik yang melantunkan nada-nada Nursery rhymes dan kisah seorang anak perempuan bernama Molly yang suka menikmati hujan dan pelangi. Buku-buku yang seru! Tipikal dunia anak-anak banget yang ceria mengeksplorasi dunia.

Belajar membaca di usia ceria

Sejak usia satu tahun Danisha sudah mulai intens menampakkan minatnya terhadap buku. Buku apa saja yang dilihatnya tak akan luput untuk diraih dan dibuka-buka lembar per lembarnya. Ada kalanya saat dia asyik sendiri dengan salah satu buku, tak jarang bibir mungilnya mengoceh tentang halaman demi halaman yang dibukanya. Tampak seolah-olah sedang membaca gitu deh. Hahaha … Lucu! 😄

Karena sudah mulai suka buka-buka buku sendiri itulah saya mengajarkannya untuk membuka lembar demi lembar buku yang ada di tangannya dengan hati-hati. Buku memang untuk dibaca tapi bukan berarti saat membacanya saya seenaknya saja membuka halaman buku dengan kasar. Ada orang yang berpendapat kalau buku yang mulus licin itu tandanya enggak pernah dibaca. Ih, siapa bilang? Asal tahu aja, ya, buku-buku yang ada dalam genggaman tangan saya tuh rata-rata mulus kinclong meskipun saya kerap kali membacanya. Ada juga sih beberapa buku yang terkena “kecelakaan” tertindih saat membaca dan jatuh tertidur. Lecek terlipat gitu lah bekasnya. Kalau sudah mendapati buku dengan kondisi “celaka” seperti itu rasanya … Huh! >.<

Dulu ketika Danisha berusia sekitar 10 bulan, dia bisa duduk manis dan anteng mendengarkan saya membacakan buku cerita untuknya. Entah paham atau tidak, dia terlihat tekun menyimak hingga sampai halaman terakhir. Begitu selesai membaca, saya bisa segera membereskan buku dan melanjutkan aktifitas lain untuknya. Seringnya sih, langsung dininabobokan. Tapi kalau saat itu dia begitu mengantuk, bisa jadi saya lanjutkan aktifitas menggambar sederhana, mencoret-coret maupun menyusun puzzles bersamanya.

Itu dulu.

Sekarang? Begitu satu buku selesai dibacakan, yang terjadi adalah …

“Agi … agi.” (Lagi. Lagi.)

“Danisha mau baca buku lagi?” tanya saya.

“Mau baca agi.” (Mau baca lagi.)

Saya tersenyum lalu mulai membacakannya buku yang sama, dengan intonasi suara yang sama serunya dengan cara baca sebelumnya. Menjaga emosi tetap stabil seolah-olah baru membaca buku tersebut untuk kali pertama.

Itu keharusan buat saya. Iya, dong. Di saat anak menunjukkan minat besar terhadap buku, sebisa mungkin saya harus memberikan support yang paripurna. Mana mungkin saya tega menolak? Bisa-bisa hal itu malah menyurutkan niatnya untuk menyukai buku. Rasa suka terhadap buku terutama yang tumbuh dengan sendirinya itu sudah jadi investasi awal buat saya. Setelah suka pasti cinta, ‘kan? Dan kalau sudah cinta, apa saja rela dilakukan. Betul? ^^ Ketika anak sudah mencintai buku, urusan latihan membacanya sudah tinggal setengah perjalanan menuju matang. Siapapun yang mendampingi anak belajar membaca tentulah harus seseorang yang punya kesabaran dan keikhlasan segunung! Enggak gampang tapi bukan berarti enggak bisa dicoba, ‘kan? Demi anak, lho.

Seperti halnya anak-anak yang lain yang mulai suka buku, Danisha juga punya buku kesayangan. Buku yang tetap saya pertahankan di troli saat menyortir buku-buku yang harus dibayar di meja kasir Big Bad Wolf kala itu. Buku yang punya chemistry kuat di benak saya untuk tetap bertahan di troli hingga diusung pulang. Buku yang sangat saya yakini akan membuat Danisha jatuh cinta. Buku yang dekat dengan dunia cerianya. Buku yang berjudul: Molly’s Rainbow. And I was so right about this book!

IMG_20161103_205145.jpg

Hal yang masih jadi tanda tanya dan membuat saya penasaran adalah: mengapa setiap anak memiliki buku kesayangan? Semua anak, lho. Bukan hanya buah hati saya tapi juga anak-anak didik saya. Dari sekian banyak anak-anak usia pra sekolah yang menjadi murid saya sejak tahun 2005 silam, banyak dari mereka yang memiliki buku kesayangan. Baik buku koleksi mereka sendiri maupun buku yang ada di perpustakaan. Buku yang selalu jadi pilihan pertama untuk diraih dan dibaca ceritanya. Buku yang selalu ingin dibaca dan dibacakan berulang-ulang. Buku yang selalu dibuka dari awal hingga akhir halaman tanpa henti. Buku yang mampu mencuatkan sunggingan senyum maupun pekikan gembira anak-anak saat disentuh. Apakah semua anak memang memiliki buku andalan tempat hati kecil mereka berkelana? Apakah semua anak mempunyai buku favorit tempat mereka menapaki alam fantasinya? Apakah semua anak selalu jatuh hati pada satu buku yang memang sanggup membuat mereka untuk membuka halaman demi halamannya lagi … lagi dan lagi? Ah, biarlah anak-anak itu menyimpan rapi fantasi milik mereka. Selama hal itu membuat mereka bahagia dan terpacu untuk rajin membaca itu sudah cukup buat saya.

Molly’s Rainbow adalah buku yang pertama kali dilihat dan diminta Danisha tatkala dia membuka mata terbangun dari alam mimpi hampir setiap pagi. Tangan mungilnya akan menunjuk ke atas ke arah rak darurat di atas lemari, meminta saya mengambilkannya untuknya.

“Bunda, baca bubu.”

“Bunda, baca buku. Iya?” koreksi saya.

“Iya,” sahutnya segera.

Tak peduli saya sedang menyusun worksheet untuk kelas saya ataupun sedang setengah jalan mengetik artikel, saya berusaha sebisa mungkin memenuhi permintaannya untuk membaca buku. Di usianya yang sangat dini ini, beginilah cara dia belajar membaca buku. Tentunya pekerjaan saya harus ditunda sebentar. Tapi kadang-kadang untuk pekerjaan yang urgent saya bisa meminta Danisha untuk menunggu sejenak hingga saya tuntas mengerjakannya. Dan Danisha cukup kooperatif untuk menunggu. Durasi menunggu untuk porsi anak usia dua tahun, tentunya.

Setelah saya mematikan PC, baik karena menunda maupun memang sudah tuntas pekerjaan saya, saya meletakkan Danisha di pangkuan dan mulai berkisah tentang buku yang dibawanya. Yuk, simak tip membacakan buku untuk anak-anak a la saya berikut ini:

img_20161103_205801

  1. Pilih buku yang sesuai dengan usia anak.

Ada banyak pilihan buku untuk anak. Mulai buku dengan warna sampul yang terang benderang dan bertaburan glitter, pop-up book, touch and feel book, pictorial book, hingga buku yang penuh teks tanpa gambar. Nah, pasti tahu dong buku yang mana yang paling tepat untuk anak-anak usia pra sekolah seperti Danisha? Ya, benar. Pictorial book. Why? Because most children are visual. Buku dengan gambar-gambar besar akan selalu menarik perhatian anak-anak. Biasanya buku seperti ini berisi sangat sedikit cerita/teks. Namun justru buku seperti inilah yang tepat untuk mereka.

2. Kenalkan ragam kosakata dari buku tersebut.

Lakukan tanya-jawab dengan menunjuk gambar yang sekiranya anak tahu itu apa. Misalnya:”Ini apa?” (menunjuk gambar kucing)

Bila dikenalkan secara benar, anak kecil juga bisa menyebut kata “kucing”. Mungkin ada juga yang menjawab “pus” ataupun “meong”. Biasakan mengenalkan benda sesuai dengan nama aslinya. Anak semakin lama semakin besar, bukan? Kok rasanya janggal bila melihat anak usia SD masih menyebut kucing dengan kata “pus” dikarenakan anak tersebut tidak dibiasakan mengenal kata yang sesungguhnya.

Bila anak tidak mengenal gambar yang ditunjuk maka kenalkan dengan cara seperti ini. Contoh: ucapkan, “Ini kudanil.” (Sambil menunjuk gambar kudanil.) Ulangi. Lalu ulangi sekali lagi. Biarkan anak mencoba melafalkan kata “kudanil” sampai terasa familiar.

3.  Mulai baca bukunya

Bacalah cerita sambil menunjuk kata-kata dalam teks. Jari tangan harus beriringan dengan suara kita saat membaca kata-kata tersebut. Jadi jari akan terus mengikuti apa yang kita baca hingga teks berakhir. Cara ini mengajarkan anak bahwa kumpulan huruf itu membentuk kata yang bisa dibaca. Dan kumpulan kata itu menjadi kalimat yang menggenapi paragraf tentang cerita yang didengarkannya. Kelak saat usia dan kematangannya muncul, anak mulai siap diajarkan membaca.

4.  Evaluasi

Selesai membaca, tanyakan apakah anak suka dengan buku tersebut. Cukup dengan kalimat ringan: “Danisha suka buku ini, ya?” lalu sambung dengan ungkapan apresiasi (bila anak sanggup mendengarkan cerita dari awal hingga akhir): “Wah, pinter deh, Danisha udah bisa baca. Oh, pinter nih, anak Bunda.” Kemudian akhiri dengan ajakan: “Besok kita baca buku lagi, ya.”

5.  Terjadwal

Ajakan membaca lagi di atas akan membuat anak termotivasi untuk terus membaca sehingga hal ini membentuk kebiasaan. Dan kebiasaan tentunya harus terjadwal. Ada baiknya kita sudah punya beberapa koleksi buku anak-anak supaya ada variasi bacaan setiap harinya. But get ready for special request of the same book to read, ok?! ^^

Semoga tip di atas bisa menginspirasi para Ayah dan Bunda, ya. Ada tambahan buat tip ini? Please, do share! 

 

Bermain dan belajar di usia ceria

Getting along with Danisha really activates my playful cells and nerve system. Honestly!  Saya menikmati momen-momen ketika bermain dan belajar bersama Danisha. Dari jalan-jalan keliling halaman rumah saja dia sudah mendapatkan banyak kosakata dan pengetahuan. Kata-kata yang dia pelajari antara lain: “daun, bunga, pohon, ayam, burung, kupu-kupu, semut”, dll. Sedangkan pengetahuan yang dia dapatkan adalah laba-laba besar memintal sarang yang juga besar, ayam itu suka makan jagung, kucing suka makan tulang ikan, dll. Seru, ya! Saya jadi merasa sedang ikut belajar juga deh. Hihihi … ^^

Sejak mulai intensif mengajar anak-anak usia pra sekolah 11 tahun yang lalu, saya memang terbiasa menyelami dunia anak-anak apa adanya dan sesukacitanya. Bermain bersama, tertawa bersama, makan kue dan cokelat bersama, menari bersama, menyanyi bersama hingga berpelukan menjelang kelas berakhir bersama mereka. Tidak semua anak merasa nyaman dipeluk memang, apalagi oleh orang yang bukan orangtua kandungnya. Hanya anak-anak yang memiliki kedekatan emosi cukup kuat dengan saya yang suka rela dan refleks memeluk saya saat meninggalkan kelas.

Mau tahu rasanya dipeluk oleh anak-anak yang lucu dan tulus itu?

Hmm … rasanya seperti menemukan oase di padang pasir. Rasanya seperti diguyur air hujan setelah kemarau yang panjang. Rasanya seperti menyentuh butiran salju di hari yang terik. Adem banget! Lenyap sudah rasa lelah yang bergelayut sejak pagi mengawali mengajar hingga terbenamnya mentari. Anak-anak itu memberikan energi positif buat saya. Energi yang membuat saya tetap bersemangat muda. Semangat yang acap kali melunturkan kepingan usia biologis saya. Semangat yang membuat saya selalu tampil ceria dalam balutan #UsiaCantik. (Mau nulis “awet muda” aja kok susah. Hahaha …) 😄

Seiring pengalaman saya mengajar anak-anak itu, saya diperjalankan untuk lebih bersabar, untuk lebih ikhlas menghadapi mereka, untuk lebih menggunakan hati ketika berinteraksi dengan mereka dan untuk bersuka cita mewarnai kehidupan mereka dengan warna-warna yang cerah. Semua hal itu memberikan kekayaan batin buat saya. Di balik perilaku saya yang ceria dan mudah tersenyum saat bersama anak-anak, saya juga mengalami kematangan berpikir dan kedewasaan dalam bersikap. Saya mulai bisa mengklasifikasi hal-hal yang memerlukan perhatian saya tanpa harus melibatkan emosi maupun hal-hal yang membutuhkan dan menguras emosi. Dan yang paling penting, di #UsiaCantik ini, saya semakin belajar menurunkan ego, menenggelamkan arogansi dan mengatur kadar kemarahan. Saya semakin melapangkan rasa toleransi. Dalam menghadapi kasus apapun saya selalu belajar memilah hal-hal apa yang masih bisa saya tolerir, hal-hal apa yang hanya memerlukan reaksi berupa teguran dari saya, dan hal-hal apa yang benar-benar dapat membuat saya murka. Intinya, tidak setiap hal yang terjadi harus menyita energi, pikiran dan waktu saya untuk ngomel-ngomel dan uring-uringan. Justru ada banyak hal yang mulai dapat saya ikhlaskan dan lepaskan. Let it go. Saya harus adil mengukur kadar beban yang bisa saya pikul di bahu ini. Untuk hal-hal di luar kuasa dan kendali saya, maka akan saya serahkan sepenuhnya kepada Sang Khalik. Dengan demikian saya terhindar dari stres dan tetap bisa menikmati waktu istirahat dengan baik. Bukankah stres adalah musuh utama kecantikan?   

Masalah pelik di usia cantik

Ada masa di mana saya lelah pikiran dan menghadapi jalan buntu atas beberapa problema kehidupan yang menghampiri tiada henti. Di saat seperti itu, biasanya akan mudah sekali menjumpai guratan kuyu, lelah dan kusam di wajah saya. Wajah kuyu, lelah dan kusam itu bisa sangat kentara lho di usia 39+. Belum lagi munculnya guratan halus di sekitar mata maupun garis senyum di bibir. Hal-hal seperti itu cukup mengganggu buat penampilan saya. Untunglah saya enggak perlu khawatir lagi karena saya punya resep mujarab untuk mengembalikan kesegaran di wajah saya dalam waktu singkat. Mau tahu?

Cukup gunakan masker teh. Berikut langkah-langkahnya:

  1. Jerang air secukupnya.
  2. Seduh teh melati.
  3. Tuangkan ke dalam mangkuk hingga hampir penuh. Dinginkan.
  4. Setelah dingin, simpan air seduhan teh alias masker teh tersebut ke dalam lemari pendingin. Lakukan hal ini di malam hari.
  5. Keesokan harinya, cuci muka dengan sabun pembersih seperti biasa. Boleh coba L’Oreal Revitalift Milky Cleansing Foam yang diformulasikan khusus anti-aging. Produk yang cocok menemani #UsiaCantik dengan kandungan BHA dan Glycerin yang dapat mengangkat sel kulit mati dengan lembut dan menjadikan kulit tampak segar lebih muda. Bilas hingga bersih.
  6. Basahi kulit wajah secara merata dengan air seduhan teh melati dengan mengguyurnya perlahan-lahan sambil memijat kulit wajah. Lakukan pemijatan hingga air seduhan tuntas digunakan untuk mencuci wajah. Rasakan sensasi dingin segarnya. Air seduhan yang dingin itu sekaligus mengecilkan pori-pori wajah.
  7. Lakukan dengan teratur setiap pagi.
2016-11-20_15-36-12
Rangkaian produk anti-aging persembahan L’Oreal Revitalift Dermalift

Hasilnya? Tadaaa … kulit wajah kembali segar dan kenyal. Siap tersenyum untuk mengawali aktifitas pagi. Untuk mengatasi masalah kerutan di wajah, duo anti-aging cream (day cream & night cream) persembahan dari L’Oreal Revitalift Dermalift bisa menjadi solusi untuk tetap mempesona di #UsiaCantik.

 

_20161123_141546-01.jpeg

Perlu diingat bahwa kecantikan batiniah adalah kunci menuju kecantikan lahiriah. Dengan senyum dan keikhlasan dalam menjalani kehidupan ini, insya Allah akan ada solusi atas problematika yang kita hadapi. Dengan senyum dan keikhlasan tersebut, insya Allah kita dapati pesona usia cantik yang sukar memudar dalam diri kita. Tetap cantik di #UsiaCantik, ya!

You are truly beautiful no matter what they say.

 

Lots of Love,

Frida Herlina

 

“Lomba blog ini diselenggarakan oleh BP Network dan disponsori oleh L’Oreal Revitalift Dermalift.”

 

Advertisements

43 thoughts on “PESONA USIA CANTIK YANG SUKAR MEMUDAR

  1. Lho kok ikut juga. Mana artikelnya komplit dan ciamik lagi. Nambah saingan deh hahaha
    Pada usia cantik wanita sebaiknya tambah sehat dan smart agar bisa mengemban amanah Tuhan dengan baik.
    Salam hangat dari Jombang

    1. Pakdeee, matur nuwun atas komentar penyemangatnya.

      Justru saya nih yang deg-degan bersaing lomba #UsiaCantik dengan blogger kawakan yang punya banyak prestasi seperti Pakde.

      Salam hangat kembali, Pakde! ^^

      *simpan salam di microwave*

  2. semoga menang mbak…suka sama tulisannya, anak saya juga pada punya buku favoritnya masing-masing, kalo si sulung suka sama buku cerita berjudul “Jody dan Anak Rusa” Kalau si adek malah suka buku kamus bergambar 🙂

    1. Hai, mbak Wida.
      Terima kasih atas apresiasinya. Aamiin untuk doanya, ya. Muach!.

      Wah, senangnya mendengar si Sulung dan si Adek punya buku favorit masing2. Tetap semangat membaca, ya!
      Mamanya hebat tuh. ^^

  3. Iya terkadang kosmetik memang buat moles tampilan luar aja ya Mba, tetep pancaran batin penting mendukung.

    Dan setuju kecantikan batiniah akan melahirkan kecantikan lahiriah.
    Sukses slalu di #UsiaCantik Mba Fridda

    1. Iya, teh Nchie. Biar bukan tampilan luarnya aja yg dipoles tapi tampilan dalamnya juga dong.
      Kayak teteh gitu deh cantik luar dalam. ^^

      Sukses juga buat teteh di #UsiaCantik, ya.
      Muach.

  4. Kecantikan bathiniah itu yang membuat jasmaniah jadi bercahaya ya mbak. Kosmetik hanya membantu menahannya agaak terlalu terjadi proses alami yg memang harus terjadi pada setiap makhluk hidup.

  5. Selalu senang deh sama anak-anak yang sudah nunjukin minatnya sama bacaan sejak usia dini. Semoga bakal semakin banyak anak-anak seperti anaknya Mbak Frida.
    Kecantikan emang harus dari luar dalam ya. Setuju banget. Semoga menang, Mbak.

    1. Aih, komentar kayak gini yg bikin aku tersipu.

      Sebagai orangtua, kita sih sebaiknya memberikan contoh yg baik supaya anak2 jg punya kebiasaan yg baik.

      Semoga banyak anak2 yg lebih suka buku, ya.

      Aamiin utk doanya.
      Makasih banyak ya, mbak Dian.

  6. Stress emang musuh kecantikan deh, stress…hush hush sanaaah 😀
    Masker teh ini banyak saya temui resepnya, blm pernah nyobain sih…penasaran dgn khasiatnya. Tfs Mba 🙂

    1. Jeng Nining, aimisyuuuu …
      Paling seneng deh kalo ketemu dikau di sini. ^^

      Iya, cobain gih masker tehnya.
      Dari pengalamanku sih wajah terlihat cerah segar gitu. Cocok banget utk pertolongan pertama saat kena bengap ato efek kurang tidur gitu.

    1. Boleh pake banget dong, mbak Muth, makanya tip itu aku share di sini.

      Saat berasa buntu dan menyerah, break aja dulu, mbak.
      Nanti kalo suasana hati udah netral, mulai deh bacain buku lagi buat anak2.
      Anak2 itu suka ga ketebak sih saat diajarin. ^^

  7. Kecantikan dari dalam memang dapat memancar keluar bahkan dapat mengalahkan kecantikan luar. Siapa sih yang betah berlama2 dengan si cantik yang ketus, jutek dan nyebelin dibanding si biasa2 saja yang hangat, santun dan perhatian. Btw, anak2ku juga suka membaca. Alhamdulillah, semoga anak2 kita dapat tumbuh menjadi anak2 yang sholih dan sholihah ya mba….

    1. Haduh, buku cerita dicoret-coret itu rasanya gimana, ya? Hikk …

      Anak2 memang tak terduga, mbak April. Kalo aku sih, pas udah feeling itu buku bakal dianiaya buru2 aku amankan trus ganti beri buku tulis biar dicoretin. Hehehe …

  8. Aku mengalami hal yang sama.mbk manakala mengenalkan dunia literasi pada anak-anak, bagaimana suka citanya bersama2 belajar dalam dunia anak *pengajaranak2 bertahun tahun.Betewei mbak Frida always stunning Bakan menapaki ke #usiacantik😉

    1. Wah. Seru ya, mbak Tanty.
      Dunia anak memang buat seru2an sih. ^^

      Stunning??
      Aamiin.
      Duh, ini lagi proses menuju stunning, mbak. Harus rajin pake L’Oréal Revitalift Dermalift tentunya.

      Justru mbak Tanty tuh metamorfosisnya stunning banget!
      Pake hijab jd kliatan lbh eheeem kece!

  9. Jatuh cinta sama ini:

    “Perlu diingat bahwa kecantikan batiniah adalah kunci menuju kecantikan lahiriah. Dengan senyum dan keikhlasan dalam menjalani kehidupan ini, insya Allah akan ada solusi atas problematika yang kita hadapi. Dengan senyum dan keikhlasan tersebut, insya Allah kita dapati pesona usia cantik yang sukar memudar dalam diri kita.”

    Insya Allah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s