Sekelumit

[Cerpen]

philippines-80763_640-01

Aku masih menatap podium setelah Pak Rizal meninggalkannya. Udah? Segitu aja? Cuma lima nama aja? Enggak ada tambahan, Pak? protesku dalam hati. Pengumuman yang baru saja disampaikan Pak Rizal di atas podium menyisakan sekelumit perasaan aneh yang tiba-tiba hinggap di benakku. Dan aku masih menatap nanar podium di hadapanku.

“Fi, ditungguin tuh,” bisik Chika di sampingku. Kepalanya memberi isyarat agar aku melihat ke arah pintu aula. Refleks aku mengikuti isyaratnya. Dan kulihat … Mama! Kulirik jam dinding di aula. Pukul 12.30. Saatnya Mama mengantarkan bekal makan siangku. Bisa jadi Mama udah dari tadi nungguin aku di depan aula dan mendengarkan pengumuman dari Pak Rizal barusan. Segera aku berdiri menghambur menemuinya. Kurasa, Mama memang hadir di saat yang tepat seperti ini.

“Aku enggak masuk nominasi, Ma,” laporku. Aku mengulas senyum lebar, mencoba kuat menghadapi kenyataan.

“I know. I heard everything,” sahut Mama sambil membentangkan kedua tangannya. Aku tahu pelukan hangatnya memang yang aku butuhkan saat ini. Mama memang … ah.

“Are you ok, dear?” tanya Mama sambil mengusap-usap punggungku dalam pelukannya. Mengingatkan aku akan Aurelio, murid kesayangan Mama yang suka menepuk-nepuk punggung Mama saat dipeluk. Anak itu lucu. Aku aja gemes melihatnya. Mana pipinya gembil pula!

“I’m ok. Ya … enggak apa-apa lah, Ma. Aku jadi mikir kalo namaku masuk nominasi calon Ketua OSIS, terus ternyata aku kalah suara, ‘kan jadi malu,” terangku panjang lebar.

“Ya … enggak gitu juga, lah. Kalah-menang itu biasa. Masuk nominasi itu bukan hal yang menakutkan. Biasa aja.”

Aku nyengir mendengar uraian Mama barusan. Tapi kan tetep lah malu juga kalo masuk nominasi calon Ketua OSIS dan akhirnya kalah suara. Duh, aku enggak bisa ngebayangin stresnya.

“But you know what, dear? Whether you are the candidate or not, you are always the star for me. You always win my heart,” bisik Mama perlahan namun kudengar dengan sangat jelas. Entah dari mana asalnya, aku merasa ucapan Mama barusan membuat perasaanku seperti habis diguyur hujan salju. Adem. And I like it.

Mama memelukku lagi. Mengusap-usap punggungku lagi. Lalu aku menepuk-nepuk punggungnya.

“Jadi mirip Aurelio nih, Ma,” celetukku lalu tertawa. Mama ikut tertawa. Sorot matanya mengenang kembali sosok murid kecil kesayangannya yang kini sudah enggak kecil lagi. Tapi mudah-mudahan sih masih lucu. Aku tahu Mama kangen Aurelio.

“Ayolah ke Jakarta. Kangen Aurelio, ‘kan?” cetusku. “Ke Jakarta yuk, Ma. Males banget di sini.”

Mama tersenyum. “Kayaknya sih memang kamu yang ngebet mau ke Jakarta.”

Aku membalas senyum Mama. Seharian itu aku cengar-cengir terus entah kenapa. Mungkin pengaruh sekelumit perasaan yang enggak enak itu.

Tentu saja aku kangen Jakarta. Kota hiruk-pikuk itu udah menyeretku melintasi petualangan kuliner yang mengesankan. Lidahku sering kali dimanjakan dengan hidangan dan jajanan yang tak pernah membosankan buatku. Sahabat-sahabat kecilku menorehkan banyak kisah lucu, haru, dan membanggakan di sana. Aku memejamkan mata. Aku kangen mereka semua.

Tiba-tiba ada perasaan meledak-ledak menyeruak di dadaku. Rasa kangen yang menumpuk ini semakin berat kurasa. Kugamit tangan Mama dan mengajaknya berlari. Menjauh dari gedung aula. Menjauh dari gedung sekolah.

Aku terus berlari dan Mama terus mengikuti tanpa bertanya. Sepertinya Mama tahu dan paham apa yang ada di dalam pikiranku. Kami masih terus berlari melewati semua jalan raya hingga jalanan sepi.

Akhirnya kedua kakiku mengantarkanku ke sebuah pondok kecil di tengah sawah. Beberapa batang pohon pisang berkerumun di samping pondok itu. Daunnya meliuk-liuk mengikuti desahan angin. Aku masih menggandeng tangan Mama erat. Berdua kami berjalan berhati-hati menghampiri pondok kecil yang tak berpenghuni itu. Ya … aku tahu pondok itu kosong karena aku pernah ke sana sebelumnya … di mimpiku. Warna cat kuning yang pudar pada pondok itu memutarkan de javu yang ngelangut sendu di sanubariku.

“Fiona …” bisik Mama perlahan.

Aku mengangguk. Aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku harus mencari kotak musik itu. Aku tahu kotak musik itu ada di atas kursi ayunan di teras pondok ini. Lalu aku melangkah mendekati kursi ayunan dan … oh, itu dia kotak musiknya! Bergegas tanganku terulur meraihnya dan membalikkan badan. Mama sedang berdiri di depan jendela pondok. Pandangannya memeriksa sesuatu di balik jendela.

Tiba-tiba pintu pondok terbuka! Sepasang tangan keriput dan berjari-jari panjang dengan kuku-kuku yang juga panjang terulur hendak meraih …

“MAMA!”

***

Tanah Laposid, 9 November 2016

Frida Herlina

Advertisements

11 thoughts on “Sekelumit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s