Rasa Sayang yang Tak Pernah Hilang

2016-09-18_06-47-24

Pandangan matanya sayu dan tampak lelah. Suhu badannya sedikit menghangat. Bibirnya memerah bukan karena olesan pewarna bibir tapi karena itulah ciri fisik khasnya saat staminanya menurun. Ketika tertidur pun badannya kerap bergerak gelisah. Bahkan kedua kelopak matanya cenderung sedikit terbuka di saat terlelap.

Saya sudah sangat hapal dengan gejala dan tanda-tanda penurunan kondisi fisiknya. Kesemua gejala itu terpampang nyata di hari itu. Padahal esok harinya adalah jadwal dia mengikuti LDKS (Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa) di Villa Permata Biru Trawas. Villa bernuansa outdoor untuk kegiatan outbound yang terletak di kota kecil dan berhawa dingin itu. Pelan-pelan rasa khawatir menjalar tanpa terkendali. Meskipun demikian saya tetap berusaha tenang dan melipat kekhawatiran di sudut hati tanpa terlihat.

    “What are you feeling right now?” tanya saya sambil mengusap dahinya.

    “Hhhh…, dunno. Headache, weak, tummyache,” jawabnya lirih. “Sejak pagi sampai sekarang udah poop tiga kali nih,” lanjutnya sambil mengerang.

“Diare, tidak?”

“Iya. Duh, lemes nih,”

“Udah sarapan?”

“Belum. Baru makan roti dikit doang,”

“Langsung sarapan sekarang. Banyakin makan sayur bayam. Pilih menu yang netral rasanya, nanti perutmu tambah kaget kalo kamu makan makanan pedas dan berbumbu tajam. Ambil telor dadar dan sayur bayam aja cukup. Menu lain yang di dapur bumbunya tajam semua rasanya. Ingat, banyakin minum air putih. Minum teh pahit juga. Teh pahit bisa bikin mampet diare kamu. Makan pisang juga. Ada pisang tuh di kulkas. Pisang punya kandungan zat pektin yang bisa bikin feses padat. Ayo, buruan makan!” tiba-tiba sudah bertubi-tubi saja ucapan yang bernada instruksi meluncur di bibir saya.

“Aduh, Bunda…males nih, enggak pengen makan.”

“Kamu kalo udah ngerasa badan sakit harus dilawan ya penyakitnya. Enggak usah manja. Kalo mau sembuh harus banyak makan, banyak minum dan istirahat. Besok kamu harus ikut LDKS, ya. Tahun depan kamu sudah kelas 9 sudah enggak bakal ada acara LDKS lagi. Kalo besok enggak kuat ikut acara yang outdoor harus bilang sama guru. Setidaknya kamu masih bisa ikutan acara yang indoor. Ayo, ini barusan Bunda seduhin teh hangat. Langsung minum glek. Ini teh tawar. Mungkin agak pahit rasanya.”

Meskipun tampak ogah-ogahan dan sedikit kesal kena omelan, anak sulung saya yang berusia 13 tahun ini akhirnya meneguk teh pahit yang tak disukainya. Maklum, Salsa memang pecinta teh manis. Makanya rada aneh aja bagi lidahnya bila harus dipaksa minum teh pahit.

“Salsa sakit beneran tuh. Kelihatan banget kan, dia kalo sakit gimana. Kita udah hapal banget ciri-cirinya. Udah deh, kalo besok masih sakit izin aja sama gurunya. Biar dia istirahat di rumah aja,” ucap suami saya saat di kamar.

“Iya. Kita lihat aja besok gimana,” sahut saya.

Lalu saya terdiam merenungkan ucapan suami saya. Mungkin saya terlalu keras terhadap Salsa. Mungkin sebaiknya dia istirahat saja di rumah. Mungkin belum rezekinya ikutan acara LDKS meskipun saya sangat berharap dia bisa ikut supaya dia lebih kaya pengalaman. LDKS itu memang acara yang dipersiapkan oleh sekolah untuk para calon anggota OSIS periode berikutnya. Saya memang mengizinkan Salsa ikut beroganisasi supaya (sekali lagi) dia lebih kaya pengalaman dalam berorganisasi dan bersosialisasi. Itu saja.

Seharian itu saya rutin memberikan pisang untuk camilannya Salsa. Ada kalanya memang harus disodorkan di depan mata supaya pisang segera disantap. Keasyikan nonton tivi sering membuatnya berkata “Ya, Bunda,” tanpa eksekusi. Iya-iya doang tapi enggak dikerjain, enggak langsung makan pisang. Yaa…namanya juga anak-anak.

Keesokan harinya saat subuh Salsa sudah segera mandi dan sholat. Padahal biasanya dia setelah sholat subuh masih tidur-tiduran sebelum mandi. Backpack kesayangannya sudah menggembung penuh. Rupanya semalam sebelum tidur dia sudah packing.

“Gimana rasanya sekarang? Masih pusing?” sapa saya pagi itu. “Kalo kamu enggak kuat ikut LDKS, Bunda bisa batalin. Bunda akan izinkan ke guru kamu.”

“Enggak pa-pa kok, Bunda. Aku udah enggak pusing. Aku kuat kok. Kan, nanti kalo pas enggak kuat, aku izin Pak Guru aja,” ucapnya mantap.

“Ok. Kalo kamu merasa kuat ya silakan ikut. Tapi harus tetap hati-hati, ya. Tadi masih diare?”

“Masih.”

“Hmm…”

Setelah sarapan dan mengecek ulang barang-barang bawaannya, Salsa pun pamit berangkat. Semua siswa harus berkumpul di sekolah untuk bersama-sama menuju lokasi. Ayahnya sudah bersiap mengantarkannya ke sekolah.

    “You take care yourself ok, dear? Always let your teacher know if you are not feeling well there,” pesan saya sambil memeluk Salsa erat seperti biasa.

    “Ok, mom,” balasnya. “Oh iya! Pulsaku habis nih, Bunda. Nanti tolong diisi, ya. Kan biar aku bisa nelpon kalo pas acaranya selesai biar dijemput di sekolah.”

“Iya. Kan nelponnya juga besok pas udah sampai di sekolah. Di Trawas mah sinyalnya parah,” tutur saya.

“Ih, Bunda. Pokoknya isiin deh pulsaku, pliiis…” rengeknya.

“Iya-iya. Udah sana berangkat.”

Segera saya masuk ke dalam rumah setelah mereka menghilang dari pandangan. Mumpung belum lupa, mumpung belum repot ngerjain ini-itu, saya pun mengirim pulsa untuk Salsa via Pulsa Online Murah. Cepat, praktis, enggak pake ribet.

Pagi itu semua pekerjaan domestik yang wajib tuntas saya kerjakan hingga menjelang tengah hari. Setelah menyuapi Danisha makan siang, saya ada banyak waktu senggang sambil menunggunya mengantuk. Biasanya setelah bermain selama satu jam, Danisha pasti langsung minta ditemani tidur.

img-20160914-wa0012
Pelatihan leadership (dok: sekolah)

Hari itu saya aktif di grup WhatsApp sekolahnya Salsa (sebagaimana wali murid yang lain) untuk memantau kegiatan LDKS yang berlangsung di tanggal 14-15 September 2016 kemarin. Saya menghela napas lega saat membaca rundown di hari pertama yang mayoritas kegiatannya indoor. Hanya saat pembukaan saja dilakukan di lapangan. Tak henti-hentinya saya berdoa semoga Salsa baik-baik saja di sana dan tidak merepotkan guru-guru. Meskipun di beberapa hal saya tampil galak (baca: tegas) di depan Salsa, tetap saja saya kepikiran saat melepas dia ikut kegiatan outbound dalam kondisinya yang tidak fit dan tanpa pengawalan saya. Tetap saja ada rasa sayang yang tak pernah hilang terhadapnya. Segalak apapun seorang ibu yaa…tetap saja kasih ibu sepanjang masa. Segalak apapun saya, tetap saja saya menjadi tempat Salsa berkeluh kesah dan bercanda ria. Segalak apapun saya, tetap saja Salsa mengenal saya dengan baik sebagaimana saya yang juga terus belajar mengenal dan memahaminya.

Akibat sinyal yang tidak bersahabat memang agak tersendat nih jalur komunikasi via WhatsApp. Guru pendampingnya sempat saya japri untuk menanyakan kondisi Salsa. Hingga akhirnya,  guru tersebut membalas text japri saya dan segera saya balas balik.

Bu Frida tenang saja. Di sini Salsa bersenang-senang 😀

Oh syukurlah. Terima kasih banyak, Pak Angga.

img-20160914-wa0005
Tuh, kan? Udah ceria bersama teman-teman dan guru-guru.(Dok: sekolah)

Saya menghela napas lega. Tidak ada yang lebih melegakan daripada pernyataan menenangkan dari guru yang mendampingi anak kita saat ikut kegiatan outbound, kan? Meskipun masih tersisa sedikit rasa khawatir, saya berusaha tenang dan percaya bahwa Salsa memang baik-baik saja di sana. Malam harinya, saya harus puas dengan voice mail yang berulang-ulang menjawab panggilan telpon saya ke ponsel Salsa. Ya, sudahlah. Good night, Sweetheart.

img-20160915-wa0001
Senam pagi bersama-sama. (Dok: sekolah)

Keesokan harinya, grup WhatsApp sekolah banyak membagi foto-foto kegiatan selama outbound. Setelah itu lumayan sunyi. Mungkin guru-guru yang bertugas sibuk dengan kegiatan outbound yang memang difokuskan di hari kedua LDKS. Selain itu juga (lagi-lagi) tentang sinyal yang kurang bersahabat.

Setelah menghabiskan waktu lumayan lama untuk menyuapi Danisha makan siang (yang bikin lama tuh, saya harus ikutan joged-joged dan nyanyi-nyanyi lagu-lagu Barney yang video clip-nya sedang ditonton Danisha saat makan siang), saya segera ke kamar mandi untuk ambil air wudhu. Ya ampun, udah siang banget nih rasanya. Saat saya mengusapkan air ke wajah tiba-tiba…

“Hiyaaa! Bundaaa…aku pulang! Yay! Yay!” Salsa bersorak-sorai menari-nari diikuti adik kecilnya menghampiri saya di pintu kamar mandi.

Saya menoleh sekilas dan tersenyum lega. Barusan sebelumnya saya japri gurunya untuk menanyakan kapan tiba di sekolah. Ternyata Salsa sudah langsung ada di depan mata. Wajahnya merona ceria meskipun memang tampak agak lelah. Saya bersyukur dia bisa menikmati acara LDKS meskipun memang bukan acara santai-santai. Lebih bersyukur lagi melihat dia sehat wal afiat bahkan mungkin lebih sehat daripada kondisinya saat sebelum berangkat ikut LDKS. Meskipun dia juga bercerita sih bahwa sampai pagi hari itu dia masih diare. Bukan diare penyakit tentunya tapi lebih ke fesesnya belum padat saat BAB (buang air besar). Ya…mencret gitu lah. (Hiiiyy!!!) Kalo diare yang penyakit kan sudah parah tuh. Mungkin sehari bisa bolak-balik lebih dari lima kali untuk BAB mencret. Tapi yaa…sudahlah. Enggak usah dibahas lebih lanjut sebelum Teman-teman ikutan BAB juga. Hahaha… 😀

Yang jelas saya bahagia aja bahwa Salsa bisa kuat dan tangguh ikut acara semacam outbound itu. Bahkan dia benar-benar ikut semua acara baik indoor maupun outdoor. Padahal saya sudah memberi lampu hijau padanya untuk skip acara yang outdoor bila fisiknya belum kuat. Tapi Salsa tidak mengandalkan “lampu hijau” tersebut. Justru dia membuktikan bahwa dia bisa, bahwa dia enggak manja. Hmmm, baguslah! 🙂

Lots of Love,

Frida Herlina

Advertisements

2 thoughts on “Rasa Sayang yang Tak Pernah Hilang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s