Me Time! Masih Sempat?

2016-09-12_03-11-25

Malam semakin merambat turun memeluk langit. Bintang yang bertaburan menghampar di angkasa menyematkan kelegaan. Setidaknya malam itu cerah. Tentunya saya tak perlu khawatir pulang malam sendirian. Saya kembali berkutat di lantai dua di dalam kelas menyelesaikan daily report setelah menunaikan sholat maghrib tadi. Ah, dalam hitungan menit sebentar lagi pasti tuntas pekerjaan ini. Dan benar saja, tak lama kemudian tumpukan report file yang sudah selesai ditulis saya masukkan ke dalam cabinet kecil di sudut kelas. Peralatan tulis rapi tertata di rak samping meja saya. White board bersih dan spidol tertutup rapat terkumpul di tempatnya. Sebelum mematikan lampu dan pendingin ruangan, saya tersenyum meninggalkan ruangan kelas.  This is the way I leave my classroom, clean and tidy. Tomorrow will be another adventure to start with.

Laptop di ruang kerja saya di lantai satu masih menyala. Segera saya matikan dan rapikan meja kerja saya di sana. Setelah semua piranti saya simpan rapi di cabinet kecil di sudut ruangan, tiba-tiba ponsel saya berbunyi. Chat singkat dari suami dan segera saya balas.

Malam ini jadi pergi me time?

Oia, hampir lupa. Jadi dong. 

Mau ke mana?

Ke XXI aja deh. Pengen nonton. Boleh, ya?

Ok. Film apa?

Entah. Aku belum cek. Full classes hari ini, ga sempat pegang hp.

Ambil show time yg lebih awal, ya.

Iya. Berarti aku hrs pergi skrng. Biar keburu.

Ok, take care.

Sip. Thx, Yah.

Bergegas saya merapikan meja kerja dan menyambar tas menuju tempat parkir. Sempat pamit sekilas ke office girl di dapur yang sedang cuci piring. Bos sudah pulang dari tadi. Entah, mungkin ada urusan penting. Dan yang penting sekarang saya harus segera tiba di XXI. Duh, semoga lalu-lintas lancar deh. Jumat malam menjelang weekend biasanya lumayan padat sih kendaraan.

Pukul 18.50 saya sudah tiba persis di depan nona cantik penjual tiket XXI. Hampir pukul 19.00 nih, show time paling awal yang saya kejar. Sambil terengah-engah mengatur napas, saya cermati film yang sedang diputar di tujuh studio yang tersedia. Dan…aha! Itu dia! Cuma judul film itu yang paling cocok.

_20160912_011025
Courtesy: imdb.com

Sherlock Holmes masih ada, Mbak?”

“Masih. Silakan pilih seat-nya?” balas nona cantik sambil tersenyum.

“F! Ada, kan? F 8, ya,” sergah saya cepat. Well, my favorite seat. 🙂

“Baik. Dua puluh lima ribu, studio satu. Sebentar lagi filmnya mulai, ya,” ucapnya sambil menyerahkan tiket dan saya pun menyerahkan sejumlah nominal yang diminta.

“Ok.”

Langkah saya mantap menuju pintu studio satu. Eh, tunggu! Dengerin ini dulu!

“Pintu teater satu telaagh dibuka. Bagi Anda yang telaagh memiliki karcis, dipersilakan untuk memasuki ruangan teater satu.”

Saya masih tersenyum seraya memasuki studio satu ketika mendengar voice over dan dubber legendaris Maria Oentoe yang setia mengingatkan para movie goers untuk bergegas masuk studio menjelang jam tayang film. Saya suka banget dengan cara beliau melafalkan kata “telah” yang mirip aksen Belanda itu. (Perhatiin juga kah, Teman-teman?) Saking fenomenalnya suara beliau, enggak heran kalo enam tahun yang lalu beliau merekam ulang suara pemanggil di bioskop XXI ini. Kabarnya sih, tanpa kesepakatan royalti. Hik… *sedih*

Eh, filmnya main nih! Teman-teman ada yang suka Sherlock Holmes juga? Kalo saya sih, baik baca novelnya maupun nonton filmnya yaa suka banget! Tapi lebih berasa gregetnya di film sih buat saya. (Beda sama Harry Potter yang novelnya kece badai dan filmnya pun keren to the max.) Mungkin karena gaya bahasa dan setting di novelnya kelewat jadul, ya. Jadi lebih ngegemesin aja liat Holmes kirim berita ke Watson via telegram padahal itu untuk kasus yang urgent. Duh, coba langsung chat aja via aplikasi WhatsApp maupun aplikasi Telegram. Kan bisa sat-set — sat-set cepet deh terkirim. Namun hal itu akan beda bila divisualisasikan dalam film. Penonton langsung maklum menyaksikan adegan kirim-terima telegram karena mereka ngeh kalo itu film dengan latar belakang jadul. Jadi kalo baca novel enggak ngeh gitu ya, kalo itu novel jadul. Atau pas nonton filmnya sama aja gitu kah berasa gregetan karena adegan kirim-terima telegram itu lelet? Hahaha…

Tapi tetep sih peran casting tuh besar banget dalam menghidupkan sebuah film. Nama-nama jaminan mutu seperti Robert Downey Jr. (pemeran Sherlock Holmes) dan Jude Law (pemeran Dr. John Watson) yang penampilan fisiknya juga aaakkk…*open jaws* itu memang jadi kunci utama kesuksesan film besutan sutradara Guy Ritchie yang dirilis pada 25 Desember 2009 (USA) meraih dua nominasi piala Oscar 2010 (Best Achievement in Music Written for Motion Pictures & Best Achievement in Art Direction). Bahkan film ini juga menggondol piala Golden Globes 2010 untuk kategori Best Performance by an Actor in a Motion Picture – Comedy or Musical and it went to… Robert Downey Jr.!!! Who else could be?

Tony Stark-nya Iron Man ini memang all out saat berakting. Well, sudah mendarah daging kali, yaa. Sudah panggilan jiwa gitu, deh. Kayak kamu tuh yang sudah panggilan jiwa banget untuk jadi blogger. Iya, kamu! ^^ Ahahay…

Begitulah. Itu tadi kisah Me Time favorit saya saat nonton Sherlock Holmes sendirian (tapi di studio sih ada penonton yang lain tuh ikutan nonton) di XXI sekitar enam tahun silam. (Me time favorit lainnya sih, saat creambath and facial, tentunya!) Me Time? Masih sempat? Ya… tuh buktinya sempat. Yang penting dapat izin dari suami dan anak juga aman ditinggal bersama ayahnya. Toh, cuma pergi nonton ini. Kelar nonton ya langsung pulang. Beres. Tapi kalo sekarang sih, Me Time saya yaa… bawa anak-anak lah. Biar cuma sekadar jajan di kedai es krim duren, saya pasti bawa anak-anak. Secara Danisha masih batita jadi saya belum sreg aja ninggalin dia demi kepuasan batin saya pribadi. Aih, klise yak? Tapi memang bener kok. Perempuan kalo jadi ibu bakal mikir ribuan kali saat mau ninggalin anak. Bahkan ribuan kali pula merelakan kehilangan haknya demi tuntasin kewajiban. Banyak kok ibu yang seperti itu. Percaya, deh.

Tapi sebenarnya, me time itu penting untuk self healing, self knowing dan self satisfying. Me time bisa menangkal bibit stres yang bakal muncul, bisa memberi ruang dan waktu untuk mengenal diri sendiri dan bisa untuk memuaskan hasrat pribadi. Itu menurut saya lho, kalo Teman-teman punya pendapat lain yaa boleh aja.

Mau atur waktu untuk sempatin me time? Atur aja sama pasangan atau orang kepercayaan untuk menjaga anak-anak saat ditinggal, ya. Atur waktunya juga lah. Secukupnya sesuai porsi yang Teman-teman butuhkan. Ok? Happy enjoying your me time! ^^

Lots of Love,

Frida Herlina

referensi: imdb.com

 

 

Advertisements

23 thoughts on “Me Time! Masih Sempat?

    1. Aku juga milih kok, mbak Ade. Tapi cenderung ke film Hollywood sih. Hahaha…
      Cuma Laskar Pelangi & Ayat2 Cinta yg mampu bikin aku nonton. Bulan Terbelah di Langit Amerika juga bagus meski temanya lumayan berat (9/11) gitu.
      Tapi kalo Kisah Tiga Dara?
      Ah…entahlah. Kurang klik aja sama garapan Nia Dinata.
      Ya…selera aja sih. ^^

  1. Me Time kalau ga disempatin, bisa stress emaknya! 😆 Aku baru bisa bener-bener ngerasain me time itu baru pas si kecil udah masuk sekolah. Baru bisa yang bener-bener santai dan menikmati. Kalau dulu, me time ya seadanya, sebisanya, dan apapun lah asal bisa stress free. 😀 We moms are very strong women, but we do need some break! Cheers for us! 🙂

  2. Kalau kebelet pengen me time tapi gak bisa keluar rumah karena anak tidurnya kemaleman dan udah terlalu capek, aku biasanya nyemil sambil baca komik kesukaan *pantes ga kurus-kurus nih badan*
    Pokoknya me time ini emang selalu disempet-sempetin buat menjaga kesehatan mental deh 😀

  3. Asiknyaa yang ‘me time’ nonton.. Nampaknya favorit yang detektif2 gitu ya Mbak, kaya komik sukanya Conan dan film pun Sherlock Holmes. *Sok tau yeee daku*

    Tapi emang bener, kita perlu banget ‘me time’ mbak supaya tetap waras. Tsaah.. Qiqiqiqq…

    1. Duilee…itu sih me time dari tahun kapan, Ghi. Kalo sekarang sih definisi me time-ku udah lain, pasti bawa anak2. Persis rombongan sirkus dah saking ribetnya. Hahaha… Gpp yang penting kan hepi dan enjoy. Drpd kabur sendirian tapi jiwa ga tenang. Hahaha…

      Kisah detektif lebih menarik, Ghi, karena mengaktifkan otak utk ikut mikirin alur dan ending-nya.
      Drama? Well, I had enough. ^^

    1. Eh, ada Eva cantik nih.
      Iyaaa … suka Sherlock Holmes. Masih ada 1 novelnya tuh yg kelupaan dibaca. Hahaha … Jadi inget lagi deh.
      Habisnya filmnya lebih seru!
      Apalagi Robert Downey Jr itu pas banget meranin Holmes.

      Makasih udah mampir yaa ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s