Tatkala Berqurban Harus Melibatkan Perasaan

2016-09-08_13-36-15

“Dapat kambingnya, Yah?” tanyaku ketika suamiku baru saja tiba di rumah dan segera memarkirkan motornya di teras.

“Iya, dapat. Pas pula harganya dengan uang yang kubawa tadi,” jawab suamiku sambil mengusap peluh.

“Alhamdulillah,” sahutku sambil menyerahkan segelas air dingin padanya. Cuaca sore ini masih terasa panas sejak siang tadi. Entahlah, mungkin nanti malam akan turun hujan deras. Aku menyalakan kipas angin. Lalu kembali aku berbincang-bincang dengan suamiku tentang “perburuannya” mencari kambing qurban seharian tadi.

Malam harinya gerimis lembut menjuntai menemani gelapnya mendung. Meskipun bukan hujan deras, hawa dingin yang dikirimkan alam ini menyejukkan sanubari. Suasana syahdu menyelimuti kalbu sehingga membuatku sedikit bersedih.

Aku bersedih karena kali ini anggaran kami tidak memungkinkan untuk membeli tiga ekor kambing sekaligus. Banyak kebutuhan di luar dugaan terjadi tahun ini. Pendapatan pun sempat gonjang-ganjing. Ah, badai pasti berlalu. Aku mencoba mengikhlaskan semuanya. Allah pasti punya rencana yang lebih indah nanti.

Seperti halnya saat ini ketika aku mengikhlaskan hanya membeli seekor kambing untuk qurban atas nama Salsa, putri sulung kami. Beruntung kami di tahun sebelumnya diberi kesempatan untuk berqurban dua ekor kambing di kampung halaman. Suamiku yang pulang ke kota asalnya untuk mengurus hal itu.

“Tahu nggak, Bunda? Kambing qurban kita itu sepertinya kakak beradik. Rukun sekali berjalan beriringan menuju halaman masjid raya untuk disembelih,” kisah suamiku saat itu via telepon. Aku tersenyum membayangkan dua ekor kambing seperti yang digambarkan suamiku tersebut.

Dan kini kambing untuk Salsa telah siap. Suamiku sudah mendaftarkannya ke takmir masjid di dekat rumah. Kambing itu ada di halaman masjid sedang menikmati makanan di hari-hari terakhirnya. Kambing itu juga sudah diberi tanda huruf S di badannya, menunjukkan dia milik Salsa.

Hari Raya Idul Qurban pun tiba. Suka cita kaum muslim di perkampungan tempat kami tinggal berbondong-bondong menunaikan sholat Idul Adha berjamaah. Sesekali sayup-sayup terdengar suara sapi dan kambing dari halaman belakang masjid. Binatang pun bertasbih kepada Sang Khaliq dengan bahasanya sendiri. Mungkin orang lain yang terlalu baper akan menganggap itu adalah suara ratapan rintihan kesedihan para binatang menjelang disembelih. Hmm, tahu apa mereka tentang bahasa binatang? Setahuku hanya Nabi Sulaiman yang punya keistimewaan bisa berbicara dengan binatang. Ah, sudahlah.

Selesai Sholat Ied, aku segera pulang merapikan pekerjaan domestik yang terbengkalai. Selepas sarapan, suamiku kembali ke masjid untuk mengecek kambing qurban. Sekitar dua jam kemudian, takmir masjid mengumumkan acara penyembelihan akan segera dimulai. Suara pengumuman itu cukup lantang terdengar mengingat tak begitu jauh jarak rumah kami dengan masjid tersebut.

“Ayo, Salsa ikut! Kita lihat kambing qurbanmu,” ajak suamiku yang tiba-tiba pulang lagi.

“Pergilah, Nak. Tengok kambing qurbanmu. Nanti Bunda menyusul setelah selesai mencuci,” ujarku.

Salsa mengangguk dan bergegas menyusul ayahnya berlari menuju halaman masjid.

Aku tersenyum. Ada rasa bahagia menyelusup relung kalbuku melihat hal itu. Namun senyumku tak lama mengembang tatkala tiba-tiba…

“Bunda, kasihan kambingnya,” isak Salsa mengusap air matanya.

“Kenapa, Sayang?” tegurku sambil mengusap rambutnya. Oh, gadis kecilku ini sudah semakin besar.

“Tadi aku lihat kambingnya seperti menangis. Terus pas mau disembelih aku langsung pulang,” kembali Salsa berkisah setelah isaknya reda.

Aku tersenyum dan memeluknya. Buah hatiku ini memang sangat perasa sejak kecil. Dia mudah sekali terharu akan hal-hal yang mungkin terlewat oleh orang lain. Dulu saat dia masih TK, dia pernah menonton acara semacam Flora dan FaunaΒ dan tiba-tiba dia berlinang air mata hanya karena melihat adegan seekor kuda melahirkan anaknya dan bayi kuda tersebut mencoba berdiri dan berjalan tertatih-tatih. Oh, my sweet baby. ^^ Tatkala berqurban harus melibatkan perasaan, beginilah akhirnya yang dialami Salsa. Dia mendadak mellow dengan pengorbanan si kambing.

“Kambing itu menangis bahagia, Sayang. Kamu tenang aja. Itu tak semenyedihkan yang kamu pikirkan kok. Yuk, kita ke masjid melihatnya!”

“Nggak mau. Bunda aja,” tolaknya.

“Baiklah. Kamu tunggu di rumah, ya,” pesanku.

Halaman masjid sudah penuh sesak dengan lautan manusia. Beberapa ibu-ibu yang menjadi panitia Idul Qurban sigap memotong-motong daging sapi dan kambing. Beberapa anak kecil asyik menonton. Sejumlah kambing yang sudah disembelih digantung berjajar menanti giliran dibersihkan dan dipotong. Kujumpai suamiku di kerumunan panitia qurban. Dia juga tersenyum saat kuceritakan tentang Salsa barusan.

“Tuh, kambingnya Salsa. Masih digantung. Barusan tadi disembelih. Aku juga ikut pegangin kok,” terang suamiku. Aku melihat kambing qurban Salsa. Kambing cukup umur berwarna cokelat semburat hitam kini sudah tak bernyawa. Kambing yang kelak setiap helai bulu dan tetesan darahnya ditimbang sebagai amal kebaikan buah hati kami. Selamat tinggal, kambing. Semoga surga menjadi balasan untukmu.

Ada kisah yang cukup menginspirasiku tentang berqurban ini. Alkisah ada seorang perempuan yang mencari hewan qurban di pasar. Ketika mendapatkan kambing yang diinginkan, terjadilah tawar-menawar antara perempuan itu dan penjual kambing. Setelah melalui negosiasi yang cukup alot, disepakatilah harga kambing sesuai dengan sejumlah uang yang dimiliki perempuan tersebut. Tentunya si penjual sedikit merugi namun dia tidak mempermasalahkan asalkan ada ongkos mengantarkan kambing ke rumah perempuan itu.

Betapa tertegun si penjual mendapati gubuk reyot tempat dia harus mengantarkan kambing. Melihat kambing qurbannya datang, perempuan itu bersorak memanggil seseorang,”Ibu, lihat! Kambing qurban Ibu datang!”

Ternyata perempuan itu membeli kambing untuk ibunya yang sudah tua renta namun masih memendam impian untuk bisa menunaikan ibadah berqurban di Hari Raya Idul Adha. Seketika si penjual merasa malu dengan dirinya sendiri yang terlalu memikirkan keuntungan penjualan kambing dagangannya. Lalu dia membebaskan ongkos mengantarkan kambing ke rumah perempuan itu sebagai wujud rasa beramalnya kepada sesama. Orang yang tidak berpunya saja masih bersemangat untuk bisa berqurban dalam jumlah yang tak sedikit, lalu mengapa dia tidak melakukan hal yang sama? Hmm, peristiwa itu cukup menjadi cambukan buatnya untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Mungkin Teman-teman sudah akrab dengan kisah perempuan dan penjual kambing di atas yang biasanya ramai berseliweran di media sosial. Apa inspirasi berqurban bagi kalian?

SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1437 HIJRIYAH

 

Lots of Love,

Frida Herlina

Advertisements

6 thoughts on “Tatkala Berqurban Harus Melibatkan Perasaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s