Ada Silaturahmi dalam Reuni

2016-09-08_02-15-08

Seragam putih-birunya masih licin dan kaku. Aroma pewangi pakaian yang memenuhi indera penciumannya membuatnya mampu untuk duduk manis di bangku sekolah di dalam kelas menanti bel berbunyi. Hari pertama di salah satu SMP Negeri di Kota Pahlawan membuatnya sedikit gelisah menghadapi lingkungan baru, teman-teman dan guru-guru baru, suasana baru dan sejumlah mata pelajaran yang juga baru. Kini dia sudah mulai remaja. Bukan lagi anak ingusan yang berseragam putih-merah. Dia tahu dia harus melewati ini semua dengan baik-baik saja. Dia tahu dia harus bisa beradaptasi dengan cepat meskipun banyak kecanggungan yang dirasakannya.

Setahun, dua tahun, hingga tiga tahun akhirnya berhasil juga dia menyelesaikan pendidikan di bangku SMP. Semua masa sulit dan masa indah telah tuntas ditaklukkan dan digenggamnya. Ada tawa canda dan duka nestapa. Ada keceriaan bersama teman-teman terdekat dan ada pula kegetiran menghampiri hari-harinya. Namun itu semua sudah berlalu. Ijazah SMP telah menghantarkannya menuju gerbang salah satu gedung SMA Negeri di kota yang sama.

Hingga bertahun-tahun kemudian…

Sebuah undangan reuni terpampang di depan matanya. Reuni SMP Negeri tempatnya dahulu menimba ilmu, tempatnya dahulu belajar menghargai arti sebuah persahabatan, tempatnya dahulu menemukan cinta monyet yang bertepuk sebelah tangan. Ah, mungkin itu bukan cinta. Terlalu agung kata cinta disematkan dalam kisah-kasih anak SMP. Ngerti apa sih abege SMP tentang cinta? Halowh?! Tentu saja itu hanya kekaguman semata. Kekaguman kepada sosok anak lelaki cerdas teman sekelas yang dikirim gejolak masa remajanya yang menandai awal masa akil balighnya yang saat itu diterjemahkan kata hatinya sebagai cinta. Ah, itu bukan cinta. Dia menggelengkan kepala.

Sambil membolak-balik surat undangan itu dia tersenyum. Pikirannya berkelana melintasi ruang dan waktu, menapaki jejak kenangan masa lalu, mendustai kekecewaan yang menyaru bagai harapan semu.

“Baiklah, aku akan datang. Aku datang bukan karena ingin melanjutkan masa laluku tapi karena ada silaturahmi dalam reuni. Hanya itu,” bisiknya dalam hati.

Di suatu senja di Cafe Cirkel di Jalan Bawean masih di kota yang sama. Hiruk-pikuk dilihatnya beberapa orang di halaman depan Cafe bercengkerama dan bercanda. Beberapa di antara mereka dikenalnya sebagai teman sekelas. Sebagian besar dari mereka yang telah hadir di sana tak mengenalnya. Mungkin tak mengingatnya. Atau mungkin telah melupakannya. Bagus! batinnya sambil bergegas memasuki Cafe setelah mendapatkan name tag dari panitia di halaman depan tadi. Menjadi anonim lebih memberikannya privasi daripada menjelaskan identitasnya seperti ini. Sekarang, setiap orang bisa kembali memanggil namanya hanya bermodalkan pandangan sekilas pada name tag yang harus dikenakannya itu.

2016-09-07_15-34-13
Reuni SMPN 7 Surabaya tahun 2010 di Cafe Cirkel

Diedarkan pandangannya di sekeliling mencari entah siapa yang mungkin masih mengingatnya. Ingatannya masih merekam dengan baik beberapa nama dan wajah teman-teman SMP-nya, baik yang pernah sekelas maupun tidak. Tapi malam itu dia tetap menjadi anonim, tetap menjadi bagian yang terlupakan di masa lalu.

Kehadiran beberapa guru mulai menyita perhatiannya. Ada sekelumit haru menyeruak di sudut ruang hatinya yang syahdu. Mengenang ukiran ilmu yang ditorehkan para pahlawan tanpa tanda jasa itu. Mengenang masa menghapalkan berjuta rumus yang sanggup memecahkan isi kepala. Mengenang masa mendemonstrasikan dialog dalam wacana drama.

2016-09-07_15-37-25
Serah terima cindera mata kepada para pahlawan tanpa tanda jasa

Oh, Bapak dan Ibu Guru. Bersyukur kami melihatmu dalam balutan raga yang sehat selalu. Bersyukur kami menjadi anak didikmu. Bersyukur kami menjadi bagian dari sekolah ini. Terimalah ucapan terima kasih kami. Terima kasih telah hadir di acara reuni yang menyambungkan tali silaturahmi ini. Semoga Allah senantiasa meridhoi amalan Bapak dan Ibu Guru tercinta. Semoga segala kebaikan Bapak & Ibu Guru bernilai amal jariyah. Aamiin.

 

Lots of Love

Frida Herlina

Advertisements

18 thoughts on “Ada Silaturahmi dalam Reuni

  1. Reuni paling asik kalo setelahnya kita jadi makin akrab “berteman” dengan teman-teman sekolah dulu dan nggak kapok kalo diundang reuni lagi. Apalagi menambah kedepulian dengan sesama alumni… wah silaturahmi semakin manjang deh

    1. Iya, mbak Junita.
      Reuni yg bisa menjadi manfaat seperti itu pasti tambah asyik. Jadi lebih peduli saat ada teman yg sakit, dll.
      Pastinya lebih betah reuni terus, ya.
      Makasih udah berkunjung. ^^

  2. Amin ya robbal alamiin….
    KAlau Reunian terus bisa ketemu guru-guru, itu enak. serasa bernostalgia skaligus bisa bercengkrama dg beliau2. Tapi sjauh ini, tiap ada reuni SMP dan SMA, tanpa ada guru yang didatangkan oleh pihak panitia *Reuni per kelas :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s