Karena Bahagia itu Ada di Sini

2016-09-06_23-18-35

Seorang balita berlari sambil menjerit tertawa-tawa. Di belakangnya, seorang anak perempuan usia remaja berlari mengejarnya. Hingga akhirnya balita itu “tertangkap” dan rinai tawa canda mereka berdua menghiasi isi rumah. Seorang ibu menatap kedua anak itu dari balik jendela dapur. Tangannya masih menyeduh teh hangat dan menyiapkan dua cangkir untuk dituangkan. Sesaat kemudian dihidangkan secangkir teh itu kepada seorang laki-laki. Suaminya. Laki-laki itu masih duduk di bangku rotan di halaman belakang. Halaman yang asri penuh dengan tanaman hasil olah tangannya sendiri. Ada pandan, jeruk nipis, jambu merah dan cabai. Beberapa buah cabai tampak mulai merona merah warnanya. Secerah hangatnya pagi itu. Setelah menghirup teh hangat buatan istri tercintanya, berdua mereka melihat tingkah polah kedua anak mereka yang sedang bercanda. Sambil tersenyum, sepasang suami istri itu saling erat menggenggam tangan. Rasa syukur dan damai menyeruak di antara keduanya. Karena bahagia itu ada di sini, di hati sanubari orang-orang terkasih. Karena bahagia itu ada di rumah, di tempat kembali yang selalu menanti sekian lama.

Lebih baik di sini, rumah kita sendiri

Segala nikmat dan anugerah yang kuasa

Semuanya ada di sini

Rumah kitaΒ 

(God Bless)

Di kesempatan yang lain, di sebuah rumah yang asri, sepasang suami istri sedang bercakap-cakap dengan penuh kehangatan dan kemanjaan, ketergantungan satu sama lain. Itulah cinta. Ah…

Istri: Yah, kepalaku tiba-tiba pusing. Duh, rasanya kayak mau meriang, deh.

Suami: Sini, istirahat rebahan di dekat Ayah sini.

Istri: (mendekat sambil memeluk suaminya, sambil meraba juga sampai tangannya menggapai sesuatu, kotak dan tebal) Yah, pusingku bakal cepet sembuh kok. Enggak sampai meriang juga.

Suami: Baguslah. Bunda harus jaga kesehatan supaya bisa urus anak-anak.

Istri: Tapi…

Suami: Kenapa?

Istri: Aku mau lihat dompet Ayah dulu deh. Nanti aku sembuh kok pusingnya. Janji.

Suami: (berusaha berkelit) Ngapain sih? Pagi-pagi udah mau lihat dompet Ayah? Ayah cuma pajang foto kamu kok. Enggak usah khawatir.

Istri: (tersenyum) Iya, aku tahu.

Suami: (mengerling menggoda) Eh, ada foto perempuan lain, ding. Dua pula! Wah, gawat nih. (sambil nyengir dan menggenggam dompetnya erat-erat)

Istri: (masih tersenyum tenang) Iya, aku tahu. Dua perempuan itu Salsa dan Danisha. Yah, lihat dompetnya dong. Pliiiisss…(tatapan memelas a la Chelsea Islan)

Suami: (mulai gelisah) Jangan sekarang dong, Bunda. Timing-nya belum pas nih.

Istri: Udahlah, cuma lihat sebentar aja kok. Tenang aja lah, Yah.

Suami: (ragu-ragu menyerahkan dompetnya) Tapi…

Istri: (tiba-tiba berseru dengan tatapan seperti melihat bayi sehat yang lucu saat meraih dompet suami) Owwwhh…, lucu banget sih si item ini. Tambah montok. Sehat banget! Owwhh…

Suami: Bunda, ini kan baru semalam…(gelisah tak melanjutkan kalimatnya)

Istri: Iya, semalam aku denger kok pas Ayah telponan sama kontraktor di teras belakang. Terus, enggak lama Ayah pergi ke ATM, kan?? (mengerling manja) Alhamdulillah proyeknya gol, ya. Sebanyak ini tuh ada porsi doa istri lho, Yah.

Suami: Iya, sih. Tapi kan ini tadi aku maksudnya mau kasih kejutan aja gitu…(geragapan)

Istri: Oh, ini udah kejutan banget lho. Nah, dompet montok gini kan pasti enggak nyaman lah ya dikantongin. Jadi dompetnya harus diet dulu. Nih, segini aja. (sat-set, sat-set, dengan sigap memindahkan segepok tebal lembaran-lembaran berwarna merah dan hanya menyisakan selembar di dompet suami lalu menyerahkan pada suaminya)

Suami: (bengong sambil menerima dompetnya kembali) Glek!

Istri: (menghitung lembaran-lembaran merah itu dengan berbinar-binar lalu mengipas-ngipaskannya) Ingat kan, Yah, kalo suami itu ada artinya. S-U-A-M-I. Semua Uang Adalah Milik Istri. Ihiiyyy…, makasih yaa, udah bikin sembuh sakit kepalaku. Yuk, sarapan!

Saya tersenyum-senyum mengingat peristiwa beberapa hari yang lalu. Bahagia itu ada di sini. Nih, di sini. *kipas-kipas pakai lembaran uang warna merah* πŸ˜€

 

Lots of Love,

Frida Herlina

 

 

Advertisements

6 thoughts on “Karena Bahagia itu Ada di Sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s