Jajanan Manis yang Dulu Pernah Eksis

2016-09-05_06.14.22

Belum juga bel istirahat selesai berdenting, anak-anak sekolah sudah berhamburan keluar kelas. Ibarat kata bel masih berdenting satu ketukan nih, pintu kelas sudah berjejalan penuh dengan anak-anak yang ingin segera melesat keluar untuk jajan ke kantin. Seringkali Bapak/Ibu Guru harus menahan murid-muridnya hingga beliau benar-benar mengakhiri pelajarannya sebelum akhirnya anak-anak itu diizinkan keluar kelas. Tapi yang namanya anak-anak, mana tahan mendengar suara bel istirahat, kan? Bagi sebagian besar dari mereka, bel istirahat adalah bel kebebasan. Bebas jajaaaaaaaannnn!!! Horeee…

Suasana di kantin semakin hiruk-pikuk dengan kedatangan anak-anak yang semakin lama semakin membludak. Sambil mengacungkan uang kertas di tangan masing-masing, anak-anak itu berteriak-teriak kepada Ibu Kantin menyebutkan jajanan yang mereka inginkan. Bila saat itu Ibu Kantin sedang bertugas sendirian, dijamin bakal pusing tujuh keliling mendengar teriakan anak-anak yang berlomba-lomba ingin dilayani terlebih dahulu.

“Bu, tahu isinya satu!”

“Bu, martabaknya dua!”

“Bu, es cendolnya tiga!”

“Bu, donatnya empat!”

Oh la la, yang mana yang harus dilayani duluan nih? >.< Pusiiiiiing!!!

Kita tinggalkan suasana kantin yang penuh teriakan anak-anak dan kebingungan Ibu Kantin sejenak, ya. Sekarang kita tengok apa yang terjadi di luar gerbang sekolah di jam istirahat. Lho, bukankah gerbang sekolah dikunci? Ini kan masih jam sekolah meskipun sedang istirahat? Jangan khawatir. Pak Satpam penjaga gerbang selalu berbaik hati membuka pintu gerbang khusus di jam istirahat. Dan begitu pintu gerbang terbuka, anak-anak SD yang berhamburan keluar dari sana merasa dihamparkan oleh surga makanan. Banyak banget jajanannya! Kantin yang hanya ada satu-satunya di dalam lingkungan sekolah itu memang tak akan sanggup melayani lautan anak-anak yang mengganas kelaparan. Sehingga Kepala Sekolah mengizinkan Pak Satpam membiarkan anak-anak jajan di luar sekolah namun tetap dalam pengawasan. Tetap berada di sekitar sekolah dan tidak boleh pergi jauh-jauh hingga menyebrang jalanan.

“Kalo kalian pergi terlalu jauh bahkan sampai berani menyebrang jalanan, Bapak laporkan ke Kepala Sekolah. Ngerti?” begitu pesan bernada ancaman yang kerap diucapkan Pak Satpam. Anak SD mana yang mau berurusan dengan Kepala Sekolah hanya karena pergi jajan terlalu jauh? Lagian kalo pergi jauh, kapan makannya dong? Maka anak-anak itu pun bergegas menuju penjual jajanan kesukaan mereka. Waktunya hanya 20 menit. Buruan! Mau jajan apa nih?

Gula-gula Arum Manis

rambut nenek arbanat arum manis 1
rambut nenek alias arum manis (sumber: stasiun-tinta.blogspot.com)

Ada yang menyebutnya “rambut nenek” meskipun warna tidak seputih uban nenek. Justru warnanya kemerahan dan rasanya manis. Bentuknya seperti tumpukan rambut. Penjualnya juga biasanya berkeliling sambil menggesek arbanat (semacam biola tradisional) dan suara arbanat itulah yang sanggup membuat anak-anak keluar untuk mengejar penjualnya. (Ngapain penjualnya dikejar, Tong? Mau adu lari?) πŸ˜› Itu kalo penjualnya keliling kampung. Nah kalo penjualnya mangkal di sekolah, lah ngapain gesek-gesek arbanat? Kelamaan, cuy! Yang ada juga dia bakal sibuk melayani anak-anak yang ingin mencicipi arum manis legendaris itu. Hmm, enaaakkk!!!

Gulali

gulali-300x225
gulali (sumber: http://www.tentik.com)

Masih sebangsa jajanan seperti permen, gulali ini memerlukan sedikit kesabaran anak-anak sebelum menikmatinya karena ada atraksi pembuatannya. Anak-anak akan memilih cetakan yang tersedia untuk bentuk gulalinya. Macam-macam deh cetakannya. Ada yang berbentuk jagung, mobil-mobilan, ayam jago, boneka, empeng/dot bayi, pesawat terbang, robot, dll. Yang jelas bentuk cetakan itu favorit anak-anak semua. Lalu anak-anak menyodorkan cetakan yang dipilihnya ke abang penjual. Si Abang memulai atraksi dengan menarik adonan gulali secukupnya untuk kemudian ditekan-tekan di atas cetakan. Adonan gulali itu ada di panci dengan tutup yang bisa dilipat separo. Adonan gulali yang berwarna merah cerah itu akan semakin molor bila ditarik-tarik. Nah, setelah adonan ada di dalam cetakan inilah lantas ditepuk-tepuk dengan bantalan kecil yang mengandung taburan serbuk putih (entah apa namanya). Dan tadaaa…! Gulali pesanan siap dinikmati. Sepertinya serbuk putih itu yang memberi rasa panas di lidah saat pertama mengulum gulali. Tapi yaa…tetep kayak ada manis-manisnya gitu. πŸ˜› Β (Gulali ya pasti manis, kalee…)

Sekarang saya tersenyum-senyum sendiri mengingat masa kecil saya ketika duduk di bangku SD dan menikmati masa-masa jajan sepuasnya. Saya memang penyuka jajanan manis seperti arum manis dan gulali di atas sebelum akhirnya sempat divonis alergi gula. Kebayang deh, gimana anak-anak puasa jajan gula-gula? Hampir semua anak pasti suka gula (baca: jajanan manis). Hingga akhirnya di tahun berikutnya saya sembuh dari alergi gula karena mengidap penyakit kuning. Dan pasien sakit kuning justru harus mengkonsumsi cukup gula. Alhamdulillah.

arbanat arum manis
abang arum manis menggesek arbanat (sumber: wajahkota.com)

Rasanya ingin kembali menengok gedung sekolah SD di masa lalu. Masa di mana saya melihat Bu Deka (ibu kantin) yang sibuk luar biasa melayani anak-anak jajan di jam istirahat. Masa di mana saya ikutan antre beli gulali sambil asyik memilih cetakan yang saya mau. Masa di mana saya mendengar sekilas suara arbanet di sore hari dan ketika saya membuka pintu rumah, saya dapati abang arum manis sudah berjalan jauh di ujung gang kampung.

Hmm, jajanan manis yang dulu pernah eksis ini bikin saya kangen. Kapan saya bisa menikmatinya lagi, ya? ^^

 

Lots of Love

Frida Herlina

PS. Did I miss something about the process of how to serve “gulali”? Please, let me know. ^^

 

 

Advertisements

12 thoughts on “Jajanan Manis yang Dulu Pernah Eksis

  1. Ah ya… gulali dan rambut nenek itu… favorit masa kecil. Yg favorit tapi nyesel adalah agar2 berhadiah. Wkwk… sudah tahu gak enak tapi beli banyak krn ngincer hadiah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s