Kisah Burung Merak dan Burung Gagak

 

2016-09-04_00.24.50

Cerpen•

Pada suatu hari di sebuah hutan yang asri terdapatlah seekor burung merak yang sangat indah bulunya. Keindahan itu terpancar dari warna-warnanya yang cerah. Merah, kuning, jingga, biru, ungu dan hijau berpadu dalam tiap helaian bulunya. Burung Merak sangat suka berjalan-jalan memamerkan keindahan bulunya. Namun sayang, kesukaannya berjalan-jalan memamerkan keindahan bulunya ini membuatnya menjadi congkak dan menyebalkan.

Tak jauh dari Burung Merak berada, tinggallah seekor burung gagak. Bulu Burung Gagak tak pernah berwarna-warni. Burung Gagak selalu berwarna hitam. Ada kalanya Burung Gagak merenungi warna bulunya yang selalu sama. Hanya satu warna yang itu-itu saja. Tetap monochrome selamanya. Biasanya, bila sedang mellow merenungi warna bulunya yang tak sedahsyat warna pelangi, Burung Gagak suka bernyanyi untuk menghilangkan resah hati. Sambil menari dan mencoba bergaya moonwalk, bernyanyilah Burung Gagak ini.

Gagak Hitam dari lahir

Kece-kece

Gagak Hitam dari lahir

Kece-kece

Gagak hitam dari lahir

Ya beginilah sudah takdir

Sekali terbang langsung mahir

Bukan sulap bukan sihir

Tanpa disadarinya ketika sedang asyik bernyanyi, tiba-tiba Burung Merak muncul di hadapannya. Burung Merak berjalan dengan angkuh mengamati tarian dan nyanyian Burung Gagak. Ketika Burung Merak mengembangkan bulu indahnya barulah Burung Gagak tersadar bahwa dia tidak sedang sendirian. Segera dia menghentikan tarian dan nyanyiannya. Dadanya berdegup kencang. Dia tahu bahwa seisi hutan mengagumi dan membicarakan keindahan bulu Burung Merak. Hal yang membuat Burung Merak semakin congkak dan menyebalkan karena selalu dipuja dan dielu-elukan keindahan bulunya.

Dan sekarang? Burung berbulu indah itu ada di hadapannya! Burung Merak ada di hadapannya tepat ketika dia merasa asyik dan memuji-muji bulu hitamnya sendiri lewat tarian dan nyanyian. Apalah arti warna hitam legam dibandingkan keindahan bulu Burung Merak yang menjuntaikan helaian keanggunan dalam tata warna yang sempurna? Duh, Burung Gagak semakin gelisah. Apa yang akan dilakukan Burung Merak terhadapnya? Diliriknya Burung Merak masih menatapnya nyalang dengan tatapan tajam.

Glek! Hati Burung Gagak menciut. Dia tak mau mengawali pagi ini dengan membuat ribut. Tak henti-hentinya dia merutuki dirinya sendiri yang tak bisa menahan diri untuk bernyanyi dan menari mengawali pagi ini. Mungkin bila dia hanya menari masih bisa dimaklumi. Tapi tadi kan dia juga bernyanyi? Dan lirik lagu itu menggambarkan betapa dia asyik sendiri. Betapa dia mengagumi bulu hitamnya yang tak berarti. Degup jantungnya semakin keras. Namun Burung Gagak berusaha menguatkan hatinya untuk meminta maaf kepada Burung Merak atas lagu yang dia senandungkan tadi. Dia tahu Burung Merak tak berkenan dan merasa terusik dengan lirik lagu yang terlalu mendewakan keberadaan dirinya sebagai Gagak Hitam.

Baru saja Burung Gagak hendak membuka mulut ketika akhirnya Burung Merak berseru dengan mata berbinar-binar,”HEY! GUE SUKA GAYA LO!”

(Tanah Laposid, 3/9/2016 ~Frida Herlina~) ^^

Advertisements

8 thoughts on “Kisah Burung Merak dan Burung Gagak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s