Javanesian: Bahasa Indonesia dengan Cita Rasa Jawa Timuran

2016-09-03_09.31.14

Pernah ke Surabaya? Atau mungkin pernah ke Sidoarjo atau Malang? Atau bahkan ke kota yang lain di Jawa Timur? Mayoritas penduduk di kota-kota tersebut memang menggunakan Bahasa Jawa sebagai bahasa percakapan sehari-hari. Tapi perlu digarisbawahi bahwa Bahasa Jawa ini berbeda dengan Bahasa Jawa yang di Jawa Tengah yang cenderung halus, sopan dan kalem. Bahasa Jawa khas Jawa Tengah inilah akar Bahasa Jawa yang sesungguhnya, yang menjadi rujukan mata pelajaran Bahasa Daerah. Bahasa Jawa di Jawa Timur memang lebih frontal, meledak-ledak dan apa adanya khas Jawa Timuran. Di sisi lain, Madiun yang masih termasuk kawasan Jawa Timur justru memiliki Bahasa Jawa yang lebih halus cenderung seperti Jawa Tengah. Atau mungkin ada kota lain di Jawa Timur yang memiliki Bahasa Jawa yang berbeda? Please, let me know. Karena sependek pengetahuan saya ya…baru Madiun yang Bahasa Jawanya enggak begitu Jawa Timuran. Lebih banyak menggunakan kata ora (tidak) dan piye (bagaimana) seperti layaknya Bahasa Jawa di Jawa Tengah. Sedangkan Bahasa Jawa Timuran menggunakan ndak/nggak untuk ora dan yok opo untuk piye.

Meskipun sama-sama berada di Jawa Timur dan terpaut jarak tiga jam perjalanan naik bus, Surabaya dan Malang memiliki sedikit perbedaan diksi dalam mengakhiri kalimat tanya. Simak contoh berikut ini:

  • Surabaya: Iki kelambimu, tah?
  • Malang: Iki kelambimu, a?
  • Arti: Apakah ini bajumu?

Kata “tah” dan “a” di atas memang diterjemahkan sebagai “apakah”. Namun perlu diingat bahwa posisi kedua kata tersebut selalu berada di akhir kalimat. Itu keniscayaan. Maka akan sangat mudah mengenali dari mana seseorang berasal saat kita mendengar aksen bicara dan pemilihan diksinya. Akhiran “a” pada kalimat tanya di atas digunakan oleh orang Malang a.k.a kera Ngalam dan sekitarnya. Bisa jadi sekarang berkembang ke beberapa kota/kawasan lain juga. Mungkin Teman-teman ada yang tahu? ^^

Oh, iya. Ada sedikit hal unik yang ingin saya ceritakan tentang Malang. Mungkin sebagian dari Teman-teman tahu bahwa Malang memiliki bahasa walikan alias bahasa yang dibalik. Ini merupakan bahasa gaul di Malang. Kata entri yang digunakan bukan hanya melulu berasal dari Bahasa Jawa tetapi juga ada kata entri yang berasal dari Bahasa Indonesia. Berikut contohnya:

  • Ayo ngalup, ker! (baca: Ayo pulang, cuy!) 😛 (ker = rek/arek = teman)
  • Bapake Bejo iku ayak pol. (Bapaknya Bejo kaya-raya.) (ayak = kaya)
  • Ben dino numpak libom ae. (Tiap hari naik mobil aja.) (libom = mobil)
  • Wes kewut tapi pancet ayune. (Sudah tua tapi tetap cantik.) (kewut = tuwek = tua)

Nah, ketemu kan kata-kata mana yang jadi bahasa walikan? Itu ciri khas Malang banget! ^^

Seiring perkembangan zaman, kebutuhan berbahasa Indonesia bagi penduduk Jawa Timur mulai meningkat penggunaannya. Namun tetap masih ada cita rasa Jawa Timurannya. Dalam artian Bahasa Indonesia yang digunakan tidak murni 100%. Ada unsur campuran diksi Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa. Terutama pada penduduk asli yang sejak lahir dan beranak-pinak di Jawa Timur akan sangat susah menghilangkan aksen Jawa Timuran tersebut saat berbicara dalam Bahasa Indonesia. Pun kebanyakan dari mereka juga memiliki kosakata Bahasa Indonesia yang terbatas.

Hal yang perlu mendapat perhatian adalah kebanyakan orang Jawa Timur yang memakai Bahasa Indonesia adalah mereka yang tingkat sosial-ekonomi dan pendidikannya lebih tinggi. Juga karena kebutuhan untuk eksis. Jadi supaya lebih kekinian dong bisa Bahasa Indonesia. Supaya lebih beda aja daripada orang lain yang masih “tradisional” menggunakan Bahasa Jawa. Cuman ya…itu tadi. Bahasa Indonesia yang digunakan bercita rasa Jawa Timuran banget. Saya menyebutnya Javanesian. Javanese Indonesian. (Seperti halnya SinglishSingaporean English— yang juga enggak Inggris-inggris banget punya orang Singapura sana.) ^^

Kenapa akhirnya menjadi Javanesian? Karena ternyata Bahasa Indonesia a la Jawa Timuran ini berpeluang menjadi bahasa baru seperti halnya bahasa gaulnya Debby Sahertian yang sampai menerbitkan kamusnya segala. Javanesian ini kaya dengan entry words yang merupakan kata serapan dari Bahasa Indonesia asli yang digabungkan dengan kata-kata Bahasa Jawa. Jadi jangan heran bila kaum pendatang dari luar Jawa Timur akan mengernyitkan dahi terlebih dahulu sebelum bisa mencerna kalimat-kalimat Javanesian ini. Sebagaimana hukum berbahasa, ya…hanya penutur aslinya lah yang paham bahasa tersebut. Jadi untuk Teman-teman yang berasal dari luar Jawa Timur harus meluangkan waktu untuk belajar dan beradaptasi untuk bisa mengerti dan berbicara Javanesian. Siapa yang berpeluang untuk harus belajar Javanesian? Mayoritas dari mereka adalah para mahasiswa perantau dari luar pulau dan juga dari Jawa Barat dan Jawa Tengah. Jawa Timur dengan Malang sebagai kota pelajar memiliki daya tarik yang kuat bagi para anak rantau untuk mengenyam pendidikan di sana. Di Malang, bukan hanya universitas dan politeknik negeri yang jadi tujuan para calon mahasiswa tapi juga universitas swasta yang banyak bertebaran di sana pun tak kalah laris manisnya dijejali oleh para anak rantau untuk belajar. Bagaimana para anak rantau ini bisa survive hidup di kota asing? Salah satu caranya adalah dengan belajar bahasa penduduk setempat. Ya, kan? ^^

Mau belajar Javanesian? Berikut contoh kalimatnya:

  • Mana kakak? Adekmu ini lho mandiono. (baca: Mana kakak? Ayo, adiknya dimandiin.) –> mandi = adus. Kata asal mandiono -> adusono (mandikanlah). Jadi hanya imbuhan –ono yang asli Bahasa Jawa. Sedangkan “mandi” adalah entry word Bahasa Indonesia.
  • Ayo, bayaren! Uangnya wes ada kok. Kamu lak wes gajian. (baca: Ayo, bayarin! Uangnya udah ada kok. Kamu kan udah gajian.)
  • Hujan! Masuko! Nanti kamu basah kabeh. (Hujan! Masuklah! Nanti kamu basah semua.) –> Kata asal masuko -> mlebuo (masuklah). Cara baca kata masuko adalah masuk o. Bukan masuko seperti Bahasa Jepang, ya. Hehehe… ^^
  • Iki lho, inviten pin BBM-ku sing baru 725GO67L. Ojo lupa lagi. (Ini lho, kamu invite pin BBM-ku yang baru 725GO67L. Jangan lupa lagi. –> Whoa! Dari kalimat ini ternyata Javanesian merambah ke Bahasa Inggris dengan imbuhan Bahasa Jawa yaitu invite + en. Tapi sedihnya, kata invite ini tidak diucapkan “invait” seperti aslinya. Bacanya ya “invit” aja gitu. Biarpun begitu, ada orang-orang tertentu yang udah bangga aja menggunakan kata invite saat berbicara meski dilafalkan dengan salah. Coba kalo pas ada saya, ya! Huh, udah saya lempengin tuh! *correction curse detected* 😀

Dari keempat contoh kalimat di atas, kalimat pertama itu asli terjadi pada Salsa, anak saya, saat ngobrol dengan salah satu tante saya. Mendengar kalimat tersebut, Salsa sempat roaming lalu terdiam sebelum menjawab. Buru-buru saya bisik-bisik mendekatinya.

“Do you understand what ‘mandiono’ is?”

“Nope.”

Mandiono itu adusono. Kamu tahu adus, kan?

“Mandi.”

“Nah adusono itu mandikanlah. Jadi mandiono itu yaa mandikanlah.”

“Lah, kok bisa gitu dah.”

“Ya memang begitu. Orang Surabaya kalo ngomong Bahasa Indonesia yaa kayak gitu.”

“Susah, ih.”

Sebagai anak yang lahir dan besar di Tangerang, berinteraksi dengan para kerabat terutama saat Lebaran membuat Salsa sedikit banyak tahu beberapa kosakata Bahasa Jawa. Tapi Bahasa Jawa murni lho bukan campuran seperti Javanesian begitu. Sejak kecil dia sudah pernah saya kenalkan berhitung 1 – 10 dalam Bahasa Jawa dan juga beberapa kosakata Bahasa Jawa halus (Krama Inggil) seperti: dalem, sampun, matur nuwun. 

Saya sendiri secara pribadi lebih memilih menggunakan Bahasa Jawa Krama Inggil dibanding menggunakan Javanesian. Bisa dibilang, saya bukan penganut bahasa campur aduk. Kalo mau pakai Bahasa Jawa, yaa…Bahasa Jawa aja sekalian. Kalo mau pakai Bahasa Indonesia, yaa…Bahasa Indonesia total sekalian. The same case if I want to speak English, then I will speak English fully. Bukan hanya secara lisan tapi juga tulisan. Entahlah, mungkin sudah jadi “kutukan” buat saya bahwa untuk urusan berbahasa saya jarang bisa setengah-setengah. Tapi memang di saat tertentu saya juga pernah berbicara Javanesian terutama kepada orang-orang yang kurang paham Bahasa Indonesia. Justru menurut saya lebih baik berbicara Bahasa Jawa Krama Inggil kepada orang yang lebih tua daripada berbicara Javanesian. Menurut pengamatan saya, ada kecenderungan anak-anak/orang-orang yang lebih muda berbicara Javanesian kepada orang yang lebih tua sebagai bentuk penghormatan karena akan terdengar lebih tidak sopan bila mereka bicara Bahasa Jawa Ngoko (kasar). Sehingga Javanesian lah medianya. Unsur Bahasa Indonesia dalam Javanesian menjadi senjata bagi mereka yang tidak punya banyak kosakata Bahasa Jawa Krama Inggil. Tapi masalah penggunaan bahasa ini masalah selera dan juga masalah pengetahuan. Satu hal yang harus diingat: kualitas berbahasa seseorang menentukan kelasnya. Jadi, bila Teman-teman terbiasa bertutur kata yang baik dan memilih kosakata yang baik dalam bahasa apapun itu, orang lain pasti akan menilai bahwa Teman-teman pastilah sosok yang berpendidikan tinggi. Garis besarnya seperti itu.

Last but not least, I have a short story to share below.

Di suatu sore di konter kasir mini market di Surabaya tahun lalu…

Saya: Mas, ada ayam segar? Ayam potong, gitu?

Kasir 1: (wajah bingung)

Saya: Ayam potong, Mas. Ayam utuh gitu seperti di Giant.

Kasir 1: Ayam potong…oh, ndak ada, Bu. Adanya yaa naget-naget gitu sama spesi wing.

Saya: Enggak, deh. Enggak pengen beli nugget, enggak mau spicy wings. (sambil menyodorkan belanjaan)

Kasir 1: Ada lagi, Bu?

Saya: Oh, iya. Hampir lupa. I-M-three sepuluh ribu berapaan, Mas?

Kasir 1: (pandangan menerawang ke langit-langit) Ayamtri sepuluh ribu? Sebentar ya, Bu. (melambaikan tangan ke salah seorang temannya)

Kasir 2: (datang menghampiri)

Kasir 1: Ayamtri sepuluh ribu ono, tah?

Kasir 2: Ayamtri sepuluh ribu iku opo?

Saya: (meledak tawa) HAHAHAHA…

Kasir 1 & 2: (tambah bingung)

Saya: (berusaha tenang lalu menjelaskan) Mas, saya mau beli I-M-three pulsa sepuluh ribu. Ada?

Kasir 1: Oh, emtri.

Kasir 2: Oh, pulsa. (menoleh ke temannya) Koen iku ngunu ae gak eruh!

Kasir 1: Oh, maaf, Bu. Saya kira ibu masih mau ayam. Makanya saya bingung ayam apa. (cengar-cengir)

Saya: Bahas ayamnya kan sudah, Mas. IM3 beda lagi. Bukan ayam.

Kasir 1: Iya maaf, Bu.

Saya: Ok, nggak pa-pa.

Demi seribu juta topan badai, Teman-teman harus lihat ekspresi kedua kasir itu deh saat saling bingung menebak “ayam” yang saya mau. Wajah mereka terlihat cupu polos sekaligus maaf, oon gitu lah. Mereka tuh laki-laki seumuran anak lulus SMA. Tampaknya sih, karyawan baru karena masih suka bingung. But they really made my day! Sepanjang perjalanan pulang, saya masih tertawa sampai nangis mengingat peristiwa itu.

Lots of love,

Frida Herlina

 

 

 

 

 

Advertisements

9 thoughts on “Javanesian: Bahasa Indonesia dengan Cita Rasa Jawa Timuran

  1. Bhahahaa.. lucu mas e ayemtri nya 😀

    Ndak cuma di Jawa Timur, Mba ada boso walikan. Yogya dan Semarang pun punya dengan rumus yg lebih rumit daripada Malang. Klo Malang kan tinggak dibalik apa adanya, klo Yogya dan Smrg enggak. Pake rumus hanacaraka, dimana klo Yogya itu ha ketemu pa, sedangkan klo Smrg itu ha ketemu nga. Mumetzz deh pokoknya 😀

    Saya juga punya nih Javanesian keren : Tolong ya Mba engakkan jendela itu *silakan tebak arti engakkan ituh 😀 😀

    1. Wah, Jogja Semarang jg punya boso walikan, ya? Coba ada contoh kalimatnya gitu, Mbak Uniek.

      Eh, “engakkan” itu semacam “tibaknya” gitu, ya? Justru imbuhannya yg pake Bahasa Indonesia. 😁😊

      Opo toh “engakkan” kuwi, mbaaaaak??? 😂😂

  2. kalau bukan orang jawa pasti mikir semua bahasa jawa itu sama saja, padahal nyatanya tiap daerah beda-beda.
    oh ya mbak tambahan, orang kares bojonegoro dan juga kares kediri punya logat yang beda juga dari kera ngalam dan arek suroboyo. kares kediri bahasanya termasuk halus seperti kares madiun, kares bojonegoro juga sih, soalnya kan perbatasan langsung sama jawa tengah (blora).
    di kares kediri ada tambahan imbuhan seperti nda, biasanya juga imbuhan peh (kebanyakan tulungagung), cah juga sering digunakan. untuk kares bojonegoro, kata “mu” seperti pada kata masmu, diganti menjadi masem, “mu” diganti dengan “em”.

  3. Hihihi…lucu juga yak.
    Btw setahu saya kalau jawa timuran bahasanya lebih mbledak mbeleduk dibanding tengah yg halus ya mbak…
    kadang kalo yg blm paham mah suka agak gimana gituh..

  4. Huaaa aku Arema Mbak dan gak bisa ngomong gak Ngalaman, misalnya : Makbles, njepat, njengat, mak brul, muprul, mendhusul, gak omes, mblambang … dan sekian kosakata lain yang agak susah dicari padanan katanya di bahasa Indonesia :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s