Budi Pekerti yang Harus Dijunjung Tinggi

2016-09-02_05.43.39

Tugas seorang anak adalah belajar. Terutama belajar pendidikan formal di sekolah. Pertanyaannya: di sekolah belajar apa? Apakah semua pelajaran yang diajarkan ke anak-anak bermanfaat untuk bekal hidup mereka kelak? Lalu pelajaran apakah yang paling penting yang menjadi fondasi bagi karakter anak-anak? Menurut saya, hal ini masih menjadi PR besar bagi kita semua.

Konon, di suatu negara terdapatlah sekolah-sekolah yang mengajarkan pentingnya melayani orang lain. Sasaran utamanya adalah murid-murid usia SD. Mereka diajarkan untuk melayani teman-teman mereka, memberikan jatah makan siang di kantin secara bergantian. Lalu mereka juga beramai-ramai membersihkan sekolah bahkan toilet sekolah pun tak luput dari perhatian. Sejak dini mereka juga belajar budaya antri, belajar menghormati hak-hak orang lain. Saking pentingnya pelajaran budi pekerti ini, sampai bisa memunculkan rasa malu pada anak-anak tersebut bila mereka tidak bisa melayani orang lain dengan baik. Mungkin ini akibat terlalu seringnya mereka mempraktekkan pelajaran ini sehingga terbentuklah karakter budi pekerti yang baik dalam diri mereka. Does it sound familiar? Mungkin beberapa dari Teman-teman pernah mendengar tentang pendidikan budi pekerti di negara yang saya maksud di atas.

Lalu bagaimana di tanah air? Masihkah kita menjumpai mata pelajaran budi pekerti di sekolah tempat anak-anak kita belajar? Sewaktu Salsa masih SD, dia belajar tentang Aqidah & Akhlak di sekolahnya. Iya, SD-nya memang SD Islam. Sedangkan salah seorang sahabatnya yang bersekolah di SD Negeri menerima pelajaran Budi Pekerti. Baik pelajaran Aqidah & Akhlak maupun Budi Pekerti menurut saya sama saja dengan pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila) yang pernah saya terima di sekolah dulu. Intinya, itu semua pelajaran tentang pendidikan karakter. Pelajaran yang menitikberatkan pada kemampuan anak untuk bisa berperilaku sopan-santun, paham etika dan moral, saling menghormati dan bertenggang rasa terhadap sesamanya terutama terhadap orang yang lebih tua.

Ada hal yang tak pernah hilang dari ingatan tentang masa-masa bersekolah. Setiap kali saya dan teman-teman saya berpapasan dengan guru saat di luar kelas, hampir bisa dipastikan kami tersenyum menatap Bapak/Ibu Guru tersebut dengan takzim sambil berujar, “Mari, Pak/Bu.” Pun saat kami melewati para guru yang sedang berkumpul, entah saat mereka berdiri di depan pintu perpustakaan maupun sedang duduk bersama di ruang guru, kami serta-merta membungkukkan badan sambil berlalu. Benar, membungkukkan badan seperti itu adalah gesture penghormatan. Terlebih lagi saat melewati ruangan Kepala Sekolah. Kami yang tadinya berlari-lari sambil bercanda bisa tiba-tiba senyap menutup mulut lalu menghentikan lari dan segera berjalan cepat tanpa suara. Ya, ruangan Kepala Sekolah sepertinya memancarkan aura magis yang membuat kami tidak boleh berisik saat berada di dekatnya. Kok seolah-olah ada tulisan “Don’t Disturb” tergantung di pintu ruangan Kepala Sekolah gitu deh. Hihihi…^^ Saya percaya banyak Teman-teman yang segenerasi dengan saya melakukan hal yang sama saat berada di sekolah, kan?

Itu tadi kisah murid-murid jadul di zaman saya. Bagaimana dengan murid-murid masa kini? Sejujurnya saya merasa sedih dengan perilaku mereka yang kurang begitu elok terhadap guru dan kepala sekolah. Tidak semuanya memang tapi sedihnya yaa sebagian besar dari mereka begitu. *sigh* Berdasarkan pengamatan saya, murid-murid sekarang yaa jalan nyelonong aja saat berpapasan dengan gurunya. Mereka juga nyelonong masuk ke ruangan Kepala Sekolah ketika mau bertemu dengan beliau tanpa mengetuk pintu. Bahkan mereka juga berani menginterupsi pembicaraan tanpa tedeng aling-aling. Pernah suatu ketika saya sedang bertemu dan berbincang dengan seorang kepala sekolah di sebuah SMP. Tiba-tiba datanglah dua atau tiga orang murid sekolah tersebut dan nyelonong aja bicara dengan kepala sekolahnya mengutarakan keperluannya. Tanpa mengetuk pintu, tanpa permisi, tanpa menyamakan diri untuk mengambil tempat duduk agar setara tinggi saat berbicara. Jadi yaa mereka ngobrol aja sambil berdiri gitu. Herannya lagi, kepala sekolahnya juga meladeni aja interupsinya. Tapi kemudian beliau mengingatkan mereka sekilas kalo sedang terima tamu yaitu saya. Duh, kalo anak saya yang selonang-selonong gitu, pasti sudah saya tatar dua hari dua malam! Segitu minimnya ya pengetahuan anak-anak masa kini terhadap pentingnya sopan-santun. Anak-anak masa gitu? Kalo sudah seperti itu lalu salah siapa, coba? Apa iya kita masih akan saling menyalahkan ketika anak tidak menunjukkan perilaku yang baik. Ini khususnya perilaku murid-murid usia SMP-SMA, ya. Kalo murid-murid usia TK-SD sih mayoritas masih kenal sopan-santun dan masih sangat bisa diatur. Beda banget dengan murid-murid usia remaja memang. Bisa jadi faktor hormon dan emosi yang masih mudah meledak-ledak adalah salah satu penyebabnya. Belum lagi faktor salah asuhan, salah pergaulan hingga broken home. Itu semua menjadi kumpulan faktor yang kompleks yang ikut mempengaruhi perilaku anak. Tapi faktor pengecualian tetap saja berlaku. Tidak semua anak broken home berperilaku buruk, misalnya. Itu semua akhirnya berpulang pada seberapa dekatnya hubungan anak dan orangtua, sesering apa frekuensi interaksi antara anak dan orangtua. Dan memang, pendidikan karakter itu berawal dari rumah.

“Kamu boleh berprestasi di bidang akademik setinggi-tingginya. Kamu boleh punya nilai Matematika sembilan, Bahasa Inggris sempurna sepuluh dan pelajaran lainnya bagus dengan nilai delapan-sembilan. Tapi begitu kamu enggak punya manner, enggak ngerti sopan-santun terutama kepada orang yang lebih tua, enggak menunjukkan akhlak yang baik, enggak menerapkan budi pekerti luhur maka semua pencapaian nilai kamu yang fantastis itu NOL BESAR buat Bunda. Paham? Ada-tidak adanya Bunda, ada-tidak adanya Ayah, kamu tetap harus memilih untuk menjadi orang baik. Baik Bunda lihat maupun enggak lihat, baik Ayah lihat maupun enggak lihat, kamu harus tahu kalo Allah Maha Melihat. Jadi tetap harus menjadi orang baik. Paham? Akhlak yang baik itu nomor satu, Sayang. Bahkan nabi Muhammad aja diutus untuk memperbaiki akhlak umat manusia. Kamu paham kan itu?”

Itulah wejangan panjang yang kerap kali saya sampaikan ke Salsa sejak dia memasuki usia pra-remaja, sejak dia mulai menunjukkan gejala perilaku yang kurang sesuai dengan standard saya. Ya…standard yang sesuai dengan norma-norma dan kaidah-kaidah yang berlaku, tentunya. Anak-anak itu selalu butuh pengulangan. Hari ini sudah diberitahu, besok lupa lagi, ngelakuin hal yang enggak baik lagi. Jadi, sebagai orangtua maupun guru jangan pernah bosan menasehati anak, ya. Itu tandanya kita peduli. Kalo kita udah enggak peduli, bodo amat lah mereka mau ngapain. Naudzubillah min dzalik. Jangan sampai menjadi orangtua seperti itu, ya. Ingat, anak itu amanah. *self reminder*

Jadi, masalah budi pekerti ini sinergi tanggung jawab orangtua dan guru. Orangtua dan guru harus saling bahu-membahu meluruskan perilaku anak-anak agar mempunyai karakter yang baik. Bagi saya, budi pekerti itu harus dijunjung tinggi. Bagi saya, budi pekerti itu harga mati.

Lots of love,

Frida Herlina

 

 

 

 

 

Advertisements

8 thoughts on “Budi Pekerti yang Harus Dijunjung Tinggi

  1. Bunda juga mengalami masa-masa ketika masih sekolah perasaan takut pada bapak dan ibu guru karena raasa segan dan hormat. Gak kayak sekarang, murid-murid suka ngajak pak/bu Guru becanda tanpa sungkan.

    1. Benar, Bunda. Di zaman saya aja melihat sosok guru tuh sosok tegas berwibawa yg ga bisa dibecandain.
      Beda banget sama mayoritas murid2 masa kini. Guru dianggap lebih dari teman yg bisa dibecandain. Cenderung jatuhnya less respect gitu.

  2. Senyum sama guru, membungkuk kalo lewat depan orang yang lebih tua, sampai salaman cium tangan memang sepele banget ya tapi ya dari situlah ada pelajaran budi pekerti dan tata krama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s