RAYAKAN “TANTANGAN” & KEBERSAMAAN LEBARAN DENGAN KECERIAAN

2016-08-01_02.44.47

Hari Raya Idul Fitri 1437 H telah berlalu namun kesan cerianya masih membekas hingga kini. Bagaimana tidak? Lebaran a la keluarga saya kali ini sungguh terasa beda, lain daripada yang lain, lain daripada pengalaman yang terjadi di tahun sebelumnya. Lebaran tahun ini, saya dan kelima saudara saya berkesempatan berkumpul bersilaturahim bersama di rumah Ibu. Kami semua sudah berkeluarga dan di ajang Lebaran ini tentunya kami “setor muka” dengan formasi lengkap bersama suami/istri dan anak-anak masing-masing.

2016-08-02_16.19.05
Ibu tersenyum CERIA dikelilingi anak-cucu-menantu dalam formasi lengkap di Hari Raya tahun ini. ^^

Nah, bisa dibayangkan betapa ramenya, kan? Bukan cuma rame tapi berisik juga. Hahaha… secara lebih banyak anak-anak tumpah ruah bersuka cita bertemu dengan para sepupunya. Bikin hari istimewa jadi lebih ceria. Mau tahu ceritanya? Yuk, simak kisah ceria a la anak-anak yang sempat saya rekam di liburan Lebaran kemarin.

  • Marshmellow challenge

Pernah dengar challenge seperti ini? Mungkin pernah, ya. Menurut saya, ini salah  satu jenis challenge alias tantangan yang kurang kerjaan. Bagaimana tidak? Masing-masing anak memasukkan marshmellow ke dalam mulut hingga penuh sesak tanpa dikunyah. Sehingga tak lama kemudian timbul rasa eneg dan berhamburanlah mereka ke toilet untuk muntah berjamaah sambil ketawa-ketawa. Yang muntah duluan yang kalah deh. Dan nantinya dapat hukuman di putaran berikutnya. Seru? Mungkin buat anak-anak sih seru-seru aja, ya. Habisnya mereka enjoy banget gitu bikin challenge semacam itu sambil ketawa-ketawa ceria. Tapi buat saya, buang-buang makanan itu tak elok lah meski itu sebatas gula-gula marshmellow gitu. Akhirnya yang terjadi berikutnya mereka dengan susah payah menelan marshmellow yang berjejalan di mulut setelah saya tegur agar tidak buang-buang makanan. Hegh…kasihan juga sih lihatnya.

  • Samyang challenge

Masih seputar challenge juga nih. Duh, anak-anak itu, yaa…challenge mulu kerjaannya! Hahaha… ^^ Kalo untuk challenge yang ini sih akhirnya saya ikutan jadi “peserta”. Hmm, jadi “korban” mungkin tepatnya. Hehehe… Kejadiannya pas malam takbiran tuh. Tiba-tiba Salsa (13 tahun), anak saya, bawa mie instan dalam kemasan big cup ke kamar bersama Naura (10 tahun) dan Fara (13 tahun) kedua sepupunya. Aroma mie instan yang menggoda indera penciuman saya –yang saat itu sedang ada di kamar– serta merta bikin saya penasaran.

2016-08-01_05.25.50
Samyang. Pedas tapi bikin ketagihan buat anak-anak. ^^

“Mie apaan tuh? Kok kayaknya enak?”

“Ini Samyang. Bunda harus cobain,” jawab Salsa.

“Ayo, Aunty. Ikut challenge,” sahut Naura.

Wah, challenge apaan? Kok jadi tambah penasaran nih. Setelah mengiyakan atas desakan anak-anak akhirnya saya dapat kehormatan untuk mencicipi pertama kali. Aroma pedas lada sekaligus cabe yang tajam menusuk-nusuk hidung terasa saat sesuap Samyang meluncur ke mulut saya. Perasaan sudah enggak enak nih. Dan, tadaaaa… Oh la la, saya sukses meringis-ringis antara kepanasan dan kepedasan saat mengunyah mie instan dari Negeri Ginseng itu. Anak-anak cengar-cengir dan cekikikan aja tuh melihat reaksi saya. Air putih di gelas di depan mata segera jadi sasaran pereda pedas.

“Ini kan enggak pedes-pedes banget lagi, Bunda,” seloroh Salsa nyengir.

“Aduh, terserah deh, kalo buat kalian enggak pedes. Tapi Bunda kan memang enggak suka pedes yang dari serbuk cabe gini. Kalo pedes dari cabe yang diuleg kayak bumbu rujak cingur gitu ya, bolehlah.”

Entahlah, pedasnya enggak enak aja jatuhnya di lidah meskipun kualitas mie-nya kenyal enak sih. Siapa dulu dong yang masak? Anak saya lah. ^^ Salsa tuh pinter banget kalo masakin mie instan sampai teksturnya kenyal gitu. Juara! Eh, tapi saya juga tetap beri batasan lah kapan anak-anak boleh makan mie instan. Tetap jadi menu darurat aja alias enggak terlalu sering. Jadi seperti itu tuh cerita Samyang challenge saya. Teman-teman juga punya pengalaman yang sama? ^^

Nah, itu tadi kisah ceria liburan lebaran a la anak-anak. Kisah ceria selanjutnya datang saat Halal bihalal akbar keluarga besar kami, tepatnya keluarga dari pihak Ibu yang dari garis Bapak alias Mbah Kakung saya. Mbah Kakung itu lima bersaudara dan sudah beranak pinak cucu tralala. Banyak banget! Kelima mbah sesepuh kami, yaitu Mbah Kakung dan keempat saudaranya, sudah meninggal dunia semua. Sehingga silaturahim dilanjutkan dari generasi kedua yaitu generasi Ibu kami beserta adik-adiknya dan para sepupunya. Generasi saya dan saudara saya, termasuk sepupu (anak-anak dari adik-adiknya Ibu) dan para mindoan (anak-anak dari para sepupunya Ibu) adalah generasi ketiga. Sedangkan generasi keempat adalah anak-anak saya dan anak-anak semua saudara saya termasuk juga anak-anak dari para sepupu (misanan) dan para mindoan saya. Anak-anak saya saat bertemu dengan anak-anak para mindoan saya maka kesemua anak-anak tersebut adalah miteluan satu sama lain. Ruwet, ya? Hahaha… Beginilah bila berada di keluarga besar saat Halal bihalal akbar. Harus paham silsilah banget!

Jadi gini, dalam kekerabatan orang Jawa kami mengenal istilah: misanan, mindoan dan miteluan. Ini masih berlanjut lho tapi saya jelaskan ketiga istilah ini dulu, ya. Sebagian besar dari Teman-teman mungkin paham kalo misanan adalah sepupu. Nah, mindoan itu sepupu dua kali sedangkan miteluan adalah sepupu tiga kali. Kalo mau dilanjutkan sampai generasi berikutnya maka akan ada mipapatan, milimoan, mieneman, mipituan, miwoluan, misongoan, misepuluhan, dll. dst. Kurang lebih seperti itu lah ya, istilah silsilahnya. CMIIW. ^^

Di ajang Halal bihalal akbar kemarin bukan hanya kami harus paham silsilah tapi juga harus kenal nama! Oh la la… gimana membayangkan kami bisa kenal nama dari para sepupu jauh yang hanya bertemu setahun sekali? Itupun kalo pas bisa ketemu saat ikutan acara seperti ini. Serasa ikut tes deh harus hapalin banyak nama gitu. Hahaha… 😀

Hebatnya, para panitia di acara ini (yaitu para mindoan saya) memikirkan hal ini dengan cukup detil. Saya terkesan saat pandangan pertama memasuki area acara akbar ini. Dari kejauhan tampak tenda ungu yang lumayan mencolok sudah berdiri kokoh. Kursi-kursi untuk para tamu juga terbalut kain-kain dengan warna senada. Setibanya di meja penerima tamu, kami diberi name tag dengan warna yang berbeda sesuai dengan kategori generasi yang saya jabarkan di atas.

Wow! Beda banget nih acaranya, pikir saya sambil tersenyum geli. Yaa…kebayang aja sih lihat nenek-nenek dan kakek-kakek pada patuh pakai name tag saat ikut acara. Tapi ini keren! Kan, jadinya kami tahu nama-nama para sepupu jauh dan anak-anak mereka. Apalagi buat saya. Paling mentok yaaa…hapal nama-nama mindoan yang itu-itu aja. Hahaha… 😀

Setelah mendapatkan name tag, kami dipersilakan berfoto dengan keluarga inti masing-masing dan mengambil posisi di depan background yang sudah disediakan. Tentunya saya berfoto berempat dong dengan Koibito, Salsa dan Danisha (22 bulan). Mau tahu apa instruksi dari fotografer ketika kami hendak diambil gambar?

“Pertama, foto gaya biasa, ya. Berikutnya foto dengan gaya gokil.”

And I felt like…what? It’s super cool and amusing!  😀  Kebayang aja kan, gimana rasanya diarahkan untuk berfoto dengan gaya gokil. Anti mainstream banget! Biasanya sih, kalo mau foto gokil yaa…gokil-gokilan aja sendiri. Tapi difoto orang lain dan diarahkan untuk pose gokil kan beda rasanya. Hahaha… ^^ Ya…enggak apa-apa sih. Buat seru-seruan aja kok. Kan enggak tiap hari ini.

Setelah itu, kami dipersilakan duduk. Lagi-lagi hal yang berbeda terjadi. Kami enggak bisa duduk di kursi yang kami pilih sesuka hati karena lokasi duduk pun ditentukan sesuai generasi. Jadi generasi 1, 2, 3 dan 4 dikelompokkan. Berhubung generasi 1 sudah wafat semua, jadi maksud saya lokasi duduk ini untuk generasi 2, 3 dan 4. Saya enggak bisa duduk bersama Ibu saya karena Ibu masuk generasi 2 sedangkan saya di generasi 3. Contohnya seperti itu. Tapi saya tetap bisa duduk bareng anak-anak dong secara Danisha kan belum bisa ditinggal alias masih lengket nemplok sama saya. Hihihi…^^

Ketika kami sudah anteng ambil posisi duduk di kursi masing-masing tiba-tiba di hadapan kami muncullah kejutan di layar slide. Apa itu? Foto-foto kami barusan yang dengan keluarga inti masing-masing ditampilkan dalam slide show. Tentu saja hal ini membuat kami pecah dalam tawa ceria. Tak henti-hentinya kami terbahak demi menyaksikan beberapa foto dengan adegan dan pose tak terduga dari beberapa kerabat dan keluarganya. Asli gokil banget! Dan penampilan kami di dalam foto-foto tersebut dengan name tag yang melingkar di leher tak ayal membuat kami persis anggota kloter jamaah haji yang siap berangkat ke tanah suci. Aamiin. ^^

Sayangnya, semua foto tersebut disimpan oleh panitia. Dalam artian, saya belum mendapatkan copy-nya. Moga-moga saya bisa mendapatkan dalam waktu dekat, ya. ^^

Nah, di samping cerita Lebaran asyik dan seru di atas, masih ada cerita lagi nih. Apa itu? Simak, yuk! ^^

2016-08-01_02.53.32
Baru nyadar sama-sama pakai warna fuschia saat foto bersama Mbak Atik. Sehati nih. Ahay…^^

Salah satu saudara ipar saya yaitu Mbak Atik tiba-tiba tampil dengan kejutan. Sebenarnya kejutan ini terjadi di bulan Ramadan kemarin saat kami berkumpul di restoran di Hotel Yello Surabaya untuk buka puasa bersama. Ketika itu saya sudah tiba duluan di lokasi dan asyik ngobrol dengan saudara saya yang lain. Tak lama kemudian datanglah Mbak Atik dan tadaaaa… dia tampil cantik dengan balutan busana putih dan hijab fuschia. Bener-bener cantik! ^^

“Aiiih…pake hijab. Pake hijab. Cantiiiiik, Mbak!” puji saya sambil jingkrak-jingkrak memeluknya.

“Pantes ya, Dek?” tanyanya sedikit sangsi dengan penampilan barunya.

“Ih, pantes banget, Mbak. Hijabnya bagus nih fuschia gini. Emang pecinta pink sejati, ya!” kelakar saya. “Pake terus, nih?”

“Ah, masih belajar nih, Dek,” jawabnya.

 

Saya mengacungkan jempol. Urusan hijab memang urusan hati. Pun saat jumpa Mbak Atik lagi di acara Halal bihalal akbar di atas, dia juga tampil menawan dengan hijab warna lainnya. (Mungkin harus dikoleksi dulu ya, biar banyak hijabnya. ^^) Entahlah, menurut saya sih lekuk wajah Mbak Atik itu luwes aja saat kepalanya dimahkotai hijab. Pantes. Jatuhnya pas gitu deh. Kan ada tuh beberapa perempuan yang tampilannya kurang begitu luwes saat mengenakan hijab. Sama halnya kayak pake konde sih. Enggak semua perempuan bisa kelihatan pantes dan luwes gitu, kan? Itu sih pendapat saya. Meski kalo untuk urusan hijab yaa…muslimah yang akil baligh pasti paham hukumnya terlepas itu nanti bakal luwes pantes atau enggak. Ya, kan? ^^

Bicara soal hijab, ada informasi menarik nih untuk Teman-teman simak khususnya bagi siapa saja yang berdomilisi di kawasan Jadebotabek. Informasi apa tuh?

Poster Diary Hijaber

Dalam rangka memperingati Hari Hijaber Nasional akan ada acara-acara menarik yang digelar oleh Diary Hijaber pada tanggal 7 – 8 Agustus 2016 di Masjid Agung Sunda Kelapa Jakarta. Acara-acara tersebut antara lain: fashion show, talkshow, tausiyah dan bazaar. Ada juga lomba mewarnai, lomba marawis dan lomba fashion show kids, lho! Seru, kan? And this is free entry.

Deretan bintang tamu yang tak boleh Teman-teman lewatkan antara lain: Alyssa Soebandono, Dude Herlino, drg. Oktri Manessa, Muzdalifah dan Ustadz Maulana. Buruan catat di agenda, ya. Lalu ajak orang-orang tercinta untuk gabung di acara ceria ini.

 

Rise your Hijab! ^^

 

Lots of love,

Frida Herlina

 

 

 

 

 

Advertisements

8 thoughts on “RAYAKAN “TANTANGAN” & KEBERSAMAAN LEBARAN DENGAN KECERIAAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s