Saatnya Menabur dan Menuai Kebaikan

2016-07-25_22.58.13

Acap kali diingatkan bahwa manusia tidak hanya menikmati kehidupannya di dunia saja. Hampir semua manusia tahu ada kehidupan lain yang harus dijalani setelah tuntas kehidupan di dunia fana ini. Tuntas berarti selesai bertugas. Time is up. Saatnya menghadapi kehidupan di alam kubur dan terus berlanjut hingga ditentukannya stempel sebagai penghuni surga atau neraka.

Serem? Iya. Kebanyakan manusia memiliki persiapan yang terbatas saat menghadapi kehidupan di fase berikutnya. Lain halnya dengan beberapa manusia yang memang sudah menyiapkan diri untuk itu. Menyiapkan diri dalam artian menjalin hubungan yang baik dengan Sang Pencipta maupun dengan sesama manusia. Ajaran yang saya anut melabelinya dengan istilah Hablumminallah dan Hablumminannas. Hubungan vertikal dengan Allah SWT dan hubungan horizontal dengan sesama manusia. Intinya, perbaiki saja kedua hubungan itu, Insya Allah bisa memudahkan kita ketika menapakkan kaki di fase kehidupan berikutnya.

Bahasan tentang Hablumminallah akan beraroma sangat personal karena itu merupakan amalan per nafsi, per seorangan. And who am I to judge you on what you say or do? Sudahlah, cukup jadi rahasia Anda saja tentang Habluminallah yang sedang Anda jalin, ya. Itu keputusan Anda untuk memiliki hubungan yang baik maupun buruk dengan Sang Khaliq.

Kali ini saya ingin membahas sedikit tentang Hablumminannas. Manusia lahir sebagai makhluk sosial. Artinya manusia memang harus sering bersosialisasi dengan manusia dan lingkungan sekitarnya. Setuju? Kalo saya sih iya, enggak tahu deh kalo mas Dhani. 😛   Sejak bayi, manusia sudah membutuhkan manusia lain, yaitu ibunya. Kita semua sudah paham tentang itu. Lalu manusia lain di dekat kita selain keluarga ya tetangga. Bahkan tetangga juga dilabeli sebagai keluarga yang terdekat. Misal terjadi sesuatu pada diri kita saat di rumah, tentunya tetangga adalah orang pertama yang tahu dan (mudah-mudahan) mengulurkan tangan, toh? Jadi memang penting menjalin hubungan baik dengan tetangga. Ironisnya, di saat maksud hati sedang ingin bercengkerama alias bersosialisasi dengan tetangga tiba-tiba kita tergiring dengan topik obrolan yang berbau ghibah. Gosip. Ih, tetangga masa gitu? Nah, sekali lagi hal itu juga dalam kendali Anda. Mau ikut arus rumpi asyik atau stop. Kalo untuk kasus saya, saat berada di situasi demikian saya cukup tersenyum sekilas lalu pamit pulang. Itu kalo pas ngobrolnya ketemu di tukang sayur atau enggak sengaja mampir di rumah tetangga. Tapi kalo pas tetangga itu yang nongkrong di rumah saya? Hmmm…. usir aja. Eh. 😀

Hablumminannas yang disering jadi sorotan adalah silaturahim. Nah, bicara soal silaturahim ini memang marak terjadi setahun sekali saat Hari Raya Idul Fitri. Atas nama silaturahim, banyak orang ngebela-belain mudik menempuh jarak yang jauh dan ribet selama di perjalanan. Selama silaturahim diartikan secara positif sih enggak masalah. (Dan bukannya diartikan sebagai ajang gosip seperti cerita di atas, ya. Ngobrolin gosip sama tetangga sih bukan silaturahim deh.) Memang penting lho mudik untuk bertemu keluarga dan sanak-saudara apalagi bila orangtua masih ada.

Nah, bagaimana bila orangtua sudah tidak ada alias berpulang ke Rahmatullah? Saatnya menabur dan menuai kebaikan untuk mereka. Caranya?

  • Berdoa. Ingatlah untuk selalu mengirim doa untuk orangtua yang sudah meninggal. Berusahalah jadi anak yang sholeh/sholehah dengan terus melantunkan doa untuk orangtua yang kita kasihi. Kita ada di dunia atas izin Allah SWT melalui keberadaan orangtua. Ingatlah jasa-jasa dan hal positif yang ditaburkan orangtua semenjak kita kecil. Kita bisa jadi orang baik yang sukses juga berkat campur tangan orangtua. Sedikit maupun banyak. Kita sudah menuai banyak kebaikan dari mereka, kan?
  • Beramal atas nama orangtua. Banyak hal baik yang bisa kita lakukan untuk sesama. Baik juga meniatkan melakukan hal baik itu untuk orangtua kita. Misal, sedekah untuk anak yatim/piatu, membangun masjid/musholla, memberi makan para kaum fakir miskin, memberi beasiswa untuk anak miskin yang berprestasi, dll.
  • Mengunjungi kaum kerabat yang ditinggalkan. Menjadi anak dari ayah dan ibu kita membuat kita menjadi bagian keluarga besar. Coba perhatikan, berapa banyak sanak saudara dan kerabat yang kita jumpai saat Lebaran kemarin dari pihak garis ibu? Belum lagi dari pihak garis ayah? Banyak. Sangat banyak! Saya saja selain bisa bertemu dengan misanan (sepupu) juga bertemu dengan para mindoan (sepupu dua kali) sehingga anak-anak saya akhirnya berjumpa dengan para miteluan-nya (sepupu tiga kali). What a family tree!!!
  • Tetap menjalin komunikasi melalui telepon, sms, WhatsApp, dll. meski jarang bertemu. Ketika akhirnya bisa bertatap muka dengan semua kaum kerabat dalam keluarga besar di acara Halal bihalal saat Lebaran kemarin, penting untuk menyimpan data mereka, setidaknya nomor telepon masing-masing. Misalnya nanti dibutuhkan untuk acara silaturahim, kita sudah ada datanya. Lebih bagus lagi kalo kita tetap bisa ngobrol via chatting dengan mereka secara berkala agar Hablumminannas tetap terjaga.

Uraian di atas sebenarnya juga menjadi reminder bagi saya, lho. Semoga kita semua masih bisa meneruskan kebaikan untuk orang-orang terkasih yang telah meninggalkan kita.

 

Lots of love,

Frida Herlina

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s