Ayo Tumbuhkan Minat Baca pada Anak

2016-07-23_19.02.39

Aktifitas apa yang paling menarik minat anak? Di manakah anak-anak sering meluangkan waktunya? Apakah Anda sebagai orangtua masih menyempatkan diri untuk berinteraksi dengan anak-anak? Iya, Anda. Masih sempat? Interaksi secara langsung lho, ya. Bukan via gadget maupun media apapun.

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya terhadap anak-anak di lingkungan sekitar, murid-murid saya dan anak-anak saya sendiri, maka jawaban dan penjabaran atas pertanyaan-pertanyaan di atas adalah:

  • Anak-anak menyukai bermain sebagai aktifitas utamanya. Mulai bermain sambil belajar, bermain game sampai bermain fisik beneran, seperti: kejar-kejaran, petak umpet, gobaksodor, layang-layang, main kartu, main karet, dll. Sedihnya, aktifitas bermain beneran yang merupakan kegiatan sosial ini kini tinggal kenangan. Jarang saya temukan anak-anak yang masih beraktifitas seperti itu. Mungkin masih ada beberapa anak tapi ya…memang tak seberapa. Bedanya, aktifitas bermain tersebut dulu sering saya lakukan bersama teman-teman di masa kecil. Anak-anak zaman sekarang masih menyukai bermain sih tapi dalam wujud game di gadget. Iya, gadget. Apapun itu. Mulai dari ponsel biasa, smartphone, tablet, laptop, PC, game boy, nintendo hingga play station, dll. Banyak! Ini adalah aktifitas bermain soliter. (Meskipun ada juga game yang dimainkan berdua.) Anak cukup menyendiri dan “mengunci” komunikasi dengan dunia luar untuk menikmati permainan ini. Tidak semestinya seorang anak menyendiri dari lingkungan sekitarnya. Kalo sudah sering menyendiri begini bisa jadi anak mulai kecanduan main game. Pesona game mampu menyihir siapapun untuk meneruskan permainan. Dalam hal ini bukan hanya anak-anak yang menunjukkan perilaku demikian. Beberapa orang dewasa pun ada yang ketagihan bermain game. Tentunya, ketagihan ini bukanlah hal positif yang bisa dibiarkan begitu saja. Untuk menghindari hal seperti ini seyogyanya orangtua menetapkan jadwal bermain game sejak awal anak mengenal gadget. Tanamkan pemahaman bahwa bermain game hanyalah kegiatan sambilan yang sesekali dilakukan. Bukan malah mendominasi seluruh waktu yang diperlukan anak dalam sehari. Bila tidak ada jadwal yang jelas mengenai bermain game ini kelak terjadi hal yang menyulitkan posisi orangtua untuk mengontrol anaknya. Jadi, peraturan itu perlu. Sedangkan kegiatan bermain sambil belajar sering didominasi oleh anak-anak usia pra sekolah. Di fase ini anak-anak memang dikenalkan dengan pengetahuan dengan cara menyenangkan. Misalnya, belajar warna melalui warna-warna pelangi. Hampir setiap anak kecil mengagumi pelangi. Penampilannya yang warna-warni mencerminkan keceriaan dunia anak-anak. Di usia ini, anak-anak juga mengenal aktifitas bermain fisik, contohnya: petak umpet. Semua anak kecil yang saya kenal, menikmati permainan ini. Sensasi deg-degan saat bersembunyi dan ditemukan itulah yang dinikmati dengan gegap gempita. Danisha (21 bulan) juga menyukai petak umpet. Lucu banget deh, polah tingkahnya. 🙂
  • Di sekitar lingkungan tempat tinggal saya, banyak anak yang meluangkan waktunya di tempat rental computer game. Tempat ini didominasi anak laki-laki usia SD hingga SMP yang asyik bermain online game. Sedih sih, melihatnya. Kebanyakan anak-anak ini sudah kecanduan bermain game semacam ini. Bisa dipastikan uang saku mereka terkuras demi permainan ini. Dan bila semua uang saku terpakai, hmm…menurut Anda apa yang akan mereka lakukan?

Peran orangtua sangat penting untuk ikut andil dalam menentukan kegiatan anak. Terutama untuk anak-anak di bawah umur, orangtua wajib menentukan kegiatan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Mereka belum bisa mengambil keputusan, lho. Maka wajib bagi orangtua untuk membimbing mereka. Setelah mereka memilih kegiatan yang disetujui orangtua, maka tugas orangtua selanjutnya adalah monitoring. Ajarkan bahwa anak harus menekuni kegiatan yang mereka pilih hingga tuntas. Hal ini berlaku saat anak memilih kegiatan ekstra kurikuler di sekolah maupun kegiatan les tambahan di luar sekolah. Misalnya: les membaca & menulis, menari, menyanyi, fashion, bela diri, bahasa asing, berenang, dll. Intinya, orangtua harus mendampingi anak untuk memilih melakukan kegiatan yang bermanfaat.

Salah satu kegiatan bermanfaat yang bisa dilakukan anak adalah membaca. Penting sekali menumbuhkan minat baca pada anak karena anak membutuhkan banyak buku sebagai gudang ilmu. Membaca membuka cakrawala dan pengetahuan seluas-luasnya. Tentunya Anda lebih senang melihat anak menghabiskan waktunya dengan membaca daripada terus-menerus bermain game, kan?

Ayo tumbuhkan minat baca pada anak sejak dini! Berikut adalah langkah-langkahnya:

  1. Jadwalkan. Harus ada jadwal untuk membaca setiap hari. Jam berapa kegiatan membaca dilakukan bisa Anda tentukan berdasarkan waktu luang yang Anda dan anak miliki. Ciptakan reading atmosphere yang menyenangkan. Pajang buku-buku dengan tema dan ilustrasi yang menarik. Anak selalu merespons baik hal-hal yang bersifat eye-catching.
  2. Jadi role model. Sungguh tidak adil bila Anda menyuruh anak membaca sedangkan Anda sendiri asyik dengan gadget Anda. Memang sih secara fisik Anda ada di dekat anak tapi pikiran dan fokus Anda mengembara di dunia maya bahkan sesekali cekikikan sendiri dengan tatapan mata tertancap di layar gadget. Well, are you serious? Anak zaman sekarang sudah sangat kritis untuk merasakan ketidakadilan seperti itu. Ayo, berubah! Berubahlah demi masa depan anak. Tutup dan matikan gadget Anda dan duduklah di dekat anak. Untuk anak yang lebih muda, pangku dia dan mulailah menikmati membaca buku bersama dengan bahagia. Ingat, Anda HARUS bahagia dan ikhlas saat melakukan aktifitas ini. Your child can sense whether you are really there for him/her or not.
  3. Bedtime story. Mungkin ini agak berat bagi Anda yang sudah sangat lelah menempuh perjalanan pulang dari tempat bekerja. Bila Anda tidak sanggup melakukan aktifitas bedtime story setiap hari, usahakan Anda bisa melakukan setidaknya seminggu sekali. Momen seperti ini semakin menunjukkan betapa Anda mencintai buah hati. Anak juga merasakan bahwa kegiatan membaca semakin mempererat bonding Anda dengannya. Hingga tibalah saat dongeng selesai dibacakan dan anak Anda menikmati kecupan sayang yang Anda berikan. A sincere good night kiss from the heart will be something nice to remember about you. 
  4. Jalan-jalan ke toko buku. Jadikan ini aktifitas rutin setidaknya sebulan sekali. Tunjukkan kepada anak betapa menyenangkan berada di toko buku karena semua ilmu pengetahuan dan bermacam informasi berkumpul di sana. Tentunya Anda tidak perlu memaksakan diri untuk membeli semua buku yang menarik hati. Sesekali juga tak mengapa Anda hanya membaca-baca saja buku yang sudah terbuka segelnya. Kondisi “kesehatan” kantong Anda hanya Anda sendiri yang tahu, kan? 🙂
  5. Kenalkan alfabet dalam nyanyian. Belajar lewat lagu akan menjadi aktifitas yang menyenangkan untuk anak. Apalagi bila Anda piawai menyanyikan lagu alfabet dengan mimik yang lucu. Anak akan mudah menyerap pelajaran yang ingin Anda sampaikan ketika hatinya sedang bergembira. Tunjukkan alfabet dalam single flash card agar anak mengenalinya dengan baik satu-persatu.
  6. Ajarkan membaca. Setelah anak mengenal alfabet dengan baik, ajarkan ia membaca dengan cara yang menyenangkan. Siapkan amunisi kesabaran saat Anda berada di tahap ini karena kegiatan belajar membaca akan sangat menguras tenaga, pikiran terutama (lagi-lagi) kesabaran Anda. Durasi 30 menit hingga satu jam cukup untuk memfasilitasi kegiatan ini. Mau coba lebih dari satu jam? Saya jamin, kepulan asap yang keluar dari kepala Anda akan semakin tebal. 😀
  7. Role play. Kegiatan bermain peran ini selalu mengasyikkan terutama bagi anak di usia TK. Mau tahu peran apa yang paling disukai anak-anak? Menjadi guru! 😀 Ini kesempatan bagi Anda untuk berperan menjadi murid dan berlaku pura-pura bodoh. Ajukan kesulitan Anda saat membaca suatu kata/kalimat. Lalu minta “bu guru/pak guru kecil” mengajari Anda. Dijamin, anak Anda akan dengan serta-merta menolong dan mengajarkan dengan yakin. Bila saat itu anak Anda bisa membaca dengan benar, di saat itulah Anda menang. 🙂 Kegiatan lain yang serupa adalah finger puppet show. Ciptakan karakter yang bodoh dan tidak bisa membaca dan oponennya, yaitu guru yang baik maupun anak yang pintar. Anda paham peran mana yang harus Anda mainkan, kan? Lagi-lagi Anda harus berpura-pura bodoh. Sisipkan adegan belajar membaca dan biarkan anak Anda yang melakukannya. Anda cukup menggiringnya saja. Selain itu, di kegiatan ini Anda bisa menyisipkan pesan moral. Misalnya: buang sampah di tempatnya, rajinlah mengerjakan tugas sekolah, hormati orangtua dan guru, berkata baik kepada siapapun, dll. Anak Anda akan menyerap semua hal ini dengan baik. Dijamin! (Hmm…jaminan mutu mulu nih dari tadi? :-D)
  8. Beri motivasi, apresiasi dan reward. Saat anak ragu dan kehilangan semangat untuk membaca, tugas Anda tentulah menjadi cheer leader yang menyemangatinya. Tapi tanpa paksaan, ya. Ketika anak menunjukkan kemampuan membaca yang baik, jangan segan-segan memujinya. Beri apresiasi yang sewajarnya. Anda tahu kan efek samping dari pujian yang anak terima? Yup, that’s right. Anak akan semakin bersemangat untuk selalu membaca lagi…lagi…dan lagi. Menghadiahinya dengan buku bacaan yang baru adalah reward yang paling tepat. 🙂

Demikianlah langkah-langkah yang bisa Anda tempuh untuk menumbuhkam minat membaca pada anak. Harapan saya, akan semakin banyak anak Indonesia yang melek huruf dan lebih mencintai buku dibanding nge-game. Tugas kitalah menciptakan kegiatan membaca yang menyenangkan untuk menarik minat anak.

Belajar terus dan terus belajarlah, anak-anak Indonesia!

Selamat Hari Anak Nasional 2016.

Lots of love,

Frida Herlina

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s