Jurus Jitu Menghadiri Workshop/Talkshow

2016-07-20_23.33.29

Ada saatnya kita menaruh minat pada hal-hal yang enggak kita dapatkan di bangku sekolah. Baik hal itu berupa pelatihan singkat tentang merangkai bunga, mengasuh anak dengan pendekatan tertentu, kiat menulis produktif dan lain-lain. Pelatihan singkat yang terbungkus dalam paket workshop ini semakin marak bertebaran di komunitas mana pun. Saat minat klop dengan tema workshop, enggak ada salahnya, kan, menimba ilmu lewat pelatihan singkat tersebut. Bagi saya, penting untuk mengasah otak dengan belajar lagi. Ilmu apapun itu. Bahkan ketika kita sudah mahir dengan ilmu tersebut, tibalah saatnya untuk membagikan ilmu yang kita miliki kepada sesama. Sharing is caring. Enggak perlu takut kita “kehabisan” ilmu saat berbagi. Justru sebaliknya. Berbagi ilmu membuat kita semakin fasih dan dipandaikan dengan ilmu tersebut. Kemampuan public speaking kita semakin terasah saat berbagi ilmu. Beneran, lho! Banyak yang sudah membuktikan hal ini termasuk saya. ^^

Saya ingat kala masih menjadi mahasiswi di Universitas Brawijaya Malang, saya hobi banget ikut workshop. Acara seminar apa aja deh baik di kampus sendiri maupun di kampus lain menarik minat saya untuk saya ikuti. (Ibarat vampire yang haus darah, saya tuh tipe orang yang haus ilmu. Eh, kok jadi haus beneran sih? Minum dulu, yak. πŸ˜‚) Serunya sih saat saya bisa ikutan workshop rame-rame bareng sahabat dekat. Eh, tapi pernah lho saya jadi peserta seorang diri di IKIP Negeri Malang (sekarang Universitas Negeri Malang) ketika menghadiri workshop yang diselenggarakan oleh komunitas mahasiswa jurusan Bahasa Inggris di sana. Hehe…banci seminar banget, yak! πŸ˜„ Tapi itulah saya. Saya menikmati aja tuh suasana garing enggak ada teman di lokasi. Malahan akhirnya hal itu memicu saya untuk cari kenalan dengan mahasiswa lain yang jadi peserta maupun panitia di acara workshop tersebut. Ya kalee…betah bengong sendiri. Hehehe… (Aduh, mana fotonya belum ketemu pula! Coba deh saya cari lagi, ya. Foto jadul sih.)

Acara talkshow yang berkesan yang pernah saya gawangi (lagi-lagi) merupakan pengalaman di masa kuliah. Saya dan beberapa teman seangkatan se-almamater pernah didaulat mengisi acara Universitaria di RRI Pro 2 FM Malang. Siaran nih? Ehem. Iya. ^^ *kibas hijab*Β (Masih lanjut aduk-aduk isi gudang buat nyari foto.) Universitaria talkshow was a program in English which we could discuss anything about university students’ activities or about any other interesting topics with RRI announcer. Jadi isi program tersebut obrolan dalam Bahasa Inggris antara kami (tiga mahasiswa) dan penyiar RRI sebagai pemandu acara tentang hal-hal menarik di sekitar kami dengan sudut pandang a la mahasiswa. Meskipun itu live talkshow, kami siaran di ruang terpisah. Saya berada di bilik siaran bersama teman-teman lalu Bapak penyiar bersemayam di bilik yang lain. Saya lupa nama beliau tapi yang saya ingat Bahasa Inggrisnya jago banget! 😁 Mungkin bila di zaman itu keberadaan Facebook sudah selazim sekarang pasti mudah sekali menjumpai foto-foto saya saat siaran maupun ketika ikut seminar plus jadi pengisi materi OSPEK saat jadi senior kampus di timeline Facebook saya. Itu kalo saya mau, lho. Sayangnya, saya tuh bukan tipikal orang yang mudah narsis dan membanggakan kemampuan diri sendiri. Ketika berhadapan dengan orang-orang baru di suatu komunitas, saya cenderung jadi pendengar dan pengamat. Tapi bila ada orang yang ingin mengenal saya lebih dekat (dan saya merasa nyaman/percaya dengan orang tersebut) pasti dia enggak tahan mendengar cerita masa lalu saya yang penuh kisah manis dan membanggakan. Sebaliknya, bagi orang-orang yang mengenal saya pasti tahu banget kapasitas saya seperti apa dan enggak segan-segan memberi referensi/rekomendasi tentang saya. (Beep…beep… #humble brag alert!) Hahaha…πŸ˜„πŸ˜„ maaf, ya. Tenang aja, aslinya saya tuh belum bisa apa-apa kok. Ngeblog aja putus nyambung kayak abege labil pacaran genee… Hehehe… Jadi, jangan muntah di sini, ya. 😜

Di dunia kerja, saya berkesempatan ikut workshop tentang How to teach English Phonics to young learners (inti temanya sih ini) di kampus Binus Serpong dengan pembicara/trainer dua orang native Australian, dengan bahan materi mengupas tuntas buku-buku phonics dari Jolly Learning UK. Ini adalah salah satu workshop paling fun yang pernah saya ikuti. Segala hal yang menyangkut dunia anak pasti penuh keceriaan, kan? Maka bersuka citalah kami (para trainee yang mayoritas adalah English teacher) di acara yang dipandu cukup interaktif tersebut. Belajar tentang materi yang asyik, berkenalan dengan orang-orang baru dengan passion yang sama, kudapan yang lezat dan lokasi yang lumayan mudah terjangkau adalah paduan yang menyenangkan untuk menuntaskan workshop yang digelar selama empat hari tersebut. Saya belajar banyak dan banyak belajar tentang pendekatan yang lebih fun saat mengajarkan anak-anak membaca dalam Bahasa Inggris dengan sistem phonics.

Ada satu workshop yang berkesan mendalam buat saya yang saya ikuti tahun 2015 lalu. Apa itu? Fun Blogging workshop yang dibawakan oleh Trio Blogger Hits: Haya Aliya Zaki, Shinta Ries dan Ani Berta. (Liputannya ada di sini, ya.)Β Fun Blogging Workshop tuh bermanfaat banget buat saya. Bukan tentang hal mengajar sih tapi lebih ke belajar ngeblog. Blogging itu pekerjaan yang menarik buat saya karena masih ada hubungannya dengan dunia tulis menulis. Satu hal yang sudah lama jadi passion saya tuh. Bahkan blogging bisa jadi profesi yang dapat diandalkan, lho! Selain menyenangkan juga, tentunya. Lho, kalo bisa jadi profesi berarti menghasilkan uang dong? Yup! Exactly! Tapi menjadi blogger itu ada tapinya, lho! Meskipun banyak orang masih menganggap remeh profesi blogger (biasanya sih ini orang-orang yang enggak paham), justru yang saya ketahui tuh profesi ini menuntut profesionalisme dan dedikasi yang tinggi. Agendanya bejibun! Asli, sibuk banget. Apalagi pas momen Ramadan kemaren. Beuh! Undangan buat blogger untuk hadir di berbagai workshop, seminar maupun peresmian ini-itu bertebaran di grup Fun Blogging. Bonusnya, ada acara buka bersama dong. Bisa genap sebulan buka bersama di luar rumah tuh kalo pas memang bisa hadir dan diundang di semua acara tersebut. Enggak heran kalo jarum timbangan bawaannya rebah aja ke kanan. Eh? Ada yang ngerasa? Maaf, ya… πŸ˜€

Ternyata memang seru, ya, kalo bisa ikutan workshop/talkshow gitu. Berdasarkan pengalaman saya, ya … memang seru dan bermanfaat banget. Saya jadi tahu potensi diri dan penggalian bakat seperti itu melegakan jiwa saya. Jadi ada penyaluran gitu deh. Nah, sebelum ikutan workshop/talkshow memang harus ada persiapannya, lho.

Berikut Jurus Jitu Menghadiri Workshop/Talkshow:

  • Daftar. Cara pertama yang enggak boleh dilewatkan adalah mendaftar ikut acara workshop/talkshow tersebut. Ini khusus untuk Anda yang enggak terima undangan lho, ya. (Kalo Anda tamu istimewa yang harus diundang, ya… enggak perlu daftar.) Kebayang aja, kan, kalo Anda sudah siap berangkat ke lokasi tapi ternyata belum daftar. Hikk…gigit jari, deh.
  • Bayar. Selesaikan administrasi pembayaran sebelum acara dimulai. Lain cerita bila panitia mengizinkan pembayaran dilakukan saat tiba di lokasi. Pembayaran ini berlaku untuk workshop/talkshow yang enggak ada label free. Kalo memang Anda hadir di acara yang free, ya…enggak usah keukeuh bayar gitu deh di meja pendaftaran hanya karena Anda sedikit alergi dengan hal yang gratisan. Bikin repot aja. Langsung ambil posisi duduk manis di tempat yang disediakan. Ok?
  • Datang tepat waktu. Kenapa? Peserta biasanya didata ulang dan itu dilakukan sebelum acara dimulai. Jangan terlambat apalagi Anda datang pas di jam coffee break. Rugi. Anda sudah kehilangan sesi pertama, kan? Lalu Anda mengharap ada adegan/sesi ulang, gitu?
  • Dress code. Perhatikan busana yang Anda kenakan. Ada baiknya dipersiapkan sehari sebelum acara agar Anda enggak tergopoh-gopoh. Seandainya Anda enggak punya warna baju yang jadi dress code, kan Anda punya waktu untuk cari pinjaman. Misalnya memang mentok enggak ada, pakailah busana dengan warna netral, warna pastel gitu deh. Jangan bikin pusing pandangan mata orang lain hanya karena Anda lagi gandrung banget dengan koleksi busana dan assesoris serba bling-bling yang warnanya tumpah ruah tabrak lari. Aduh, Anda ini mau pindahin traffic light dan lampu disko ke lokasi workshop atau gimana, sih? >.<
  • Bawa gadget, alat tulis dan notes. Ilmu itu harus diikat dengan tulisan supaya kita selalu ingat. Demikian kutipan yang pernah saya baca dari sahabat Ali bin Abu Thalib. CMIIW. Belum tentu Anda Β dapat alat tulis lho di acara itu. Maka bawa peralatan sendiri jauh lebih baik. Bisa juga Anda memanfaatkan fitur sejenis Color Note di gadget Anda untuk mencatat hal penting. Malas mencatat? Ya udah, fotoin aja slide yang terpampang selama acara. Pastikan panitia mengizinkan pengambilan gambar saat acara berlangsung.
  • Jalin pertemanan. Bangun network. Anda sudah jauh-jauh pergi ke lokasi workshop dengan menyediakan waktu, tenaga dan biaya. Selayaknya Anda berkenalan dengan banyak orang di sana. Anda enggak akan pernah tahu betapa koneksi seperti itu kelak menguntungkan Anda di kemudian hari. Oh iya, jangan lupa berfoto dengan teman-teman baru dan pengisi acara, ya. Itu bagus untuk liputan di media sosial Anda.
  • Ajukan pertanyaan dengan santun dan jelas. Suara yang terlalu lantang maupun lirih tentu merepotkan narasumber acara yang bersiap memecahkan persoalan Anda. Tanyakan hal-hal yang berhubungan dengan topik yang memang Anda enggak tahu jawabannya lho, ya. Pertanyaan bernada nge-test hanya mencuatkan sisi arogansi Anda.
  • Behave yourself. Jaga sikap, perilaku, sitting pose dan ucapan Anda selama acara. Posisi tiduran itu memang wuenak pol tapi mbok yao jangan tiduran di acara workshop, ah. Kalo sampai Anda bablas tertidur saat acara, apa Anda siap disodorin mikrofon yang melantunkan dengkuran Anda? Siaga. Jaga diri Anda jangan sampai tertidur, ya.
  • Beri pujian. Katakan pada panitia hidangan yang disajikan rasanya lezat. Ucapkan terima kasih kepada narasumber/pengisi acara atas ilmu yang dibagikan. Mungkin hal ini terkesan remeh, tapi basa-basi yang tepat bisa menyenangkan hati orang lain lho. Saat orang lain senang otomatis kita ikut senang. Ya, kan?

Anda juga pernah menghadiri workshop/talkshow? Apa tip tambahan dari Anda?

 

Lots of love,

Frida Herlina

Advertisements

2 thoughts on “Jurus Jitu Menghadiri Workshop/Talkshow

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s