Tujuh Hal yang Harus Dilakukan saat Mengajarkan Batita Berbicara

“Children are like wet cement, whatever falls on them makes an impression.” (Haim Ginott)

2016-07-18_00.08.48

Fase batita (usia 0-3 tahun) merupakan fase tumbuh kembang yang pesat dan masuk di periode Golden Age. Apa itu Golden Age? Golden Age adalah tahap tumbuh kembang anak yang ditandai dengan rasa keingintahuan yang besar, hasrat mengeksplorasi dan meniru hal-hal yang dilihat, dirasa dan didengarnya. Teori lain mengatakan di usia ini anak-anak memiliki daya serap seperti spons. Apapun akan diingat dan ditiru. Apalagi untuk hal-hal yang mengalami pengulangan/repetisi akan semakin cepat diingat dan dilakukan. Kurang lebih serupa juga dengan Haim Ginott yang menyatakan bahwa anak-anak ibarat semen basah yang mudah tertuang apapun hingga mencetak kesan mendalam bagi mereka. Analogi yang lain mengibaratkan seorang anak kecil laksana kertas putih yang masih kosong. Jadi hal apapun yang tertoreh di memorinya kelak punya andil dalam pembentukan karakternya. Hal apapun lho, baik maupun buruk. Ini perlu digarisbawahi karena anak masih belum mengenal konsep benar-salah. Hmm, seperti memegang gelas kristal rasanya. Handle with care. Jangan sampai salah beri contoh ya, Mom.

Masa usia dini merupakan periode emas (Golden Age) bagi perkembangan anak untuk memperoleh proses pendidikan. Periode ini adalah tahun-tahun berharga bagi seorang anak untuk mengenali berbagai macam fakta di lingkungannya sebagai stimulans terhadap perkembangan kepribadian, psikomotor, kognitif maupun sosialnya. (Edy Santoso, Pendidikan Usia Dini, 25/9/2011)

Ok. Jadi stimulasi apa nih yang bisa kita berikan di tahap awal periode emas buah hati kita? Sebelum kita bahas lebih lanjut tentang stimulasi ada baiknya kita camkan dalam hati bahwa keterlibatan kita dalam memberikan stimulasi ini adalah dalam rangka membantu proses belajar anak. Kita mulai mendidik anak dan pendidikan karakter itu yang utama. Sebagai bagian masyarakat yang masih menganut adat ketimuran dengan kuat, selayaknya kita mengajarkan sopan-santun kepada anak. Misal, mengajarkan anak untuk salim/cium tangan kepada orang yang lebih tua. Untuk beberapa anak, ini bukan perkara mudah. Ada anak yang merasa tidak nyaman jika harus melakukan kontak fisik dengan orang yang baru dikenalnya. Tugas kita tentunya mendampingi dan tetap mengajarkan. Ingat, anak butuh repetisi untuk setiap hal yang diajarkan. Jadi, bila hari ini dia menolak salim, jangan khawatir, bisa jadi besok dia mau melakukannya. Yang penting kita tetap sabar mengajarkan dan memberikan pemahaman pada anak. Jangan dipaksa ya, Mom.

Hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan karakter tentu akan masih panjang lebar untuk dibahas. Tapi kali ini saya hanya akan memberikan tip tentang mengajarkan batita berbicara berdasarkan pengalaman saya. Kapan anak mulai belajar berbicara? Kata-kata apa yang bisa diajarkan? Stimulasi apa yang diperlukan? Berapa lama durasi yang dibutuhkan? Dan sebagainya. Ada lagi highlight yang harus diingat ya, Mom. Setiap anak itu unik dan memiliki perjalanan tumbuh kembangnya sendiri. Anak kembar aja enggak sama kemampuannya. Apalagi anak kita dibanding anak tetangga. Oh, satu lagi. Jangan pernah membandingkan anak kita dengan anak-anak yang lain, ya, karena memang tak ada hal yang harus diperbandingkan.

Perkenalkan, Danisha Mahira (21 bulan), buah hati saya yang kedua yang berjarak 11 tahun dengan kakaknya, yang sewaktu bayi sering saya sapa dengan julukan Baby Dee ini. Mengemban amanah yang kedua ini membuat saya diperjalankan kembali kepada siklus awal perawatan bayi-batita-balita-anak. Serasa de javu, mengenang ulang kembali bagaimana dulu saya merawat Salsa (kini 13 tahun) saat lahir dulu. Menjadi ibu/ayah adalah menjadi pelaku sejarah, saksi sejarah pertumbuhan anak sendiri. Jangan heran bila orangtua (khususnya ibu) bisa hapal di luar kepala ketika ditanya berapa BB dan panjang badan bayinya saat lahir, bayinya sudah mulai makan apa di usia berapa, kapan imunisasi pertamanya, siapa nama dokter anaknya sampai berapa biaya persalinan yang dihabiskan saat melahirkan bayinya. Belum lagi peristiwa detik-detik menjelang melahirkan yang terukir menjadi drama kehidupannya. Jam berapa mulai kontraksi, hari apa menuju ke rumah bersalin bahkan berapa lama menanggung pembukaan hingga lengkap 10 (ini kisah persalinan normal ya, Mom. Untuk kisah sectio partus tentu lebih aduhai lagi) sebelum mendorong jabang bayi menghirup udara dunia fana. Trust me. When you become a mother, you will recall all of these things as easy as ABC. Itulah salah satu keajaiban wanita saat bergelar ibu. Do you feel it, Mom?   

Dan saya menjadi saksi sejarah pertumbuhan Danisha kini. Saya bersyukur saya ada di sana saat melihatnya pertama belajar tengkurap-duduk-melangkah-berjalan-berlari-melompat. Juga saya ada di sana saat melihatnya mengernyit heran mengenal MPASI pertamanya, menyaksikannya belajar mengunyah dan menelan, belajar minum air putih hingga jus buah, belajar minum via sedotan, sipping cup hingga gelas biasa. Saya menyaksikan semuanya atas kehendak Allah SWT. Tak ada yang terlewat dan saya sangat bersyukur atas nikmat perjalanan ini.

Tanggal 26 Juli ini Danisha akan genap 22 bulan. Mau tahu udah bisa ngapain aja my little angel ini? Oh, she really turns my world upside down but I’m having a good time. Hahaha… 😀

Bicara tentang batita usia 21 bulan udah bisa ngapain aja, ya… kurang lebihnya pasti paham lah, yaa. Alhamdulillah Danisha aktif bergerak (makanya badannya tetap langsing), mulai dari lari-lari panik saat main cilukba, lompat-lompat, “beres-beres” lemari pakaian (well, you know what I mean, right?), numpahin air minum, makanan hingga bedak talk, obok-obok air di kamar mandi, corat-coret kertas hingga loyang kue pakai pensil, bernyanyi, joget-joget asyik, pakai lipstik, menirukan gerakan sholat, menyapu sampai “membaca” (ya, akting gitu deh. Hahaha…) dll. You name it!

Di usia eksploratif dan imaginatif seperti ini tentunya komunikasi interaktif sangat diperlukan untuk membantunya memperkaya kosakatanya. Kurang dari usia setahun Danisha sudah mulai menirukan ucapan dari beberapa penggalan kata yang ia dengar meski ucapannya memang lebih terdengar seperti babbling baby talk gitu sih. Namun seiring bertambahnya usia dari bulan ke bulan, ada beberapa kata yang semakin jelas terdengar sebagaimana mestinya. Dengan bekal pengalaman pengasuhan kakaknya sebelumnya, saya selalu melakukan koreksi terhadap pelafalan kata yang diucapkan Danisha agar menyerupai lafal aslinya. Misal, Danisha dulu selalu berkata “Hao…hao,” saat melihat kucing. (Ada beberapa kucing yang memang bersuara “hao” daripada “meaw” terutama saat berantem. Beneran lho.) Maka saya segera mengkoreksinya sambil berkata, “Itu kucing, Sayang. Kucing. Kucing,” berulang-ulang di kesempatan yang berbeda. Alhamdulilah sekarang Danisha menunjuk kucing sambil berucap, “Uci…uci.” Lebih mirip ke “kucing” sebagai kata aslinya daripada “hao”, kan? Tentunya ia masih berproses untuk bisa mengucapkan kata “kucing” dengan tepat kelak. Kasus yang sama juga saya terapkan ke Salsa kecil (dulu) saat melihat anjing. Saya katakan bahwa itu adalah anjing bukan guk-guk. Hindari ikutan baby talk ya, Mom.

Berikut adalah daftar kosakata yang bisa diucapkan oleh Danisha yang mulai saya himpun sejak ia berusia 18 bulan. (Maksud saya, saya mulai mengarsip kosakata ini sejak Danisha berusia 18 bulan tapi dia sudah mulai bisa mengucapkan beberapa kata dalam daftar ini sejak usia sebelum 18 bulan.) #bingung enggak, sih? This is the way she expresses herself.  Well, it’s gonna be a long list. Get ready. Fasten your seat belt, ladies!

  • 26/3/16>> usia 18 bulan:
  1. Apa = Apa ini? Apa itu? >> ini adalah kata pertama yang sering diucapkan sejak usia 10 bulan untuk menanyakan benda-benda yang ditunjuknya.
  2. Allah = Allah >> Allah ba = Allahu akbar (diucapkan saat berdiri di atas sajadah)
  3. Ami = aamiin >> diucapkan sambil mengusap wajah saat melihat Bundanya selesai sholat.
  4. Papu = sapu/lampu
  5. Bibi = baby
  6. Hao/uci = kucing
  7. Nney = snail (iya, siput. Ada kisahnya nih. Simak di bawah, ya)
  8. Ama = sama
  9. Jip = jeep >> saat belajar buku tentang kendaraan
  10. Jadu = jagung
  11. Gika/ika = ikan
  12. Owa = bola
  13. Laya-laya = layang-layang
  14. Anin = angin
  15. Ti/uti = eyang putri
  16. Nak-nak/anak-anak = anak-anak
  17. Pipi = pipi
  18. Tati = kaki
  19. Aya/ayah = ayah
  20. Mama/Nda = bunda
  21. Tatak = kakak
  22. Tatak uwa = burung kakatua >> baginya semua burung adalah kakatua, efek dari nonton videoclip lagu anak-anak.
  23. Enak = enak
  24. King-king = bunyi sepeda kring-kring
  25. Cak = becak/cicak
  26. Iya = iya
  27. Haik = hai (Japanese) >> belum tahu arti kata ini sih, Cuma seneng aja bercanda ngomong “hai” sambil bungkukkan badan. She finds it fun! 😀
  28. Dadah = dagh/bye
  29. Babai = bye-bye
  30. Catik/cantik = cantik
  31. Neneh = nenen
  32. Nyauk/nyamuk = nyamuk
  33. Jah/huja = hujan
  34. Gigi = gigi/sikat gigi
  35. Uuk aak = suara monyet
  36. Ahak-ahak = ahaha lucu banget gambar ini
  37. Ayang = sayang
  38. Ata = gatal/mata
  39. Cacit = sakit
  40. Kik/kik boh = kick the ball/click
  41. Bobok = tidur
  42. Wawon = balon
  43. Aci = makasih
  44. Moto ngeng…ngeng = sepeda motor
  45. Pita = pita
  46. Puh = puss (panggil kucing)
  47. Mah/mash = mas/abang
  48. Mau = mau >> diucapkan saat meminta sesuatu biasanya makanan/minuman
  49. Nga = bunga
  50. Iyuk ba = cilukba
  51. Mun = moon >> diucapkan sambil menunjuk bulan di langit
  52. Tak/dutak = buka >> diucapkan saat minta dibukakan sesuatu
  53. Duduk = duduk
  54. Tatoh/jatoh = jatuh
  55. No-no-no = no (tidak boleh)
  56. Popop/ah-yam = ayam (ini juga ada ceritanya nih)
  57. Nnoh = minum
  58. Nek = naik
  59. Hai = hi, hello there
  60. Ayo = ayo
  61. Puta = putar
  62. Aduh = aduh
  63. Cuwak = kecoak
  64. Na nau/ma-ma mau = nggak mau
  65. Pupu-pupu = kupu-kupu
  66. Lopak = lompat
  67. Aha! = aha!
  68. Oh-oh = uh-oh (say it when something goes wrong)
  69. Cu = lucu
  70. Nata = nakal
  71. Oh, no! = oh, no!
  72. Dua = dua
  73. Hawo = hallo (pakai hp/benda yang menyerupai)

 

  • 26/4/16 >> usia 19 bulan:
  1. Didid dia = ini dia! >> diucapkan saat menemukan sesuatu yang dicari-cari
  2. Mamut = rambut
  3. Aiiiiii = lari!
  4. Ai = air
  5. Tao = taro (letakkan)
  6. Atu-dua-tiga-apak-ima-enam-tuju-dapan-biyan-puuh = berhitung 1-10
  7. Bubu/butu = buku
  8. Jebbu = jebur! >> saat lihat air/adegan lompat ke air di tv
  9. Ama-ama = sama-sama >> jawaban dari terima kasih
  10. Ntak-ntak = hentak-hentak >> diucapkan saat hentak-entak di atas keset setelah cuci kaki
  • 26/5/16 >> usia 20 bulan – sekarang
  1. Patak/patap = pantat
  2. Tawa = ketawa
  3. Mmm…mangi = hmm, wangi >> diucapkan saat mencium aroma cologne-nya
  4. Pipa = pipa
  5. Mmm…yami = hmm, yummy
  6. Pica = pisang
  7. Nanana = banana
  8. Besh = splash >> diucapkan saat melihat ikan berenang
  9. Bawak = pesawat >> butuh koreksi banget nih! >.<
  10. Tage = kaget
  11. Ati-ati/hati-hati = hati-hati
  12. Kaet = karet
  13. Mjit = pijit
  14. Kaci = kancing
  15. Habi/habisz = habis
  16. Teh = teh
  17. Pupup = poop
  18. Bau = bau
  19. Api tut-tut-tut = kereta api >> efek nonton video clip juga nih
  20. Mpah = tumpah
  21. Tatuk = takut
  22. Uwak = ulat
  23. Dau = daun
  24. Cabe = cabe
  25. Payo = payung
  26. Bita = bintang

 

Wow! Lebih dari 100 kata, ya? Lumayan juga. Saya enjoy aja tuh bikin daftar ini. Pokoknya setiap dia mulai bisa mengucapkan kosakata baru sesegera mungkin saya catat. Semoga nanti kosakatanya bisa nambah berlipat-lipat. Aamiin.

Oh iya, ada sedikit cerita yang melatarbelakangi terucapnya kata-kata “snail”, “moon” dan “popop”.

~snail~

Suatu hari di musim hujan, pagi itu ada seekor siput merayap di ubin teras belakang. Danisha langsung tertarik melihatnya dan mulai bertanya, “Apa?” berulang-ulang sambil menuding siput tersebut. Seketika saya terhenyak dan berusaha mengenali binatang itu. Berusaha mengenali namanya, tentunya. Sayangnya, hanya kata “keong” yang muncul di kepala saya. Sedangkan saya tahu itu bukan keong. Danisha masih terus bertanya, “Apa?” menuntut jawaban segera.

“Snail. It’s a snail, dear. Snail. Sssnnnaaaiiilll,” sahut saya akhirnya.

Begitulah. Hingga detik ini Danisha mengenali siput alias bekicot itu dengan nama “nney” (baca: snail, red.) hanya karena saat itu otak saya mengirim kata “snail” saat di-enter.  Oh, poor me!

~moon~

Danisha adalah batita pecinta benda-benda langit. Terutama di malam hari saat langit lebih ramah dipandang berlama-lama dibanding di siang hari. Dia akan selalu antusias mendongak ke langit sambil tersenyum lebar bila menemukan bulan di langit yang cerah. Dia juga mengenali bintang.

“Look at the moon, baby. Moon, where are you, moon?” senandung saya sambil menunjuk langit. “It’s the moon. Say it. Moon.”

“Mun,” responsnya.

“Good. And those are the stars. So many stars. Stars.”

“Tars.”

“Wonderful.”

Salah satu lagu favorit Danisha adalah Ambilkan Bulan, Bu. Dia pasti menari-nari gembira saat melihat video clip lagu itu dan terus berkata “mun”. Jadi dia memang tahu bahwa bulan adalah moon.

“Itu dia bulannya. Bulan,” ucap saya di lain kesempatan sambil menunjuk langit.

“Dadah, mun,” celotehnya.

“Dadah, bulan. Bye-bye, moon,” koreksi saya.

“Dadah, mun. Babai, mun.”

See? Ternyata pelafalan kata “moon” itu lebih ramah secara artikulatif dibanding kata “bulan”. Sepertinya sih saya belum pernah mendengar dia mengucapkan kata “bulan” maupun kata yang mirip dengannya. Di mana pun dan kapan pun Danisha lebih refleks mengucap kata “moon” saat melihat bulan. Beda dengan kata bintang. Danisha bisa mengucapkan kata bita maupun tars sambil menatap langit. (Lagi-lagi) salah satu lagu favoritnya adalah Bintang Kecil. Dan dia sudah mulai bisa menyenandungkan lagu ini sendiri dengan pelafalannya. Bita (baca: bintang, red.) dan tars (baca: stars, red.) adalah dua kata yang dipahami Danisha memiliki satu makna. Alhamdulillah.

~popop~

Adalah kegiatan belajar dan bermain yang menyenangkan bagi anak-anak saat mengenal binatang disertai pengenalan onomatopoeia-nya.

      Kucing mana kucing?

      Meaw

      Kucing mana kucing?

      Meaw meaw

      Ayam mana ayam?

      Petok

      Ayam mana ayam?

      Petok petok

      Burung mana burung?

      Cuit

      Burung mana burung?

      Cicit cuit

      Ikan mana ikan?

      Splash!

      Ikan mana ikan?

      Splash!

Lirik lagu ciptaan saya di atas itu salah satu contoh pengenalan onomatopoeia dari binatang-binatang di sekitar kita. Lagu yang saya beri judul KABI (kucing, ayam, burung, ikan) itu memiliki nada yang ceria dan sering saya nyanyikan sejak Danisha usia sekitar 8 bulan. Kebetulan memang di sekitar halaman rumah ada kucing, ayam, burung dan ikan (sekarang sih ikan-ikan di kolam udah pada mati. Hikk…). Jadi sejak saya  menciptakan lagu itu secara intuitif  komunikatif (halah) Danisha di usia dini sudah saya kenalkan bahwa binatang di sekitar kita itu memiliki bunyi yang berbeda dengan manusia. And you know what? Justru onomatopoeia itulah yang dijadikan Danisha sebagai identitas mengenali binatang. Berikut liputannya.

“Itu ayam. Pop…pop…pop…petok! Ayam,” ujar saya sambil menunjuk ayam, mengenalkan kepada Danisha.

“Popop,” responsnya.

“Ayam, sayang. Itu ayam.”

“Popop.”

Di hari-hari selanjutnya, Danisha masih menyebut ayam dengan kata “popop”. Dan saya terus mengoreksinya. Hahaha… Well, that’s me! Eh tapi, alhamdulillah sekarang Danisha sudah mulai mengucap kata “ayam” untuk ayam meskipun huruf ‘m’ di belakang itu masih samar terdengar.

Nah, berdasarkan pengalaman saya di atas maka saya bisa berikan tips berikut.

Tujuh hal yang harus dilakukan saat mengajarkan batita berbicara:

  1. Jelajah lingkungan sekitar dan lakukan eksplorasi. Tidak perlu harus keluar rumah dan memakan biaya untuk jalan-jalan ke kebun binatang bila belum memungkinkan. Boleh sih, tapi jalan-jalan seperti itu kan butuh persiapan dan tidak setiap hari bisa dilakukan. Jalan-jalan di sekitar rumah aja udah cukup kok, Mom.
  2. Jalin komunikasi dua arah, bukan hanya perintah dan larangan. Ini butuh latihan buat para mama yang suka memerintah dan melarang anak-anaknya. Coba deh ngobrol tentang bunga di pinggir jalan. Kenalkan kepada buah hati. Ceritakan tentang bunga itu. Bisa, kan?
  3. Bercerita/membacakan buku. Bagi anak usia dini, buku selalu menarik perhatian. Entah buku itu nanti bakal ditarik, dilipat, disobek, diinjak, dilempar maupun dibuka-buka dengan kasar, batita bisa melakukannya. Selama hal itu tidak membahayakan keselamatannya biarkan saja. (Salah satu buku cerita untuk Danisha juga sobek beberapa halaman karena dia suka dengan sensasi kreeek menyobek kertas. Hadeuh… Salah saya juga sih beri dia buku cerita beneran. Akhirnya dia saya belikan buku yang terbuat dari spons karet tebal.) Kemudian pelan-pelan kenalkan bahwa isi buku itu menarik untuk disimak. Bacaan cerita dengan dengan intonasi suara yang menarik. Dijamin, batita Mama pasti minta dibacakan cerita buku itu lagi, lagi dan lagi.
  4. Pengenalan kosakata baru dan penyusunan kalimat. Kok kesannya rumit, ya? Tenang, Mom. Kosakata dan kalimat yang kita kenalkan ke batita kan yang simple aja bukan yang rumit. Melalui kegiatan membaca/bercerita dan bereksplorasi, batita Mama pasti mendapatkan kosakata baru. Nah, ulang-ulang deh kata-kata itu dalam kalimat. Penting juga untuk membuat kalimat dalam satu bahasa yang utuh alias tidak dicampur-campur. Contoh, akibat “kesalahan” saya, Danisha mengenal siput sebagai “snail”. Maka saat melihat binatang tersebut, saya berkata, “It’s a snail, dear. Dan bukan berkata, “Itu snail, sayang. Iya, itu snail.”

Di lain waktu, saat melihat bunga saya berkata, “Ini bunga. Bunga.” Nah, paham kan? So, if you want to describe something in English, do it in English fully. And if you want to describe something in Indonesian, so do it in Indonesian fully, too. Dengan demikian, batita Mama akan paham lho kalo dikenalkan dengan bahasa yang berbeda. Bukankah di zaman sekarang banyak orangtua yang mengenalkan lebih dari satu bahasa kepada anak-anaknya sebagai media komunikasi sehari-hari? Maka tempatkanlah kata-kata ke dalam golongan bahasanya. Supaya anak paham bahwa kata “bunga” itu milik Bahasa Indonesia dan kata “snail” itu milik Bahasa Inggris. Itu contoh kasus saya ya, Mom.

  1. Pelafalan dan pemenggalan suku kata. Begini cara saya mengenalkan sebuah kata kepada Danisha.

“Ba-ba-ba, tu-tu-tu, batu,” sambil menunjuk batu.

“Ba-ba-ba,” ulang saya sampai akhirnya ditirukan Danisha.

“Tu-tu-tu,” ulang saya lagi sampai ditirukan Danisha.

“Batu.”

“Batu,” ucapnya.

Kebanyakan kata-kata yang saya kenalkan mengandung dua suku kata karena itu lebih mudah diucapkan. Juga, kata-kata yang sering dipakai dan merupakan kata yang terbentuk dari babbling alamiah para batita, yaitu: mama, tata, dada, baba, papa, yaya, wawa, haha dan jaja.

Berikut adalah kata-kata yang bisa diajarkan ke batita dengan mudah:

  • ma-ma-ma, ta-ta-ta >> mata
  • pi-pi-pi, ta-ta-ta >> pita
  • ca-ca-ca, be-be-be >> cabe
  • cu-cu-cu, ci-ci-ci >> cuci
  • ba-ba-ba, ju-ju-ju >> baju
  • a-a-a, ya-ya-yah >> ayah
  • ba-ba-ba, u-u-u >> bau … dll., dst.
  1. Bernyanyi dan menari. This is the best part. Come on, Mom! Sing and dance along. Mudah sekali mendapati anak-anak yang refleks menari saat mendengar suara musik dan lagu. Mudah juga menjumpai mereka bernyanyi riang gembira. Iya, bagian dari proses belajar anak-anak adalah bermain. Temani buah hati bernyanyi ikutlah menari bersamanya. Kata-kata dalam lagu akan memperkaya kosakatanya. Selektif dalam pilihan lagu ya, Mom. Kenalkan lagu sesuai usia anak. Itu lebih bijak.
  2. Menulis/menggambar. Jangan berharap batita Mama akan bisa menulis huruf dari aktifitas ini. Biarkan dia mencoret bebas dengan guratan sesukanya. Kenalkan gambar-gambar sederhana yang bisa Mama lakukan secara bertahap. Contoh, Danisha suka sekali gambar kupu-kupu sederhana yang saya gambarkan untuknya. Dia pasti akan mengucap, “Pupu-pupu,” mengomentari gambar saya. Semakin banyak benda yang bisa saya gambar maka semakin kayalah kosakata Danisha mengenali dan menyebutkan gambar-gambar tersebut.

Intinya, lakukan ketujuh hal di atas dengan riang gembira karena dunia anak memang dunia bermain dan belajar. Selamat mencoba ya, Mom!

 

Lots of love,

Frida Herlina

 

Kahlil Gibran (1883): “Anak kita bukanlah kita, pun bukan orang lain. Ia adalah ia. Dan hidup di zaman yang berbeda dengan kita. Karena itu, memerlukan sesuatu yang lain dengan yang kita butuhkan. Kita hanya boleh memberi rambu-rambu penentu jalan dan menemaninya ikut menyeberangi jalan. Kita bisa memberikan kasih sayang, tapi bukan pendirian. Dan sungguh pun mereka bersamamu, tapi bukan milikmu.”

 

Advertisements

9 thoughts on “Tujuh Hal yang Harus Dilakukan saat Mengajarkan Batita Berbicara

  1. Bagus dekali caranya.
    Byan, cucu saya juga agak lambat mulai bicara. Ada yang menyarankan agar lidahnya dikerok cincin emas segala hahahaha.
    Emaknya bilang:”Ah, biarlah, nanti kan bicara sendiri.”
    Benar juga, sekarang malah nyerocos terus sampai kami geli mendengarnya.
    Terima kasih tipnya.
    Salam hangat dari Jombang

    1. Syukur deh kalo Byan udah pinter nyerocos. Hehehee… Anak-anak kan beda aja jam tayang pinter ngomongnya.
      Lho cincin emas itu bukannya buat ngerok blewah kah, Pakde? *ngayal* 😀
      Terima kasih kembali, Pakde. Senang bila postingan ini memberi manfaat.
      Salamnya sudah saya jemur, ya. Biar tetap hangat gitu.
      Kyaaa…. *kabur*

  2. Jadi inget masa anak-anak masih batita, tiap anak-anak berbeda-beda perkembangannya ternyata tergantung stimulant kita saat hamil dan setelah melahirkan ternyata 🙂

  3. thank you infonya mba.. sangat bermanfaat.. oiya kalau saya boleh bertanya, normal gak siii mba kalau ada anak usia satu setengah tahun tapi belum bisa ngucapin kata2? bisanya cuman bilang “es, abis, awas,..” gitu deh mba cuman beberapa kata doang. selebihnya kalau mau apa apa dia gak bisa ngomong, cuman bilang “eeh eeh ” doang. Tapi kalau diajakin ngomong dianya paham maksud kita, cuman belum bisa respon dalam bentuk kata. terima kasih sebelumnya, salam kenal

    1. Hai, mbak Baiqrosmala. Salam kenal kenal juga. Usia 1,5 tahun mah masih di fase belajar bicara banget lah, mbak. Masih wajar kalo kosakatanya sedikit karena batita masih kesulitan melafalkan kata-kata dengan tepat. Kalo dia paham maksud kita itu udah bagus. Sering-sering diajak bicara aja, mbak. Ajari mengucapkan kata-kata juga. Coba praktekin 7 tip saya di atas deh. *nyengir*
      Harus ekstra sabar, ya. Semoga berhasil. Salam sayang untuk si kecil. 🙂

      1. oowh gitu ya mba.. menurut saya juga wajar, itu anak keluarga saya mba hehehehe soalnya ada tetangganya dia malah nyaranin harus periksa ke dokter saraf takut si anak kenapa kenapa sarafnya gara2 belum bisa ngomong -,- thanks infonya mba

  4. kalau saya dulu mah , sering banayk bicara denagn dia saja, biar dia meniru sendiri. tapi juag tergantung karakter. Anak laki-lakiku kalau diajak bicara diam saja , kalau anak perempuanku banyak ngocehnay sehingga lebih cepat bicara dibanding kakaknya. dan saat besar yang laki yipe yg gak banayk bicara dan yang perempuan cerewetnya

    1. Iya benar, Mbak. Mengajak anak sering berbicara itu faktor penting karena manusia kan makhluk sosial jadi memang harus sering bersosialisasi. Anak-anak pada umumnya belajar melalui tahapan: listening, speaking, reading & writing. Jadi memang harus “listen” dulu untuk bisa “speak”. Anak perempuan dari sononya punya kecerdasan linguistik lebih menonjol dibanding anak laki-laki. Nggak heran kalo anak perempuan memang lebih aktif berbicara dan saat dia menjadi ibu pun yaa…aktif berbicara (baca: cerewet ngomel) juga, kan? Hahaha…
      Makasih sudah berkunjung. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s