Pilih Sekolah Menengah Umum atau Sekolah Menengah Kejuruan?

2016-07-15_22.34.53

Latar pendidikan saya sejak SD hingga SMA tertambat di sekolah umum. Demikian pula dengan semua saudara saya. Kami mengenyam pendidikan di SD Negeri, SMP Negeri hingga SMA Negeri. Bapak yang mengarahkan demikian agar kelak saat melanjutkan pendidikan selepas SMA (kuliah) kami memiliki banyak pilihan disiplin ilmu yang ingin kami tekuni. (Ok, lanjutannya fokus ke kisah saya, ya) ^^

Tapi toh kenyataannya saat di tahun kedua masa SMA pun saya dihadapkan pada pilihan jurusan A1 (Fisika), A2 (Biologi) dan A3 (Sosial). Jadi intinya memang perlu sih menguasai bidang ilmu yang khusus sehingga diberi label jurusan gitu. Mungkin siswa-siswa di sekolah menengah kejuruan enggak perlu galau lagi saat belajar di sekolahnya, ya. Mengingat di awal masuk sekolah ya memang sekolah kejuruan tersebutlah yang dia inginkan (meski pasti ada campur tangan orangtuanya sih saat memilih sekolah).

Sebelum masuk SMA, saya tidak terpapar informasi tentang sekolah menengah kejuruan. Yang saya tahu, ya saya daftar sekolah di SMA Negeri aja seperti saudara-saudara saya yang lain. Apalagi di zaman saya bersekolah tuh merupakan suatu kebanggaan dan prestasi bagi seorang anak yang bisa lolos masuk ke sekolah negeri. Semua sekolah negeri lho, ya. Syukur-syukur bisa tembus ke sekolah negeri yang favorit. Duh, berasa “naik derajat” gitu deh efeknya. ^^

Padahal sekolah menengah kejuruan yang negeri juga ada lho. Tapi entahlah sepertinya pamor sekolah menengah umum negeri tuh lebih dahsyat lah. Nah, saat saya duduk di bangku SMA itulah saya mengenal sedikit tentang STM. Lho, kok bisa? Jadi gini, generasi saya tuh angkatan pioneer yang menempati gedung SMA baru. Secara fisik sih masih gedung lama lah. Yaa, gedung tua gitu deh, peninggalan zaman Belanda. Awalnya gedung itu milik STM dan berakhir masa huninya tepat di saat kedatangan angkatan saya. Saat pertama masuk gedung, sering kali terlihat anak-anak STM yang mondar-mandir di lingkungan sekolah entah untuk tujuan apa. Bisa jadi mereka masih angkutin beberapa properti sekolahnya yang masih tertinggal. STM tersebut akhirnya pindah ke gedung mana ya saya enggak begitu paham. Yang saya paham, label tentang anak STM itu nakal. Enggak adil sih kalo digeneralisasi semua anak STM itu nakal. Ya, namanya juga saat itu saya masih abege (ahay…) sekadar dengar selentingan sana-sini aja kalo anak-anak STM tersebut nakal. Habis penampilannya mendukung sih. Seingat saya, mereka tuh terlihat lusuh, kumal, rambut acak-acakan, tampang penuh intimidasi, macam preman gitu lah. Hahaha… 😀 Ngeri aja sih lihatnya. Jadi begitulah kesan saya terhadap sekolah menengah kejuruan yaitu STM pertama kali. Sehingga saya merasa ya memang sudah tepatlah saya sekolah di sekolah menengah umum (SMU).

“Kakakku sekolah di SMIP,” ucap salah seorang teman pada suatu hari.

“Eh, apa itu SMIP?” tanya saya penasaran.

“Sekolah Menengah Ilmu Pariwisata.”

Wah, nambah lagi tuh deretan nama sekolah kejuruan buat saya saat itu. Kok kedengarannya asyik ya, belajar ilmu pariwisata gitu. Pasti bahasa Inggrisnya harus cas-cis-cus nih karena nanti bakal sering ketemu turis asing. Lalu berderet nama-nama sekolah kejuruan yang saya ketahui:

  • Sekolah Menengah Ilmu Perhotelan
  • Sekolah Teknik Menengah
  • Sekolah Menengah Ekonomi Atas
  • dll

Rasanya dulu banyak banget deh nama-nama sekolah kejuruan tapi akhirnya sekarang semua nama sekolahnya diawali dengan SMK, Sekolah Menengah Kejuruan. CMIIW.

Zaman sekarang sih jurusan-jurusan di SMK keren-keren banget sesuai kebutuhan pasar dan perkembangan teknologi. Ada 15 jurusan di SMK:

  • Animasi
  • Multimedia
  • Broadcasting
  • Farmasi
  • Analisis Kimia
  • Tata Boga
  • Tata Busana
  • Teknik Otomotif
  • Teknik Elektronika
  • Perhotelan
  • Pariwisata
  • Akuntansi
  • Administrasi Perkantoran
  • Perbankan
  • Pemasaran

Bila dilihat dari jenis jurusannya, sepertinya para lulusan SMK memang dididik untuk siap kerja saat lulus sekolah. Keuntungan dari sekolah kejuruan seperti ini memang lebih fokus ke pengasahan skills dari jurusan yang diminati dan ilmu prakteknya lebih dominan. Bandingkan dengan siswa-siswa SMU yang masih harus banyak belajar ilmu teori. Sepertinya lebih menguntungkan belajar di SMK, ya? Waktu yang digunakan di masa muda bisa dimanfaatkan dengan maksimal untuk pendalaman ilmu prakteknya. Bukankah praktek memang lebih penting?

Tapi, mau pilih SMU atau SMK sama baiknya kok. Bila kita hendak memberikan pilihan ke anak ya, biar anak yang menentukan lebih sreg sekolah di mana? SMU atau SMK? Kan anak yang menjalani. Setelah anak buat keputusan maka tugas kita sebagai orangtua ya mengawal saja. Ajarkan bahwa anak harus bertanggung jawab terhadap keputusan yang dia ambil. Sebaik apapun sekolah yang dipilih, bila tidak ada niat dan kemauan belajar yang baik dari anak yaa…sia-sia saja, toh?

 

 

Lots of love,

Frida Herlina ^^

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Pilih Sekolah Menengah Umum atau Sekolah Menengah Kejuruan?

  1. Beberapa teman saya lulusan SMK rata2 lebih sukses di dunia kerjanya dibanding yang baru mengambil penjurusan ketika kuliah. Mungkin karena sudah terbiasa dari SMK jadi tidak aneh dengan pelajaran kuliahnya yang cenderung meminta mahasiswa untuk mandiri.

    1. Nah, itu bukti nyata ya, Mbak, kalo materi pelajaran di SMK lebih aplikatif secara memang jatah prakteknya lebih besar daripada teori. Murid jadi lebih fokus dan disiplin dengan jurusan yang dipilih. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s