Saat Memberi Saat Menerima dan Memanfaatkan THR

2016-07-15_22.05.21

>>”Kemenangan” di bulan Ramadan seringkali ditandai dengan turunnya THR untuk para pegawai muslim di penjuru negeri ini. THR alias Tunjangan Hari Raya adalah bonus tahunan yang sangat ditunggu-tunggu kedatangannya oleh siapapun. Pertanyaannya: apakah semua pegawai menerima THR dari perusahaan tempat mereka bekerja? Sayangnya, pada kenyataannya ada beberapa perusahaan yang belum/tidak bisa memberikan THR kepada para pegawainya dikarenakan kondisi finansialnya yang belum sehat. Bisa juga karena si pegawai belum genap setahun masa kerjanya di perusahaan tempat dia bekerja sehingga dia tidak memperoleh THR. Meskipun jika menilik dari masa kerja yang belum setahun, ada juga lho perusahaan yang tetap memberikan THR dengan kalkulasi masa kerja tersebut. Sehingga THR yang diterima pegawai hanya sekian persen dari gaji bulanannya. Kan belum genap setahun, toh? Jadi memang tergantung dari kebijakan bos aja sih. Ada juga perusahaan yang bertindak sebagai “konsultan keuangan” pegawainya. Maksudnya? Jadi, supaya pegawainya enggak boros maka THR yang diberikan hanya 50% saat menjelang cuti Lebaran. Lalu sisa THR 50%-nya diberikan saat pegawai tersebut kembali masuk kantor pasca cuti Lebaran. Pernah mengalami pembagian THR seperti itu? Ajaib, ya. Itu pengalaman saya lho pas kerja sama bos dari negeri jiran. Saya sempat kesulitan mengatur alokasi dana Lebaran saat THR “ditahan” seperti itu. Tapi ya, saya berusaha positive thinking aja lah. Kali aja dana saya benar-benar ludes pasca Lebaran, jadi masih punya “tabungan” di kantor deh. Ya, namanya juga pegawai. Bosan jadi pegawai? Hmm, ada kalanya ngerasa gitu sih. Hahaha…

>>Berdasarkan pengalaman saat sama-sama jadi pegawai swasta, saya dan Koibito terbiasa mengalokasikan dana THR dengan cermat. Dana kagetan setahun sekali ini sering tampil dengan “dua wajah” tergantung dari sisi mana kita melihat dan mengolahnya. Ada kalanya THR ini jadi malaikat penyelamat. Pos-pos pengeluaran darurat bisa segera terbantu dengan adanya THR ini. Namun saat menerimanya dengan kalap, dia berwujud setan durjana yang lenyap tak berbekas di meja kasir mal. Jadi memang harus hati-hati deh mengelola THR ini. Godaannya tuh sekencang gempa berkekuatan 8 skala richter. Secara, di momen Lebaran gitu lho. Produk apapun melambai-lambai minta dibawa pulang apalagi kalo mengusung embel-embel promo. Baik produk online maupun offline tuh tampilannya udah seperti penari hula-hula yang sangat menggoda. Bisa saja tiba-tiba tergoda untuk beli gadget baru demi menuruti napsu meski gadget lama masih baik-baik saja. Pokoknya harus pakai kacamata kuda dan fokus dengan rencana saat menerima THR. Kalo cuma kalap menggapai napsu, sesal kemudian tak berguna lho. Ahay… ^^

Berikut hal-hal yang ada dalam daftar saya (dan Koibito) yang harus diupayakan dipenuhi dalam rangka mengelola dana THR secara bijak. (Aiihh…)
1. Pelunasan utang
Kalo dari pengalaman sih biasanya saya sudah menutup utang sebelum terima THR. Tapi kadang kala ya…meleset juga. Jadi terpaksa tutup utang pakai dana THR deh. Biar bisa lebih plong aja menikmati Lebaran tanpa utang. Kan mohon maaf lahir batin. (Apaan sih?) Nah, kalo utang sudah lunas, lanjut ke pos berikut ini.
2. Alokasi dana mudik
Judulnya sih singkat “alokasi dana mudik” gitu. Tapi ke bawahnya banyak berjubel sub-sub judul. Hehehe… Apa aja sih?
a.| Bea tiket transportasi:
Keuntungannya saat terima dana THR lebih awal tuh bisa segera booking tiket untuk mudik. Syukur-syukur bisa dapat tiket pulang-pergi gitu. Ngerinya, saat terima dana THR pas H-7 atau bahkan H-3 tatkala tabungan enggak mencukupi untuk jadi dana talangan beli tiket! Tiket kendaraan apapun sudah ludes sold out secara brutal. Seperti pengalaman saya ketika mudik tahun 2011 silam. Bos saya sempat alpa dengan anggaran THR (maklum saat itu masih jadi bos baru) sehingga saya menerima dana THR hanya selang beberapa hari menjelang cuti Lebaran. Koibito sampai kelimpungan hunting tiket mulai dari counter ticketing resmi di bandara Soetta, agen tiket online, stasiun Gambir hingga berakhir di agen tiket bus antar kota Lorena/Karina sampai tetes tiket terakhir dengan kemungkinan batal mudik! Mau gimana lagi? Tiket pesawat dan kereta api sudah sold out. Pilihan tinggal naik bus. (Meski penginnya naik kapal selam sih. Hohoho…) Dan pulang kampung naik bus ke Surabaya itu bukan pilihan yang nyaman bila anak-anak ikut serta. Bus yang saya tumpangi kala itu hanya sanggup melakukan perjalanan hingga keluar pintu tol Cikampek. Lalu bus parkir di depan kedai makan hingga lewat semalaman karena ban belakangnya pecah! Akibatnya, kami para penumpang harus rela menanti bus cadangan yang sedang otewe ke lokasi untuk mengangkut kami semua sampai tujuan. Untunglah Salsa kecil (saat itu 7 tahun) enggak rewel dan punya cukup banyak bekal untuk dinikmati di perjalanan yang kurang menyenangkan itu. Jadi enggak pengin mudik naik bus lagi deh gara-gara pengalaman tersebut. Hal ini jadi pelajaran buat saya kelak saat jadi bos (aamiin) sebisa mungkin memudahkan hajat hidup pegawai di momen Lebaran dengan menyegerakan pemberian dana THR supaya aman nyaman acara mudiknya. ^^
b.| Buah tangan
Meski enggak wajib, saya berusaha mengusahakan membawa buah tangan saat mudik. Siapa sih yang enggak suka dapat oleh-oleh? Setor muka ke keluarga saat mudik memang lebih afdal bila dibarengi pemberian oleh-oleh. Toh cuma setahun sekali ini. Bisa bikin orang lain bahagia kan ibadah juga lho nilainya. Ihihihihiii… Di sisi lain, suka duka hunting buah tangan ini enggak gampang dilakukan di bulan puasa. Harus pintar-pintar cari waktu luang. Bagi saya, ketika jam ngajar masih padat saya pernah dapat jatah cuti Lebaran di H-4. Idealnya sih H-7 sudah pulang kampung, ya, tapi apa daya bila murid-murid saya juga belum pada mudik sehingga masih mau lanjut belajar di Centre. Jadilah waktu yang cukup mepet itu benar-benar dimanfaatkan untuk bisa hunting oleh-oleh. Kalo pas ketemu weekend sebelum mudik sih bagus. Acara hunting tiket pulang kampung dilanjut hunting oleh-oleh. Tapi kalo pas masih week days, duh…kelar ngajar ya buru-buru cabut pulang untuk buka puasa di rumah. Mana kalo terjebak macet ya buka di jalan, minum air putih doang lalu lanjut otewe pulang. Sampai di rumah harus segera mandi dan persiapan tarawih. Pulang tarawih rasanya capek pengin istirahat. Nah, kalo pas susah dapetin waktu kayak gini nih biasanya saya juga enggak bawa oleh-oleh ketika mudik. Enggak maksain lah. Daripada badan tumbang saat perjalanan mudik akibat terlalu lelah malah jadi nyusahin diri sendiri di jalan, kan?

c.| Dana angpao

Kumpul keluarga dan ketemu banyak keponakan membuat saya mengkalkulasi lebih cermat untuk anggaran angpao ini. Semua keponakan harus kebagian dong. Kalo dulu nilai nominal angpao menyesuaikan umur (yang lebih tua dapat jumlah lebih banyak), semakin ke sini semakin disamaratakan saja. Selain memang sudah besar, keponakan berusia muda tapi berbadan besar rata-rata suka protes kalo dapat angpao lebih sedikit dibanding jumlah angpao yang diterima kakaknya. Ya udahlah, daripada ribet mending sama rata aja semua. ^^ Selain keponakan dan anak kandung yang mendapat angpao, ada anggaran juga yang disisihkan untuk THR Ibu kami. Semua anak apalagi yang merantau pasti melakukan hal yang sama: menyisihkan rezekinya untuk diberikan kepada orangtua.

d.| Anggaran belanja harian

Kumpul bareng saudara dan kerabat di rumah Ibu tentunya bikin bengkak jatah belanja harian. Biasanya sih atas dasar inisiatif masing-masing, saya dan saudara-saudara pasti menyerahkan amplop khusus ke Ibu untuk dana belanja harian. Banyak anak kecil berarti harus banyak makanan yang tersaji. Namanya juga anak-anak. Satu makan semua jadi pengin ikut makan deh.

e.| Dana darurat di perjalanan

Saat perjalanan mudik dan balik pasti butuh dana darurat. Entah untuk beli makanan/camilan selama perjalanan maupun untuk hal lain. Penting untuk pegang dana tunai yang siap pakai. Well, just in case.

3. Alokasi dana operasional pasca mudik

Ketika kembali balik ke habitat setelah mudik, kita masih perlu dana operasional harian, kan? Siapa tahu gas LPG di dapur sudah tiris, bensin di kendaraan juga hampir mencapai garis merah empty bahkan isi ulang pulsa juga butuh anggaran, toh? Back to reality. Jangan sampai bablas semua dana THR amblas (habis, red.) saat mudik.

4. Tabungan

Apapun yang terjadi, sisihkan dana berapapun untuk tabungan. Ini yang berat. Karena di momen Lebaran selalu ada saja alasan untuk menarik lembaran rupiah keluar dari dompet. Ada saja yang tiba-tiba harus dibeli. Pernah mengalami hal seperti ini juga, kan? Duh, rasanya pengin balsemin dompet deh biar isinya awet. Ehehehe… (Mumi kali dibalsem.) ^^

Wah, banyak juga ya pos-pos yang harus dikelola dengan dana THR. Emang gajinya berapa sih? Kok gede banget kayaknya. Hahaha… Aamiin gaji saya gede, ya. ^^ Jangan khawatir, pemirsa. Ada kalanya beberapa pos di atas enggak diisi kok karena keterbatasan dana. Alokasi dana di atas itu kan kisah idealnya. Tapi kehidupan enggak selalu berjalan sesuai rencana, toh? Yang penting pakai skala prioritas aja. First thing first. Utamakan pos-pos yang nilai urgensinya paling tinggi. Pos-pos yang lain sih ikhlas aja menyesuaikan tanpa paksaan. Hehehe… But you know what? Tahun ini beda banget pengelolaan THR a la keluarga kecil saya. Beda banget. Secara kondisi profesi dan finansial kami juga berbeda dibanding kisah sebelumnya. Jadi memang segala hal tuh fleksibel aja, ya. Yang penting ikhlas dan tawakal. Dah, beres deh. Eh, gimana kisah THR kalian tahun ini?

 

Lots of love,

Frida Herlina ^^

Advertisements

2 thoughts on “Saat Memberi Saat Menerima dan Memanfaatkan THR

  1. ini kadang bikin bingung, aku pernah waktu belum terima THR, udah direncakan THR buat bayar ini itu, ternyata waktu terima duitnya, meleset jauuuh… hahahha.. susah2 gampang ya mba, kalo terima duit bonus ituu.. seringnya melenceng dari rencana *aku sih* 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s