Tips Mengenalkan Makanan Untuk Si Kecil: ASI, MPASI Hingga Makan Nasi

Halo, Teman-teman! Jumpa lagi sama saya yang selalu ceria di acara Ci-Luk-…

Bzztt!! Dug!! Dug!! Klik. *tv mati setelah digebrak*

Waduh! Maaf, salah intro tuh. Dah, matiin aja tv-nya. Lagipula itu kan acara jadul banget. Hihhihiiii…

Ok. Kali ini saya mau bahas tentang makanan, yaa..

Tapi ini bukan sembarang makanan lho. Ini tentang makanan yang pertama kali kita kenalkan untuk sang buah hati di detik pertama kehadirannya di dunia fana ini. Makanan yang secara kodrati memang diciptakan untuk makhluk yang sekian lama dinanti oleh orangtuanya masing-masing. Makanan itu adalaaaaaah…..

Yak! Yak! Ada yang tahuuuuu??? Ayo, coba tunjuk jari! Hiyak, kamu! Ayo, coba jawab! Iyaaa, kamuuu… yang sedang baca postingan saya ini! Buruan jawaaaaabbbbb!!! *anguk-angguk sambil ketuk-ketuk penggaris kayu di meja* (Waduh, macam guru killer aja dah!)

Stop!

Daripada penasaran sama jawabannya, berikut saya beri uraian tahapan pengenalan makanan berdasarkan usia, ya. Uraian ini berdasarkan pengalaman pribadi saya, tentunya. Nah, kita semua pasti mempunyai pengalaman yang berbeda. Nanti kalian juga dipersilakan untuk berbagi pengalaman lho. Komen-komen boleh langsung meluncur di bawah, yaa..

Ok, topik kali ini memang khusus ditujukan untuk para mama cantik, calon mama, suaminya mama tersebut, anak-anak mama, mamanya mama, tetangga mama, temannya mama, kenalannya mama, bidannya mama, perawatnya mama sampai kapsternya mama. (Duh, ini mama eksis banget, yak?)

Sebagai catatan, topik ini tidak hanya melulu berisi pengalaman pribadi saya lho tapi ada juga tips dari dokter yang bersangkutan dengan hal ini. Jadi, terus simak postingan saya, ya.

Ya Tuhan, panjang amat intronya, yaaa… *tepok jidat kucing*

Ok, ok. Sabar dong.

Jadi, postingan spesial kali ini…

Buruaaaaaann…

Kyaaaa…… *ngacir ke bahasan utama*

  • Usia 0 – 6 bulan

Makanan yang dikenalkan: ASI

Frekuensi asupan: tiap jam sekali atau sesuai kebutuhan/permintaan

 

Tidak ada perbedaan perlakuan yang saya berikan kepada Salsa (si kakak nih, 12 y-0 and growing!) dan adiknya, Baby Dee (11 months & 3 weeks and growing!) dalam hal pemberian makanan pertama. ASI. Alhamdulillah, keduanya mendapatkan ASI berlimpah dari saya selaku ibu kandung mereka. Hayoo, kalian mulai ngitung jarak usia mereka, ya? Ngaku! 😀

Iya, bener. Jarak usia mereka memang fantastis: 11 tahun! Tadinya saya mengira bahwa saya dipercaya untuk memiliki anak tunggal. Tapi ketika kemudian saya diberi amanah hamil lagi, wow! It’s a surprise! Indeed! Itulah mengapa saya menjuluki Baby Dee tuh ‘bayi kejutan’. Surprise!!! *tiup terompet* 😀 Dan keduanya lahir secara normal. Alhamdulillah.

Tapitapitapitapiiiii… tapiii… ada yang beda dari cara Salsa dan Baby Dee mengkonsumsi ASI. Dulu saat Salsa bayi, saya begadang ngASI tuh 6 kali semalaman hingga subuh. Tapi Baby Dee? Emgh..emgh..emgh… *geleng-geleng kepala* Jadwal begadang ngASI saya tuh jauh lebih HOT! Mulai dari ngASI tiap jam, beralih jadi tiap 30 menit sampai akhirnya jadi tiap 15 menit! Nah, mantap banget nggak tuh?! Sampai saya mikir, nih anak laper banget yaaak tiap malam?? Siapa tuh yang pernah bilang kalo cuma bayi cowok doang yang lahap ASI?? Mitos itu dengan sukses dipatahin sama Baby Dee. Heheeheee..

kecil, mungil dan terbungkus rapat. tapi sekalinya bunyi, woo-hoo.. mengguncangkan isi dunia. (Baby Dee, usia 3 hari)
Kecil, mungil dan terbungkus rapat. Tapi sekalinya bunyi, woo-hoo.. mengguncangkan isi dunia. (Baby Dee, usia 3 hari)

Jadi, sering banget saya merasa baru aja merebahkan punggung ke kasur eh, Baby Dee udah ‘ngeeek’ kirim kode untuk nenen lagi. Padahal, untuk bisa duduk mencapai ranjang dan mengatur posisi badan saya dari duduk ke rebahan itu udah lima menit sendiri karena harus menahan nyeri bekas jahitan, tulang ekor yang ngilu, badan pegel dan perut yang berasa kaku akibat dibengkung pakai stagen plus kain gurita.

Menderita?

Wah, nggak perlu dijawab juga lah. Kan sudah paham gambarannya. Heheheee.. Tapi saat hamil (kedua), saya memang sudah mengkondisikan siap mental untuk menanggung itu semua. Toh saya sudah pernah merasakan hamil sebelumnya meski jaraknya sangat jauh dan hal ini sempat membuat saya canggung saat hamil kedua. Lupa-lupa ingat gitu deh gimana rasanya hamil lalu melahirkan dan menyusui. Hihihiii.. Tapi yang jelas, lakukan semuanya dengan ikhlas. Insya Allah kemudahan menyertai.

Again, pregnancy is just a beginning.

Setelah melewati perjuangan di masa-masa kehamilan, maka saat bayi lahir itulah perjuangan yang lebih nyata, heboh dan menguras tenaga dimulai.

Hal yang menguras tenaga tentunya juga menguras waktu. Dan hal yang menguras waktu otomatis juga menguras pikiran. Maka dari itu, untuk para calon mama yang sedang menanti sang buah hati (apalagi anak pertama, yaa) harap persiapkan mental dengan baik. Pahami medan yang akan ditempuh saat jabang bayi lahir kelak. Para calon papa juga harus punya andil lho. Pahami bahasa tubuh istri. Bila terlihat lelah, pijitin! Lah pake melotot pula. Ini beneran lho. Perhatian dari suami meski terlihat remeh tapi justru hal remeh seperti minta dipijitin gitu tuh kalo diturutin, waaahhh… ngeringanin beban bumil banget! Harap diingat juga ya, kalo bumil dan busui itu gampang sensi. Hati-hati. *pasang tanda achtung*

Nah, balik ke jadwal pemberian ASI.

Saat Baby Dee lahir, setelah dimandikan dan diberi pakaian, ditimbang dan diukur panjangnya, suster langsung menyerahkan ke saya.

“Bu, silakan langsung disusui ya, bayinya,” katanya. “Disusui tiap jam ya, bu. Kalo bayinya tidur, ya dibangunin,” lanjutnya.

Ya sudah. Langsung saya lakukan. Karena energi saya terkuras saat melahirkan, saya nggak melakukan IMD (Inisiasi Menyusu Dini) seperti yang dianjurkan. Yaitu membiarkan sang bayi merayap di tubuh ibunya sampai menemukan nipple untuk dikenyot secara naluriah. Saya langsung ambil posisi ngASI. Awalnya Baby Dee nenen dikit-dikit gitu. Lalu bobok pules. Besoknya, refleks ngenyotnya jadi kuat dan lahap. Dan terus saya susui sesuai permintaan dan kebutuhannya sampai saya merasa payudara kosong gitu. Sekilas sempat merasa khawatir apakah cukup ASI milik saya untuk Baby Dee. Tapi begitu saya sadar kalo saya sedang khawatir, buru-buru saya pejamkan mata dan tarik-buang napas dalam-dalam. Berusaha relaks. Khawatir itu jendela menuju stres. Sedangkan stres itu musuh utama busui. Pasti pernah dengar dong kalo stres bisa menghambat kelancaran ASI.

Eh, belum pernah dengar, ya? 😛

Ya udah deh. Saya beri kasus riil, ya.

Salah satu saudara saya tiba-tiba macet ASI-nya saat bayinya berusia 3 bulan. Selidik punya selidik, ternyata saudara saya panik dan khawatir karena masa cuti melahirkan segera berakhir. Stres lah dia. Macet deh ASI-nya. Saat dikupas lebih lanjut (duileee, mangga kali dikupas! :-P), ternyata pekerjaan dia tuh biangnya stres. Bersama tim-nya, tiap bulan dia harus tembus target penjualan dengan nominal fantastis yang cenderung nggak masuk akal. Tuh, kan?! Jahat banget nih ulah stres!

Setahu saya, ukuran lambung bayi yang baru lahir tuh sebesar buah cherry. (CMIIW, guys!) Jadi ya, seharusnya saya nggak perlu terlalu khawatir akan kecukupan ASI saya untuk Baby Dee. Kalo pun toh bayi terlihat lahap menyusu, bisa jadi itu karena gerakan refleksnya aja. Bayi kan kalo diberi sesuatu di mulutnya pasti refleks ngenyot/ngemut gitu lah. Sekalian latihan otot wajah juga kali, yaa.. 😀

Nah, bicara tentang kenyotan bayi (bukan empeng lho, ya), ini harus diantisipasi sejak dini. Lho kenapa? Bayi tuh ukuran badannya aja yang mungil tapi kekuatannya untuk ngenyot itu sungguh dahsyat! Bisa bikin busui panas dingin meriang di awal-awal masa ngASI.

Untuk kasus saya, seperti yang saya singgung di atas, Baby Dee ini luar biasa sekali jadwal nenennya. Frekuensinya sangat pendek hingga tiap 15 menit sekali. (Tapi untunglah hal itu nggak berlangsung tiap malam meski saya lumayan sering nambah jam begadang saat mengalaminya.) Karena jadwal nenennya yang padat dan badan saya juga masih dalam tahap penyesuaian mengakibatkan saya mengalami cidera, yaitu nipple lecet hingga berdarah. Bahkan di kedua payudara! Wow! Gimana tuh rasanya? Tetep koq, nikmati aja. Hmmm… *jadi meringis ngilu ngebayangin lagi*

Dulu sewaktu Salsa masih bayi, saya ‘hanya’ mengalami lecet di salah satu nipple. Tapi Baby Dee benar-benar memberikan kejutan! (Secara dia adalah bayi kejutan) 😀 Nggak hanya satu tapi kedua nipple ‘dibikin’ lecet hingga berdarah akibat kuatnya daya kenyotnya. Phew!

Koibito sempat menjuluki saya ‘pejuang ASI yang tangguh’ karena saya tetap bersikukuh memberikan ASI secara skin-to-skin meski nipple menderita lecet berdarah. *langsung senyam senyum GR dibilang tangguh* 😀 Saya sempat minta dibelikan breast pump agar waktu ngASI tiba dalam kondisi nipple lecet ini, saya memberikan ASI via botol aja. Tapi ternyata memerah ASI itu jauh harus lebih telaten dan memerlukan waktu lebih lama hanya untuk menghasilkan setengah botol susu lho. Ya, sekitar 30 cc gitu deh. (Mungkin tiap busui beda, ya) Yang terjadi kemudian, saya nekat memberikan ASI secara skin-to-skin karena nggak tega melihat Baby Dee menunggu lebih lama di saat dia lapar dan saya belum juga tuntas memerah ASI. Lecet, lecet deh. Hikk.. :-’(

Lalu bagaimana cara mengobatinya?

Jangan sedih! Busui bisa tetap ngASI dan sembuh dari nipple lecet setelah melakukan tips yang saya dapatkan dari dr. Shanti Jurnalis, Sp.A, M. Kes berikut ini:

  • Perah ASI hingga keluar beberapa tetes.
  • Oleskan tetesan ASI tersebut ke bagian nipple yang lecet.
  • Ulangi secara rutin keesokan harinya.

Hingga akhirnya sembuh. Subhanallah. Hebat banget, ya! Busui dan bayinya tuh memang satu paket. Makanan dan obatnya memang sudah disediakan sekaligus oleh Sang Khaliq. Pernah dengar kasus bayi yang belekan? Nah, obatnya tuh di air liur ibunya. Cukup oleskan air liur di kelopak mata bayi tiap pagi secara rutin maka belekan itu akan berangsur-angsur sembuh. Hati-hati bila mau memberikan obat tetes mata untuk bayi karena kebanyakan obat tetes yang beredar itu hanya boleh diberikan untuk anak usia 2 tahun ke atas. Termasuk obat tetes mata dari dokter sekalipun. Juga harus dicek. Lebih baik gunakan pengobatan alami yang lebih aman.

Oia, ada satu hal yang harus dihindari saat mengalami nipple lecet. Yaitu mengguyur badan di bagian dada saat mandi. Apa perlu dijelaskan kalo hal itu bisa membuat nipple terasa perih seperti disayat silet?? Perih ngilunya tuh berasa banget dari ujung rambut sampai ujung kaki lho. Jadi, lebih kalem aja saat mandi, ya! J

Hmm… *ngecek tulisan*

Panjang juga ya bahasan tentang makanan untuk bayi di 6 bulan pertamanya ini? Kayaknya saya bakal lanjutin sekuelnya kapan-kapan deh. Doain aja saya bisa curi-curi waktu lagi untuk nongkrong di sini lagi, ya!

Terima kasih untuk dr. Shanti yang sudah berbagi tips di atas. Beliau ini salah satu wali murid di English Centre tempat saya mengajar. Semoga tipsnya bermanfaat untuk kita semua.

Terima kasih juga untuk kalian, pembaca setia blog-ku ini. Aku juga suka baca komen kalian lhoo..

Psstt, Baby Dee bangun nih. Saya piket ngASI dulu, yaa..

Lots of love!

Advertisements

3 thoughts on “Tips Mengenalkan Makanan Untuk Si Kecil: ASI, MPASI Hingga Makan Nasi

  1. memang bayi jika umurnya kurang dari 2 tahun. harus di kasih asi, karena asi sangatlah berguna banget untuk perkembangan bayi dan perkembangan otak bayi. jadi jangan minumi bayi anda dengan susu-susu yang ada di toko jika umurnya masih di bawah 2 tahun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s