ALWAYS REMEMBER TO SHARE

Aku duduk di dekat jendela kelas sambil menikmati air mineral di botol minumku. Seteguk, dua teguk, aaahhh…segarnya! Udara terasa terik di luar sana sehingga aku pun nggak berminat untuk bermain di halaman sekolah. Lebih baik berdiam diri di kelas aja lah. Aku juga sedang kehilangan selera untuk berlari-lari bermain petak umpet bersama teman-teman akrabku seperti biasa. Kuambil bekal makanan ringan di dalam tas. Tadi pagi sebelum berangkat sekolah, Bunda sempat membuatkan aku setangkup roti tawar isi selai cokelat kesukaanku. Dalam sekejap roti isi selai cokelat itu sudah melembut dalam kunyahanku.

Alhamdulillah, lumayan terisi lah perutku. Nggak terasa lapar lagi dan aku merasa lebih tenang sekarang sambil menikmati semilir angin dari jendela kelas. Rasa-rasanya koq kelopak mataku jadi berat yaa… Hmmm…

“Desi, bagi cokelatnya dong!”

Iiih…, cuman sisa satu nih cokelatku!”

“Bagilah. Pelit amat sih kamu. Nanti aku nggak mau main sama kamu lagi nih!”

“Yaa udah. Nih, ambil.”

Aku membuka mata. Keributan barusan membuatku segera terjaga memasang telinga dan mengamati pemilik suara-suara yang sudah sangat aku kenal itu. Desi dan Ranti. Hmm…, ada apalagi nih?

Desi duduk di kursi di seberangku sendirian dengan raut wajah masam. Sepertinya ia sedang kesal sekali. Tangan kanannya meremas bungkus plastik kemasan cokelat. Lalu matanya menyorot tajam menatap punggung Ranti yang melenggang keluar kelas. Hmm…, aku sudah bisa menebak apa yang barusan terjadi.

Tiba-tiba Desi menatapku yang juga sedang menatapnya. Haddeuuhh.., aku sampai salah tingkah nih kepergok memperhatikan dia. Hihihhiihiii

“Aku sebel banget nih sama Ranti. Sesuka hati aja main rebut cokelatku,” tiba-tiba saja Desi sudah duduk di sampingku dan curhat kilat sambil bersungut-sungut.

“Emangnya dia benar-benar merebut cokelat kamu?” responku.

Nggak juga sih. Tapi dia mintanya maksa pakai ngancam pula. Huuhh…, asli nyebelin tuh anak!”

“Yaaa.., sudahlah ikhlasin. Kan kamu udah ngasih ke dia, yaaa…udah terlanjur kalo nyesel sekarang.”

Huuuhh.., tetep aja aku masih kesel nih.” Desi tambah keliatan lucu banget deh kalo lagi manyun kesel begitu. Aku sampai tersenyum simpul melihat ekspresi wajah kesalnya.

 

***

Keesokan paginya, aku tiba lebih awal di kelas. Suasana sekolah masih sepi. Di kelas pun baru ada Ahmad dan Arkan lagi asyik main karet gelang sambil tertawa cekikikan. Aku menghela nafas. Haddeeuh…, males banget nih pagi-pagi udah liat dua temen geje begini, batinku.

Setelah meletakkan tasku di kursi, aku beranjak keluar kelas. Yaa…, lebih baik aku ke perpustakaan aja lah sambil menunggu bel sekolah berdentang. Baru saja kakiku melangkah keluar kelas, tiba-tiba langkahku terhenti saat melihat pemandangan menarik di depanku. Ranti berjalan menuju kelas sambil asyik mengunyah burger di tangannya. Dia tersenyum sekilas ke arahku. Lalu di belakang Ranti tampak Desi berlari tergopoh-gopoh mengejarnya. Iiihhh…, ngapain sih tuh anak? pikirku.

“Raaannn!! Rantiiii…!!”

Ranti nggak bergeming sampai tiba di bangkunya, menghenyakkan tasnya lalu asyik duduk sambil menuntaskan sarapan paginya. Burger.

Desi terengah-engah menghampiri Ranti.

“Eh, enak banget sih kamu pagi-pagi udah sarapan burger?”

“Enak laah,” sahut Ranti cuek.

“Bagi dong, Ran. Aku juga mau burgernya,”

“Enak aja. Ini kan sarapanku,”

“Koq kamu gitu sih? Kemarin aja aku mau berbagi cokelat sama kamu,”

“Cokelat bukan buat sarapan kan?”

“ Bagi laah. Koq kamu pelit sih?”

Ih, kamu ini. Nih, ambil. Secuil aja,”

Desi menatap burger secuil yang disodorkan Ranti dengan tatapan nggak percaya. Dengan cepat sekali raut wajahnya berubah kesal.

Nggak usah deh, Ran. Makasih,” sahutnya lalu beranjak pergi menuju tempat duduknya.

Aku menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan adegan barusan.

***

Bunda menyimak semua ceritaku tentang Desi dan Ranti di malam saat kami menikmati santap malam. Sesekali Bunda tersenyum.

“Lalu menurut kamu apa yang seharusnya kamu lakukan kalau kamu ada di posisi Ranti?” tanya Bunda di sela-sela senyumnya.

“Yaa, Bella akan berbagi setengah bagian dari burger yang Bella punya lah, Bunda.”

“Bagus. Kita harus selalu berbagi kepada siapapun. Always remember to share with others. Terutama saat kita berlebihan tapi lebih hebat lagi bila kita mampu berbagi di saat kekurangan.”

“Tapi, Bunda. Ranti itu mampu lho. Keluarganya termasuk orang berada. Tapi kenapa dia suka minta semua makanan yang dipunyai teman-teman yang lain? Dan giliran ada teman yang minta makanannya pasti disewotin bahkan kalo dia mau ngasih pun pasti cuman secuil. Nggak heran kalo banyak temen yang kesel sama dia.”

“Hmm…, mungkin kalau di rumah dia harus diet ‘kali,” sahut Bunda sambil tergelak. Aku juga ikut tertawa. Yaaa, masa gara-gara di rumah harus diet lalu di sekolah bebas aja minta makanan ato snacks yang dimiliki orang lain? Hehehehee

Diam-diam aku ada rencana untuk Ranti. Mungkin dia tipe anak yang harus diberi contoh bagaimana harus berbagi yang baik. Hmmm…, tunggu aja yaaa, Ran. Malaikat kebaikan akan menyadarkanmu sebentar lagi. Hihihiiii

***

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s